✦
داستان بنیان گذار - جلد اول
❦ Tamat
Kisahnya berlanjut…
Setiap lagu di MIBL Radio membawa sedikit lagi dari suara ini ke depan.
Buku ini ditulis dan diterbitkan di sini — buku Anda juga bisa.
Terbitkan buku Anda sendiriBenang-benang tak kasatmata dari pengasingan
## Benang tidak pernah berdusta
Ketika Bibi Fatemeh, dalam remang fajar Najaf, sebelum suara muazin pertama naik dari kubah emas makam suci, memutar pintalan di antara jemarinya yang letih namun tegar, ia sedang menenun lungsin dan pakan takdir kami. Gerak berirama pintalan tua itu bukan sekadar satu-satunya jalan seorang perempuan sebatang kara mencari nafkah di tengah badai politik dan agama Irak yang tercekik oleh Baath; gerak itu adalah detak jantung yang tak putus dari sebuah keturunan yang ditakdirkan berkali-kali hancur, mati, bangkit kembali, dan akhirnya melahirkan satu generasi baru yang keluar hidup-hidup dari kobaran api di tanah pengasingan lalu mekar di sana.
Puluhan tahun telah berlalu. Hari ini, pada tahun 2026, aku, Mohsen, duduk di sebuah rumah yang tenang di tepi samudra, di Sydney. Aku menatap ruas pertama jari telunjuk kananku; di tempat garis yang dalam, kasar, dan putih itu terpahat pada kulitku seperti sebuah perbatasan purba. Garis ini adalah kenangan akan sebuah kunci yang celaka, berat, dan buruk tempaannya; kunci yang pada usia tiga belas tahun, di sebuah sore yang membakar di kompleks Golestan, kukeluarkan dari saku dan kuserahkan kepada ibuku, Marzieh. Kunci yang seharusnya membuka pintu rumah kami sendiri, tetapi tanpa disengaja justru membuka gembok sebuah tragedi yang abadi.
Buku ini kutulis bukan sekadar sebagai catatan kenangan yang sederhana dan sebuah perpindahan fisik melintasi geografi, melainkan sebagai tugu suci untuk menjaga agar ingatan tentang keturunanku tetap hidup. Menulis halaman-halaman ini, bagiku, berarti mengakhiri bertahun-tahun penyakit jiwa, keterasingan, dan beban rasa bersalah yang menghancurkan, yang sejak masa remaja membelenggu setiap serat diriku. Buku ini kutulis untuk berdamai dengan masa laluku yang terluka dan untuk mengatakan kepada dunia bahwa di balik setiap angka statistik pengungsi yang dingin dan setiap berita tentang perahu-perahu yang terkatung-katung di hamparan samudra, berdiri manusia-manusia sungguhan, dengan jantung yang berdetak, luka yang membakar, dan harapan tanpa dinding.
Inilah wiracarita keluargaku; sebuah kisah yang membentang dari akar-akar Najaf hingga kota kelahiranku, Isfahan, dan dari alam barzakh penantian hingga pantai pembebasan.
[[break]]
> “Catatan penulis mengenai nama dan keterangan: dalam buku ini, demi menjaga hak moral, ruang pribadi, dan pertimbangan hukum orang-orang yang bersangkutan, nama beberapa tokoh dan nama beberapa tempat telah diubah atau ditulis dengan nama samaran. Apa yang Anda baca di halaman-halaman ini adalah piagam telanjang dan sejati tentang hidup kami.”
> © 2026 Seluruh hak cipta dilindungi. Ditulis oleh Mohsen Al Moussawi. Segala bentuk penyalinan, penerbitan ulang, penyaduran, adaptasi sinematik atau audio, maupun penerjemahan tanpa izin tertulis dari penulis adalah terlarang secara agama maupun hukum dan dapat dituntut secara hukum.
Ketika Bibi Fatemeh, dalam remang fajar Najaf, sebelum suara muazin pertama naik dari kubah emas makam suci, memutar pintalan di antara jemarinya yang letih namun tegar, ia sedang menenun lungsin dan pakan takdir kami. Gerak berirama pintalan tua itu bukan sekadar satu-satunya jalan seorang perempuan sebatang kara mencari nafkah di tengah badai politik dan agama Irak yang tercekik oleh Baath; gerak itu adalah detak jantung yang tak putus dari sebuah keturunan yang ditakdirkan berkali-kali hancur, mati, bangkit kembali, dan akhirnya melahirkan satu generasi baru yang keluar hidup-hidup dari kobaran api di tanah pengasingan lalu mekar di sana.
Puluhan tahun telah berlalu. Hari ini, pada tahun 2026, aku, Mohsen, duduk di sebuah rumah yang tenang di tepi samudra, di Sydney. Aku menatap ruas pertama jari telunjuk kananku; di tempat garis yang dalam, kasar, dan putih itu terpahat pada kulitku seperti sebuah perbatasan purba. Garis ini adalah kenangan akan sebuah kunci yang celaka, berat, dan buruk tempaannya; kunci yang pada usia tiga belas tahun, di sebuah sore yang membakar di kompleks Golestan, kukeluarkan dari saku dan kuserahkan kepada ibuku, Marzieh. Kunci yang seharusnya membuka pintu rumah kami sendiri, tetapi tanpa disengaja justru membuka gembok sebuah tragedi yang abadi.
Buku ini kutulis bukan sekadar sebagai catatan kenangan yang sederhana dan sebuah perpindahan fisik melintasi geografi, melainkan sebagai tugu suci untuk menjaga agar ingatan tentang keturunanku tetap hidup. Menulis halaman-halaman ini, bagiku, berarti mengakhiri bertahun-tahun penyakit jiwa, keterasingan, dan beban rasa bersalah yang menghancurkan, yang sejak masa remaja membelenggu setiap serat diriku. Buku ini kutulis untuk berdamai dengan masa laluku yang terluka dan untuk mengatakan kepada dunia bahwa di balik setiap angka statistik pengungsi yang dingin dan setiap berita tentang perahu-perahu yang terkatung-katung di hamparan samudra, berdiri manusia-manusia sungguhan, dengan jantung yang berdetak, luka yang membakar, dan harapan tanpa dinding.
Inilah wiracarita keluargaku; sebuah kisah yang membentang dari akar-akar Najaf hingga kota kelahiranku, Isfahan, dan dari alam barzakh penantian hingga pantai pembebasan.
[[break]]
> “Catatan penulis mengenai nama dan keterangan: dalam buku ini, demi menjaga hak moral, ruang pribadi, dan pertimbangan hukum orang-orang yang bersangkutan, nama beberapa tokoh dan nama beberapa tempat telah diubah atau ditulis dengan nama samaran. Apa yang Anda baca di halaman-halaman ini adalah piagam telanjang dan sejati tentang hidup kami.”
> © 2026 Seluruh hak cipta dilindungi. Ditulis oleh Mohsen Al Moussawi. Segala bentuk penyalinan, penerbitan ulang, penyaduran, adaptasi sinematik atau audio, maupun penerjemahan tanpa izin tertulis dari penulis adalah terlarang secara agama maupun hukum dan dapat dituntut secara hukum.
Rasa sepat layang-layang dan kunci-kunci besi
## Bagian pertama: Kunci yang kasar dan bayangan Gunung Allahu Akbar
Berlari tanpa alas kaki di atas aspal yang membara dan menyengat di kompleks Golestan, rasa sepat debu yang beterbangan dari roda sepeda yang bergetar, dan suara gelak tawa yang bergema di gang-gang tanah; itulah seluruh bagianku dari kerajaan dunia, pada usia tiga belas tahun.
Kami punya sebuah kekaisaran kecil. Geng kami — aku dan sahabat-sahabat terdekatku di sekolah menengah — telah mengikat perjanjian yang tak tertulis namun sekeras besi. Kami bersumpah bahwa tidak ada apa pun, bahkan hukuman berat dari kepala tata tertib maupun pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, yang bisa memutus rantai persahabatan kami. Pada sore-sore musim semi, ketika bel pelajaran terakhir berbunyi dengan irama malas, kami menghambur ke gang dengan bebas dan tanpa takut, bagaikan burung yang lolos dari sangkar sempit. Permainan kami yang liar di tanah gembur di pinggir kompleks adalah tempat perlindunganku yang aman; sebuah sudut tenang tempat aku bisa, setidaknya untuk beberapa jam, melupakan beban tersembunyi dari udara rumah kami.
Namun sejauh apa pun aku menjauh dari rumah, tangan kananku tanpa sadar menyelinap ke saku celana. Kumasukkan telunjukku ke dalamnya dan kuusapkan pada sisi-sisi tajam, kasar, dan buruk tempaan kunci celaka itu; kunci yang diberikan ayahku, “Zaher”, agar aku bisa membuka pintu rumah kami sendiri. Logamnya yang dingin dan tanpa belas kasihan seakan menyimpan permusuhan lama terhadap jemari kecilku; setiap kali aku mencoba, dengan segenap tenaga tiga belas tahunku, memutar gembok yang keras, berkarat, dan keras kepala itu, kunci itu terpeleset dari tanganku dan melukai ruas atas jari telunjukku — sebuah bekas merah yang perih, seolah hendak mengingatkanku bahwa masuk ke sarang itu selalu disertai luka dan rasa sakit.
Besok hari Jumat, dan pikiran tentang hari Jumat selalu meleleh manis di hati kami. Hari Jumat, di keluarga kami, bukan hari biasa; ia adalah kisah besar tentang kebersamaan dan pelarian dari kecemasan yang tak berujung. Seluruh kerabat — dari Tante Roya dan suaminya Hamid sampai anak-anak mereka, Leila dan Hamed, juga Tante Khadijeh yang tak kenal lelah dan Paman Nader — berkumpul di rumah besar Bibi Fatemeh yang penuh pohon delima. Rumah Bibi, pada hari-hari itu, adalah labuhan dan tempat berlindung yang aman bagi seluruh keluarga.
Saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, dan aku sudah menyiapkan hari Jumat sejak beberapa hari sebelumnya. Gambaran halaman yang ramai itu, aroma gulai kacang lentil dan roti hangat, suara adu mulut kaum lelaki, dan keributan kami anak-anak di depan televisi saat menonton sinetron akhir pekan: itulah kartu pos terindah dari surga masa kecilku.
Dan yang terindah dari semuanya adalah memandang ayahku, Zaher. Ayahku, lelaki yang pendiam, tenang, dan tidak banyak bicara, yang sepanjang minggu bekerja di apotek dan memikul dalam diam beban pengasingan paksa dari Najaf, dalam pertemuan-pertemuan itu seakan hidup kembali dan mendapatkan ruhnya. Kadang pada sore hari ia mengambil bola voli bersama Sina dan Paman Nader, lalu kami semua berangkat ke sebuah lapangan tanah yang luas, di bawah bayangan gunung terkenal dan agung yang mereka sebut “Allahu Akbar”.
Berdiri di kaki gunung raksasa itu, yang di keningnya terpahat nama Tuhan yang menggetarkan, terasa aneh. Angin sejuk dan liar dari pegunungan, ketika bertiup, menggerakkan rambut ayahku. Aku duduk di sebuah bukit batu dan memandangnya dengan mata yang penuh kekaguman dan cinta, saat ia bermain bersama yang lain di tengah debu, dengan tawa lepas dan lantang di wajahnya. Pada saat-saat itu, di bawah bayangan Gunung Allahu Akbar, aku merasa ayahku adalah lelaki terkuat di bumi dan tidak ada badai di dunia ini yang bisa menggoyahkan atap rumah kami...
Namun pada sore bulan Mei 1995 itu, ketika aku tiba di gang kami di kompleks Golestan dengan tangan gemetar dan jari yang masih perih karena tekanan kunci, udaranya terasa lain. Aku tidak lagi mendengar tawa teman-temanku. Aku menaiki tangga lantai dua; di sanalah salon kecil ibuku, Marzieh, berada. Bau pekat cat rambut dan bahan kimia memenuhi ruangan. Ibuku Marzieh dan Bibi Fatemeh baru saja pulang dari perjalanan dua pekan mereka ke Suriah. Ibuku menyambutku dengan senyum dingin yang sama dan mata yang menyimpan jejak tangis yang disembunyikan. Oleh-oleh dari Suriah tertata di atas meja, tetapi rumah kami, menjelang hari Jumat, tenggelam dalam kesunyian yang berat dan menyesakkan...
Berlari tanpa alas kaki di atas aspal yang membara dan menyengat di kompleks Golestan, rasa sepat debu yang beterbangan dari roda sepeda yang bergetar, dan suara gelak tawa yang bergema di gang-gang tanah; itulah seluruh bagianku dari kerajaan dunia, pada usia tiga belas tahun.
Kami punya sebuah kekaisaran kecil. Geng kami — aku dan sahabat-sahabat terdekatku di sekolah menengah — telah mengikat perjanjian yang tak tertulis namun sekeras besi. Kami bersumpah bahwa tidak ada apa pun, bahkan hukuman berat dari kepala tata tertib maupun pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, yang bisa memutus rantai persahabatan kami. Pada sore-sore musim semi, ketika bel pelajaran terakhir berbunyi dengan irama malas, kami menghambur ke gang dengan bebas dan tanpa takut, bagaikan burung yang lolos dari sangkar sempit. Permainan kami yang liar di tanah gembur di pinggir kompleks adalah tempat perlindunganku yang aman; sebuah sudut tenang tempat aku bisa, setidaknya untuk beberapa jam, melupakan beban tersembunyi dari udara rumah kami.
Namun sejauh apa pun aku menjauh dari rumah, tangan kananku tanpa sadar menyelinap ke saku celana. Kumasukkan telunjukku ke dalamnya dan kuusapkan pada sisi-sisi tajam, kasar, dan buruk tempaan kunci celaka itu; kunci yang diberikan ayahku, “Zaher”, agar aku bisa membuka pintu rumah kami sendiri. Logamnya yang dingin dan tanpa belas kasihan seakan menyimpan permusuhan lama terhadap jemari kecilku; setiap kali aku mencoba, dengan segenap tenaga tiga belas tahunku, memutar gembok yang keras, berkarat, dan keras kepala itu, kunci itu terpeleset dari tanganku dan melukai ruas atas jari telunjukku — sebuah bekas merah yang perih, seolah hendak mengingatkanku bahwa masuk ke sarang itu selalu disertai luka dan rasa sakit.
Besok hari Jumat, dan pikiran tentang hari Jumat selalu meleleh manis di hati kami. Hari Jumat, di keluarga kami, bukan hari biasa; ia adalah kisah besar tentang kebersamaan dan pelarian dari kecemasan yang tak berujung. Seluruh kerabat — dari Tante Roya dan suaminya Hamid sampai anak-anak mereka, Leila dan Hamed, juga Tante Khadijeh yang tak kenal lelah dan Paman Nader — berkumpul di rumah besar Bibi Fatemeh yang penuh pohon delima. Rumah Bibi, pada hari-hari itu, adalah labuhan dan tempat berlindung yang aman bagi seluruh keluarga.
Saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, dan aku sudah menyiapkan hari Jumat sejak beberapa hari sebelumnya. Gambaran halaman yang ramai itu, aroma gulai kacang lentil dan roti hangat, suara adu mulut kaum lelaki, dan keributan kami anak-anak di depan televisi saat menonton sinetron akhir pekan: itulah kartu pos terindah dari surga masa kecilku.
Dan yang terindah dari semuanya adalah memandang ayahku, Zaher. Ayahku, lelaki yang pendiam, tenang, dan tidak banyak bicara, yang sepanjang minggu bekerja di apotek dan memikul dalam diam beban pengasingan paksa dari Najaf, dalam pertemuan-pertemuan itu seakan hidup kembali dan mendapatkan ruhnya. Kadang pada sore hari ia mengambil bola voli bersama Sina dan Paman Nader, lalu kami semua berangkat ke sebuah lapangan tanah yang luas, di bawah bayangan gunung terkenal dan agung yang mereka sebut “Allahu Akbar”.
Berdiri di kaki gunung raksasa itu, yang di keningnya terpahat nama Tuhan yang menggetarkan, terasa aneh. Angin sejuk dan liar dari pegunungan, ketika bertiup, menggerakkan rambut ayahku. Aku duduk di sebuah bukit batu dan memandangnya dengan mata yang penuh kekaguman dan cinta, saat ia bermain bersama yang lain di tengah debu, dengan tawa lepas dan lantang di wajahnya. Pada saat-saat itu, di bawah bayangan Gunung Allahu Akbar, aku merasa ayahku adalah lelaki terkuat di bumi dan tidak ada badai di dunia ini yang bisa menggoyahkan atap rumah kami...
Namun pada sore bulan Mei 1995 itu, ketika aku tiba di gang kami di kompleks Golestan dengan tangan gemetar dan jari yang masih perih karena tekanan kunci, udaranya terasa lain. Aku tidak lagi mendengar tawa teman-temanku. Aku menaiki tangga lantai dua; di sanalah salon kecil ibuku, Marzieh, berada. Bau pekat cat rambut dan bahan kimia memenuhi ruangan. Ibuku Marzieh dan Bibi Fatemeh baru saja pulang dari perjalanan dua pekan mereka ke Suriah. Ibuku menyambutku dengan senyum dingin yang sama dan mata yang menyimpan jejak tangis yang disembunyikan. Oleh-oleh dari Suriah tertata di atas meja, tetapi rumah kami, menjelang hari Jumat, tenggelam dalam kesunyian yang berat dan menyesakkan...
## Bagian kedua: Kekaisaran kenakalan dan para malaikat yang membisu
Hari Jumat di rumah Bibi Fatemeh jauh melampaui sekadar pertemuan keluarga: ia adalah sebuah panggung yang riuh, hidup, dan penuh kejutan. Matahari belum lagi sampai di tengah langit ketika suara knalpot motor tua Paman Jalal di ujung gang tanah sudah mengabarkan datangnya musim semi lain ke halaman Bibi.
Dari semua pamanku, Jalal menempati tempat tersendiri di hatiku. Seorang lelaki yang teramat tenang, sabar, dan baik hati, yang di matanya seakan berombak samudra ketenteraman. Ia adalah tukang listrik dan orang serba bisa di kampung; lelaki yang dengan sebuah tang dan tespen tua mengembalikan cahaya ke rumah-rumah gelap di kompleks Golestan, dan di bawah tangan ajaibnya setiap alat listrik yang terbakar hidup kembali. Namun seni terbesar Paman Jalal bukanlah memperbaiki instalasi yang rumit: melainkan kesabarannya yang tanpa batas di hadapan kerasnya hidup yang menghimpit.
Ketika Paman Jalal masuk ke halaman, yang pertama ia lakukan adalah menurunkan putri kecilnya, Haniyeh, dari boncengan dengan pelukan kebapakan yang kokoh. Haniyeh adalah malaikat yang membisu di keluarga kami; seorang anak tak berdosa yang semasa kecil diserang demam yang hebat dan tanpa ampun. Demam celaka itu, bagai badai yang tiba-tiba, membawa pergi seluruh kekuatan fisik gadis kecil itu dan meninggalkannya cacat sepenuhnya untuk selamanya. Meski begitu, halaman Bibi menjadi terang oleh kehadiran Haniyeh; Paman Jalal mendudukkannya di atas kasur kecil yang empuk, di bawah bayang satu-satunya pohon delima. Haniyeh tidak bisa berlari atau bersorak seperti kami, tetapi matanya yang besar dan indah berbinar saat menonton kami bermain, dan suara tawanya yang tak berdosa adalah musik terindah di halaman Bibi.
Namun ketenangan halaman itu tidak bertahan lama setelah kedatangan orang berikutnya: Milad!
Milad, putra Paman Jalal, hanya setahun lebih muda dariku, dan jarak yang tipis itu menjadikan kami si kembar yang tak terpisahkan di keluarga. Milad adalah biji mata semua orang dan, tentu saja, sumber sakit kepala terbesar bagi orang-orang dewasa. Sejak saat pandangan kami bertemu, percikan rencana baru dan kerusakan baru sudah menyala di kepala kami. Kami memuja kenakalan dan, jika disatukan, kami membentuk duet tak terkendali yang tidak sanggup dilawan oleh orang dewasa mana pun.
Salah satu hiburan kesukaan kami adalah menjarah kotak perkakas Paman Jalal. Ketika ia sedang minum teh di sofa, duduk di samping ayahku Zaher, aku dan Milad diam-diam menggondol kotak ajaibnya itu. Dengan kabel, kapasitor, dan bola lampu kecil milik Paman, kami membuat bom khayalan lalu menyembunyikannya di sudut-sudut halaman.
Cukup Bibi Fatemeh meletakkan pintalannya yang berirama selama beberapa menit dan masuk ke dapur. Dalam sekejap mata, aku dan Milad mengubah roda pemintal tasbihnya menjadi derek perang, atau mengikat benang-benang pintalannya dari satu pohon ke pohon lain di halaman untuk membuat, kata kami, jebakan peledak bagi yang lain!
Teriakan Tante Khadijeh yang mengejar kami dengan penggaris jahitnya, gerutuan Paman Nader yang mengaku kenakalan kami telah merobek tidur siangnya, dan tawa yang ditahan-tahan ayahku Zaher, yang senang melihat kami begitu hidup dan lincah; semua itu adalah lungsin dan pakan sebuah surga impian yang kami bangun di kompleks Golestan.
Di tengah keriuhan itu, Milad selalu menyenggol bahuku, memandangku dengan mata setannya, dan berkata: “Mohsen, apa rencana berikutnya?” Dan aku, dengan kebanggaan seorang kakak, menyentuh kunci besi di dasar sakuku lalu tertawa. Kami adalah kaisar dari kerajaan kecil itu; kaisar berusia tiga belas dan dua belas tahun yang percaya bahwa hari-hari Jumat yang riuh itu, tangan-tangan baik Paman Jalal itu, senyum Haniyeh kecil itu, dan gelora tanpa batas persahabatan kami akan berdiri selamanya...
Hari Jumat di rumah Bibi Fatemeh jauh melampaui sekadar pertemuan keluarga: ia adalah sebuah panggung yang riuh, hidup, dan penuh kejutan. Matahari belum lagi sampai di tengah langit ketika suara knalpot motor tua Paman Jalal di ujung gang tanah sudah mengabarkan datangnya musim semi lain ke halaman Bibi.
Dari semua pamanku, Jalal menempati tempat tersendiri di hatiku. Seorang lelaki yang teramat tenang, sabar, dan baik hati, yang di matanya seakan berombak samudra ketenteraman. Ia adalah tukang listrik dan orang serba bisa di kampung; lelaki yang dengan sebuah tang dan tespen tua mengembalikan cahaya ke rumah-rumah gelap di kompleks Golestan, dan di bawah tangan ajaibnya setiap alat listrik yang terbakar hidup kembali. Namun seni terbesar Paman Jalal bukanlah memperbaiki instalasi yang rumit: melainkan kesabarannya yang tanpa batas di hadapan kerasnya hidup yang menghimpit.
Ketika Paman Jalal masuk ke halaman, yang pertama ia lakukan adalah menurunkan putri kecilnya, Haniyeh, dari boncengan dengan pelukan kebapakan yang kokoh. Haniyeh adalah malaikat yang membisu di keluarga kami; seorang anak tak berdosa yang semasa kecil diserang demam yang hebat dan tanpa ampun. Demam celaka itu, bagai badai yang tiba-tiba, membawa pergi seluruh kekuatan fisik gadis kecil itu dan meninggalkannya cacat sepenuhnya untuk selamanya. Meski begitu, halaman Bibi menjadi terang oleh kehadiran Haniyeh; Paman Jalal mendudukkannya di atas kasur kecil yang empuk, di bawah bayang satu-satunya pohon delima. Haniyeh tidak bisa berlari atau bersorak seperti kami, tetapi matanya yang besar dan indah berbinar saat menonton kami bermain, dan suara tawanya yang tak berdosa adalah musik terindah di halaman Bibi.
Namun ketenangan halaman itu tidak bertahan lama setelah kedatangan orang berikutnya: Milad!
Milad, putra Paman Jalal, hanya setahun lebih muda dariku, dan jarak yang tipis itu menjadikan kami si kembar yang tak terpisahkan di keluarga. Milad adalah biji mata semua orang dan, tentu saja, sumber sakit kepala terbesar bagi orang-orang dewasa. Sejak saat pandangan kami bertemu, percikan rencana baru dan kerusakan baru sudah menyala di kepala kami. Kami memuja kenakalan dan, jika disatukan, kami membentuk duet tak terkendali yang tidak sanggup dilawan oleh orang dewasa mana pun.
Salah satu hiburan kesukaan kami adalah menjarah kotak perkakas Paman Jalal. Ketika ia sedang minum teh di sofa, duduk di samping ayahku Zaher, aku dan Milad diam-diam menggondol kotak ajaibnya itu. Dengan kabel, kapasitor, dan bola lampu kecil milik Paman, kami membuat bom khayalan lalu menyembunyikannya di sudut-sudut halaman.
Cukup Bibi Fatemeh meletakkan pintalannya yang berirama selama beberapa menit dan masuk ke dapur. Dalam sekejap mata, aku dan Milad mengubah roda pemintal tasbihnya menjadi derek perang, atau mengikat benang-benang pintalannya dari satu pohon ke pohon lain di halaman untuk membuat, kata kami, jebakan peledak bagi yang lain!
Teriakan Tante Khadijeh yang mengejar kami dengan penggaris jahitnya, gerutuan Paman Nader yang mengaku kenakalan kami telah merobek tidur siangnya, dan tawa yang ditahan-tahan ayahku Zaher, yang senang melihat kami begitu hidup dan lincah; semua itu adalah lungsin dan pakan sebuah surga impian yang kami bangun di kompleks Golestan.
Di tengah keriuhan itu, Milad selalu menyenggol bahuku, memandangku dengan mata setannya, dan berkata: “Mohsen, apa rencana berikutnya?” Dan aku, dengan kebanggaan seorang kakak, menyentuh kunci besi di dasar sakuku lalu tertawa. Kami adalah kaisar dari kerajaan kecil itu; kaisar berusia tiga belas dan dua belas tahun yang percaya bahwa hari-hari Jumat yang riuh itu, tangan-tangan baik Paman Jalal itu, senyum Haniyeh kecil itu, dan gelora tanpa batas persahabatan kami akan berdiri selamanya...
## Bagian ketiga: Sunyinya sendok-sendok dan rasa sepat oleh-oleh
Namun surga tak berdosa itu dan hari-hari Jumat yang penuh keriuhan di bawah bayangan Gunung Allahu Akbar tidak bertahan lama. Sebuah badai musim gugur sedang mendekat, tepat di tengah bulan Mei 1995...
Perjalanan dua pekan ibuku Marzieh dan Bibi Fatemeh ke Suriah telah berakhir. Dua pekan yang kulewati bersama Faezeh dan Maryam kecil di rumah Bibi, di bawah naungan kebaikan tanpa pamrih Tante Khadijeh. Tante Khadijeh, yang telah bertahun-tahun berpisah dari suaminya dan memutar roda kehidupan kedua anaknya, Sina dan Sara, dengan kerja siang malam, selama dua pekan itu telah menjadi ibu bagi kami.
Ketika ibuku pulang, kopernya menguarkan bau yang aneh; campuran wangi melati Damaskus, kapulaga dan rempah Arab, serta debu yang mengendap dari jalan yang panjang. Oleh-oleh tertata di atas meja: kue-kue Suriah yang gurih dan lezat, tasbih warna-warni, dan mainan kecil untuk Maryam. Tetapi di balik senyum ibuku, sebuah cahaya telah padam. Perempuan yang berangkat naik bus dengan gelora ziarah itu kini pulang bagai burung dengan sayap patah, gentar bahkan pada bayangannya sendiri.
Sehari setelah kepulangannya, saat itu jam makan siang. Matahari bulan Mei menembus kaca salon di lantai atas dan jatuh ke atas alas hidangan yang terbentang di ruang tengah. Kami semua berkumpul mengelilinginya: ayahku Zaher, ibuku, aku, Faezeh, dan Maryam kecil yang, tanpa tahu apa-apa, sebagai bungsu manja rumah ini mengayun-ayunkan sendok di tangannya.
Kami menunggu ibu bercerita tentang perjalanannya seperti biasa, dengan segala rinciannya: pasar-pasar Damaskus, makam suci, teman-teman seperjalanannya. Tetapi ia duduk di dekat alas hidangan dengan wajah gelisah, mata tanpa cahaya, dan senyum yang lebih mirip permintaan maaf yang panjang.
Makan siang dimulai, tetapi tidak ada yang berkata sepatah pun. Kesunyian yang menyesakkan dan berat memenuhi ruangan; kesunyian yang hanya dipecah oleh benturan sendok yang monoton dan keras kepala di dasar piring melamin. Aku dan Faezeh terus-menerus bertukar pandang yang gemetar, heran dan cemas, antara wajah kalut ayahku dan mata ibuku yang tertunduk. Bahkan Maryam, meski masih sangat kecil, tampaknya memahami beratnya udara dan makan lebih pelan dari biasanya. Ada yang tidak beres. Seolah perjalanan ke Suriah, alih-alih meredakan jiwa ibuku yang letih dan muram, justru menoreh luka yang lebih dalam dan lebih tersembunyi padanya.
Ketika alas hidangan dibereskan dan ibuku hendak membawa piring-piring ke dapur, ayahku memanggilnya dengan suara tenang namun bulat, yang di dalamnya bergetar sebuah kegelisahan: “Marzieh... duduklah. Kita harus bicara.”
Ibuku pucat pasi. Ia memohon dengan suara lemah: “Zaher, kumohon, jangan sekarang... tunda saja untuk lain waktu. Ada anak-anak di sini...”
Tetapi ayahku bersikeras. Keduanya begitu tenggelam dalam pikiran mereka yang kacau sehingga seakan sama sekali lupa akan kehadiran kami. Ibuku meremas ujung alas hidangan. Kulit wajahnya memerah seperti gadis kecil yang malu, dan air mata bergetar di cekung matanya yang rapuh.
Ayahku, dengan ketenangannya yang biasa namun dengan nada yang meluap kasih sayang, meletakkan tangannya di atas tangan ibu dan bertanya: “Marzieh, ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu dalam perjalanan itu sampai kau melebur begini?”
Bendungan air mata ibuku jebol. Ia menangis tersedu; tangis yang mengiris, yang isaknya membuat Maryam kecil ketakutan, sampai ia melemparkan diri ke pelukan ibunya dan ikut menangis. Ayahku membelai Maryam, dan ibuku, di sela isak yang terputus-putus, mulai bicara:
“Aku tidak tahu, Zaher... mungkin karena perubahan cuaca, atau mungkin karena guncangan hebat dan tak berkesudahan dari bus terkutuk itu di jalan-jalan yang jauh. Perjalanannya begitu panjang dan melelahkan sampai aku, yang lebih muda, alih-alih menjaga ibumu, Bibi Fatemeh, justru jatuh sakit parah. Aku malu, Zaher... aku sungkan. Tetapi ibumu... bahkan ketika aku terbakar demam dan tertidur, selimut yang kutarik ke tubuhku ia tarik ke tubuhnya sendiri supaya lebih hangat! Bagaimana mungkin aku, orang asing di bus itu, meminta tolong kepadanya?”
Ibuku mengangkat kepala, menatapkan matanya yang basah ke mata ayahku, dan melanjutkan: “Beratnya sakit itu membuatku tak berdaya. Aku terpaksa menceritakan keadaanku kepada sopir bus. Dan ia, dengan kemurahan hati, ketika kami tiba di Suriah, mencarikan obat untukku dan mengantarku ke klinik terdekat untuk berobat. Zaher... katakanlah, apakah aku berbuat salah, di negeri orang?”
Ayahku, tanpa ragu sedetik pun, memandangnya dengan mata yang teguh dan penuh kasih dan berkata: “Tidak, Marzieh sayang. Kau berbuat benar.”
Tetapi air mata ibuku justru bertambah deras; seperti hujan yang jatuh di tanah kering kompleks Golestan. “Lalu kenapa mereka membicarakan hal-hal buruk tentangku? Kenapa para peziarah yang seperjalanan dengan kami membawa kabar dusta dan kotor itu ke telinga ibumu? Ini bukan hakku, Zaher... ini bukan hakku. Kau seharusnya berterima kasih kepada sopir itu karena telah menjaga istrimu, bukan menjawab fitnah kerabatmu!”
Ayahku Zaher, yang kehormatan dan harga dirinya terikat pada setiap serat perempuan itu, menggenggam tangan ibuku yang gemetar di antara tangannya yang lebar dan kasar, membelainya, dan berkata dengan suara yang kini beriak amarah yang ditahan:
“Marzieh-ku, aku percaya sepenuhnya kepadamu. Bagiku kau lebih murni daripada emas murni. Tidak ada satu kata pun yang bisa menodai kehormatanmu. Pakai cadarmu sekarang juga; bersiaplah, kita pergi ke rumah ibuku, ke rumah Bibi Fatemeh, dan kita lihat apa yang hendak mereka katakan. Perkara ini harus selesai hari ini juga.”
Ayahku bangkit. Kupandang wajahnya; amarah dan kehormatan seorang lelaki berkilat di matanya. Pada usia tiga belas tahun aku masih tidak tahu apa-apa dan tidak menyangka bahwa melangkahkan kaki ke rumah Bibi Fatemeh pada sore yang membakar itu akan menjadi awal keruntuhan abadi surga kecil kami...
Namun surga tak berdosa itu dan hari-hari Jumat yang penuh keriuhan di bawah bayangan Gunung Allahu Akbar tidak bertahan lama. Sebuah badai musim gugur sedang mendekat, tepat di tengah bulan Mei 1995...
Perjalanan dua pekan ibuku Marzieh dan Bibi Fatemeh ke Suriah telah berakhir. Dua pekan yang kulewati bersama Faezeh dan Maryam kecil di rumah Bibi, di bawah naungan kebaikan tanpa pamrih Tante Khadijeh. Tante Khadijeh, yang telah bertahun-tahun berpisah dari suaminya dan memutar roda kehidupan kedua anaknya, Sina dan Sara, dengan kerja siang malam, selama dua pekan itu telah menjadi ibu bagi kami.
Ketika ibuku pulang, kopernya menguarkan bau yang aneh; campuran wangi melati Damaskus, kapulaga dan rempah Arab, serta debu yang mengendap dari jalan yang panjang. Oleh-oleh tertata di atas meja: kue-kue Suriah yang gurih dan lezat, tasbih warna-warni, dan mainan kecil untuk Maryam. Tetapi di balik senyum ibuku, sebuah cahaya telah padam. Perempuan yang berangkat naik bus dengan gelora ziarah itu kini pulang bagai burung dengan sayap patah, gentar bahkan pada bayangannya sendiri.
Sehari setelah kepulangannya, saat itu jam makan siang. Matahari bulan Mei menembus kaca salon di lantai atas dan jatuh ke atas alas hidangan yang terbentang di ruang tengah. Kami semua berkumpul mengelilinginya: ayahku Zaher, ibuku, aku, Faezeh, dan Maryam kecil yang, tanpa tahu apa-apa, sebagai bungsu manja rumah ini mengayun-ayunkan sendok di tangannya.
Kami menunggu ibu bercerita tentang perjalanannya seperti biasa, dengan segala rinciannya: pasar-pasar Damaskus, makam suci, teman-teman seperjalanannya. Tetapi ia duduk di dekat alas hidangan dengan wajah gelisah, mata tanpa cahaya, dan senyum yang lebih mirip permintaan maaf yang panjang.
Makan siang dimulai, tetapi tidak ada yang berkata sepatah pun. Kesunyian yang menyesakkan dan berat memenuhi ruangan; kesunyian yang hanya dipecah oleh benturan sendok yang monoton dan keras kepala di dasar piring melamin. Aku dan Faezeh terus-menerus bertukar pandang yang gemetar, heran dan cemas, antara wajah kalut ayahku dan mata ibuku yang tertunduk. Bahkan Maryam, meski masih sangat kecil, tampaknya memahami beratnya udara dan makan lebih pelan dari biasanya. Ada yang tidak beres. Seolah perjalanan ke Suriah, alih-alih meredakan jiwa ibuku yang letih dan muram, justru menoreh luka yang lebih dalam dan lebih tersembunyi padanya.
Ketika alas hidangan dibereskan dan ibuku hendak membawa piring-piring ke dapur, ayahku memanggilnya dengan suara tenang namun bulat, yang di dalamnya bergetar sebuah kegelisahan: “Marzieh... duduklah. Kita harus bicara.”
Ibuku pucat pasi. Ia memohon dengan suara lemah: “Zaher, kumohon, jangan sekarang... tunda saja untuk lain waktu. Ada anak-anak di sini...”
Tetapi ayahku bersikeras. Keduanya begitu tenggelam dalam pikiran mereka yang kacau sehingga seakan sama sekali lupa akan kehadiran kami. Ibuku meremas ujung alas hidangan. Kulit wajahnya memerah seperti gadis kecil yang malu, dan air mata bergetar di cekung matanya yang rapuh.
Ayahku, dengan ketenangannya yang biasa namun dengan nada yang meluap kasih sayang, meletakkan tangannya di atas tangan ibu dan bertanya: “Marzieh, ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu dalam perjalanan itu sampai kau melebur begini?”
Bendungan air mata ibuku jebol. Ia menangis tersedu; tangis yang mengiris, yang isaknya membuat Maryam kecil ketakutan, sampai ia melemparkan diri ke pelukan ibunya dan ikut menangis. Ayahku membelai Maryam, dan ibuku, di sela isak yang terputus-putus, mulai bicara:
“Aku tidak tahu, Zaher... mungkin karena perubahan cuaca, atau mungkin karena guncangan hebat dan tak berkesudahan dari bus terkutuk itu di jalan-jalan yang jauh. Perjalanannya begitu panjang dan melelahkan sampai aku, yang lebih muda, alih-alih menjaga ibumu, Bibi Fatemeh, justru jatuh sakit parah. Aku malu, Zaher... aku sungkan. Tetapi ibumu... bahkan ketika aku terbakar demam dan tertidur, selimut yang kutarik ke tubuhku ia tarik ke tubuhnya sendiri supaya lebih hangat! Bagaimana mungkin aku, orang asing di bus itu, meminta tolong kepadanya?”
Ibuku mengangkat kepala, menatapkan matanya yang basah ke mata ayahku, dan melanjutkan: “Beratnya sakit itu membuatku tak berdaya. Aku terpaksa menceritakan keadaanku kepada sopir bus. Dan ia, dengan kemurahan hati, ketika kami tiba di Suriah, mencarikan obat untukku dan mengantarku ke klinik terdekat untuk berobat. Zaher... katakanlah, apakah aku berbuat salah, di negeri orang?”
Ayahku, tanpa ragu sedetik pun, memandangnya dengan mata yang teguh dan penuh kasih dan berkata: “Tidak, Marzieh sayang. Kau berbuat benar.”
Tetapi air mata ibuku justru bertambah deras; seperti hujan yang jatuh di tanah kering kompleks Golestan. “Lalu kenapa mereka membicarakan hal-hal buruk tentangku? Kenapa para peziarah yang seperjalanan dengan kami membawa kabar dusta dan kotor itu ke telinga ibumu? Ini bukan hakku, Zaher... ini bukan hakku. Kau seharusnya berterima kasih kepada sopir itu karena telah menjaga istrimu, bukan menjawab fitnah kerabatmu!”
Ayahku Zaher, yang kehormatan dan harga dirinya terikat pada setiap serat perempuan itu, menggenggam tangan ibuku yang gemetar di antara tangannya yang lebar dan kasar, membelainya, dan berkata dengan suara yang kini beriak amarah yang ditahan:
“Marzieh-ku, aku percaya sepenuhnya kepadamu. Bagiku kau lebih murni daripada emas murni. Tidak ada satu kata pun yang bisa menodai kehormatanmu. Pakai cadarmu sekarang juga; bersiaplah, kita pergi ke rumah ibuku, ke rumah Bibi Fatemeh, dan kita lihat apa yang hendak mereka katakan. Perkara ini harus selesai hari ini juga.”
Ayahku bangkit. Kupandang wajahnya; amarah dan kehormatan seorang lelaki berkilat di matanya. Pada usia tiga belas tahun aku masih tidak tahu apa-apa dan tidak menyangka bahwa melangkahkan kaki ke rumah Bibi Fatemeh pada sore yang membakar itu akan menjadi awal keruntuhan abadi surga kecil kami...
## Bagian keempat: Abu surga di ruang tengah Bibi
Ketika ayahku Zaher, ibuku Marzieh — dengan cadar hitamnya dan bahu yang gemetar — dan aku melangkah masuk ke rumah Bibi Fatemeh, kami tidak berhenti di halaman. Kami menaiki tangga dan masuk ke “ruang tengah”; ruang tamu besar yang di sekelilingnya selalu tertata bantal-bantal beludru dan yang pada hari Jumat menjadi jantung berdetak pertemuan keluarga yang riuh. Tetapi hari itu tidak tersisa sedikit pun dari keakraban dan pelukan hangat yang biasanya.
Kesunyian yang aneh, berat, dan menyesakkan menguasai ruangan; seakan kedatangan kami yang tiba-tiba mengejutkan semua orang. Tante Khadijeh, Paman Nader, Sina, dan Bibi Fatemeh meringkuk masing-masing di sudutnya, tetapi begitu kami masuk, semuanya membeku dalam sekejap. Tidak ada yang bicara. Kesunyian ruangan itu begitu berat dan begitu kejam sampai napas ibuku yang kalut dan terputus-putus terdengar jelas.
Ayahku Zaher, yang getar halus tangannya membocorkan amarah di dalam dirinya, berdiri menunggu siapa yang akan melancarkan pukulan pertama terhadap kehormatan rumahnya. Akhirnya Tante Khadijeh bangkit dengan wajah membara, mendekati ibuku, dan berkata dengan nada yang berbau perintah: “Marzieh, bangun dan ikut aku ke kamar sebelah. Aku harus bicara denganmu.”
Ayahku maju dengan tatapan berang dan menghadang jalannya: “Tidak! Apa pun yang hendak dikatakan, dikatakan di sini, di ruang ini, dan di hadapanku!”
Bibi Fatemeh, yang duduk di atas bantal tuanya, mencoba meredakan pertengkaran. Ia menoleh kepada Tante Khadijeh dan berkata: “Khadijeh, duduklah. Perkara ini bukan urusan kita, jangan ikut campur.”
Tetapi Tante Khadijeh tidak mau mendengar. Ia berbalik kepada ibuku Marzieh dan, dengan kata-kata yang keras dan tanpa ampun, mencela tingkah lakunya selama perjalanan dan hubungannya dengan sopir bus. Ibuku menundukkan kepala dan menarik cadarnya menutupi wajah. Bibi Fatemeh, melihat bahwa diam tidak ada gunanya, menceritakan kisah itu kepada ayahku persis seperti yang didengarnya dari mulut perempuan Arab pemimpin rombongan peziarah:
“Zaher, perempuan ini di negeri orang telah melakukan hal-hal yang tidak pantas bagi seorang perempuan yang tahu malu dan muslimah! Ia meminta sopir menaikkan koper-kopernya yang berat atau menyerahkannya kepadanya. Dan ketika ia sakit, ia terus-menerus mendatangi sopir itu dan meminta diantar ke klinik atau ke apotek. Bahkan di depan mataku sendiri, sopir itu memapah Marzieh untuk membantunya berjalan! Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di antara mereka ketika aku tidak bersama mereka!”
Mendengar fitnah yang tidak adil itu, bendungan diri ibuku jebol dan suara isaknya sebagai orang asing memenuhi ruangan. Ayahku Zaher, yang darahnya sudah naik ke mata, berteriak dalam ledakan amarah: “Aku percaya sepenuhnya kepada Marzieh! Baginya aku, ia lebih murni daripada emas dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memfitnah istriku!” Lalu ia menggenggam tangan ibuku dan berteriak: “Marzieh, bangun, kita pergi dari rumah ini!”
Sina, putra Tante Khadijeh, dan Paman Nader berlari panik dan menghadang pintu keluar ruangan untuk mencegah ayahku pergi. Ketika mereka bertanya sambil memohon hendak ke mana ia pergi dalam keadaan seperti itu, ayahku, di puncak keputusasaan dan kegilaan karena kehormatannya yang terluka, berteriak: “Aku akan menenggelamkan diriku, istriku, dan anak-anakku di kanal air!”
Semua orang menerjang untuk menahannya agar tidak keluar rumah. Ayahku, yang merasa dirinya terkurung dalam cengkeraman mereka dan tak bisa membebaskan diri di ruang tertutup itu, di puncak tekanan saraf dan tak lagi menguasai diri, tiba-tiba membenturkan kepalanya sekuat tenaga ke pintu masuk ruangan; pintu kayu tua dengan jendela-jendela berkaca warna itu.
Suara mengerikan dan memekakkan dari kaca yang pecah meledakkan kesunyian rumah. Dalam sedetik, kaca-kaca warna yang indah itu runtuh dan darah hangat dan merah menyembur dari kening ayahku dan menutupi wajahnya. Kakinya seketika kehilangan tenaga dan ia jatuh pingsan ke dalam pelukan keluarga.
Ruangan itu berubah menjadi neraka jeritan, kaca, dan darah. Aku, Faezeh, dan Maryam gemetar ketakutan dan menangis di atas pecahan kaca. Sina dan Paman Nader tergesa membawa tubuh ayah yang berlumur darah dan tak berdaya ke dalam kamar untuk membalut kepalanya. Tante Khadijeh, yang di dadanya tiba-tiba runtuh beban penyesalan dan rasa bersalah, terkena kejang dan jatuh di atas permadani ruangan dengan tangan dan kaki yang bergetar.
Di tengah keriuhan itu, jeritan, dan lalu-lalang orang mengambil air gula, tidak ada yang ingat kepada ibuku. Tetapi aku menyadari ketidakhadirannya. Gelisah dan cemas, aku keluar dari kekacauan ruangan itu dan berlari ke halaman belakang.
Ibuku ada di sana; dengan wajah basah air mata dan pikiran yang kalut, ia melangkah cepat sambil menggumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri. Melihatku, ia berlari ke arahku. Matanya bergerak ke sana kemari. Ia meletakkan tangannya yang gemetar di bahuku dan bertanya: “Mohsen... Mohsen, kunci rumah ada padamu?”
Tangan kananku tanpa sadar menyelinap ke saku celanaku. Sisi-sisi kasar dan tajam kunci celaka itu menekan tepat pada ruas pertama jari telunjukku — pada luka lama yang perih itu — dan rasa sakit fisik dari kunci itu terikat di hatiku dengan sebuah firasat yang aneh.
Aku berkata dengan suara gemetar: “Ada, Bu.”
Ia memohon: “Berikan padaku, Mohsen. Aku harus pulang. Tidak pantas aku tinggal di sini dalam keadaan begini. Aku sama sekali tidak enak badan, aku harus pulang untuk istirahat sebentar.”
Aku takut. Kugenggam kunci itu erat-erat dan logamnya yang tajam menggigit jariku. Aku bertanya: “Kalau Ayah sadar dan tahu Ibu tidak ada, bagaimana?”
Ibuku tersenyum pahit dan tanpa tenaga, membelai jari-jari kecilku, dan berkata: “Tidak apa-apa, Nak, Ibu segera kembali... berikan saja kuncinya.”
Untuk terakhir kalinya kurasakan tekanan logam dingin kunci itu pada bekas luka jari telunjukku dan, dalam ketidaktahuan usia tiga belas tahunku, kukeluarkan kunci itu dari saku dan kuserahkan ke tangan ibuku yang gemetar. Ibuku merapikan cadarnya di kepala dan bergegas, bagaikan bayangan yang ringan dalam cahaya senja yang meredup, lenyap dari pintu halaman...
Andai saja... andai saja pada sore yang membakar itu aku tidak pernah datang ke halaman itu dan tidak berpapasan dengan ibuku. Sampai hari ini pun, setelah bertahun-tahun, aku menganggap diriku terdakwa utama dari semua badai yang bangkit di balik pintu-pintu yang tertutup itu...
Ketika ayahku Zaher, ibuku Marzieh — dengan cadar hitamnya dan bahu yang gemetar — dan aku melangkah masuk ke rumah Bibi Fatemeh, kami tidak berhenti di halaman. Kami menaiki tangga dan masuk ke “ruang tengah”; ruang tamu besar yang di sekelilingnya selalu tertata bantal-bantal beludru dan yang pada hari Jumat menjadi jantung berdetak pertemuan keluarga yang riuh. Tetapi hari itu tidak tersisa sedikit pun dari keakraban dan pelukan hangat yang biasanya.
Kesunyian yang aneh, berat, dan menyesakkan menguasai ruangan; seakan kedatangan kami yang tiba-tiba mengejutkan semua orang. Tante Khadijeh, Paman Nader, Sina, dan Bibi Fatemeh meringkuk masing-masing di sudutnya, tetapi begitu kami masuk, semuanya membeku dalam sekejap. Tidak ada yang bicara. Kesunyian ruangan itu begitu berat dan begitu kejam sampai napas ibuku yang kalut dan terputus-putus terdengar jelas.
Ayahku Zaher, yang getar halus tangannya membocorkan amarah di dalam dirinya, berdiri menunggu siapa yang akan melancarkan pukulan pertama terhadap kehormatan rumahnya. Akhirnya Tante Khadijeh bangkit dengan wajah membara, mendekati ibuku, dan berkata dengan nada yang berbau perintah: “Marzieh, bangun dan ikut aku ke kamar sebelah. Aku harus bicara denganmu.”
Ayahku maju dengan tatapan berang dan menghadang jalannya: “Tidak! Apa pun yang hendak dikatakan, dikatakan di sini, di ruang ini, dan di hadapanku!”
Bibi Fatemeh, yang duduk di atas bantal tuanya, mencoba meredakan pertengkaran. Ia menoleh kepada Tante Khadijeh dan berkata: “Khadijeh, duduklah. Perkara ini bukan urusan kita, jangan ikut campur.”
Tetapi Tante Khadijeh tidak mau mendengar. Ia berbalik kepada ibuku Marzieh dan, dengan kata-kata yang keras dan tanpa ampun, mencela tingkah lakunya selama perjalanan dan hubungannya dengan sopir bus. Ibuku menundukkan kepala dan menarik cadarnya menutupi wajah. Bibi Fatemeh, melihat bahwa diam tidak ada gunanya, menceritakan kisah itu kepada ayahku persis seperti yang didengarnya dari mulut perempuan Arab pemimpin rombongan peziarah:
“Zaher, perempuan ini di negeri orang telah melakukan hal-hal yang tidak pantas bagi seorang perempuan yang tahu malu dan muslimah! Ia meminta sopir menaikkan koper-kopernya yang berat atau menyerahkannya kepadanya. Dan ketika ia sakit, ia terus-menerus mendatangi sopir itu dan meminta diantar ke klinik atau ke apotek. Bahkan di depan mataku sendiri, sopir itu memapah Marzieh untuk membantunya berjalan! Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di antara mereka ketika aku tidak bersama mereka!”
Mendengar fitnah yang tidak adil itu, bendungan diri ibuku jebol dan suara isaknya sebagai orang asing memenuhi ruangan. Ayahku Zaher, yang darahnya sudah naik ke mata, berteriak dalam ledakan amarah: “Aku percaya sepenuhnya kepada Marzieh! Baginya aku, ia lebih murni daripada emas dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memfitnah istriku!” Lalu ia menggenggam tangan ibuku dan berteriak: “Marzieh, bangun, kita pergi dari rumah ini!”
Sina, putra Tante Khadijeh, dan Paman Nader berlari panik dan menghadang pintu keluar ruangan untuk mencegah ayahku pergi. Ketika mereka bertanya sambil memohon hendak ke mana ia pergi dalam keadaan seperti itu, ayahku, di puncak keputusasaan dan kegilaan karena kehormatannya yang terluka, berteriak: “Aku akan menenggelamkan diriku, istriku, dan anak-anakku di kanal air!”
Semua orang menerjang untuk menahannya agar tidak keluar rumah. Ayahku, yang merasa dirinya terkurung dalam cengkeraman mereka dan tak bisa membebaskan diri di ruang tertutup itu, di puncak tekanan saraf dan tak lagi menguasai diri, tiba-tiba membenturkan kepalanya sekuat tenaga ke pintu masuk ruangan; pintu kayu tua dengan jendela-jendela berkaca warna itu.
Suara mengerikan dan memekakkan dari kaca yang pecah meledakkan kesunyian rumah. Dalam sedetik, kaca-kaca warna yang indah itu runtuh dan darah hangat dan merah menyembur dari kening ayahku dan menutupi wajahnya. Kakinya seketika kehilangan tenaga dan ia jatuh pingsan ke dalam pelukan keluarga.
Ruangan itu berubah menjadi neraka jeritan, kaca, dan darah. Aku, Faezeh, dan Maryam gemetar ketakutan dan menangis di atas pecahan kaca. Sina dan Paman Nader tergesa membawa tubuh ayah yang berlumur darah dan tak berdaya ke dalam kamar untuk membalut kepalanya. Tante Khadijeh, yang di dadanya tiba-tiba runtuh beban penyesalan dan rasa bersalah, terkena kejang dan jatuh di atas permadani ruangan dengan tangan dan kaki yang bergetar.
Di tengah keriuhan itu, jeritan, dan lalu-lalang orang mengambil air gula, tidak ada yang ingat kepada ibuku. Tetapi aku menyadari ketidakhadirannya. Gelisah dan cemas, aku keluar dari kekacauan ruangan itu dan berlari ke halaman belakang.
Ibuku ada di sana; dengan wajah basah air mata dan pikiran yang kalut, ia melangkah cepat sambil menggumamkan sesuatu kepada dirinya sendiri. Melihatku, ia berlari ke arahku. Matanya bergerak ke sana kemari. Ia meletakkan tangannya yang gemetar di bahuku dan bertanya: “Mohsen... Mohsen, kunci rumah ada padamu?”
Tangan kananku tanpa sadar menyelinap ke saku celanaku. Sisi-sisi kasar dan tajam kunci celaka itu menekan tepat pada ruas pertama jari telunjukku — pada luka lama yang perih itu — dan rasa sakit fisik dari kunci itu terikat di hatiku dengan sebuah firasat yang aneh.
Aku berkata dengan suara gemetar: “Ada, Bu.”
Ia memohon: “Berikan padaku, Mohsen. Aku harus pulang. Tidak pantas aku tinggal di sini dalam keadaan begini. Aku sama sekali tidak enak badan, aku harus pulang untuk istirahat sebentar.”
Aku takut. Kugenggam kunci itu erat-erat dan logamnya yang tajam menggigit jariku. Aku bertanya: “Kalau Ayah sadar dan tahu Ibu tidak ada, bagaimana?”
Ibuku tersenyum pahit dan tanpa tenaga, membelai jari-jari kecilku, dan berkata: “Tidak apa-apa, Nak, Ibu segera kembali... berikan saja kuncinya.”
Untuk terakhir kalinya kurasakan tekanan logam dingin kunci itu pada bekas luka jari telunjukku dan, dalam ketidaktahuan usia tiga belas tahunku, kukeluarkan kunci itu dari saku dan kuserahkan ke tangan ibuku yang gemetar. Ibuku merapikan cadarnya di kepala dan bergegas, bagaikan bayangan yang ringan dalam cahaya senja yang meredup, lenyap dari pintu halaman...
Andai saja... andai saja pada sore yang membakar itu aku tidak pernah datang ke halaman itu dan tidak berpapasan dengan ibuku. Sampai hari ini pun, setelah bertahun-tahun, aku menganggap diriku terdakwa utama dari semua badai yang bangkit di balik pintu-pintu yang tertutup itu...
## Bagian kelima: Gema dering yang celaka dan aspal yang membara
Hampir dua jam telah berlalu sejak bencana itu; dua jam yang bagiku terasa dua abad. Setelah badai yang berat itu, rumah Bibi Fatemeh kembali tenggelam dalam kesunyian yang mematikan, kesunyian alam barzakh. Ayahku, dengan kening terbalut perban, terbaring lemah di atas kasur; ia belum sepenuhnya sadar dan tidak tahu apa-apa tentang keributan di luar. Tante Khadijeh, setelah kejang hebat yang baru dilaluinya, meringkuk di sudut ruangan dengan wajah pucat dan mata redup. Penyesalan dan beban tuduhan yang mereka lemparkan kepada ibuku mengendap seperti debu kelabu di wajah seluruh keluarga. Tidak ada yang bicara; seakan semua menunggu percikan lain untuk kembali hancur berkeping.
Tiba-tiba, dering telepon di atas meja kecil meledakkan kesunyian yang menyesakkan itu.
Kami semua tersentak kaget. Tante Khadijeh, dengan tangan yang masih gemetar, berlari ke telepon dan mengangkat gagangnya. Begitu ia mendengar suara di ujung sana, wajahnya memutih seperti kapur, tanpa darah. Mulutnya menganga, seolah udara tidak lagi cukup untuk napasnya. Dengan suara yang seakan keluar dari dasar sumur, ia berteriak berkali-kali sambil memohon: “Jangan... tunggu! Marzieh? Marzieh, itu kau?... Marzieh! Marzieh!”
Gagang telepon terlepas dari tangan Tante yang gemetar dan jatuh ke pesawatnya. Ia menoleh kepada Sina dan Paman Nader lalu menjerit dengan suara ketakutan dan terputus-putus: “Cepat, kita pergi... itu Marzieh... katanya: jemput aku, bawa aku pergi... aku sama sekali tidak enak badan!”
Kegaduhan yang aneh mencengkeram rumah Bibi. Semua orang berputar-putar panik, baru menyadari bahwa mereka semestinya tidak melepaskan pandangan dari ibuku barang sedetik pun. Di tengah keributan itu, sebuah gunung rasa bersalah runtuh menimpa dadaku. Seluruh tubuhku gemetar cemas. Dengan suara menangis dan bergetar, aku mengaku: “Tante... Ibu meminta kunci rumah dariku... dan aku... aku memberikannya!”
Tante Khadijeh berbalik ke arahku dengan mata yang penuh kengerian dan amarah, mengguncang bahuku, dan berteriak: “Kau salah, Nak! Kau salah! Bagaimana aku harus menjawab ayahmu sekarang? Kalau, amit-amit, ibumu berbuat sesuatu pada dirinya sendiri, ke mana aku harus menaruh muka?”
Dengan kata-kata Tante itu, langit seakan runtuh di atas kepalaku dan dunia menggelap di depan mataku. Aku berharap bumi terbelah dan menelanku. Terlintas di kepalaku untuk kabur dari rumah. Saudari-saudariku yang ketakutan, Faezeh dan Maryam kecil, menatapku dengan mata yang penuh takut dan iba; tatapan yang beratnya, bagaikan pengadilan yang adil, menghukum ketidaktahuan usia tiga belas tahunku.
Orang-orang dewasa bergegas bersiap untuk pergi ke rumah kami. Agar kami tidak menghalangi atau membuat keributan di halaman, aku, Faezeh, dan Maryam dibawa ke salah satu kamar belakang dan pintunya dikunci dari luar. Hanya Sara dan Tante Parvin yang tinggal di rumah untuk menjaga kami dan ayah kami yang pingsan.
Waktu berjalan dengan berat. Aku mendengar detak jantungku sendiri yang kencang di dada. Menahan diri dalam empat dinding terkunci itu tanpa kabar tentang ibuku sungguh mustahil bagiku. Kakiku gemetar, tetapi tekadku untuk pergi sudah bulat. Sara, yang merasa iba kepada kami dan melihat air mataku yang memohon, diam-diam membuka kunci pintu, tetapi dengan suara gemetar ia mengajukan satu syarat: “Mohsen... demi Tuhan, pergilah, tapi jangan katakan apa pun kepada ayahmu tentang kepergian Marzieh.”
Aku tidak menunggu sepatah kata lagi. Meski Tante Parvin dan Sara melarang, aku melangkah keluar dari pintu rumah.
Aku tidak punya sepeser pun di saku untuk naik taksi. Tangan kananku kosong dan bekas luka jari telunjukku masih perih karena tekanan kunci terkutuk itu. Aku mulai berlari. Jalan tanah menuju kompleks Golestan membara di bawah matahari sore yang menyengat, tetapi aku menempuh empat kilometer sampai rumah kami tanpa sepatu, dengan kaki telanjang. Aku terengah, paru-paruku terbakar oleh debu jalan, dan aku tidak merasakan panasnya telapak kakiku di atas aspal yang membara. Satu-satunya gambaran yang berputar di kepalaku adalah wajah kalut ibuku di halaman belakang. Aku memohon di dalam hati: “Ya Tuhan... buat saja ibuku selamat. Hanya itu.”
Ketika aku sampai di mulut gang kami di kompleks Golestan, ketakutan yang melumpuhkan membelenggu setiap serat diriku. Gang kami ramai dan penuh lalu-lalang. Para tetangga berkerumun di depan pintu rumah kami sambil berbisik-bisik.
Jantungku jatuh. Dengan panik, dengan kaki yang sudah tidak sanggup berlari, aku menerobos kerumunan. Tiba-tiba aku membeku. Sebuah ambulans putih terparkir di depan pintu. Kulihat Tante Khadijeh yang, karena perih dan gila oleh penyesalan, membenturkan kepalanya tanpa henti ke badan ambulans sambil meraung dan meratap memilukan: “Marzieh!... Marzieh!... Maafkan aku, Marzieh!”
Sirene ambulans menyala dengan raungan yang mengerikan dan memekakkan, dan mobil itu bergerak di antara kerumunan yang marah dan penasaran, lalu menjauh. Keringat dingin membasahi keningku dan pandanganku mengabur. Tatapan berat dan penuh iba para tetangga berpaling kepadaku; seorang anak lelaki tanpa alas kaki dengan telapak terluka, berdiri di ambang pintu, matanya terpaku pada kabel-kabel interkom rumah yang terjuntai. Tante Roya dan suaminya Hamid juga ada di sana. Hamid, yang seorang tukang listrik, telah mencabut kabel interkom untuk membuka pintu secepat mungkin dan membiarkannya terbuka agar mereka bisa masuk.
Tanpa mendengarkan siapa pun, aku melangkah masuk ke halaman rumah yang gelap. Aku menaiki anak tangga semen lantai dua; anak tangga yang udaranya penuh oleh bau tajam dan menyengat dari bahan kimia, debu, dan racun yang mematikan...
Hampir dua jam telah berlalu sejak bencana itu; dua jam yang bagiku terasa dua abad. Setelah badai yang berat itu, rumah Bibi Fatemeh kembali tenggelam dalam kesunyian yang mematikan, kesunyian alam barzakh. Ayahku, dengan kening terbalut perban, terbaring lemah di atas kasur; ia belum sepenuhnya sadar dan tidak tahu apa-apa tentang keributan di luar. Tante Khadijeh, setelah kejang hebat yang baru dilaluinya, meringkuk di sudut ruangan dengan wajah pucat dan mata redup. Penyesalan dan beban tuduhan yang mereka lemparkan kepada ibuku mengendap seperti debu kelabu di wajah seluruh keluarga. Tidak ada yang bicara; seakan semua menunggu percikan lain untuk kembali hancur berkeping.
Tiba-tiba, dering telepon di atas meja kecil meledakkan kesunyian yang menyesakkan itu.
Kami semua tersentak kaget. Tante Khadijeh, dengan tangan yang masih gemetar, berlari ke telepon dan mengangkat gagangnya. Begitu ia mendengar suara di ujung sana, wajahnya memutih seperti kapur, tanpa darah. Mulutnya menganga, seolah udara tidak lagi cukup untuk napasnya. Dengan suara yang seakan keluar dari dasar sumur, ia berteriak berkali-kali sambil memohon: “Jangan... tunggu! Marzieh? Marzieh, itu kau?... Marzieh! Marzieh!”
Gagang telepon terlepas dari tangan Tante yang gemetar dan jatuh ke pesawatnya. Ia menoleh kepada Sina dan Paman Nader lalu menjerit dengan suara ketakutan dan terputus-putus: “Cepat, kita pergi... itu Marzieh... katanya: jemput aku, bawa aku pergi... aku sama sekali tidak enak badan!”
Kegaduhan yang aneh mencengkeram rumah Bibi. Semua orang berputar-putar panik, baru menyadari bahwa mereka semestinya tidak melepaskan pandangan dari ibuku barang sedetik pun. Di tengah keributan itu, sebuah gunung rasa bersalah runtuh menimpa dadaku. Seluruh tubuhku gemetar cemas. Dengan suara menangis dan bergetar, aku mengaku: “Tante... Ibu meminta kunci rumah dariku... dan aku... aku memberikannya!”
Tante Khadijeh berbalik ke arahku dengan mata yang penuh kengerian dan amarah, mengguncang bahuku, dan berteriak: “Kau salah, Nak! Kau salah! Bagaimana aku harus menjawab ayahmu sekarang? Kalau, amit-amit, ibumu berbuat sesuatu pada dirinya sendiri, ke mana aku harus menaruh muka?”
Dengan kata-kata Tante itu, langit seakan runtuh di atas kepalaku dan dunia menggelap di depan mataku. Aku berharap bumi terbelah dan menelanku. Terlintas di kepalaku untuk kabur dari rumah. Saudari-saudariku yang ketakutan, Faezeh dan Maryam kecil, menatapku dengan mata yang penuh takut dan iba; tatapan yang beratnya, bagaikan pengadilan yang adil, menghukum ketidaktahuan usia tiga belas tahunku.
Orang-orang dewasa bergegas bersiap untuk pergi ke rumah kami. Agar kami tidak menghalangi atau membuat keributan di halaman, aku, Faezeh, dan Maryam dibawa ke salah satu kamar belakang dan pintunya dikunci dari luar. Hanya Sara dan Tante Parvin yang tinggal di rumah untuk menjaga kami dan ayah kami yang pingsan.
Waktu berjalan dengan berat. Aku mendengar detak jantungku sendiri yang kencang di dada. Menahan diri dalam empat dinding terkunci itu tanpa kabar tentang ibuku sungguh mustahil bagiku. Kakiku gemetar, tetapi tekadku untuk pergi sudah bulat. Sara, yang merasa iba kepada kami dan melihat air mataku yang memohon, diam-diam membuka kunci pintu, tetapi dengan suara gemetar ia mengajukan satu syarat: “Mohsen... demi Tuhan, pergilah, tapi jangan katakan apa pun kepada ayahmu tentang kepergian Marzieh.”
Aku tidak menunggu sepatah kata lagi. Meski Tante Parvin dan Sara melarang, aku melangkah keluar dari pintu rumah.
Aku tidak punya sepeser pun di saku untuk naik taksi. Tangan kananku kosong dan bekas luka jari telunjukku masih perih karena tekanan kunci terkutuk itu. Aku mulai berlari. Jalan tanah menuju kompleks Golestan membara di bawah matahari sore yang menyengat, tetapi aku menempuh empat kilometer sampai rumah kami tanpa sepatu, dengan kaki telanjang. Aku terengah, paru-paruku terbakar oleh debu jalan, dan aku tidak merasakan panasnya telapak kakiku di atas aspal yang membara. Satu-satunya gambaran yang berputar di kepalaku adalah wajah kalut ibuku di halaman belakang. Aku memohon di dalam hati: “Ya Tuhan... buat saja ibuku selamat. Hanya itu.”
Ketika aku sampai di mulut gang kami di kompleks Golestan, ketakutan yang melumpuhkan membelenggu setiap serat diriku. Gang kami ramai dan penuh lalu-lalang. Para tetangga berkerumun di depan pintu rumah kami sambil berbisik-bisik.
Jantungku jatuh. Dengan panik, dengan kaki yang sudah tidak sanggup berlari, aku menerobos kerumunan. Tiba-tiba aku membeku. Sebuah ambulans putih terparkir di depan pintu. Kulihat Tante Khadijeh yang, karena perih dan gila oleh penyesalan, membenturkan kepalanya tanpa henti ke badan ambulans sambil meraung dan meratap memilukan: “Marzieh!... Marzieh!... Maafkan aku, Marzieh!”
Sirene ambulans menyala dengan raungan yang mengerikan dan memekakkan, dan mobil itu bergerak di antara kerumunan yang marah dan penasaran, lalu menjauh. Keringat dingin membasahi keningku dan pandanganku mengabur. Tatapan berat dan penuh iba para tetangga berpaling kepadaku; seorang anak lelaki tanpa alas kaki dengan telapak terluka, berdiri di ambang pintu, matanya terpaku pada kabel-kabel interkom rumah yang terjuntai. Tante Roya dan suaminya Hamid juga ada di sana. Hamid, yang seorang tukang listrik, telah mencabut kabel interkom untuk membuka pintu secepat mungkin dan membiarkannya terbuka agar mereka bisa masuk.
Tanpa mendengarkan siapa pun, aku melangkah masuk ke halaman rumah yang gelap. Aku menaiki anak tangga semen lantai dua; anak tangga yang udaranya penuh oleh bau tajam dan menyengat dari bahan kimia, debu, dan racun yang mematikan...
## Bagian keenam: Bau sepat kematian dan tumit yang remuk
Dengan kaki yang nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku, begitu hebat kecemasan dan lelah menindihku, aku menaiki anak tangga semen. Setiap langkah lebih berat daripada langkah sebelumnya. Aku sampai di lantai dua; di tempat ibuku, dengan seribu harapan dan seribu impian, mendirikan sebuah salon kecil untuk kaum perempuan. Tetapi ruangan itu bukan lagi tempat berlindungnya warna, wangi sampo, dan keindahan.
Salon itu porak-poranda dalam kekacauan yang menakutkan, seakan sebuah badai buta baru saja melintasinya. Kursi kulit di depan cermin besar terbalik, tergeletak di lantai tanpa ampun. Sejumlah kosmetik dan botol cat rambut berserakan di sekitarnya; cairan-cairan kental dan berwarna yang kini merayap di lantai seperti darah yang celaka.
Bau yang tajam, membekap, dan menyengat membakar tenggorokanku. Pandanganku terpaku pada noda-noda gelap dan botol-botol kosong itu. Ya Tuhan... ibuku telah memakai bahan-bahan beracun itu, bahan kimia berbahaya untuk cat rambut itu, untuk mengakhiri hidupnya. Bahan-bahan yang selalu ia peringatkan kepada kami, dengan kecemasan seorang ibu yang penuh kasih, agar dijauhi karena itu racun yang mematikan. Dan kini, di puncak keputusasaan dan kesepian, ia sendiri yang meminumnya. Seluruh tubuhku mulai gemetar; kengerian yang mutlak mencakar jiwaku dan, dalam sepersekian detik, kubayangkan masa depanku yang gelap dan tanpa ampun, tanpa kehadiran dan tanpa pelukan ibuku.
Belakangan Hamid, suami tanteku, yang pertama kali sampai kepada ibuku, menceritakan pemandangan mengerikan itu dengan suara bergetar. Ia menemukan ibuku tergeletak di lantai, rambutnya yang selalu rapi terurai kacau di sekelilingnya, dengan busa keluar dari mulut dan hidungnya. Hamid berkata bahwa perih dari racun mematikan itu begitu mengiris sampai ibuku, pada saat-saat terakhir perlawanannya untuk hidup, memukulkan tumit kaki kanannya ke lantai sekuat tenaga dan tanpa henti.
Segala usaha untuk mengembalikannya ke dunia ini sia-sia. Meski para dokter di rumah sakit segera mencuci lambung dan ususnya, tubuhnya yang rapuh dan jiwanya yang letih tidak sanggup bertahan menghadapi kerusakan dalam akibat racun tanpa ampun itu. Akhirnya, pada hari Jumat yang hitam itu, tanggal 5 Mei 1995, Marzieh, ibuku yang lembut dan menderita, memejamkan mata selamanya dari dunia yang tak berbelas kasih ini.
Sepanjang dua tiga jam yang celaka ketika bencana-bencana itu berlangsung, ayahku yang malang terbaring pingsan di lantai sebuah kamar, di rumah Bibi Fatemeh, tanpa tahu apa-apa. Ketika ia akhirnya benar-benar sadar, dengan kepala pening dan bingung, ia menanyakan istrinya, sampai keluarga, dengan mata berlinang dan bibir gemetar, terpaksa mengatakan kepadanya kebenaran yang baru saja runtuh menimpa kami.
Lelaki yang angkuh dan tertutup itu hancur mendengar kabar tersebut. Ayahku segera bergegas pulang dan, dengan tangis keras dan raungan yang belum pernah kudengar darinya, memanggil-manggil nama “Marzieh”. Ia menggeledah seluruh rumah seperti orang gila, lalu berlari ke atap. Aku memandangnya dengan tercengang, dengan air mata, dengan rasa bersalah yang mencekik, dan menyaksikan siksaannya. Ayahku berdiri di atas atap dan berteriak ke langit: “Marzieh! Baru beberapa hari lalu kita bersama-sama menyapu dan menyiram atap rumah ini... di mana kau, kasihku?”
Keesokan harinya matahari terbit di kompleks kami, tetapi bagi kami segalanya gelap. Doa dilangsungkan di rumah kami dan, untuk pemakaman, seluruh keluarga bahkan para tetangga datang berpakaian hitam ke satu-satunya pemakaman di kompleks kecil kami. Ayahku begitu sakit, begitu hancur, begitu payah, sampai ia bahkan tidak bisa datang ke pemakaman ataupun menghadiri penguburan kekasihnya.
Hanya adik-adikku, Faezeh dan Maryam, dan aku yang hadir di tengah kerumunan pelayat. Ibuku telah dibawa ke sebuah ruangan untuk dimandikan dan dikafani. Jantung tiga belas tahunku berdegup keras di dada; dengan takut dan wajah yang banjir air mata, aku ingin melihatnya untuk terakhir kali.
Ketika aku maju hendak masuk ke ruang pemandian jenazah, para penjaga perempuan mula-mula mencegahku, tetapi karena desakan dan permohonan para perempuan keluarga dan tetangga, akhirnya mereka mengizinkanku melemparkan pandangan terakhir ke wajah ibuku.
Aku masuk ke ruangan itu. Tubuh ibuku yang indah, telanjang dan seputih salju, terbaring tanpa nyawa. Bekas luka terlihat di kepala dan wajahnya, dan tumit kaki kanannya... tumit yang ia benturkan ke lantai dalam pergulatannya dengan maut, telah remuk.
Melihat pemandangan itu, sebuah kilat menyambar kepalaku dan dunia runtuh menimpaku, sampai aku menjerit sekeras-kerasnya. Kututup wajah dan mataku dengan kedua tangan dan, dengan suara yang mencabik tenggorokanku, aku hanya berteriak: “Ibu... Ibu...” Para perempuan yang ada di ruangan itu menuntunku ke luar dalam keadaan gila seperti itu.
Aku gemetar. Aku gemetar seperti pohon willow di angin musim dingin. Aku berlindung kepada para pelayat lain yang berkabung agak jauh dari sana. Tangisku yang tak henti membuatku kalut dan, di tengah semua keriuhan itu, pikiranku tenggelam ke dasar lautan gelap: sebuah masa depan tanpa ibuku; masa depan yang aku tidak tahu bagaimana harus kupikul, tanpa dia, di tengah orang-orang ini...
Dengan kaki yang nyaris tidak sanggup menopang berat tubuhku, begitu hebat kecemasan dan lelah menindihku, aku menaiki anak tangga semen. Setiap langkah lebih berat daripada langkah sebelumnya. Aku sampai di lantai dua; di tempat ibuku, dengan seribu harapan dan seribu impian, mendirikan sebuah salon kecil untuk kaum perempuan. Tetapi ruangan itu bukan lagi tempat berlindungnya warna, wangi sampo, dan keindahan.
Salon itu porak-poranda dalam kekacauan yang menakutkan, seakan sebuah badai buta baru saja melintasinya. Kursi kulit di depan cermin besar terbalik, tergeletak di lantai tanpa ampun. Sejumlah kosmetik dan botol cat rambut berserakan di sekitarnya; cairan-cairan kental dan berwarna yang kini merayap di lantai seperti darah yang celaka.
Bau yang tajam, membekap, dan menyengat membakar tenggorokanku. Pandanganku terpaku pada noda-noda gelap dan botol-botol kosong itu. Ya Tuhan... ibuku telah memakai bahan-bahan beracun itu, bahan kimia berbahaya untuk cat rambut itu, untuk mengakhiri hidupnya. Bahan-bahan yang selalu ia peringatkan kepada kami, dengan kecemasan seorang ibu yang penuh kasih, agar dijauhi karena itu racun yang mematikan. Dan kini, di puncak keputusasaan dan kesepian, ia sendiri yang meminumnya. Seluruh tubuhku mulai gemetar; kengerian yang mutlak mencakar jiwaku dan, dalam sepersekian detik, kubayangkan masa depanku yang gelap dan tanpa ampun, tanpa kehadiran dan tanpa pelukan ibuku.
Belakangan Hamid, suami tanteku, yang pertama kali sampai kepada ibuku, menceritakan pemandangan mengerikan itu dengan suara bergetar. Ia menemukan ibuku tergeletak di lantai, rambutnya yang selalu rapi terurai kacau di sekelilingnya, dengan busa keluar dari mulut dan hidungnya. Hamid berkata bahwa perih dari racun mematikan itu begitu mengiris sampai ibuku, pada saat-saat terakhir perlawanannya untuk hidup, memukulkan tumit kaki kanannya ke lantai sekuat tenaga dan tanpa henti.
Segala usaha untuk mengembalikannya ke dunia ini sia-sia. Meski para dokter di rumah sakit segera mencuci lambung dan ususnya, tubuhnya yang rapuh dan jiwanya yang letih tidak sanggup bertahan menghadapi kerusakan dalam akibat racun tanpa ampun itu. Akhirnya, pada hari Jumat yang hitam itu, tanggal 5 Mei 1995, Marzieh, ibuku yang lembut dan menderita, memejamkan mata selamanya dari dunia yang tak berbelas kasih ini.
Sepanjang dua tiga jam yang celaka ketika bencana-bencana itu berlangsung, ayahku yang malang terbaring pingsan di lantai sebuah kamar, di rumah Bibi Fatemeh, tanpa tahu apa-apa. Ketika ia akhirnya benar-benar sadar, dengan kepala pening dan bingung, ia menanyakan istrinya, sampai keluarga, dengan mata berlinang dan bibir gemetar, terpaksa mengatakan kepadanya kebenaran yang baru saja runtuh menimpa kami.
Lelaki yang angkuh dan tertutup itu hancur mendengar kabar tersebut. Ayahku segera bergegas pulang dan, dengan tangis keras dan raungan yang belum pernah kudengar darinya, memanggil-manggil nama “Marzieh”. Ia menggeledah seluruh rumah seperti orang gila, lalu berlari ke atap. Aku memandangnya dengan tercengang, dengan air mata, dengan rasa bersalah yang mencekik, dan menyaksikan siksaannya. Ayahku berdiri di atas atap dan berteriak ke langit: “Marzieh! Baru beberapa hari lalu kita bersama-sama menyapu dan menyiram atap rumah ini... di mana kau, kasihku?”
Keesokan harinya matahari terbit di kompleks kami, tetapi bagi kami segalanya gelap. Doa dilangsungkan di rumah kami dan, untuk pemakaman, seluruh keluarga bahkan para tetangga datang berpakaian hitam ke satu-satunya pemakaman di kompleks kecil kami. Ayahku begitu sakit, begitu hancur, begitu payah, sampai ia bahkan tidak bisa datang ke pemakaman ataupun menghadiri penguburan kekasihnya.
Hanya adik-adikku, Faezeh dan Maryam, dan aku yang hadir di tengah kerumunan pelayat. Ibuku telah dibawa ke sebuah ruangan untuk dimandikan dan dikafani. Jantung tiga belas tahunku berdegup keras di dada; dengan takut dan wajah yang banjir air mata, aku ingin melihatnya untuk terakhir kali.
Ketika aku maju hendak masuk ke ruang pemandian jenazah, para penjaga perempuan mula-mula mencegahku, tetapi karena desakan dan permohonan para perempuan keluarga dan tetangga, akhirnya mereka mengizinkanku melemparkan pandangan terakhir ke wajah ibuku.
Aku masuk ke ruangan itu. Tubuh ibuku yang indah, telanjang dan seputih salju, terbaring tanpa nyawa. Bekas luka terlihat di kepala dan wajahnya, dan tumit kaki kanannya... tumit yang ia benturkan ke lantai dalam pergulatannya dengan maut, telah remuk.
Melihat pemandangan itu, sebuah kilat menyambar kepalaku dan dunia runtuh menimpaku, sampai aku menjerit sekeras-kerasnya. Kututup wajah dan mataku dengan kedua tangan dan, dengan suara yang mencabik tenggorokanku, aku hanya berteriak: “Ibu... Ibu...” Para perempuan yang ada di ruangan itu menuntunku ke luar dalam keadaan gila seperti itu.
Aku gemetar. Aku gemetar seperti pohon willow di angin musim dingin. Aku berlindung kepada para pelayat lain yang berkabung agak jauh dari sana. Tangisku yang tak henti membuatku kalut dan, di tengah semua keriuhan itu, pikiranku tenggelam ke dasar lautan gelap: sebuah masa depan tanpa ibuku; masa depan yang aku tidak tahu bagaimana harus kupikul, tanpa dia, di tengah orang-orang ini...
Kursi yang kosong dan bintang jatuh
## Bagian pertama: Hijrah ke Mehrabad dan kesepian di atas atap
Rumah kami di kompleks Golestan tidak lagi menyerupai sarang aman yang penuh tawa seperti dulu. Setelah kepergian ibuku Marzieh yang mendadak, sunyi, dan tak adil, pada hari Jumat yang pahit di bulan Mei itu, dinding-dinding rumah seakan membuka mulut dan tak henti meneriakkan namanya. Bau tajam, menyengat, dan berat dari bahan kimia dan cat rambut salon di lantai atas seakan telah meresap ke dalam kapur dinding dan tidak berniat pergi.
Setelah bencana yang mengerikan itu, tidak ada lagi seorang pun di keluarga yang berani kembali ke rumah itu. Seakan bayangan kematian telah memasang kemahnya di atas atap dan menjadikannya tempat terkutuk yang dihuni arwah pengembara, yang kenangannya menggigit siapa pun yang mendekat. Pada hari-hari pertama itu, hanya aku yang kadang diam-diam membuka gembok dengan kunci kasar di dasar sakuku dan berlindung ke dalam pelukan kesunyian rumah.
Aku, seorang anak lelaki tiga belas tahun, di tengah kesunyian yang tak putus dan menyesakkan itu, dengan air mata dan sesak di kerongkongan yang menahan napasku, mencari tanda-tanda terakhir keberadaan ibuku. Aku mengendus dapur, menyentuh tepi panci yang dingin, dan mencari sambil memohon rasa masakan terakhir yang ia buat, seakan masih tersisa jejaknya di suatu sudut rumah. Setiap benda mati di rumah itu mengingatkanku pada pandangan terakhirnya atau sentuhan terakhir tangannya yang lembut, dan membakar jiwaku.
Beberapa hari kemudian kami semua kembali ke rumah bersama ayah, dengan enggan, untuk menghadapi bayang-bayang kenyataan. Bagi ayahku Zaher, menaiki anak tangga semen itu dan duduk di ruang yang tak lagi bergema oleh suara hangat Marzieh telah menjadi siksaan sehari-hari tanpa akhir. Ia yang dulu seorang lelaki keras, teguh, dan sandaran sekuat baja, kini tak lebih dari bayangan dirinya sendiri, lebih lembut, lebih hangat, dan sangat sedih, yang bahunya membungkuk oleh beban berat kesepian dan penyesalan.
Tidak lama kemudian ayahku memahami bahwa ruh kehidupan telah terbang dari rumah itu. Untuk lari dari beban yang menyesakkan itu dan lepas dari bayangan kematian Marzieh yang terus-menerus, ia menjual rumah ibuku. Kami mengemasi seluruh milik kami dalam beberapa kardus tua dan, sebagai langkah pertama, pindah ke rumah Bibi Fatemeh. Tetapi tinggal di sana pun bukan pelabuhan yang damai. Dendam yang dalam, gelap, dan dingin telah tumbuh antara keluarga ibuku dan keluarga ayahku; hubungan yang setelah kematian ibuku yang menyedihkan itu putus sama sekali dan berganti dengan permusuhan dan ancaman yang menakutkan.
Paman Reza — kakak lelaki ibuku —, yang dukanya seakan berubah menjadi amarah yang gila, sesekali menghadang jalan ayahku Zaher, memperingatkannya dengan teriakan dan mengancamnya agar jangan sampai, setelah Marzieh, terpikir membawa perempuan lain ke rumah. Kenangan paling mengerikanku dari bulan-bulan barzakh itu adalah sebuah sore yang terik ketika ayahku hendak menyeberang jalan; Paman Reza, yang duduk di belakang kemudi minibus tuanya, melihat ayah, menambah kecepatan, dan melaju dengan kegilaan murni untuk menabrak dan membinasakannya. Angin kencang yang bangkit dari terjangan minibus itu mengibarkan cadar keluarga, dan hanya reaksi cepat ayahku, lompatannya yang tiba-tiba dan ajaib ke trotoar, yang mencegah terjadinya satu lagi bencana berdarah di aspal jalan yang membara.
Ayahku tahu bahwa untuk menyelamatkan nyawa kami dan mencabut kami dari tanah yang penuh trauma itu, kami harus menjauh berbatu-batu dari kompleks Golestan dan dari bayang-bayang ancaman Paman Reza. Maka kami pun berkemas dan berpindah ke sebuah kompleks yang lebih besar bernama Mehrabad.
Di Mehrabad kami menyewa sebuah rumah besar dua lantai dengan suasana yang aneh. Keluarga sepakat bahwa lantai bawah menjadi bagian Bibi Fatemeh, Tante Khadijeh, dan keluarga mereka, sedangkan lantai atas sepenuhnya menjadi bagian keluarga kecil kami: aku, ayah, Faezeh, dan Maryam kecil.
Perpindahan itu menegaskan hidup kami di garis tipis antara keramaian dan kesepian. Lantai bawah selalu penuh keriuhan, lalu-lalang kerabat, suara mesin jahit Tante Khadijeh, dan keributan Sina dan yang lain; tetapi begitu kami menaiki anak tangga semen dan menginjak lantai atas, kesunyian yang aneh dan menggigit langsung memeluk kami. Saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, yang lelah bermain di bawah, cepat tertidur, tetapi bagiku, pada usia tiga belas atau empat belas tahun, ketiadaan ibuku yang begitu nyata tetap sulit dipercaya dan bagaikan luka yang tak kunjung sembuh.
Pada malam-malam Mehrabad itu, tempat berlindungku yang pertama dan terakhir adalah langit.
Ketika kesunyian mutlak menguasai rumah dan ayahku tertidur, tenggelam dalam pikirannya yang asing, aku menaiki tangga atap dengan langkah pelan. Di sana, di bawah kubah langit biru tua yang tak berbatas, aku berlutut di tepi dinding tanah liat, menengadahkan kepala ke bintang-bintang, dan mulai berbisik. Air mataku mengalir tanpa suara di pipiku dan aku menyampaikan kepada ibuku Marzieh segala perih yang kutahan di dadaku yang kecil sepanjang hari. Aku percaya sedalam-dalamnya, dengan iman kanak-kanakku, bahwa ia duduk di suatu tempat di antara titik-titik cahaya itu dan mendengarkan keluh putranya.
Aku tidak akan lupa; pada salah satu malam musim gugur yang dingin itu, ketika aku memandang langit sambil memohon, sebuah meteor tiba-tiba muncul dengan kecepatan yang memesona di jantung kegelapan, menarik satu garis tipis cahaya yang berkilau, dan lenyap dalam sepersekian detik. Pada saat itu jantungku berhenti. Seluruh diriku memanas oleh sebuah rasa yang aneh. Di dalam kepalaku yang penuh mimpi dan luka, kubayangkan bahwa itulah tanda yang kuminta darinya; bahwa itu adalah bisikan dan jawaban ibuku Marzieh yang dari jarak berbatu-batu berkata: “Mohsen-ku, jangan bersedih... aku mendengarmu, aku menjagamu...”
Rumah kami di kompleks Golestan tidak lagi menyerupai sarang aman yang penuh tawa seperti dulu. Setelah kepergian ibuku Marzieh yang mendadak, sunyi, dan tak adil, pada hari Jumat yang pahit di bulan Mei itu, dinding-dinding rumah seakan membuka mulut dan tak henti meneriakkan namanya. Bau tajam, menyengat, dan berat dari bahan kimia dan cat rambut salon di lantai atas seakan telah meresap ke dalam kapur dinding dan tidak berniat pergi.
Setelah bencana yang mengerikan itu, tidak ada lagi seorang pun di keluarga yang berani kembali ke rumah itu. Seakan bayangan kematian telah memasang kemahnya di atas atap dan menjadikannya tempat terkutuk yang dihuni arwah pengembara, yang kenangannya menggigit siapa pun yang mendekat. Pada hari-hari pertama itu, hanya aku yang kadang diam-diam membuka gembok dengan kunci kasar di dasar sakuku dan berlindung ke dalam pelukan kesunyian rumah.
Aku, seorang anak lelaki tiga belas tahun, di tengah kesunyian yang tak putus dan menyesakkan itu, dengan air mata dan sesak di kerongkongan yang menahan napasku, mencari tanda-tanda terakhir keberadaan ibuku. Aku mengendus dapur, menyentuh tepi panci yang dingin, dan mencari sambil memohon rasa masakan terakhir yang ia buat, seakan masih tersisa jejaknya di suatu sudut rumah. Setiap benda mati di rumah itu mengingatkanku pada pandangan terakhirnya atau sentuhan terakhir tangannya yang lembut, dan membakar jiwaku.
Beberapa hari kemudian kami semua kembali ke rumah bersama ayah, dengan enggan, untuk menghadapi bayang-bayang kenyataan. Bagi ayahku Zaher, menaiki anak tangga semen itu dan duduk di ruang yang tak lagi bergema oleh suara hangat Marzieh telah menjadi siksaan sehari-hari tanpa akhir. Ia yang dulu seorang lelaki keras, teguh, dan sandaran sekuat baja, kini tak lebih dari bayangan dirinya sendiri, lebih lembut, lebih hangat, dan sangat sedih, yang bahunya membungkuk oleh beban berat kesepian dan penyesalan.
Tidak lama kemudian ayahku memahami bahwa ruh kehidupan telah terbang dari rumah itu. Untuk lari dari beban yang menyesakkan itu dan lepas dari bayangan kematian Marzieh yang terus-menerus, ia menjual rumah ibuku. Kami mengemasi seluruh milik kami dalam beberapa kardus tua dan, sebagai langkah pertama, pindah ke rumah Bibi Fatemeh. Tetapi tinggal di sana pun bukan pelabuhan yang damai. Dendam yang dalam, gelap, dan dingin telah tumbuh antara keluarga ibuku dan keluarga ayahku; hubungan yang setelah kematian ibuku yang menyedihkan itu putus sama sekali dan berganti dengan permusuhan dan ancaman yang menakutkan.
Paman Reza — kakak lelaki ibuku —, yang dukanya seakan berubah menjadi amarah yang gila, sesekali menghadang jalan ayahku Zaher, memperingatkannya dengan teriakan dan mengancamnya agar jangan sampai, setelah Marzieh, terpikir membawa perempuan lain ke rumah. Kenangan paling mengerikanku dari bulan-bulan barzakh itu adalah sebuah sore yang terik ketika ayahku hendak menyeberang jalan; Paman Reza, yang duduk di belakang kemudi minibus tuanya, melihat ayah, menambah kecepatan, dan melaju dengan kegilaan murni untuk menabrak dan membinasakannya. Angin kencang yang bangkit dari terjangan minibus itu mengibarkan cadar keluarga, dan hanya reaksi cepat ayahku, lompatannya yang tiba-tiba dan ajaib ke trotoar, yang mencegah terjadinya satu lagi bencana berdarah di aspal jalan yang membara.
Ayahku tahu bahwa untuk menyelamatkan nyawa kami dan mencabut kami dari tanah yang penuh trauma itu, kami harus menjauh berbatu-batu dari kompleks Golestan dan dari bayang-bayang ancaman Paman Reza. Maka kami pun berkemas dan berpindah ke sebuah kompleks yang lebih besar bernama Mehrabad.
Di Mehrabad kami menyewa sebuah rumah besar dua lantai dengan suasana yang aneh. Keluarga sepakat bahwa lantai bawah menjadi bagian Bibi Fatemeh, Tante Khadijeh, dan keluarga mereka, sedangkan lantai atas sepenuhnya menjadi bagian keluarga kecil kami: aku, ayah, Faezeh, dan Maryam kecil.
Perpindahan itu menegaskan hidup kami di garis tipis antara keramaian dan kesepian. Lantai bawah selalu penuh keriuhan, lalu-lalang kerabat, suara mesin jahit Tante Khadijeh, dan keributan Sina dan yang lain; tetapi begitu kami menaiki anak tangga semen dan menginjak lantai atas, kesunyian yang aneh dan menggigit langsung memeluk kami. Saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, yang lelah bermain di bawah, cepat tertidur, tetapi bagiku, pada usia tiga belas atau empat belas tahun, ketiadaan ibuku yang begitu nyata tetap sulit dipercaya dan bagaikan luka yang tak kunjung sembuh.
Pada malam-malam Mehrabad itu, tempat berlindungku yang pertama dan terakhir adalah langit.
Ketika kesunyian mutlak menguasai rumah dan ayahku tertidur, tenggelam dalam pikirannya yang asing, aku menaiki tangga atap dengan langkah pelan. Di sana, di bawah kubah langit biru tua yang tak berbatas, aku berlutut di tepi dinding tanah liat, menengadahkan kepala ke bintang-bintang, dan mulai berbisik. Air mataku mengalir tanpa suara di pipiku dan aku menyampaikan kepada ibuku Marzieh segala perih yang kutahan di dadaku yang kecil sepanjang hari. Aku percaya sedalam-dalamnya, dengan iman kanak-kanakku, bahwa ia duduk di suatu tempat di antara titik-titik cahaya itu dan mendengarkan keluh putranya.
Aku tidak akan lupa; pada salah satu malam musim gugur yang dingin itu, ketika aku memandang langit sambil memohon, sebuah meteor tiba-tiba muncul dengan kecepatan yang memesona di jantung kegelapan, menarik satu garis tipis cahaya yang berkilau, dan lenyap dalam sepersekian detik. Pada saat itu jantungku berhenti. Seluruh diriku memanas oleh sebuah rasa yang aneh. Di dalam kepalaku yang penuh mimpi dan luka, kubayangkan bahwa itulah tanda yang kuminta darinya; bahwa itu adalah bisikan dan jawaban ibuku Marzieh yang dari jarak berbatu-batu berkata: “Mohsen-ku, jangan bersedih... aku mendengarmu, aku menjagamu...”
## Bagian kedua: Tante Tahereh dan kotak ajaib Nintendo
Hidup kami di lantai atas rumah sewaan di Mehrabad itu berjalan dalam kesunyian yang tak putus dan kelabu. Seakan anak tangga semen yang menghubungkan kami dengan lantai bawah adalah perbatasan antara dua dunia yang sama sekali berbeda; di bawah mengalir keriuhan, lalu-lalang kerabat, suara mesin jahit Tante Khadijeh, dan keributan Sina, tetapi di lantai atas waktu berhenti dan setiap sudut rumah melemparkan ke wajah kami tempat kosong ibuku Marzieh. Ayahku Zaher, yang seakan meninggalkan seluruh kekuatan dan kerasnya yang dulu dalam duka Marzieh, telah menjadi lelaki yang lebih pendiam, lebih lembut, dan sangat sedih, yang menghabiskan sebagian besar jam luangnya dalam diam dan asap rokok, sendirian. Aku, Faezeh, dan Maryam meringkuk masing-masing dalam kesepian sendiri, dan setiap malam di atas atap aku menceritakan perih usia tiga belasku kepada bintang-bintang jatuh.
Sampai pada suatu sore biasa terdengar ketukan pelan dan sopan di pintu lantai atas. Pintu terbuka dan masuklah bersama ayahku seorang perempuan muda, sangat rapi dan berwibawa. Aku pernah beberapa kali melihatnya dalam pertemuan keluarga dulu dan kami memanggilnya “Tante Tahereh”. Ia adalah kerabat salah satu menantu Bibi Fatemeh. Tahereh melipat cadarnya dengan santun, duduk di samping kami, dan memandang kami dengan matanya yang cokelat kehijauan dan meluap kebaikan. Tatapannya tidak berjenis iba yang menyakitkan seperti para tetangga, tidak pula berjenis penghakiman keras seperti keluarga; sebuah cahaya pengertian dan keakraban yang murni berombak di matanya.
Hari itu Tante Tahereh tidak datang dengan tangan kosong. Ia meletakkan sebuah kotak kado besar berwarna-warni di atas permadani lantai atas dan berkata dengan senyum hangat: “Ini untuk kalian, anak-anak...” Aku, Faezeh, dan Maryam melingkar di sekeliling kotak itu dengan penasaran. Ketika kami membukanya, mata kami berbinar takjub: sebuah konsol permainan Nintendo!
Pada tahun-tahun itu, ketika Nintendo 8 bit adalah salah satu impian terbesar masa kecil kami, melihat mesin berwarna krem dengan dua stik merah dan kaset terkenal “Super Mario” itu bagaikan mukjizat di lantai atas rumah kami. Ayahku, dibantu Tahereh, menyambungkan kabel-kabel berwarna Nintendo ke televisi tua di lantai atas. Begitu mesin itu menyala dan bunyi bip yang berirama, elektronik, dan riang dari permainan itu bergema, suasana rumah kami yang muram dan berkabung tiba-tiba pecah berkeping.
Aku dan saudari-saudariku memegang stik itu tanpa sadar, dan halaman yang kami bagi bersama Bibi di lantai bawah akhirnya, setelah berbulan-bulan sunyi, dipenuhi sorak, tawa, dan jerit gembira kami. Tante Tahereh sepanjang waktu itu duduk di dekat televisi, membimbing kami, dan bersorak dengan sepenuh hati pada setiap keberhasilan kami dalam permainan.
Seiring kunjungan Tahereh yang berulang, perubahan batin ayahku Zaher tampak satu per satu. Ia yang berbulan-bulan hanya menjadi bayangan dingin dari dirinya sendiri kini tertawa lagi, mengurus pekerjaan rumah dengan lebih bersemangat, dan matanya yang redup hidup kembali. Kami anak-anak segera memahami bahwa kehadiran Tahereh yang penuh perhatian itu melampaui sekadar hubungan bertetangga dan mengabarkan datangnya sebuah musim baru dan penuh kehidupan di rumah kami.
Sampai pada suatu hari musim panas yang hangat dan cerah, ayahku memutuskan mengajak kami bertamasya ke kota bersejarah Isfahan. Ketika mesin mobil tua itu menyala, Tante Tahereh merapikan cadarnya di bahu dengan kesantunannya yang biasa dan duduk di kursi depan, tepat di samping ayahku. Aku, Faezeh, dan Maryam berdesakan di kursi kulit belakang. Dari sana, dari belakang, memandang lebarnya bahu ayahku dan sisi wajah Tahereh yang anggun dalam cahaya siang terasa aneh. Seakan sebuah gambaran keluarga baru baru saja muncul, dan aku belum tahu bagaimana harus menghadapinya.
Kami baru menempuh beberapa kilometer dan baru saja berangkat ketika ayahku, tampaknya, tidak sanggup lagi menahan sampai Isfahan gelora, ketergesaan, dan kegelisahan yang tersembunyi di dadanya. Ia agak terburu-buru; ia ingin, sebelum mata kami bertemu dengan derasnya Zayandeh-Rud dan megahnya Alun-alun Naqsh-e Jahan, menjernihkan isi hatinya kepada kami. Ia sedikit memperlambat mobil, melirik Tahereh yang, dengan malu seorang perempuan, memalingkan kepala ke jendela dan tenggelam memandang pemandangan, lalu mengatur kaca spion tengah sedemikian rupa sehingga bisa melihat mata kami bertiga di kursi belakang. Dengan suara lembut namun bergetar, yang di dalamnya beriak harapan dan kecemasan, ia bertanya: “Anak-anak... maukah kalian kalau Tante Tahereh datang dan tinggal bersama kita selamanya?”
Faezeh dan Maryam kecil, tanpa ragu sedetik pun, melonjak kegirangan di kursi belakang, bertepuk tangan, dan bersorak. Tetapi aku... aku membeku di tempatku. Aku diam dan tetap menatap jalan di depan. Sebuah badai pertentangan bangkit di dadaku; di satu sisi aku sangat menyayangi Tante Tahereh dan ingin ayahku kembali merasakan bahagia, di sisi lain sebuah ketakutan yang melumpuhkan, mirip rasa bersalah, mencekik kerongkonganku. Aku berkata kepada diriku bahwa jika aku menerima Tahereh sebagai ibu baru, itu berarti aku mengkhianati kenangan ibuku Marzieh dan makam yang sendirian di kompleks Golestan itu.
Tangan kananku tanpa sadar masuk ke saku celanaku. Kunci yang sesungguhnya telah pergi bersama Marzieh dan hilang, tetapi bekas khayali dari luka lama di ruas pertama jari telunjukku masih perih. Kukepalkan tanganku di dalam saku agar tidak seorang pun di kursi depan menyadari getarnya maupun rahasia berat yang kubawa.
Tetapi Tahereh terlalu sabar dan terlalu berbesar hati untuk memaksakan penerimaan dirinya kepada remaja yang terluka seperti aku. Dengan rantai kasih sayang yang tak kasatmata dan tanpa suara, ia membidik tembok-tembok yang berdiri mengelilingi hatiku. Pada hari-hari berikutnya ia kembali menaiki anak tangga lantai atas Mehrabad; ia meluangkan waktu bermain Nintendo bersama kami, memasak makanan kesukaan kami, dengan sabar membantu Faezeh mengerjakan pekerjaan rumah yang sulit, dan menggenggam tangan kecil Maryam. Ia tidak pernah berlagak menjadi ibu ataupun berusaha merebut tempat kosong “Marzieh”; sebaliknya, ia menghormati makamnya dan dengan rendah hati membangun untuk dirinya sendiri sebuah rumah baru yang meluap cinta di dalam hati kami yang retak.
Hidup kami di lantai atas rumah sewaan di Mehrabad itu berjalan dalam kesunyian yang tak putus dan kelabu. Seakan anak tangga semen yang menghubungkan kami dengan lantai bawah adalah perbatasan antara dua dunia yang sama sekali berbeda; di bawah mengalir keriuhan, lalu-lalang kerabat, suara mesin jahit Tante Khadijeh, dan keributan Sina, tetapi di lantai atas waktu berhenti dan setiap sudut rumah melemparkan ke wajah kami tempat kosong ibuku Marzieh. Ayahku Zaher, yang seakan meninggalkan seluruh kekuatan dan kerasnya yang dulu dalam duka Marzieh, telah menjadi lelaki yang lebih pendiam, lebih lembut, dan sangat sedih, yang menghabiskan sebagian besar jam luangnya dalam diam dan asap rokok, sendirian. Aku, Faezeh, dan Maryam meringkuk masing-masing dalam kesepian sendiri, dan setiap malam di atas atap aku menceritakan perih usia tiga belasku kepada bintang-bintang jatuh.
Sampai pada suatu sore biasa terdengar ketukan pelan dan sopan di pintu lantai atas. Pintu terbuka dan masuklah bersama ayahku seorang perempuan muda, sangat rapi dan berwibawa. Aku pernah beberapa kali melihatnya dalam pertemuan keluarga dulu dan kami memanggilnya “Tante Tahereh”. Ia adalah kerabat salah satu menantu Bibi Fatemeh. Tahereh melipat cadarnya dengan santun, duduk di samping kami, dan memandang kami dengan matanya yang cokelat kehijauan dan meluap kebaikan. Tatapannya tidak berjenis iba yang menyakitkan seperti para tetangga, tidak pula berjenis penghakiman keras seperti keluarga; sebuah cahaya pengertian dan keakraban yang murni berombak di matanya.
Hari itu Tante Tahereh tidak datang dengan tangan kosong. Ia meletakkan sebuah kotak kado besar berwarna-warni di atas permadani lantai atas dan berkata dengan senyum hangat: “Ini untuk kalian, anak-anak...” Aku, Faezeh, dan Maryam melingkar di sekeliling kotak itu dengan penasaran. Ketika kami membukanya, mata kami berbinar takjub: sebuah konsol permainan Nintendo!
Pada tahun-tahun itu, ketika Nintendo 8 bit adalah salah satu impian terbesar masa kecil kami, melihat mesin berwarna krem dengan dua stik merah dan kaset terkenal “Super Mario” itu bagaikan mukjizat di lantai atas rumah kami. Ayahku, dibantu Tahereh, menyambungkan kabel-kabel berwarna Nintendo ke televisi tua di lantai atas. Begitu mesin itu menyala dan bunyi bip yang berirama, elektronik, dan riang dari permainan itu bergema, suasana rumah kami yang muram dan berkabung tiba-tiba pecah berkeping.
Aku dan saudari-saudariku memegang stik itu tanpa sadar, dan halaman yang kami bagi bersama Bibi di lantai bawah akhirnya, setelah berbulan-bulan sunyi, dipenuhi sorak, tawa, dan jerit gembira kami. Tante Tahereh sepanjang waktu itu duduk di dekat televisi, membimbing kami, dan bersorak dengan sepenuh hati pada setiap keberhasilan kami dalam permainan.
Seiring kunjungan Tahereh yang berulang, perubahan batin ayahku Zaher tampak satu per satu. Ia yang berbulan-bulan hanya menjadi bayangan dingin dari dirinya sendiri kini tertawa lagi, mengurus pekerjaan rumah dengan lebih bersemangat, dan matanya yang redup hidup kembali. Kami anak-anak segera memahami bahwa kehadiran Tahereh yang penuh perhatian itu melampaui sekadar hubungan bertetangga dan mengabarkan datangnya sebuah musim baru dan penuh kehidupan di rumah kami.
Sampai pada suatu hari musim panas yang hangat dan cerah, ayahku memutuskan mengajak kami bertamasya ke kota bersejarah Isfahan. Ketika mesin mobil tua itu menyala, Tante Tahereh merapikan cadarnya di bahu dengan kesantunannya yang biasa dan duduk di kursi depan, tepat di samping ayahku. Aku, Faezeh, dan Maryam berdesakan di kursi kulit belakang. Dari sana, dari belakang, memandang lebarnya bahu ayahku dan sisi wajah Tahereh yang anggun dalam cahaya siang terasa aneh. Seakan sebuah gambaran keluarga baru baru saja muncul, dan aku belum tahu bagaimana harus menghadapinya.
Kami baru menempuh beberapa kilometer dan baru saja berangkat ketika ayahku, tampaknya, tidak sanggup lagi menahan sampai Isfahan gelora, ketergesaan, dan kegelisahan yang tersembunyi di dadanya. Ia agak terburu-buru; ia ingin, sebelum mata kami bertemu dengan derasnya Zayandeh-Rud dan megahnya Alun-alun Naqsh-e Jahan, menjernihkan isi hatinya kepada kami. Ia sedikit memperlambat mobil, melirik Tahereh yang, dengan malu seorang perempuan, memalingkan kepala ke jendela dan tenggelam memandang pemandangan, lalu mengatur kaca spion tengah sedemikian rupa sehingga bisa melihat mata kami bertiga di kursi belakang. Dengan suara lembut namun bergetar, yang di dalamnya beriak harapan dan kecemasan, ia bertanya: “Anak-anak... maukah kalian kalau Tante Tahereh datang dan tinggal bersama kita selamanya?”
Faezeh dan Maryam kecil, tanpa ragu sedetik pun, melonjak kegirangan di kursi belakang, bertepuk tangan, dan bersorak. Tetapi aku... aku membeku di tempatku. Aku diam dan tetap menatap jalan di depan. Sebuah badai pertentangan bangkit di dadaku; di satu sisi aku sangat menyayangi Tante Tahereh dan ingin ayahku kembali merasakan bahagia, di sisi lain sebuah ketakutan yang melumpuhkan, mirip rasa bersalah, mencekik kerongkonganku. Aku berkata kepada diriku bahwa jika aku menerima Tahereh sebagai ibu baru, itu berarti aku mengkhianati kenangan ibuku Marzieh dan makam yang sendirian di kompleks Golestan itu.
Tangan kananku tanpa sadar masuk ke saku celanaku. Kunci yang sesungguhnya telah pergi bersama Marzieh dan hilang, tetapi bekas khayali dari luka lama di ruas pertama jari telunjukku masih perih. Kukepalkan tanganku di dalam saku agar tidak seorang pun di kursi depan menyadari getarnya maupun rahasia berat yang kubawa.
Tetapi Tahereh terlalu sabar dan terlalu berbesar hati untuk memaksakan penerimaan dirinya kepada remaja yang terluka seperti aku. Dengan rantai kasih sayang yang tak kasatmata dan tanpa suara, ia membidik tembok-tembok yang berdiri mengelilingi hatiku. Pada hari-hari berikutnya ia kembali menaiki anak tangga lantai atas Mehrabad; ia meluangkan waktu bermain Nintendo bersama kami, memasak makanan kesukaan kami, dengan sabar membantu Faezeh mengerjakan pekerjaan rumah yang sulit, dan menggenggam tangan kecil Maryam. Ia tidak pernah berlagak menjadi ibu ataupun berusaha merebut tempat kosong “Marzieh”; sebaliknya, ia menghormati makamnya dan dengan rendah hati membangun untuk dirinya sendiri sebuah rumah baru yang meluap cinta di dalam hati kami yang retak.
## Bagian ketiga: Kunci baru di gembok hati dan suara Nejat
Meninggalkan rumah Bibi Fatemeh yang ramai dan menjadi mandiri di Mehrabad adalah langkah pertama kami untuk lari dari kenangan berat masa lalu. Kami mengosongkan lantai atas rumah dua tingkat besar yang menempel pada keriuhan lantai bawah milik Bibi itu, dan pindah ke sebuah rumah sewaan sendiri di kota Mehrabad juga. Perpindahan itu mengembalikan ke dalam empat dinding kami, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan ketegangan dan duka, rasa tenang dan aman yang sesungguhnya. Di wilayah baru yang mandiri itu, Tante Tahereh bukan lagi tamu sesekali; ia perlahan terjalin ke dalam anyaman hari-hari kami dan, dengan kesabarannya yang tanpa batas, membangun sebuah rumah baru di dalam hati kami yang retak.
Tahereh punya bakat aneh untuk menghidupkan kembali rasa hidup yang telah hilang. Ia tidak pernah berusaha merebut tempat kosong dan suci ibuku Marzieh ataupun menghapus gambarnya dari ingatan kami; sebaliknya, dengan segenap kerendahan hati, ia menghormati makam Marzieh yang sendirian itu dan menumbuhkan akarnya sendiri di sudut lain hati kami. Ia meluangkan waktu bersama kami di depan Nintendo tua itu, dengan sabar membantu Faezeh dan Maryam mengerjakan tugas sekolah, dan aroma masakannya yang lezat mengembalikan ruh hangat sebuah keluarga ke rumah kami.
Selama bulan-bulan pertama itu, sebagai remaja tiga belas tahun, aku memintal kepompong kesunyian dan penyendirian di sekelilingku. Aku merasa bahwa setiap senyum kepada Tahereh, setiap langkah menuju keakraban dengannya, menggoreskan satu garis pelupaan di atas makam ibuku di kompleks Golestan. Kadang, karena pertentangan batinku, aku bertengkar dengannya atau dengan ayahku, lalu tenggelam dalam penyesalan; tetapi Tahereh tidak pernah membalas amarah atau dinginnya sikapku dengan kekerasan. Dengan rantai kasih sayang tanpa suara, mata rantai demi mata rantai, ia meruntuhkan tembok-tembok semen di sekeliling hatiku.
Suatu sore hujan deras menghantam atap rumah mandiri kami di Mehrabad. Aroma sedap masakan Tahereh memenuhi ruang tengah dan ia berdiri di dekat samovar yang menyala, menuang teh. Aku, Faezeh, dan Maryam berkumpul di kamar kami. Sebuah pandangan beredar di antara kami; sebuah keputusan besar dan tak tertulis, yang tidak memerlukan kata-kata, hidup di dalam mata kami. Kami keluar dari kamar dan berdiri di samping Tahereh. Kami bertiga bersama-sama, dengan suara yang di dalamnya beriak malu, haru, dan cinta yang murni, memanggilnya: “Ibu...”
Tangan Tahereh membeku di atas teko berbunga mawar. Ia berbalik perlahan. Air mata bahagia mengalir dari matanya yang cokelat kehijauan; ia meletakkan baki teh di atas lemari dan, tanpa berkata sepatah pun, memeluk kami bertiga dalam dekapan hangat keibuannya. Pelukan itu adalah akhir dari alam barzakh kami; sebuah janji baru yang, berkat pengorbanannya yang tanpa batas, bertahan sampai hari ini.
Satu setengah tahun setelah keruntuhan abadi itu, rumah mandiri kami di Mehrabad diberkati oleh cahaya yang baru dan suci. Pada suatu hari yang cerah, tangis seorang bayi bergema di rumah dan ayahku, Zaher, mengangkatnya dengan mata yang meluap air mata bahagia. Ayahku menamainya “Nejat” — keselamatan. Nama itu bukan kebetulan; Nejat baginya adalah lambang pembebasan, penebusan, dan keselamatan dari segala rantai masa lalu: pengembaraan dari Najaf, trauma duka, dan kepompong kelabu hari-hari kesepian. Dengan datangnya malaikat kecil itu, tawa dan jeritnya yang manis mengubah sama sekali udara rumah kami. Aku dan saudari-saudariku duduk berjam-jam mengelilingi ayunannya, membelai kaki mungilnya, dan ayahku, memandang gambaran keluarga yang akhirnya utuh itu, hidup kembali.
Tetapi di balik surga yang baru lahir itu, sebuah obsesi lama yang tak terkendali menyala kembali di kepala ayahku. Ia tidak pernah menjalin ikatan yang dalam dengan hidup di Iran; perihnya tidak memiliki akta kelahiran, cap abadi sebagai “imigran keturunan Irak”, diskriminasi sehari-hari, dan bayangan dendam lama keluarga ibuku yang terus-menerus mengancam kami, telah membuatnya muak untuk tinggal. Setiap malam ia terjaga, mondar-mandir dalam gelapnya ruang tengah karena tidak bisa tidur, menyalakan rokok satu demi satu, dan berbicara tentang Australia; negeri impian dengan peluang tanpa batas, tempat samudranya berbau kebebasan dan penduduknya baik dan beradab.
Setiap kali kami duduk di Mehrabad mengelilingi alas hidangan makan siang atau makan malam, ayahku menatapku dengan pandangan yang dalam dan sarat tanggung jawab. Ia tahu benar bahwa putranya yang berusia tiga belas tahun ini punya watak yang penuh gelora, rasa ingin tahu, dan keberanian. Ia meletakkan tangannya di bahuku dan berkata dengan nada serius dan kebapakan: “Mohsen, kau anak sulung. Kalau aku tidak ada, kunci rumah ini ada di tanganmu. Kau harus kuat.”
Ayahku memakai kata “kunci” sebagai kiasan untuk penjagaan dan perlindungan rumah; tetapi ia tidak tahu badai macam apa yang ditimbulkan kata itu di dalam diriku. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama aku tanpa sadar mengepalkan tangan kananku di dasar saku untuk menyembunyikan getarnya. Kunci yang sebenarnya telah pergi bersama ibuku Marzieh dan hilang selamanya, tetapi bayang-bayang penyesalan sore bulan Mei itu membakar seperti luka tak kasatmata di jari telunjukku. Dengan hati yang perih aku tersenyum kepada ayahku dan mengangguk, sementara aku menyembunyikan dalam diam yang mutlak rahasia kunci itu dan bebannya. Aku belum tahu harga yang berat dan berdarah yang harus dibayar ayahku untuk membeli tiket impian Australia itu...
Meninggalkan rumah Bibi Fatemeh yang ramai dan menjadi mandiri di Mehrabad adalah langkah pertama kami untuk lari dari kenangan berat masa lalu. Kami mengosongkan lantai atas rumah dua tingkat besar yang menempel pada keriuhan lantai bawah milik Bibi itu, dan pindah ke sebuah rumah sewaan sendiri di kota Mehrabad juga. Perpindahan itu mengembalikan ke dalam empat dinding kami, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan ketegangan dan duka, rasa tenang dan aman yang sesungguhnya. Di wilayah baru yang mandiri itu, Tante Tahereh bukan lagi tamu sesekali; ia perlahan terjalin ke dalam anyaman hari-hari kami dan, dengan kesabarannya yang tanpa batas, membangun sebuah rumah baru di dalam hati kami yang retak.
Tahereh punya bakat aneh untuk menghidupkan kembali rasa hidup yang telah hilang. Ia tidak pernah berusaha merebut tempat kosong dan suci ibuku Marzieh ataupun menghapus gambarnya dari ingatan kami; sebaliknya, dengan segenap kerendahan hati, ia menghormati makam Marzieh yang sendirian itu dan menumbuhkan akarnya sendiri di sudut lain hati kami. Ia meluangkan waktu bersama kami di depan Nintendo tua itu, dengan sabar membantu Faezeh dan Maryam mengerjakan tugas sekolah, dan aroma masakannya yang lezat mengembalikan ruh hangat sebuah keluarga ke rumah kami.
Selama bulan-bulan pertama itu, sebagai remaja tiga belas tahun, aku memintal kepompong kesunyian dan penyendirian di sekelilingku. Aku merasa bahwa setiap senyum kepada Tahereh, setiap langkah menuju keakraban dengannya, menggoreskan satu garis pelupaan di atas makam ibuku di kompleks Golestan. Kadang, karena pertentangan batinku, aku bertengkar dengannya atau dengan ayahku, lalu tenggelam dalam penyesalan; tetapi Tahereh tidak pernah membalas amarah atau dinginnya sikapku dengan kekerasan. Dengan rantai kasih sayang tanpa suara, mata rantai demi mata rantai, ia meruntuhkan tembok-tembok semen di sekeliling hatiku.
Suatu sore hujan deras menghantam atap rumah mandiri kami di Mehrabad. Aroma sedap masakan Tahereh memenuhi ruang tengah dan ia berdiri di dekat samovar yang menyala, menuang teh. Aku, Faezeh, dan Maryam berkumpul di kamar kami. Sebuah pandangan beredar di antara kami; sebuah keputusan besar dan tak tertulis, yang tidak memerlukan kata-kata, hidup di dalam mata kami. Kami keluar dari kamar dan berdiri di samping Tahereh. Kami bertiga bersama-sama, dengan suara yang di dalamnya beriak malu, haru, dan cinta yang murni, memanggilnya: “Ibu...”
Tangan Tahereh membeku di atas teko berbunga mawar. Ia berbalik perlahan. Air mata bahagia mengalir dari matanya yang cokelat kehijauan; ia meletakkan baki teh di atas lemari dan, tanpa berkata sepatah pun, memeluk kami bertiga dalam dekapan hangat keibuannya. Pelukan itu adalah akhir dari alam barzakh kami; sebuah janji baru yang, berkat pengorbanannya yang tanpa batas, bertahan sampai hari ini.
Satu setengah tahun setelah keruntuhan abadi itu, rumah mandiri kami di Mehrabad diberkati oleh cahaya yang baru dan suci. Pada suatu hari yang cerah, tangis seorang bayi bergema di rumah dan ayahku, Zaher, mengangkatnya dengan mata yang meluap air mata bahagia. Ayahku menamainya “Nejat” — keselamatan. Nama itu bukan kebetulan; Nejat baginya adalah lambang pembebasan, penebusan, dan keselamatan dari segala rantai masa lalu: pengembaraan dari Najaf, trauma duka, dan kepompong kelabu hari-hari kesepian. Dengan datangnya malaikat kecil itu, tawa dan jeritnya yang manis mengubah sama sekali udara rumah kami. Aku dan saudari-saudariku duduk berjam-jam mengelilingi ayunannya, membelai kaki mungilnya, dan ayahku, memandang gambaran keluarga yang akhirnya utuh itu, hidup kembali.
Tetapi di balik surga yang baru lahir itu, sebuah obsesi lama yang tak terkendali menyala kembali di kepala ayahku. Ia tidak pernah menjalin ikatan yang dalam dengan hidup di Iran; perihnya tidak memiliki akta kelahiran, cap abadi sebagai “imigran keturunan Irak”, diskriminasi sehari-hari, dan bayangan dendam lama keluarga ibuku yang terus-menerus mengancam kami, telah membuatnya muak untuk tinggal. Setiap malam ia terjaga, mondar-mandir dalam gelapnya ruang tengah karena tidak bisa tidur, menyalakan rokok satu demi satu, dan berbicara tentang Australia; negeri impian dengan peluang tanpa batas, tempat samudranya berbau kebebasan dan penduduknya baik dan beradab.
Setiap kali kami duduk di Mehrabad mengelilingi alas hidangan makan siang atau makan malam, ayahku menatapku dengan pandangan yang dalam dan sarat tanggung jawab. Ia tahu benar bahwa putranya yang berusia tiga belas tahun ini punya watak yang penuh gelora, rasa ingin tahu, dan keberanian. Ia meletakkan tangannya di bahuku dan berkata dengan nada serius dan kebapakan: “Mohsen, kau anak sulung. Kalau aku tidak ada, kunci rumah ini ada di tanganmu. Kau harus kuat.”
Ayahku memakai kata “kunci” sebagai kiasan untuk penjagaan dan perlindungan rumah; tetapi ia tidak tahu badai macam apa yang ditimbulkan kata itu di dalam diriku. Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama aku tanpa sadar mengepalkan tangan kananku di dasar saku untuk menyembunyikan getarnya. Kunci yang sebenarnya telah pergi bersama ibuku Marzieh dan hilang selamanya, tetapi bayang-bayang penyesalan sore bulan Mei itu membakar seperti luka tak kasatmata di jari telunjukku. Dengan hati yang perih aku tersenyum kepada ayahku dan mengangguk, sementara aku menyembunyikan dalam diam yang mutlak rahasia kunci itu dan bebannya. Aku belum tahu harga yang berat dan berdarah yang harus dibayar ayahku untuk membeli tiket impian Australia itu...
## Bagian keempat: Harga mahal sebuah penerbangan dan kepergian sunyi di fajar
Setelah senja yang celaka di bulan Mei itu, di kompleks Golestan, kunci besi yang kasar itu tidak pernah lagi kembali ke saku celana remajaku. Ibuku Marzieh mengambilnya dariku di halaman belakang rumah Bibi, membawanya pergi, dan dengan kepergiannya menutup selamanya gembok rumah kami atas kehadirannya. Kunci yang sesungguhnya lenyap selamanya dalam debu peristiwa itu, tetapi bayangan berat dari logam dingin itu tetap menjadi luka tak kasatmata yang kusembunyikan, sepanjang tahun-tahun remajaku di Mehrabad, di bawah kepalan tanganku; sebuah rahasia yang tidak diketahui siapa pun di rumah.
Hidup kami di Mehrabad kembali punya bentuk berkat kehadiran penuh kasih Ibu Tahereh dan tawa Nejat kecil. Aku menyayangi dengan tulus semua anggota keluarga ibuku; para paman dan bibiku dari pihak ibu adalah orang-orang baik yang sebagian hatinya patah oleh kepergian Marzieh, dan kami tidak pernah menyimpan dendam kepada mereka. Tetapi di antara mereka, Paman Reza adalah kisah lain.
Ia adalah kakak lelaki ibuku dan duka berat atas kepergian Marzieh membuat jiwanya kalut dan tak tenang. Paman Reza, dengan ledakan-ledakan kasarnya, kadang membawa gangguan dan ketegangan ke rumah kami, dan ia menyimpan sakit hati kepada ayahku Zaher; tetapi kami anak-anak, meski dengan segala hormat kami kepadanya, tanpa sadar dan dengan segenap jiwa berpihak kepada ayah kami dalam setiap badai dan setiap benturan. Ayah adalah seluruh dunia kami, dan melihat penderitaannya adalah cambuk bagi ketidakberdosaan kami. Ditambah lagi, ketiadaan tanah air, perihnya tidak memiliki akta kelahiran, dan cap abadi sebagai “imigran keturunan Irak” membuat ayahku setiap hari semakin muak untuk tinggal di Mehrabad.
Suatu sore ayahku pulang ke rumah dari apotek di Mehrabad tempatnya bekerja. Ketika pintu terbuka, kami semua membeku ngeri. Wajahnya yang sabar dan tampan penuh darah dan lebam, dan gigi depannya patah. Faezeh dan Maryam melingkarinya sambil menjerit, dan Tahereh dengan panik mengambilkan air. Ayahku mula-mula diam, tetapi karena desakan dan tangis kami akhirnya ia mengatakan kebenaran dengan suara lemah: Paman Reza, yang mengetahui rencananya berhijrah ke Australia, hari itu menyerbu apotek dengan buas, menghajarnya dengan tinju dan tendangan, dan melukainya parah untuk membuatnya mengurungkan niat pergi. Ia berteriak marah bahwa jika ayah tidak membuang niat meninggalkan Iran dari kepalanya, ia akan menghadapi akibat yang jauh lebih buruk.
Pemukulan yang kejam itu, alih-alih menakuti ayahku, justru mengasah tekad bajanya. Meski bibirnya luka dan wajahnya kesakitan, ia menatap mataku dan berkata dengan keteguhan yang tak tergoyahkan: “Ini bukan hanya tentang aku, ini tentang masa depan kita semua. Rantai-rantai ini harus diputus supaya aku bisa memberi kalian, anak-anakku, kesempatan hidup di negeri yang bebas dan tanpa diskriminasi seperti ini.” Dan kami, pada saat itu, berdiri di belakang ayah kami lebih daripada kapan pun dan menggenggam tangannya yang letih.
Tidak lama kemudian, Hamid — suami Tante Roya — datang menemui ayahku diam-diam. Ia berkata mengenal seorang penyelundup yang dapat dipercaya, yang hafal jalur-jalur menuju Australia seperti telapak tangannya sendiri dan menjamin pekerjaannya. Tetapi Hamid mengajukan satu syarat pokok: ayahku harus menanggung juga biaya perjalanannya dan mereka berangkat bersama.
Itu keputusan besar. Mengumpulkan biaya perjalanan yang begitu berbahaya bagi kami sama saja dengan memindahkan gunung. Tetapi ketika impian kebebasan yang dipertaruhkan, orang melepaskan segala yang dimilikinya. Ayahku menyingsingkan lengan baju; ia melelang sebidang tanah kecil yang dimilikinya, toko obat herbalnya, bahkan mobilnya. Ibu Tahereh pun, dalam sebuah pengorbanan yang tidak akan pernah kulupakan, menjual seluruh emas dan perkakas berharganya. Hamid juga menguangkan semua yang ia punya.
Sulit dipercaya: seluruh harta dua keluarga besar yang dilelang itu hanya mencapai sepuluh ribu dolar Amerika! Itulah seluruh kekayaan kami untuk membeli tiket sebuah kehidupan baru. Dengan uang itu ayahku membeli dua tiket sekali jalan ke Kuala Lumpur, dan dari sana mereka akan menempuh jalur samudra menuju Australia. Penyelundup itu berjanji bahwa tiga bulan setelah ayahku tiba di Australia, kami akan menyusulnya secara resmi.
Pada malam sebelum keberangkatan, rumah kami di Mehrabad mengalami malam paling ramai sepanjang sejarahnya. Hamid dan keluarganya membawa sisa barang-barang mereka ke rumah kami. Kerabat, tetangga, dan teman datang berpamitan. Rumah kami adalah campuran tangis, doa, air yang ditumpahkan sebagai nazar, dan harapan-harapan besar.
Malam itu aku, Faezeh, dan Maryam berdiri untuk terakhir kalinya di depan tempat tidur ayah untuk mengucapkan “selamat malam”. Ia memeluk kami erat-erat dan membelai kami. Kulihat matanya yang letih namun penuh harap, dan kami mengira esok pagi-pagi sekali aku akan bangun dan menyaksikannya bersiap-siap.
Tetapi keesokan paginya, ketika matahari pucat Mehrabad mengintip dari balik kaca, aku terbangun dengan panik dan berlari ke kamar. Sofanya kosong. Koper-kopernya sudah tidak ada. Ayahku sudah pergi... Ibu Tahereh, dengan mata merah karena menangis, mengayun ayunan Nejat dan berkata pelan: “Ayah kalian tidak sanggup menahan air mata kalian dan perpisahan resmi... Pagi-pagi sekali tadi, sebelum fajar, ia menciumi kalian satu per satu dalam tidur, air matanya jatuh di wajah kalian, dan ia pergi tanpa suara dalam gelapnya pagi...”
Kami berdiri di ambang pintu rumah yang kosong dan angin dingin pagi menggerakkan tirai. Ayahku telah pergi untuk membangun surga bagi kami di tengah samudra, tanpa tahu bahwa sebuah badai yang mengerikan menantinya di pantai-pantai Indonesia...
Setelah senja yang celaka di bulan Mei itu, di kompleks Golestan, kunci besi yang kasar itu tidak pernah lagi kembali ke saku celana remajaku. Ibuku Marzieh mengambilnya dariku di halaman belakang rumah Bibi, membawanya pergi, dan dengan kepergiannya menutup selamanya gembok rumah kami atas kehadirannya. Kunci yang sesungguhnya lenyap selamanya dalam debu peristiwa itu, tetapi bayangan berat dari logam dingin itu tetap menjadi luka tak kasatmata yang kusembunyikan, sepanjang tahun-tahun remajaku di Mehrabad, di bawah kepalan tanganku; sebuah rahasia yang tidak diketahui siapa pun di rumah.
Hidup kami di Mehrabad kembali punya bentuk berkat kehadiran penuh kasih Ibu Tahereh dan tawa Nejat kecil. Aku menyayangi dengan tulus semua anggota keluarga ibuku; para paman dan bibiku dari pihak ibu adalah orang-orang baik yang sebagian hatinya patah oleh kepergian Marzieh, dan kami tidak pernah menyimpan dendam kepada mereka. Tetapi di antara mereka, Paman Reza adalah kisah lain.
Ia adalah kakak lelaki ibuku dan duka berat atas kepergian Marzieh membuat jiwanya kalut dan tak tenang. Paman Reza, dengan ledakan-ledakan kasarnya, kadang membawa gangguan dan ketegangan ke rumah kami, dan ia menyimpan sakit hati kepada ayahku Zaher; tetapi kami anak-anak, meski dengan segala hormat kami kepadanya, tanpa sadar dan dengan segenap jiwa berpihak kepada ayah kami dalam setiap badai dan setiap benturan. Ayah adalah seluruh dunia kami, dan melihat penderitaannya adalah cambuk bagi ketidakberdosaan kami. Ditambah lagi, ketiadaan tanah air, perihnya tidak memiliki akta kelahiran, dan cap abadi sebagai “imigran keturunan Irak” membuat ayahku setiap hari semakin muak untuk tinggal di Mehrabad.
Suatu sore ayahku pulang ke rumah dari apotek di Mehrabad tempatnya bekerja. Ketika pintu terbuka, kami semua membeku ngeri. Wajahnya yang sabar dan tampan penuh darah dan lebam, dan gigi depannya patah. Faezeh dan Maryam melingkarinya sambil menjerit, dan Tahereh dengan panik mengambilkan air. Ayahku mula-mula diam, tetapi karena desakan dan tangis kami akhirnya ia mengatakan kebenaran dengan suara lemah: Paman Reza, yang mengetahui rencananya berhijrah ke Australia, hari itu menyerbu apotek dengan buas, menghajarnya dengan tinju dan tendangan, dan melukainya parah untuk membuatnya mengurungkan niat pergi. Ia berteriak marah bahwa jika ayah tidak membuang niat meninggalkan Iran dari kepalanya, ia akan menghadapi akibat yang jauh lebih buruk.
Pemukulan yang kejam itu, alih-alih menakuti ayahku, justru mengasah tekad bajanya. Meski bibirnya luka dan wajahnya kesakitan, ia menatap mataku dan berkata dengan keteguhan yang tak tergoyahkan: “Ini bukan hanya tentang aku, ini tentang masa depan kita semua. Rantai-rantai ini harus diputus supaya aku bisa memberi kalian, anak-anakku, kesempatan hidup di negeri yang bebas dan tanpa diskriminasi seperti ini.” Dan kami, pada saat itu, berdiri di belakang ayah kami lebih daripada kapan pun dan menggenggam tangannya yang letih.
Tidak lama kemudian, Hamid — suami Tante Roya — datang menemui ayahku diam-diam. Ia berkata mengenal seorang penyelundup yang dapat dipercaya, yang hafal jalur-jalur menuju Australia seperti telapak tangannya sendiri dan menjamin pekerjaannya. Tetapi Hamid mengajukan satu syarat pokok: ayahku harus menanggung juga biaya perjalanannya dan mereka berangkat bersama.
Itu keputusan besar. Mengumpulkan biaya perjalanan yang begitu berbahaya bagi kami sama saja dengan memindahkan gunung. Tetapi ketika impian kebebasan yang dipertaruhkan, orang melepaskan segala yang dimilikinya. Ayahku menyingsingkan lengan baju; ia melelang sebidang tanah kecil yang dimilikinya, toko obat herbalnya, bahkan mobilnya. Ibu Tahereh pun, dalam sebuah pengorbanan yang tidak akan pernah kulupakan, menjual seluruh emas dan perkakas berharganya. Hamid juga menguangkan semua yang ia punya.
Sulit dipercaya: seluruh harta dua keluarga besar yang dilelang itu hanya mencapai sepuluh ribu dolar Amerika! Itulah seluruh kekayaan kami untuk membeli tiket sebuah kehidupan baru. Dengan uang itu ayahku membeli dua tiket sekali jalan ke Kuala Lumpur, dan dari sana mereka akan menempuh jalur samudra menuju Australia. Penyelundup itu berjanji bahwa tiga bulan setelah ayahku tiba di Australia, kami akan menyusulnya secara resmi.
Pada malam sebelum keberangkatan, rumah kami di Mehrabad mengalami malam paling ramai sepanjang sejarahnya. Hamid dan keluarganya membawa sisa barang-barang mereka ke rumah kami. Kerabat, tetangga, dan teman datang berpamitan. Rumah kami adalah campuran tangis, doa, air yang ditumpahkan sebagai nazar, dan harapan-harapan besar.
Malam itu aku, Faezeh, dan Maryam berdiri untuk terakhir kalinya di depan tempat tidur ayah untuk mengucapkan “selamat malam”. Ia memeluk kami erat-erat dan membelai kami. Kulihat matanya yang letih namun penuh harap, dan kami mengira esok pagi-pagi sekali aku akan bangun dan menyaksikannya bersiap-siap.
Tetapi keesokan paginya, ketika matahari pucat Mehrabad mengintip dari balik kaca, aku terbangun dengan panik dan berlari ke kamar. Sofanya kosong. Koper-kopernya sudah tidak ada. Ayahku sudah pergi... Ibu Tahereh, dengan mata merah karena menangis, mengayun ayunan Nejat dan berkata pelan: “Ayah kalian tidak sanggup menahan air mata kalian dan perpisahan resmi... Pagi-pagi sekali tadi, sebelum fajar, ia menciumi kalian satu per satu dalam tidur, air matanya jatuh di wajah kalian, dan ia pergi tanpa suara dalam gelapnya pagi...”
Kami berdiri di ambang pintu rumah yang kosong dan angin dingin pagi menggerakkan tirai. Ayahku telah pergi untuk membangun surga bagi kami di tengah samudra, tanpa tahu bahwa sebuah badai yang mengerikan menantinya di pantai-pantai Indonesia...
Barzakh tanpa kabar dan mukjizat Derby
## Bagian pertama: Jarum jam penantian yang berat
Penjualan rumah dan gema celaka dari sofa kosong ayahku di ruang tamu rumah sewaan kami di Mehrabad telah menjadikannya semacam altar yang terbengkalai, tempat aroma pahit rokok Bahman-nya masih bernapas di dalam serat kainnya. Kepergiannya yang sunyi dalam remang fajar, tanpa sempat kami memeluk untuk terakhir kali sosoknya yang tegap, telah menenggelamkan rumah kami dalam kesunyian yang berat, kesunyian alam barzakh. Sejak hari itu, waktu mengambil bentuk lain bagi kami; ia tidak lagi berjalan dengan peredaran matahari, melainkan dihitung dengan detak jantung kami yang kencang dan mata kami yang terpaku pada layar televisi.
Pekan demi pekan berlalu dan tidak ada kabar apa pun dari para pengembara jalan berdebu samudra itu sampai kepada kami. Televisi Pars di sudut ruangan, yang dulu bersama bunyi bip klasik 8 bit Nintendo kami menjadi sumber kegembiraan, kini telah berubah menjadi kotak yang menakutkan. Setiap malam aku, Faezeh, dan Maryam berdesakan mengelilingi Tante Tahereh dan mendengarkan berita dengan cemas. Gambar-gambar perahu pencari suaka yang pecah dan terkatung-katung di tengah gelombang yang mengamuk, atau berita ditemukannya jenazah para imigran gelap di dalam kontainer logam yang menyesakkan, mencakar ketidakberdosaan kami. Setiap kali penyiar berita mengucapkan kata “tenggelam” atau “mati di laut”, napas tertahan di dada Tahereh.
Sementara itu Nejat kecil, yang kini seorang balita berusia hampir tiga tahun, berkeliaran dengan ketidakberdosaannya yang manis di sudut-sudut rumah kami yang kosong. Ia baru mulai bisa bicara dan belum mengerti mengapa ayahnya tidak pulang; sesekali ia berdiri di dekat sofa kosong ayah, menunjuk pintu ruang tengah dengan jari mungilnya, dan bertanya dengan nada merengek: “Ayah kapan datang?” Mendengar pertanyaan tak berdosa itu mencabik hati Tahereh, dan untuk menyembunyikan air matanya ia buru-buru memeluk Nejat dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Aku pun, setiap kali, tanpa sadar mengepalkan tangan di dasar saku dan, mengingat luka lama di ruas jariku, memohon dalam diam agar samudra mengembalikan ayahku kepada kami.
Cambuk terberat hari-hari itu adalah kemiskinan dan tekanan uang. Sebelum berangkat, ayahku meninggalkan sejumlah uang pada Tahereh untuk menutup kebutuhan kami selama tiga bulan; tetapi biaya hidup di Mehrabad naik jauh lebih cepat dan jauh lebih kejam daripada perhitungan ayah, dan simpanan yang sedikit itu habis jauh sebelum waktunya. Krisis baru itu sangat mengeruhkan hubungan antara Tahereh dan Tante Roya. Tante Roya dan keluarganya juga datang ke Mehrabad dan menjadi tetangga kami, sebab Hamid berangkat bersama ayahku. Tetapi Tante Roya — mungkin karena terpaksa, mungkin karena patah semangat — tidak ikut menanggung biaya sehari-hari maupun pengeluaran rumah, dan beban berat belanja harian, susu dan makanan Nejat yang berusia tiga tahun, serta mengenyangkan perut anak-anak, seluruhnya runtuh ke bahu Tahereh yang kurus dan letih. Tahereh menahan segalanya dengan tegar, tetapi perselisihan terpendam antara Tanteku dan dia semakin memanas dari hari ke hari, dan ketegangan keluarga itu menyiksa jiwa kami.
Ketika simpanan kami benar-benar habis dan kami bahkan tidak punya sepeser pun untuk membeli roti malam, kami terpaksa melakukan pelelangan yang paling pahit dalam hidup kami. Tahereh mengenakan cadarnya dan aku berdiri di sampingnya sebagai anak sulung. Kami menelusuri satu per satu barang-barang rumah kami; barang-barang yang dulu dibeli ayah dengan peluh keningnya agar kami anak-anaknya bisa merasakan kehidupan yang mandiri. Televisi, tape, permadani, bahkan barang-barang paling remeh yang masih berharga, kami lelang dan jual ke para penadah barang bekas di Mehrabad, semata agar bisa bertahan satu dua bulan lagi dan tetap hidup. Melihat rumah kami perlahan mengosong, sudut demi sudut, memerihkan hatiku; seakan jati diri kami sendiri yang dilelang, sementara kami menunggu sebuah mukjizat di tengah samudra, di dalam rumah yang kosong.
Akhirnya, pada suatu sore biasa ketika kesunyian dingin rumah berpadu dengan permainan kanak-kanak Nejat di lantai ruang tengah yang telanjang, dering telepon rumah berbunyi terus-menerus dan keras kepala. Suaranya bergulung seperti guruh di rumah kami yang telah kosong dari perabot. Kami semua berlari panik ke arah gagang telepon dan melingkari Tahereh. Tahereh mengangkat gagang itu dengan tangan gemetar. Begitu suara berdesir dari seberang perbatasan membelai telinganya, air mata menggenang di matanya: “Zaher? Zaher, itu kau? Kau baik-baik saja? Kau di mana sekarang?”
Kami anak-anak menatap wajah Tahereh dengan tidak sabar tak terkatakan, menunggu sebuah kabar meledak seperti bom kegembiraan dan menghancurkan semua duka kami. Tetapi... tidak lama kemudian senyum bahagia itu membeku di bibir Tahereh. Wajahnya pucat dan matanya terbelalak karena tercengang dan ngeri. Tante Roya maju dengan panik dan bertanya berulang-ulang: “Ada apa, Tahereh? Hamid baik-baik saja? Mereka hidup?”
Tahereh, dengan suara yang keluar dari dasar tenggorokan dan tercekik oleh isak, memintaku: “Mohsen... cepat ambilkan secarik kertas dan pena... cepat!” Kuberikan kertas dan pena itu buru-buru ke tangannya yang gemetar, dan ia mulai mencatat sebuah nomor telepon yang asing. Ketika Tahereh meletakkan gagang telepon, seluruh tenaganya seakan lenyap. Ia berlutut di lantai, menyembunyikan wajah di antara kedua tangannya, dan meraung menangis. Dalam sedetik, aku, Faezeh, Maryam, bahkan Tante Roya tanpa sadar bergabung dengannya, dan suara ratapan kami bersama-sama mengguncang dinding rumah yang kosong.
Kebenaran telah runtuh menimpa kami seperti longsoran: ayahku Zaher dan Hamid, bersama sekelompok besar pencari suaka, telah dikepung dan ditangkap di sebuah hotel di Indonesia oleh polisi dan tentara bersenjata lengkap. Mereka berada di ambang deportasi dan pemulangan paksa ke negara mereka.
Ketakutan yang melumpuhkan membelenggu setiap serat diri kami. Kami tahu benar apa arti deportasi; jika ayahku dan Hamid dikembalikan ke negara asal mereka, Irak-nya Saddam, rezim Baath akan segera mengirim mereka ke tiang gantungan atau regu tembak, atas tuduhan mencari suaka ke Iran, pengkhianatan, dan desersi. Malam itu tidur enggan mendatangi mata kami. Dalam gelapnya kamar, mata gelisah saudari-saudariku terpaku padaku; dan aku, seorang anak lelaki enam belas atau tujuh belas tahun, tertindih penyesalan lama dan kecemasan baru, sampai pagi menatap kabel-kabel yang menjuntai dari langit-langit sambil memohon bagi nyawa ayahku...
Penjualan rumah dan gema celaka dari sofa kosong ayahku di ruang tamu rumah sewaan kami di Mehrabad telah menjadikannya semacam altar yang terbengkalai, tempat aroma pahit rokok Bahman-nya masih bernapas di dalam serat kainnya. Kepergiannya yang sunyi dalam remang fajar, tanpa sempat kami memeluk untuk terakhir kali sosoknya yang tegap, telah menenggelamkan rumah kami dalam kesunyian yang berat, kesunyian alam barzakh. Sejak hari itu, waktu mengambil bentuk lain bagi kami; ia tidak lagi berjalan dengan peredaran matahari, melainkan dihitung dengan detak jantung kami yang kencang dan mata kami yang terpaku pada layar televisi.
Pekan demi pekan berlalu dan tidak ada kabar apa pun dari para pengembara jalan berdebu samudra itu sampai kepada kami. Televisi Pars di sudut ruangan, yang dulu bersama bunyi bip klasik 8 bit Nintendo kami menjadi sumber kegembiraan, kini telah berubah menjadi kotak yang menakutkan. Setiap malam aku, Faezeh, dan Maryam berdesakan mengelilingi Tante Tahereh dan mendengarkan berita dengan cemas. Gambar-gambar perahu pencari suaka yang pecah dan terkatung-katung di tengah gelombang yang mengamuk, atau berita ditemukannya jenazah para imigran gelap di dalam kontainer logam yang menyesakkan, mencakar ketidakberdosaan kami. Setiap kali penyiar berita mengucapkan kata “tenggelam” atau “mati di laut”, napas tertahan di dada Tahereh.
Sementara itu Nejat kecil, yang kini seorang balita berusia hampir tiga tahun, berkeliaran dengan ketidakberdosaannya yang manis di sudut-sudut rumah kami yang kosong. Ia baru mulai bisa bicara dan belum mengerti mengapa ayahnya tidak pulang; sesekali ia berdiri di dekat sofa kosong ayah, menunjuk pintu ruang tengah dengan jari mungilnya, dan bertanya dengan nada merengek: “Ayah kapan datang?” Mendengar pertanyaan tak berdosa itu mencabik hati Tahereh, dan untuk menyembunyikan air matanya ia buru-buru memeluk Nejat dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Aku pun, setiap kali, tanpa sadar mengepalkan tangan di dasar saku dan, mengingat luka lama di ruas jariku, memohon dalam diam agar samudra mengembalikan ayahku kepada kami.
Cambuk terberat hari-hari itu adalah kemiskinan dan tekanan uang. Sebelum berangkat, ayahku meninggalkan sejumlah uang pada Tahereh untuk menutup kebutuhan kami selama tiga bulan; tetapi biaya hidup di Mehrabad naik jauh lebih cepat dan jauh lebih kejam daripada perhitungan ayah, dan simpanan yang sedikit itu habis jauh sebelum waktunya. Krisis baru itu sangat mengeruhkan hubungan antara Tahereh dan Tante Roya. Tante Roya dan keluarganya juga datang ke Mehrabad dan menjadi tetangga kami, sebab Hamid berangkat bersama ayahku. Tetapi Tante Roya — mungkin karena terpaksa, mungkin karena patah semangat — tidak ikut menanggung biaya sehari-hari maupun pengeluaran rumah, dan beban berat belanja harian, susu dan makanan Nejat yang berusia tiga tahun, serta mengenyangkan perut anak-anak, seluruhnya runtuh ke bahu Tahereh yang kurus dan letih. Tahereh menahan segalanya dengan tegar, tetapi perselisihan terpendam antara Tanteku dan dia semakin memanas dari hari ke hari, dan ketegangan keluarga itu menyiksa jiwa kami.
Ketika simpanan kami benar-benar habis dan kami bahkan tidak punya sepeser pun untuk membeli roti malam, kami terpaksa melakukan pelelangan yang paling pahit dalam hidup kami. Tahereh mengenakan cadarnya dan aku berdiri di sampingnya sebagai anak sulung. Kami menelusuri satu per satu barang-barang rumah kami; barang-barang yang dulu dibeli ayah dengan peluh keningnya agar kami anak-anaknya bisa merasakan kehidupan yang mandiri. Televisi, tape, permadani, bahkan barang-barang paling remeh yang masih berharga, kami lelang dan jual ke para penadah barang bekas di Mehrabad, semata agar bisa bertahan satu dua bulan lagi dan tetap hidup. Melihat rumah kami perlahan mengosong, sudut demi sudut, memerihkan hatiku; seakan jati diri kami sendiri yang dilelang, sementara kami menunggu sebuah mukjizat di tengah samudra, di dalam rumah yang kosong.
Akhirnya, pada suatu sore biasa ketika kesunyian dingin rumah berpadu dengan permainan kanak-kanak Nejat di lantai ruang tengah yang telanjang, dering telepon rumah berbunyi terus-menerus dan keras kepala. Suaranya bergulung seperti guruh di rumah kami yang telah kosong dari perabot. Kami semua berlari panik ke arah gagang telepon dan melingkari Tahereh. Tahereh mengangkat gagang itu dengan tangan gemetar. Begitu suara berdesir dari seberang perbatasan membelai telinganya, air mata menggenang di matanya: “Zaher? Zaher, itu kau? Kau baik-baik saja? Kau di mana sekarang?”
Kami anak-anak menatap wajah Tahereh dengan tidak sabar tak terkatakan, menunggu sebuah kabar meledak seperti bom kegembiraan dan menghancurkan semua duka kami. Tetapi... tidak lama kemudian senyum bahagia itu membeku di bibir Tahereh. Wajahnya pucat dan matanya terbelalak karena tercengang dan ngeri. Tante Roya maju dengan panik dan bertanya berulang-ulang: “Ada apa, Tahereh? Hamid baik-baik saja? Mereka hidup?”
Tahereh, dengan suara yang keluar dari dasar tenggorokan dan tercekik oleh isak, memintaku: “Mohsen... cepat ambilkan secarik kertas dan pena... cepat!” Kuberikan kertas dan pena itu buru-buru ke tangannya yang gemetar, dan ia mulai mencatat sebuah nomor telepon yang asing. Ketika Tahereh meletakkan gagang telepon, seluruh tenaganya seakan lenyap. Ia berlutut di lantai, menyembunyikan wajah di antara kedua tangannya, dan meraung menangis. Dalam sedetik, aku, Faezeh, Maryam, bahkan Tante Roya tanpa sadar bergabung dengannya, dan suara ratapan kami bersama-sama mengguncang dinding rumah yang kosong.
Kebenaran telah runtuh menimpa kami seperti longsoran: ayahku Zaher dan Hamid, bersama sekelompok besar pencari suaka, telah dikepung dan ditangkap di sebuah hotel di Indonesia oleh polisi dan tentara bersenjata lengkap. Mereka berada di ambang deportasi dan pemulangan paksa ke negara mereka.
Ketakutan yang melumpuhkan membelenggu setiap serat diri kami. Kami tahu benar apa arti deportasi; jika ayahku dan Hamid dikembalikan ke negara asal mereka, Irak-nya Saddam, rezim Baath akan segera mengirim mereka ke tiang gantungan atau regu tembak, atas tuduhan mencari suaka ke Iran, pengkhianatan, dan desersi. Malam itu tidur enggan mendatangi mata kami. Dalam gelapnya kamar, mata gelisah saudari-saudariku terpaku padaku; dan aku, seorang anak lelaki enam belas atau tujuh belas tahun, tertindih penyesalan lama dan kecemasan baru, sampai pagi menatap kabel-kabel yang menjuntai dari langit-langit sambil memohon bagi nyawa ayahku...
## Bagian kedua: Pelarian di sepanjang seprai putih
Kisah hari-hari di Indonesia itu berkali-kali diceritakan ayahku Zaher kepadaku bertahun-tahun kemudian, ketika ia menatap tepi samudra di Sydney dengan mata yang letih namun tenang. Tetapi pada sore dan malam musim gugur di Mehrabad itu, bagian kami hanyalah sebuah nomor telepon asing yang tercatat di kertas yang gemetar dan sebuah bayangan gelap tentang apartemen hotel di Jakarta yang berubah menjadi penjara tanpa ampun.
Di Indonesia, waktu berhenti bagi ayahku dan Hamid dalam beratnya udara lembap dan pengap sebuah kamar yang terkepung. Di balik pintu kayu terdengar bunyi monoton dan keras kepala sepatu bot para tentara Indonesia yang bersenjata lengkap, yang setiap langkahnya mempercepat denyut kengerian di dada para imigran. Ketakutan akan deportasi yang sudah di depan mata membebani langit-langit kamar seperti mimpi buruk yang hitam. Bagi para pencari suaka lain, deportasi berarti kembali ke titik nol kemelaratan; tetapi bagi ayahku Zaher dan Hamid, kata itu adalah sinonim telanjang dari “hukuman mati”.
Irak di bawah tumit Saddam Hussein tidak menaruh belas kasihan kepada para pelarian perang, pencari suaka ke Iran, dan pengkhianat tanah air; tali gantungan atau regu tembak menanti mereka tanpa tawar-menawar di Bagdad. Di dalam kamar yang panas dan menyesakkan itu, kecemasan begitu nyata sampai bisa dirasakan pada bau tajam keringat ketakutan, pada bibir yang mengering, dan pada tangan-tangan gemetar yang memutar tasbih. Semua mata yang ketakutan tergantung pada mulut sang pemimpin rombongan; lelaki yang menjadi satu-satunya tali penyelamat pikiran mereka di alam barzakh itu.
Tiba-tiba, di tengah keputusasaan yang mutlak, tangan takdir berputar. Sebuah kematian yang aneh di hotel itu menjadi tiket pembebasan mereka. Seorang perempuan tua, yang juga menghuni salah satu kamar hotel, mendadak meninggal karena serangan jantung. Dengan berdatangannya keluarga si perempuan tua, para pegawai hotel, dan kegaduhan yang bangkit di lorong-lorong, perhatian para penjaga dan tentara teralih selama beberapa menit dari pintu kamar ayahku. Pemimpin rombongan, melihat kesempatan emas itu, membuka sedikit pintu, menimbang keadaan, dan berbisik dengan suara yang bergetar karena tegang dan tergesa: “Cepat... sekaranglah saatnya! Kita pergi sekarang juga, atau menjelang pagi kita semua sudah di pesawat menuju Bagdad!”
Rencana pelarian itu sesederhana ia berbau bahaya dan kejatuhan. Mereka mengikat tergesa-gesa seprai-seprai putih dan kasar dari ranjang hotel dengan simpul-simpul mati yang kuat. Ayahku Zaher membuka pelan jendela kamar yang lapuk ke arah kegelapan dan gerimis hangat daerah tropis. Ketinggiannya jauh dan gang di bawah gelap.
Ayahku mengikat tali seprai buatan tangan itu ke kaki besi ranjang, melirik Hamid yang detak jantungnya tampak dari balik kemejanya yang basah, menggumamkan nama anak-anaknya di Mehrabad, lalu menggantung dari jendela. Pada setiap langkah turun, kain putih seprai itu meregang di bawah berat mereka dan derit halus simpul-simpulnya membuat jantung mereka jatuh. Kulit tangan mereka yang letih dan berkeringat terpeleset di atas kain, tetapi tekad untuk bertahan hidup lebih kuat daripada keinginan untuk melepaskannya.
Satu per satu kaki mereka mendarat selamat di batu-batu basah gang belakang. Tanpa membuang sedetik pun, dalam lindungan bayang-bayang gelap dinding, mereka berlari mengikuti pemimpin rombongan sampai ke sebuah mobil yang menunggu di sudut yang sepi. Mobil itu adalah truk berbak logam yang tertutup rapat. Pemimpin rombongan tergesa membuka pintu palka kecil di lantai mobil dan tampaklah sebuah ruang yang sangat sempit, gelap, dingin, dan berbau besi. Ia mendorong para imigran tanpa belas kasihan: “Cepat... tidur bertumpuk... jangan bernapas!”
Ayahku Zaher dan Hamid meringkuk dengan seluruh panjang tubuh mereka di dalam rongga logam yang menyesakkan itu. Palka ditutup dan kegelapan mutlak menelan segalanya. Oksigen nyaris tidak sampai ke paru-paru mereka dan dinginnya lembaran besi menembus sampai ke sumsum tulang. Mesin menyala, truk mengaum kasar, dan perjalanan barzakh mereka di jalan-jalan Indonesia yang rusak pun dimulai.
Setiap lubang dan setiap guncangan melemparkan tubuh mereka yang meringkuk dengan buas ke dinding-dinding besi. Di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara-suara mengerikan dari luar; seakan batu-batu besar dan benda-benda berat menghantam bak logam itu. Benturan kasar batu pada bodi truk, di ruang tertutup dan gelap itu, menghasilkan gema yang memekakkan, mirip rentetan tembakan tanpa henti, yang melipatgandakan seribu kali kengerian tercekik dan tewas dalam kegelapan. Dalam kesunyian yang mematikan mereka saling menggenggam tangan dan, dengan mata terbuka di dasar kotak dingin itu, menunggu maut.
Setelah berjam-jam siksaan tanpa henti, guncangan hebat mobil mereda dan mesin akhirnya padam. Palka bak logam itu terbuka dengan suara keras dan si pengawas pelarian berteriak: “Cepat turun... cepat!” Ketika ayahku Zaher keluar dari peti besi itu dan berdiri di atas kakinya, matanya perih diserbu cahaya yang memerakkan samudra. Mereka mendapati diri berada di tepi samudra yang tak bertepi dan gelap. Bulan purnama keemasan bersinar di dada gelombang yang mengamuk dan melemparkan kilau yang ganjil namun indah di atas air. Angin laut yang sejuk dan asin bercampur dengan bau tajam solar truk lalu memenuhi paru-paru ayahku yang letih; itulah aroma kebebasan yang pertama dan sejati, yang setelah berpekan-pekan penawanan menghidupkan kembali jiwanya...
Kisah hari-hari di Indonesia itu berkali-kali diceritakan ayahku Zaher kepadaku bertahun-tahun kemudian, ketika ia menatap tepi samudra di Sydney dengan mata yang letih namun tenang. Tetapi pada sore dan malam musim gugur di Mehrabad itu, bagian kami hanyalah sebuah nomor telepon asing yang tercatat di kertas yang gemetar dan sebuah bayangan gelap tentang apartemen hotel di Jakarta yang berubah menjadi penjara tanpa ampun.
Di Indonesia, waktu berhenti bagi ayahku dan Hamid dalam beratnya udara lembap dan pengap sebuah kamar yang terkepung. Di balik pintu kayu terdengar bunyi monoton dan keras kepala sepatu bot para tentara Indonesia yang bersenjata lengkap, yang setiap langkahnya mempercepat denyut kengerian di dada para imigran. Ketakutan akan deportasi yang sudah di depan mata membebani langit-langit kamar seperti mimpi buruk yang hitam. Bagi para pencari suaka lain, deportasi berarti kembali ke titik nol kemelaratan; tetapi bagi ayahku Zaher dan Hamid, kata itu adalah sinonim telanjang dari “hukuman mati”.
Irak di bawah tumit Saddam Hussein tidak menaruh belas kasihan kepada para pelarian perang, pencari suaka ke Iran, dan pengkhianat tanah air; tali gantungan atau regu tembak menanti mereka tanpa tawar-menawar di Bagdad. Di dalam kamar yang panas dan menyesakkan itu, kecemasan begitu nyata sampai bisa dirasakan pada bau tajam keringat ketakutan, pada bibir yang mengering, dan pada tangan-tangan gemetar yang memutar tasbih. Semua mata yang ketakutan tergantung pada mulut sang pemimpin rombongan; lelaki yang menjadi satu-satunya tali penyelamat pikiran mereka di alam barzakh itu.
Tiba-tiba, di tengah keputusasaan yang mutlak, tangan takdir berputar. Sebuah kematian yang aneh di hotel itu menjadi tiket pembebasan mereka. Seorang perempuan tua, yang juga menghuni salah satu kamar hotel, mendadak meninggal karena serangan jantung. Dengan berdatangannya keluarga si perempuan tua, para pegawai hotel, dan kegaduhan yang bangkit di lorong-lorong, perhatian para penjaga dan tentara teralih selama beberapa menit dari pintu kamar ayahku. Pemimpin rombongan, melihat kesempatan emas itu, membuka sedikit pintu, menimbang keadaan, dan berbisik dengan suara yang bergetar karena tegang dan tergesa: “Cepat... sekaranglah saatnya! Kita pergi sekarang juga, atau menjelang pagi kita semua sudah di pesawat menuju Bagdad!”
Rencana pelarian itu sesederhana ia berbau bahaya dan kejatuhan. Mereka mengikat tergesa-gesa seprai-seprai putih dan kasar dari ranjang hotel dengan simpul-simpul mati yang kuat. Ayahku Zaher membuka pelan jendela kamar yang lapuk ke arah kegelapan dan gerimis hangat daerah tropis. Ketinggiannya jauh dan gang di bawah gelap.
Ayahku mengikat tali seprai buatan tangan itu ke kaki besi ranjang, melirik Hamid yang detak jantungnya tampak dari balik kemejanya yang basah, menggumamkan nama anak-anaknya di Mehrabad, lalu menggantung dari jendela. Pada setiap langkah turun, kain putih seprai itu meregang di bawah berat mereka dan derit halus simpul-simpulnya membuat jantung mereka jatuh. Kulit tangan mereka yang letih dan berkeringat terpeleset di atas kain, tetapi tekad untuk bertahan hidup lebih kuat daripada keinginan untuk melepaskannya.
Satu per satu kaki mereka mendarat selamat di batu-batu basah gang belakang. Tanpa membuang sedetik pun, dalam lindungan bayang-bayang gelap dinding, mereka berlari mengikuti pemimpin rombongan sampai ke sebuah mobil yang menunggu di sudut yang sepi. Mobil itu adalah truk berbak logam yang tertutup rapat. Pemimpin rombongan tergesa membuka pintu palka kecil di lantai mobil dan tampaklah sebuah ruang yang sangat sempit, gelap, dingin, dan berbau besi. Ia mendorong para imigran tanpa belas kasihan: “Cepat... tidur bertumpuk... jangan bernapas!”
Ayahku Zaher dan Hamid meringkuk dengan seluruh panjang tubuh mereka di dalam rongga logam yang menyesakkan itu. Palka ditutup dan kegelapan mutlak menelan segalanya. Oksigen nyaris tidak sampai ke paru-paru mereka dan dinginnya lembaran besi menembus sampai ke sumsum tulang. Mesin menyala, truk mengaum kasar, dan perjalanan barzakh mereka di jalan-jalan Indonesia yang rusak pun dimulai.
Setiap lubang dan setiap guncangan melemparkan tubuh mereka yang meringkuk dengan buas ke dinding-dinding besi. Di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara-suara mengerikan dari luar; seakan batu-batu besar dan benda-benda berat menghantam bak logam itu. Benturan kasar batu pada bodi truk, di ruang tertutup dan gelap itu, menghasilkan gema yang memekakkan, mirip rentetan tembakan tanpa henti, yang melipatgandakan seribu kali kengerian tercekik dan tewas dalam kegelapan. Dalam kesunyian yang mematikan mereka saling menggenggam tangan dan, dengan mata terbuka di dasar kotak dingin itu, menunggu maut.
Setelah berjam-jam siksaan tanpa henti, guncangan hebat mobil mereda dan mesin akhirnya padam. Palka bak logam itu terbuka dengan suara keras dan si pengawas pelarian berteriak: “Cepat turun... cepat!” Ketika ayahku Zaher keluar dari peti besi itu dan berdiri di atas kakinya, matanya perih diserbu cahaya yang memerakkan samudra. Mereka mendapati diri berada di tepi samudra yang tak bertepi dan gelap. Bulan purnama keemasan bersinar di dada gelombang yang mengamuk dan melemparkan kilau yang ganjil namun indah di atas air. Angin laut yang sejuk dan asin bercampur dengan bau tajam solar truk lalu memenuhi paru-paru ayahku yang letih; itulah aroma kebebasan yang pertama dan sejati, yang setelah berpekan-pekan penawanan menghidupkan kembali jiwanya...
## Bagian ketiga: Menuju cakrawala tanpa batas dan badai takdir
Pemimpin rombongan menunjuk dengan telunjuknya ke satu titik jauh di dalam kegelapan air; di tempat siluet sebuah kapal kayu kecil naik turun di dada gelombang. Suaranya serak dan pendek: “Cepat masuk ke air dan capai kapal itu. Airnya tidak dalam, kalian tidak perlu berenang... dari sini jalan kalian ada di tangan sang nakhoda.”
Ayahku Zaher dan Hamid, bahu-membahu dengan para imigran lain, melangkah ke dalam air samudra yang dingin dan gelap. Pada setiap langkah, dinginnya air yang mengejutkan naik lebih tinggi; mula-mula sampai lutut, lalu sampai dada, dan akhirnya sampai di bawah dagu. Asinnya yang menggigit membakar mata mereka dan pasir lembut di dasar laut menggelincir di bawah kaki mereka yang gemetar. Tetapi ketakutan tertinggal menjaga tekad mereka untuk terus bergerak. Akhirnya, satu per satu, mereka mencapai kapal kecil itu. Sang nakhoda, yang sudah menunggu, menggenggam tangan mereka yang pecah-pecah dan basah lalu menuntun mereka semua ke ruang pengap dan gelap di bawah geladak. Dengan naiknya orang terakhir, mesin kapal menyala dengan suara kasar dan pelayaran samudra mereka pun dimulai.
Di bawah sana, di bawah geladak, mengalir sebuah neraka yang sesungguhnya. Ruangnya begitu sempit dan terbatas sehingga orang-orang terpaksa duduk meringkuk bertumpuk. Guncangan mengerikan dan pukulan berat dari benturan gelombang raksasa pada lambung kapal menghantamkan anggota tubuh mereka yang letih ke dinding tanpa ampun. Tidak lama kemudian bau tajam solar, kelembapan, dan mabuk laut yang hebat memenuhi seluruh bilik. Keadaannya begitu memilukan dan tak tertahankan sampai banyak pencari suaka menangis dan meratap di dalam kegelapan itu. Satu-satunya jendela untuk menonton dunia luar adalah sebuah lubang intip bundar yang sangat kecil, dan dari sana bisa terlihat bagaimana bulan purnama samudra naik turun dengan gila di tengah gejolak mengerikan gelombang hitam.
Ketika langit mulai terang pada fajar pertama, badai samudra yang mengamuk seakan mereda dan kapal mencapai perairan bebas. Ayahku belakangan menceritakan dengan takjub betapa berlawanannya pagi itu; samudra yang semalam hendak menelan mereka semua kini telah berubah menjadi hamparan tanpa batas, keperakan, dan begitu sunyi seakan tenggelam dalam tidur yang dalam. Dari lubang intip kecil di bawah geladak itu muncul pemandangan-pemandangan seperti mimpi: sekawanan lumba-lumba kelabu yang menyelam sambil bermain sejajar dengan kapal di dada air, dan ikan-ikan terbang yang tiba-tiba melompat keluar dari air, terbang berbatu-batu di samping kapal, lalu hilang lagi dalam pelukan samudra. Bingkai ajaib itu adalah sekejap ketenangan mutlak di tengah semua kekacauan.
Tetapi kesunyian itu tak lebih dari fatamorgana, sebab bertahan hidup di perahu yang terkatung-katung itu semakin sulit dari hari ke hari. Persediaan air minum dijatah dengan ketat; bagian setiap orang, dalam udara lembap dan membakar itu, hanya secangkir kecil air sehari, yang nyaris tidak membasahi bibir mereka yang pecah-pecah. Sang nakhoda terus berusaha memberi harapan dengan kalimat-kalimat pendek bahwa Australia sudah dekat. Tetapi badai yang sesungguhnya bangkit ketika siluet celaka sebuah kapal perang muncul di cakrawala samudra. Lampu sorot besar kapal perang itu menyapu perairan dan lewat pengeras suara mereka memperingatkan bahwa kapal harus segera berbalik arah dan pulang, jika tidak mereka akan menembak.
Ketakutan yang mencekik menguasai para pencari suaka. Sang nakhoda, dengan kecakapan yang bercampur ngeri, segera memutar kemudi, membelokkan haluan, dan menggiring kapal ke jalur-jalur samping yang lebih tersembunyi di samudra agar tetap luput dari radar militer dalam kegelapan. Di tengah itu, kegilaan akibat keputusasaan yang mutlak mencengkeram dua orang pencari suaka muda. Mereka, yang mengira kapal perang itu adalah tiket keselamatan dari neraka di bawah geladak, tiba-tiba melemparkan diri ke dalam samudra dan mulai berenang sekuat tenaga ke arah kapal militer itu. Tetapi samudra lebih kejam daripada hitungan kanak-kanak mereka. Gelombang yang mengamuk dan deras menelan tubuh mereka yang gemetar dalam sepersekian detik. Dari kejauhan mereka masih melambaikan tangan meminta tolong, tetapi gelombang berikutnya datang dan menenggelamkan mereka selamanya dalam pelukan samudra yang membiru. Para pencari suaka yang menonton pemandangan itu dari lubang intip kecil berlutut dan memanjatkan doa.
Setelah tenggelamnya dua pemuda itu, kesunyian yang mematikan, berat, dan menyesakkan menguasai seluruh kapal. Tidak ada lagi suara selain lolongan angin dan hantaman air yang terus-menerus pada lambung kapal. Setiap orang, dalam kesendiriannya, memikirkan apakah impian kebebasan ini sepadan dengan taruhan berdarah dan mengerikan dengan maut seperti ini. Ayahku Zaher dan Hamid, dalam kegelapan yang lembap itu, dengan bibir yang kering oleh haus, saling menggenggam tangan dan memutar tasbih dengan bibir yang komat-kamit; mereka tahu tidak ada jalan kembali dan bahwa jalan kebebasan hanya melintasi rumah kematian...
Pemimpin rombongan menunjuk dengan telunjuknya ke satu titik jauh di dalam kegelapan air; di tempat siluet sebuah kapal kayu kecil naik turun di dada gelombang. Suaranya serak dan pendek: “Cepat masuk ke air dan capai kapal itu. Airnya tidak dalam, kalian tidak perlu berenang... dari sini jalan kalian ada di tangan sang nakhoda.”
Ayahku Zaher dan Hamid, bahu-membahu dengan para imigran lain, melangkah ke dalam air samudra yang dingin dan gelap. Pada setiap langkah, dinginnya air yang mengejutkan naik lebih tinggi; mula-mula sampai lutut, lalu sampai dada, dan akhirnya sampai di bawah dagu. Asinnya yang menggigit membakar mata mereka dan pasir lembut di dasar laut menggelincir di bawah kaki mereka yang gemetar. Tetapi ketakutan tertinggal menjaga tekad mereka untuk terus bergerak. Akhirnya, satu per satu, mereka mencapai kapal kecil itu. Sang nakhoda, yang sudah menunggu, menggenggam tangan mereka yang pecah-pecah dan basah lalu menuntun mereka semua ke ruang pengap dan gelap di bawah geladak. Dengan naiknya orang terakhir, mesin kapal menyala dengan suara kasar dan pelayaran samudra mereka pun dimulai.
Di bawah sana, di bawah geladak, mengalir sebuah neraka yang sesungguhnya. Ruangnya begitu sempit dan terbatas sehingga orang-orang terpaksa duduk meringkuk bertumpuk. Guncangan mengerikan dan pukulan berat dari benturan gelombang raksasa pada lambung kapal menghantamkan anggota tubuh mereka yang letih ke dinding tanpa ampun. Tidak lama kemudian bau tajam solar, kelembapan, dan mabuk laut yang hebat memenuhi seluruh bilik. Keadaannya begitu memilukan dan tak tertahankan sampai banyak pencari suaka menangis dan meratap di dalam kegelapan itu. Satu-satunya jendela untuk menonton dunia luar adalah sebuah lubang intip bundar yang sangat kecil, dan dari sana bisa terlihat bagaimana bulan purnama samudra naik turun dengan gila di tengah gejolak mengerikan gelombang hitam.
Ketika langit mulai terang pada fajar pertama, badai samudra yang mengamuk seakan mereda dan kapal mencapai perairan bebas. Ayahku belakangan menceritakan dengan takjub betapa berlawanannya pagi itu; samudra yang semalam hendak menelan mereka semua kini telah berubah menjadi hamparan tanpa batas, keperakan, dan begitu sunyi seakan tenggelam dalam tidur yang dalam. Dari lubang intip kecil di bawah geladak itu muncul pemandangan-pemandangan seperti mimpi: sekawanan lumba-lumba kelabu yang menyelam sambil bermain sejajar dengan kapal di dada air, dan ikan-ikan terbang yang tiba-tiba melompat keluar dari air, terbang berbatu-batu di samping kapal, lalu hilang lagi dalam pelukan samudra. Bingkai ajaib itu adalah sekejap ketenangan mutlak di tengah semua kekacauan.
Tetapi kesunyian itu tak lebih dari fatamorgana, sebab bertahan hidup di perahu yang terkatung-katung itu semakin sulit dari hari ke hari. Persediaan air minum dijatah dengan ketat; bagian setiap orang, dalam udara lembap dan membakar itu, hanya secangkir kecil air sehari, yang nyaris tidak membasahi bibir mereka yang pecah-pecah. Sang nakhoda terus berusaha memberi harapan dengan kalimat-kalimat pendek bahwa Australia sudah dekat. Tetapi badai yang sesungguhnya bangkit ketika siluet celaka sebuah kapal perang muncul di cakrawala samudra. Lampu sorot besar kapal perang itu menyapu perairan dan lewat pengeras suara mereka memperingatkan bahwa kapal harus segera berbalik arah dan pulang, jika tidak mereka akan menembak.
Ketakutan yang mencekik menguasai para pencari suaka. Sang nakhoda, dengan kecakapan yang bercampur ngeri, segera memutar kemudi, membelokkan haluan, dan menggiring kapal ke jalur-jalur samping yang lebih tersembunyi di samudra agar tetap luput dari radar militer dalam kegelapan. Di tengah itu, kegilaan akibat keputusasaan yang mutlak mencengkeram dua orang pencari suaka muda. Mereka, yang mengira kapal perang itu adalah tiket keselamatan dari neraka di bawah geladak, tiba-tiba melemparkan diri ke dalam samudra dan mulai berenang sekuat tenaga ke arah kapal militer itu. Tetapi samudra lebih kejam daripada hitungan kanak-kanak mereka. Gelombang yang mengamuk dan deras menelan tubuh mereka yang gemetar dalam sepersekian detik. Dari kejauhan mereka masih melambaikan tangan meminta tolong, tetapi gelombang berikutnya datang dan menenggelamkan mereka selamanya dalam pelukan samudra yang membiru. Para pencari suaka yang menonton pemandangan itu dari lubang intip kecil berlutut dan memanjatkan doa.
Setelah tenggelamnya dua pemuda itu, kesunyian yang mematikan, berat, dan menyesakkan menguasai seluruh kapal. Tidak ada lagi suara selain lolongan angin dan hantaman air yang terus-menerus pada lambung kapal. Setiap orang, dalam kesendiriannya, memikirkan apakah impian kebebasan ini sepadan dengan taruhan berdarah dan mengerikan dengan maut seperti ini. Ayahku Zaher dan Hamid, dalam kegelapan yang lembap itu, dengan bibir yang kering oleh haus, saling menggenggam tangan dan memutar tasbih dengan bibir yang komat-kamit; mereka tahu tidak ada jalan kembali dan bahwa jalan kebebasan hanya melintasi rumah kematian...
## Bagian keempat: Gema lonceng keselamatan di Derby dan angin ribut perpisahan
Setelah samudra tenang dan ayahku Zaher digiring ke jalur-jalur yang lebih tersembunyi, hubungan kami yang rapuh dengan seberang perbatasan terputus sama sekali. Nomor telepon asing yang dicatat Tahereh di kertas kusut itu bukan lagi gerbang harapan. Setiap kali Tahereh memutar nomor itu dengan jari gemetar, sebuah suara asing dan tak dimengerti menjawab dalam bahasa lain, yang hanya satu hal kami pahami darinya: “Mereka sudah tidak ada di sini...” Kalimat pendek yang kabur itu adalah cambuk tanpa ampun pada tubuh harapan kami yang setengah mati.
Kesunyian yang berat menelan rumah kami yang setengah kosong di Mehrabad. Tercengang dan hancur, kami sampai pada keyakinan yang mengerikan bahwa ayah dan Paman Hamid telah ditangkap dan dideportasi ke Irak yang berada dalam cengkeraman Saddam; tempat yang tanpa ragu menanti mereka dengan hukuman mati dan tiang gantungan. Mata Tahereh dan Tante Roya membiru, bengkak, dan memerah karena tangis yang tak berhenti. Bahkan tenaga untuk meratap pun sudah tidak tersisa. Kami anak-anak tenggelam dalam kemurungan dan ketakutan yang gelap; Nejat kecil yang berusia tiga tahun tidak lagi berkeliaran di rumah yang senyap dan tidak lagi merengek mencari ayah, seakan ia pun mengerti bahwa bayangan celaka kematian telah memasang kemah di atas atap rumah kami. Di ambang usia tujuh belas tahun, aku merasakan beban kewajiban menjaga saudari-saudariku di bahuku yang baru tumbuh, dan setiap malam, dengan penyesalan lama, aku menatap kegelapan.
Pada salah satu hari yang muram dan tak bertenaga itu, ketika kemah duka menyelimuti seluruh rumah, tiba-tiba dering telepon memecah kesunyian yang mutlak. Tahereh menyambar gagang telepon dengan ketergesaan yang gila. Sebuah suara berdesir dari jarak ribuan batu, menembus samudra, bergema di telinga kami. Itu suara ayahku! Tahereh, dengan isak yang mencakar tenggorokannya, berteriak: “Zaher? Zaher, itu kau? Kau di mana? Sekarang kau di mana?” Dalam sedetik seluruh isi rumah berlari panik ke arah telepon. Tante Roya merebut gagang telepon dari tangan Tahereh dan bertanya dengan suara gemetar: “Zaher, bagaimana keadaan Hamid? Kalian selamat? Kalian hidup?”
Suara ayahku hangat, kokoh, dan penuh kelegaan: “Jangan khawatir, Roya... aku dan Hamid berdua baik-baik saja. Sekarang kami bersama teman-teman dan semuanya aman.” Tahereh kembali mengambil gagang telepon dan, dengan tetes-tetes air mata bahagia mengalir di wajahnya, bertanya: “Tapi bagaimana bisa? Kalian kan terjebak di Indonesia! Sekarang kalian di mana?” Jawaban ayahku adalah sebuah nama yang bagi kami terasa seperti mukjizat sungguhan: “Kami di Derby, di tanah Australia...”
Ia menjelaskan bahwa mereka ditahan di sebuah kamp sementara untuk karantina dan pemeriksaan hukum, tetapi semua kesulitan dan bahaya maut di samudra telah berakhir, dan setelah tahap-tahap itu selesai pemerintah Australia akan memberi mereka suaka. Ayahku berkata bahwa kisah pelarian dan penyeberangan samudra mereka panjang dan akan ia ceritakan nanti. Ketika gagang telepon diletakkan, kami anak-anak saling berpandangan. Dinding-dinding kosong rumah Mehrabad tiba-tiba bergetar, tetapi kali ini bukan oleh suara ratapan, melainkan oleh sorak, teriakan gembira, dan jerit penuh suka cita kami, seakan kami baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.
Tetapi kebahagiaan besar yang membakar itu tidak bertahan lama dan roda zaman mengirimkan angin ribut lain ke arah kami. Masa sewa rumah kami di Mehrabad telah habis dan kami tidak punya uang untuk memperpanjangnya. Di tengah itu, perselisihan dan ketegangan keuangan masa lalu antara Tahereh dan Tante Roya mencapai puncaknya. Tante Roya mengemasi barang-barangnya sebelum masa sewa berakhir dan pindah ke rumah Bibi Fatemeh; tetapi sakit hati dan dendam pada masa itu telah begitu dalam sehingga menular bahkan sampai ke surat-menyurat ayahku Zaher dan Hamid di Australia. Surat-surat mereka penuh kepahitan dan kata-kata tajam, dan pada akhirnya kedua teman seperjuangan itu pun berpisah di Australia; Hamid tinggal di Perth dan ayahku berangkat sendirian ke Sydney.
Perpecahan dan permusuhan keluarga yang baru muncul itu meremukkan hatiku pada usia tujuh belas tahun dan meruntuhkannya. Sebab aku diam-diam dan sedalam-dalamnya jatuh cinta kepada sepupuku, “Leila” (putri Tante Roya). Leila bagiku lebih dari sekadar hubungan kekerabatan; ia adalah impian indah yang memberi warna pada hidupku sepanjang tahun-tahun kelabu setelah kematian ibuku Marzieh. Dalam kesendirian kamarku aku melukis wajahnya yang halus, mengumpulkan fotonya dengan rakus, dan menjalin persahabatan akrab dengan kakaknya Hamed, semata agar bisa lebih sering melihatnya.
Aku tidak lupa; bertahun-tahun sebelumnya, ketika ia masih seorang gadis kecil, dengan segenap keberanian masa remajaku aku pernah mengatakan betapa aku menyayanginya, dan ia hanya tertawa dengan malu kanak-kanak yang manis. Kini aku seorang pemuda delapan belas tahun dan cinta itu telah berakar di setiap serat diriku dan menyala lebih dahsyat. Tetapi cinta itu kini menjadi “cinta yang terlarang”. Keluarga kami telah memutus hubungan dan sebuah tembok dendam dan kebisuan berdiri di antara kami. Aku bertanya-tanya bagaimana meredakan badai keluarga ini. Bagaimana mendekatkan hati orang-orang dewasa yang sekeras batu itu agar aku bisa sampai kepada Leila? Tetapi aku tidak punya jawaban apa pun untuk pertanyaan-pertanyaan yang perih itu.
Dengan berakhirnya masa sewa, kami terpaksa mengemasi sisa harta kami yang sedikit dan pindah ke rumah orang tua Tahereh. Melangkah masuk ke rumah besar dan ramai di “Bagh-Shahr” itu adalah awal dari salah satu masa paling berat, paling asing, dan paling menguji dalam hidupku dan hidup saudari-saudariku. Dari naungan sebuah keluarga yang mandiri, kami tiba-tiba dilemparkan ke sebuah suasana dan aturan moral yang sama sekali berbeda, yang menghidupkan rasa asing dan tercabut yang hebat dalam jiwa Faezeh dan Maryam yang tak berdosa...
Setelah samudra tenang dan ayahku Zaher digiring ke jalur-jalur yang lebih tersembunyi, hubungan kami yang rapuh dengan seberang perbatasan terputus sama sekali. Nomor telepon asing yang dicatat Tahereh di kertas kusut itu bukan lagi gerbang harapan. Setiap kali Tahereh memutar nomor itu dengan jari gemetar, sebuah suara asing dan tak dimengerti menjawab dalam bahasa lain, yang hanya satu hal kami pahami darinya: “Mereka sudah tidak ada di sini...” Kalimat pendek yang kabur itu adalah cambuk tanpa ampun pada tubuh harapan kami yang setengah mati.
Kesunyian yang berat menelan rumah kami yang setengah kosong di Mehrabad. Tercengang dan hancur, kami sampai pada keyakinan yang mengerikan bahwa ayah dan Paman Hamid telah ditangkap dan dideportasi ke Irak yang berada dalam cengkeraman Saddam; tempat yang tanpa ragu menanti mereka dengan hukuman mati dan tiang gantungan. Mata Tahereh dan Tante Roya membiru, bengkak, dan memerah karena tangis yang tak berhenti. Bahkan tenaga untuk meratap pun sudah tidak tersisa. Kami anak-anak tenggelam dalam kemurungan dan ketakutan yang gelap; Nejat kecil yang berusia tiga tahun tidak lagi berkeliaran di rumah yang senyap dan tidak lagi merengek mencari ayah, seakan ia pun mengerti bahwa bayangan celaka kematian telah memasang kemah di atas atap rumah kami. Di ambang usia tujuh belas tahun, aku merasakan beban kewajiban menjaga saudari-saudariku di bahuku yang baru tumbuh, dan setiap malam, dengan penyesalan lama, aku menatap kegelapan.
Pada salah satu hari yang muram dan tak bertenaga itu, ketika kemah duka menyelimuti seluruh rumah, tiba-tiba dering telepon memecah kesunyian yang mutlak. Tahereh menyambar gagang telepon dengan ketergesaan yang gila. Sebuah suara berdesir dari jarak ribuan batu, menembus samudra, bergema di telinga kami. Itu suara ayahku! Tahereh, dengan isak yang mencakar tenggorokannya, berteriak: “Zaher? Zaher, itu kau? Kau di mana? Sekarang kau di mana?” Dalam sedetik seluruh isi rumah berlari panik ke arah telepon. Tante Roya merebut gagang telepon dari tangan Tahereh dan bertanya dengan suara gemetar: “Zaher, bagaimana keadaan Hamid? Kalian selamat? Kalian hidup?”
Suara ayahku hangat, kokoh, dan penuh kelegaan: “Jangan khawatir, Roya... aku dan Hamid berdua baik-baik saja. Sekarang kami bersama teman-teman dan semuanya aman.” Tahereh kembali mengambil gagang telepon dan, dengan tetes-tetes air mata bahagia mengalir di wajahnya, bertanya: “Tapi bagaimana bisa? Kalian kan terjebak di Indonesia! Sekarang kalian di mana?” Jawaban ayahku adalah sebuah nama yang bagi kami terasa seperti mukjizat sungguhan: “Kami di Derby, di tanah Australia...”
Ia menjelaskan bahwa mereka ditahan di sebuah kamp sementara untuk karantina dan pemeriksaan hukum, tetapi semua kesulitan dan bahaya maut di samudra telah berakhir, dan setelah tahap-tahap itu selesai pemerintah Australia akan memberi mereka suaka. Ayahku berkata bahwa kisah pelarian dan penyeberangan samudra mereka panjang dan akan ia ceritakan nanti. Ketika gagang telepon diletakkan, kami anak-anak saling berpandangan. Dinding-dinding kosong rumah Mehrabad tiba-tiba bergetar, tetapi kali ini bukan oleh suara ratapan, melainkan oleh sorak, teriakan gembira, dan jerit penuh suka cita kami, seakan kami baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.
Tetapi kebahagiaan besar yang membakar itu tidak bertahan lama dan roda zaman mengirimkan angin ribut lain ke arah kami. Masa sewa rumah kami di Mehrabad telah habis dan kami tidak punya uang untuk memperpanjangnya. Di tengah itu, perselisihan dan ketegangan keuangan masa lalu antara Tahereh dan Tante Roya mencapai puncaknya. Tante Roya mengemasi barang-barangnya sebelum masa sewa berakhir dan pindah ke rumah Bibi Fatemeh; tetapi sakit hati dan dendam pada masa itu telah begitu dalam sehingga menular bahkan sampai ke surat-menyurat ayahku Zaher dan Hamid di Australia. Surat-surat mereka penuh kepahitan dan kata-kata tajam, dan pada akhirnya kedua teman seperjuangan itu pun berpisah di Australia; Hamid tinggal di Perth dan ayahku berangkat sendirian ke Sydney.
Perpecahan dan permusuhan keluarga yang baru muncul itu meremukkan hatiku pada usia tujuh belas tahun dan meruntuhkannya. Sebab aku diam-diam dan sedalam-dalamnya jatuh cinta kepada sepupuku, “Leila” (putri Tante Roya). Leila bagiku lebih dari sekadar hubungan kekerabatan; ia adalah impian indah yang memberi warna pada hidupku sepanjang tahun-tahun kelabu setelah kematian ibuku Marzieh. Dalam kesendirian kamarku aku melukis wajahnya yang halus, mengumpulkan fotonya dengan rakus, dan menjalin persahabatan akrab dengan kakaknya Hamed, semata agar bisa lebih sering melihatnya.
Aku tidak lupa; bertahun-tahun sebelumnya, ketika ia masih seorang gadis kecil, dengan segenap keberanian masa remajaku aku pernah mengatakan betapa aku menyayanginya, dan ia hanya tertawa dengan malu kanak-kanak yang manis. Kini aku seorang pemuda delapan belas tahun dan cinta itu telah berakar di setiap serat diriku dan menyala lebih dahsyat. Tetapi cinta itu kini menjadi “cinta yang terlarang”. Keluarga kami telah memutus hubungan dan sebuah tembok dendam dan kebisuan berdiri di antara kami. Aku bertanya-tanya bagaimana meredakan badai keluarga ini. Bagaimana mendekatkan hati orang-orang dewasa yang sekeras batu itu agar aku bisa sampai kepada Leila? Tetapi aku tidak punya jawaban apa pun untuk pertanyaan-pertanyaan yang perih itu.
Dengan berakhirnya masa sewa, kami terpaksa mengemasi sisa harta kami yang sedikit dan pindah ke rumah orang tua Tahereh. Melangkah masuk ke rumah besar dan ramai di “Bagh-Shahr” itu adalah awal dari salah satu masa paling berat, paling asing, dan paling menguji dalam hidupku dan hidup saudari-saudariku. Dari naungan sebuah keluarga yang mandiri, kami tiba-tiba dilemparkan ke sebuah suasana dan aturan moral yang sama sekali berbeda, yang menghidupkan rasa asing dan tercabut yang hebat dalam jiwa Faezeh dan Maryam yang tak berdosa...
Rumah besar Bagh-Shahr dan percikan harapan
## Bagian pertama: Orang asing di rumah orang asing, dan berperan dalam barzakh kesetiaan
Dengan berakhirnya masa sewa rumah kami di Mehrabad dan habisnya simpanan kami, kami terpaksa mengemasi sisa-sisa hidup kami yang belum terjual ke dalam beberapa kardus tua dan pindah ke rumah orang tua Tahereh di Bagh-Shahr. Bagiku, Faezeh, dan Maryam, melangkah masuk ke rumah besar dan ramai itu membuka salah satu tahun paling asing, paling menguji, dan paling berat dalam hidup kami. Kami yang sudah terbiasa memiliki sarang yang mandiri dan tenang tiba-tiba dilemparkan ke sebuah suasana dan aturan moral yang sama sekali berbeda, yang menghidupkan dalam diri kami rasa asing dan tercabut yang hebat.
Begitu kami tiba, tempat berlindung kami yang pertama dan terindah adalah pelukan hangat dan terbuka ibunda Tahereh, yaitu nenek “Bibi Fakhriyeh”. Bibi Fakhriyeh adalah perempuan yang jernih dan tak terhingga baiknya, yang dari matanya yang letih tercurah cinta dan belas kasih, dan yang sejak pelukan pertama berusaha menepiskan debu pengasingan dari tubuh kami yang letih. Tetapi di rumah besar tempat beberapa keluarga tinggal bersamaan itu, kami berhadapan dengan tembok tinggi berupa dingin, ketidakpedulian, dan tatapan berat serta asing dari para saudara dan saudari Tahereh. Kepala keluarga besar itu dan penguasa mutlak rumah adalah seorang lelaki tua yang sangat pemarah, buruk perangai, dan keras bernama “Jaddo Abdolrahman”. Ia memerintah rumah itu dengan tangan besi dan kedelapan putranya yang sudah dewasa tunduk dan segan kepadanya tanpa membantah. Suasana rumah terus-menerus bergantung pada naik turunnya suasana hati Jaddo Abdolrahman.
Tepat pada awal hari-hari yang penuh kecemasan dan berat ketika kami baru tiba di Bagh-Shahr, tiba-tiba muncullah Paman Reza dan istrinya di rumah yang ramai itu. Mereka datang dengan tangan penuh keprihatinan dan mata yang cemas untuk menengok dan menanyakan kabar kami, anak-anak yatim Marzieh. Tetapi sebelum mereka melangkah masuk, aku sudah berada di bawah pengaruh bisik-bisik dan hasutan para saudara dan saudari Tahereh. Mereka berbisik di telinga remajaku dan mendorongku agar berdiri melawan Paman Reza; kata mereka, dialah yang menyerang ayahku di apotek dan aku tidak boleh membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini. Aku yang berusia tujuh belas tahun, dalam usaha sia-sia untuk membuktikan diri dan menunjukkan kesetiaan abadiku kepada ayahku Zaher yang berada ribuan batu jauhnya di kamp Australia, menyerah kepada hasutan itu.
Ketika Paman Reza masuk, terjadilah di dalam diriku sebuah tragedi yang bertentangan dan sebuah kegilaan yang menyakitkan. Di lubuk hatiku, aku sangat senang dan lega melihat Paman Reza di rumah asing dan keras yang bagiku bagaikan ruang penyiksaan itu; bau ibuku Marzieh dan kenangan indah kompleks Golestan hidup kembali di ruangan itu dengan kehadirannya. Tetapi diriku yang sesungguhnya bersembunyi di balik topeng seorang aktor yang pahit. Aku naik ke atas panggung seperti seorang pemain; dengan amarah dan teriakan aku menyerang Paman Reza yang adalah tamu rumah itu, dan dengan makian serta kata-kata kasar kuungkit perbuatannya yang keras di masa lalu terhadap ayahku dan kucela dia. Aku berteriak dan meronta, sementara di dalam diriku aku menangis darah karena pertunjukan yang mengerikan itu.
Para saudara dan saudari Tahereh, yang justru merekalah yang menyiram bensin ke api itu, kini berlagak menjadi juru selamat; mereka mengerumuniku, membekap mulutku, mencengkeram lenganku, dan menyeretku keluar dengan paksa dari ruang tamu. Paman Reza, yang memahami permainan kotor itu dan kekalutan jiwaku, meninggalkan kunjungan yang pahit itu dalam diam dengan hati yang perih.
Tetapi tangan Tuhan lebih besar daripada dendam dan sandiwara kami manusia. Meskipun aku menyerangnya dan bersikap sangat tidak hormat, pada hari-hari berikutnya Paman Reza kembali datang kepada kami dengan wajah terbuka dan tangan penuh maaf. Ia membuka sedikit pintu ruang penyiksaan Bagh-Shahr itu, membawa serta Faezeh dan Maryam yang tak berdosa, dan mengajak mereka ke kebun kakekku dari pihak ibu yang hijau dan indah. Di sana, Faezeh dan Maryam memetik buah-buahan segar yang matang dan untuk sesaat melupakan tekanan berpisah dari ayah, keyatiman, dan pengembaraan. Ketika mereka pulang dengan mata berbinar bahagia, aku tenggelam dalam kelegaan dan ketenangan.
Di samping semua gejolak dan hari-hari yang berat itu, ada satu tempat berlindung dan satu labuhan lain yang tiada bandingnya yang meredakan detak jantung kami yang kencang: Paman Jalal-ku tersayang. Paman Jalal beberapa kali menengok kami, diam-diam maupun terang-terangan. Kehadirannya di pertemuan-pertemuan dan suasana yang keras itu bagaikan angin sejuk di tengah panas terik musim panas; kehadirannya membawa ketenangan yang dalam bagi kami, anak-anak tanpa tanah air. Meskipun penghuni rumah itu tidak menunjukkan wajah ramah kepadanya, dan sepeninggalnya bisik-bisik dan pembicaraan tak sedap tentang kedatangannya terdengar dari sana-sini, bagiku Paman Jalal memiliki kesucian dan kisah yang sama sekali berbeda dari Paman Reza.
Ia adalah lelaki yang selalu tenang, berkepala dingin, berwibawa, dan tak terhingga baiknya, yang menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Ketika ia duduk di tengah keriuhan dan tatapan berat keluarga Tahereh, ia berbicara dengan begitu berwibawa dan tegas seakan tidak ada badai yang sanggup menggoyahkan bahunya. Sepanjang hidupku aku selalu menyimpan rasa hormat yang bercampur kekaguman kepadanya. Aku tahu betul kesulitan dan penderitaan besar yang ia tanggung sepanjang tahun-tahun hijrah, pengasingan dari Najaf, dan memulai lagi dari nol di Iran; tetapi melihat bahwa badai-badai itu tidak berhasil merusak jiwanya dan bahwa ia tetap berdiri teguh dengan kekuatan dan kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan, bagiku sebagai remaja yang tersesat, adalah teladan dan panutan yang abadi. Aku belajar darinya bagaimana orang bisa berdiri di tengah puing tanpa ikut menjadi puing.
Meski begitu, badai rumah Bagh-Shahr tidak pernah habis. Untuk lari dari suasana rumah yang menyesakkan itu aku mencoba berbagai pekerjaan; beberapa waktu aku bekerja di toko roti, lalu sebagai pekerja magang tanpa upah di sebuah bengkel mekanik. Tetapi karena keadaan jiwaku yang buruk dan kemurungan akibat jauh dari ayah, akhirnya aku meninggalkan pekerjaan di bengkel itu juga.
Ketika Jaddo Abdolrahman tahu bahwa aku meninggalkan pekerjaanku, amarahnya yang tak terkendali meledak. Di depan seluruh keluarga ia melontarkan makian dan penghinaan yang paling kejam kepadaku dan kepada ayahku sambil berteriak: “Ayahmu sendiri jadi gelandangan di negeri orang dan kau ini hanya pemalas yang tidak berguna!” Dengan hati yang hancur dan mata yang meluap air mata amarah, aku menundukkan kepala, dan hanya campur tangan serta teriakan memohon Bibi Fakhriyeh, yang menjadikan dirinya perisai bagiku, yang mengakhiri kegaduhan mengerikan itu. Setelah hari itu aku menghabiskan sebagian besar waktu berkeliaran di jalanan, dengan hati yang perih oleh kecemasan tentang penghinaan yang harus ditanggung Faezeh dan Maryam di rumah yang ramai dan penuh ketegangan itu saat aku tidak ada...
Dengan berakhirnya masa sewa rumah kami di Mehrabad dan habisnya simpanan kami, kami terpaksa mengemasi sisa-sisa hidup kami yang belum terjual ke dalam beberapa kardus tua dan pindah ke rumah orang tua Tahereh di Bagh-Shahr. Bagiku, Faezeh, dan Maryam, melangkah masuk ke rumah besar dan ramai itu membuka salah satu tahun paling asing, paling menguji, dan paling berat dalam hidup kami. Kami yang sudah terbiasa memiliki sarang yang mandiri dan tenang tiba-tiba dilemparkan ke sebuah suasana dan aturan moral yang sama sekali berbeda, yang menghidupkan dalam diri kami rasa asing dan tercabut yang hebat.
Begitu kami tiba, tempat berlindung kami yang pertama dan terindah adalah pelukan hangat dan terbuka ibunda Tahereh, yaitu nenek “Bibi Fakhriyeh”. Bibi Fakhriyeh adalah perempuan yang jernih dan tak terhingga baiknya, yang dari matanya yang letih tercurah cinta dan belas kasih, dan yang sejak pelukan pertama berusaha menepiskan debu pengasingan dari tubuh kami yang letih. Tetapi di rumah besar tempat beberapa keluarga tinggal bersamaan itu, kami berhadapan dengan tembok tinggi berupa dingin, ketidakpedulian, dan tatapan berat serta asing dari para saudara dan saudari Tahereh. Kepala keluarga besar itu dan penguasa mutlak rumah adalah seorang lelaki tua yang sangat pemarah, buruk perangai, dan keras bernama “Jaddo Abdolrahman”. Ia memerintah rumah itu dengan tangan besi dan kedelapan putranya yang sudah dewasa tunduk dan segan kepadanya tanpa membantah. Suasana rumah terus-menerus bergantung pada naik turunnya suasana hati Jaddo Abdolrahman.
Tepat pada awal hari-hari yang penuh kecemasan dan berat ketika kami baru tiba di Bagh-Shahr, tiba-tiba muncullah Paman Reza dan istrinya di rumah yang ramai itu. Mereka datang dengan tangan penuh keprihatinan dan mata yang cemas untuk menengok dan menanyakan kabar kami, anak-anak yatim Marzieh. Tetapi sebelum mereka melangkah masuk, aku sudah berada di bawah pengaruh bisik-bisik dan hasutan para saudara dan saudari Tahereh. Mereka berbisik di telinga remajaku dan mendorongku agar berdiri melawan Paman Reza; kata mereka, dialah yang menyerang ayahku di apotek dan aku tidak boleh membiarkannya menginjakkan kaki di rumah ini. Aku yang berusia tujuh belas tahun, dalam usaha sia-sia untuk membuktikan diri dan menunjukkan kesetiaan abadiku kepada ayahku Zaher yang berada ribuan batu jauhnya di kamp Australia, menyerah kepada hasutan itu.
Ketika Paman Reza masuk, terjadilah di dalam diriku sebuah tragedi yang bertentangan dan sebuah kegilaan yang menyakitkan. Di lubuk hatiku, aku sangat senang dan lega melihat Paman Reza di rumah asing dan keras yang bagiku bagaikan ruang penyiksaan itu; bau ibuku Marzieh dan kenangan indah kompleks Golestan hidup kembali di ruangan itu dengan kehadirannya. Tetapi diriku yang sesungguhnya bersembunyi di balik topeng seorang aktor yang pahit. Aku naik ke atas panggung seperti seorang pemain; dengan amarah dan teriakan aku menyerang Paman Reza yang adalah tamu rumah itu, dan dengan makian serta kata-kata kasar kuungkit perbuatannya yang keras di masa lalu terhadap ayahku dan kucela dia. Aku berteriak dan meronta, sementara di dalam diriku aku menangis darah karena pertunjukan yang mengerikan itu.
Para saudara dan saudari Tahereh, yang justru merekalah yang menyiram bensin ke api itu, kini berlagak menjadi juru selamat; mereka mengerumuniku, membekap mulutku, mencengkeram lenganku, dan menyeretku keluar dengan paksa dari ruang tamu. Paman Reza, yang memahami permainan kotor itu dan kekalutan jiwaku, meninggalkan kunjungan yang pahit itu dalam diam dengan hati yang perih.
Tetapi tangan Tuhan lebih besar daripada dendam dan sandiwara kami manusia. Meskipun aku menyerangnya dan bersikap sangat tidak hormat, pada hari-hari berikutnya Paman Reza kembali datang kepada kami dengan wajah terbuka dan tangan penuh maaf. Ia membuka sedikit pintu ruang penyiksaan Bagh-Shahr itu, membawa serta Faezeh dan Maryam yang tak berdosa, dan mengajak mereka ke kebun kakekku dari pihak ibu yang hijau dan indah. Di sana, Faezeh dan Maryam memetik buah-buahan segar yang matang dan untuk sesaat melupakan tekanan berpisah dari ayah, keyatiman, dan pengembaraan. Ketika mereka pulang dengan mata berbinar bahagia, aku tenggelam dalam kelegaan dan ketenangan.
Di samping semua gejolak dan hari-hari yang berat itu, ada satu tempat berlindung dan satu labuhan lain yang tiada bandingnya yang meredakan detak jantung kami yang kencang: Paman Jalal-ku tersayang. Paman Jalal beberapa kali menengok kami, diam-diam maupun terang-terangan. Kehadirannya di pertemuan-pertemuan dan suasana yang keras itu bagaikan angin sejuk di tengah panas terik musim panas; kehadirannya membawa ketenangan yang dalam bagi kami, anak-anak tanpa tanah air. Meskipun penghuni rumah itu tidak menunjukkan wajah ramah kepadanya, dan sepeninggalnya bisik-bisik dan pembicaraan tak sedap tentang kedatangannya terdengar dari sana-sini, bagiku Paman Jalal memiliki kesucian dan kisah yang sama sekali berbeda dari Paman Reza.
Ia adalah lelaki yang selalu tenang, berkepala dingin, berwibawa, dan tak terhingga baiknya, yang menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Ketika ia duduk di tengah keriuhan dan tatapan berat keluarga Tahereh, ia berbicara dengan begitu berwibawa dan tegas seakan tidak ada badai yang sanggup menggoyahkan bahunya. Sepanjang hidupku aku selalu menyimpan rasa hormat yang bercampur kekaguman kepadanya. Aku tahu betul kesulitan dan penderitaan besar yang ia tanggung sepanjang tahun-tahun hijrah, pengasingan dari Najaf, dan memulai lagi dari nol di Iran; tetapi melihat bahwa badai-badai itu tidak berhasil merusak jiwanya dan bahwa ia tetap berdiri teguh dengan kekuatan dan kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan, bagiku sebagai remaja yang tersesat, adalah teladan dan panutan yang abadi. Aku belajar darinya bagaimana orang bisa berdiri di tengah puing tanpa ikut menjadi puing.
Meski begitu, badai rumah Bagh-Shahr tidak pernah habis. Untuk lari dari suasana rumah yang menyesakkan itu aku mencoba berbagai pekerjaan; beberapa waktu aku bekerja di toko roti, lalu sebagai pekerja magang tanpa upah di sebuah bengkel mekanik. Tetapi karena keadaan jiwaku yang buruk dan kemurungan akibat jauh dari ayah, akhirnya aku meninggalkan pekerjaan di bengkel itu juga.
Ketika Jaddo Abdolrahman tahu bahwa aku meninggalkan pekerjaanku, amarahnya yang tak terkendali meledak. Di depan seluruh keluarga ia melontarkan makian dan penghinaan yang paling kejam kepadaku dan kepada ayahku sambil berteriak: “Ayahmu sendiri jadi gelandangan di negeri orang dan kau ini hanya pemalas yang tidak berguna!” Dengan hati yang hancur dan mata yang meluap air mata amarah, aku menundukkan kepala, dan hanya campur tangan serta teriakan memohon Bibi Fakhriyeh, yang menjadikan dirinya perisai bagiku, yang mengakhiri kegaduhan mengerikan itu. Setelah hari itu aku menghabiskan sebagian besar waktu berkeliaran di jalanan, dengan hati yang perih oleh kecemasan tentang penghinaan yang harus ditanggung Faezeh dan Maryam di rumah yang ramai dan penuh ketegangan itu saat aku tidak ada...
## Bagian kedua: Sebuah percikan dalam kegelapan dan kabar kepulangan ayah
Hidup di rumah besar Bagh-Shahr yang selalu ramai itu menggerus kami bertiga. Pada hari-hari ketika amarah mendadak Jaddo Abdolrahman dan ketidakpedulian asing para paman tiriku membuat dinding rumah terasa menyesakkan, jiwa mudaku pada usia delapan belas tahun megap-megap di antara kemurungan karena jauh dari ayah dan penyesalan lama. Sebagian besar jam siang kulewatkan di luar rumah, berkeliaran tanpa tujuan di jalanan atau dalam kesunyian perpustakaan, agar sesedikit mungkin berhadapan dengan suasana tegang di sana.
Sampai pada suatu hari, di tengah hari-hari yang mendung dan monoton itu, muncullah sebuah percikan yang jernih dan tak terduga bernama “Bahar” — musim semi. Bahar adalah putri Paman Abdolhossein (salah satu saudara Tahereh). Ia gadis yang sangat cantik, berwibawa, dan baik hati, yang dengan cepat menjalin hubungan akrab dan mendalam dengan saudariku Faezeh. Dengan seringnya ia datang ke rumah Jaddo untuk menemui Faezeh, suasana dingin kamar-kamar di lantai atas perlahan mendapat sedikit warna keceriaan. Aku yang biasanya menyendiri dan tenggelam dalam pikiranku sendiri tidak bisa bersikap acuh terhadap pandangan-pandangannya yang curi-curi, santun, dan penuh perhatian; pandangan yang setiap kali beradu dengan mataku langsung tertunduk malu.
Suatu hari, Faezeh dengan nakal dan setengah memaksa memintaku membuatkan untuk temannya, Bahar, serangkaian gambar khayali bertema abjad Inggris untuk membantunya dalam pelajaran. Menggambar dan melukis selalu menjadi tempat berlindungku dari kesedihan. Aku menyingsingkan lengan baju dan dengan penuh semangat mulai menggoreskan gambar-gambar itu di atas karton putih. Pada hari aku menyelesaikan rincian terakhir gambar pesanan Bahar, Faezeh datang tergesa dengan kegembiraan yang tak terlukiskan yang membuat matanya berbinar, dan duduk di tepi ranjang, tepat di sampingku. Ia mendekat sedikit, memiringkan kepala, dan bertanya dengan nada misterius dan pelan: “Mohsen... aku mau tanya sesuatu, kau mau jujur padaku?” Kutarik kuasku dan kukatakan: “Tanyalah!” Faezeh memusatkan mata penasarannya kepadaku: “Kau benar-benar tidak punya perasaan apa pun terhadap Bahar?”
Aku tertawa tanpa sadar, berusaha menjaga ketenanganku, dan berkata dengan nada acuh: “Tidak!” Tetapi Faezeh, seakan baru menemukan sebuah rahasia besar, menepukkan kedua tangannya dan berkata dengan bersemangat: “Tapi Bahar benar-benar menyukaimu, dari lubuk hatinya! Percayalah padaku.” Mendengar kalimat itu, darah naik ke wajahku. Seluruh mukaku memerah karena malu dan, untuk menyembunyikan detak jantungku yang kencang, aku melepaskan tawa gugup dan kikuk.
Sejak hari itu, setiap kali Bahar menginjakkan kaki di rumah Jaddo, seluruh diriku dipenuhi rasa yang aneh dan menarik. Di mataku ia tampak sebagai pribadi yang tak terhingga menawan dan menyenangkan; tetapi sebuah perih lama dan sebuah janji yang tidak tertulis mencegahku membiarkan tunas itu tumbuh. Hatiku masih tenggelam dalam impian terlarang tentang sepupuku, Leila. Aku tidak ingin, dengan menerima cinta yang baru, mematahkan di dalam benakku janji kesetiaan kanak-kanakku kepada Leila. Karena itu, meski dengan segala tarikan di dalam diriku, aku bersikap dingin dan acuh terhadap Bahar agar ia mengira hatiku telah lebih dulu kupersembahkan kepada orang lain; meskipun menolak kebaikan-kebaikannya yang tak berdosa adalah pekerjaan tersulit pada hari-hari itu.
Di tengah semua pergulatan batin dan kesepian kami — aku dan saudari-saudariku — di Bagh-Shahr, satu-satunya labuhan harapan kami adalah suara berdesir ayahku Zaher yang, dari jarak ribuan batu di seberang Samudra Pasifik, bergema di rumah kami lewat dering telepon. Setiap kali ia menelepon, ia menanyakan kabar kami satu per satu dengan gelora kebapakan dan kecemasan, lalu bercerita tentang Australia. Tetapi kalimat termanis dan paling seperti mimpi yang kami dengar darinya adalah sebuah janji yang mengakhiri penantian kami selama setahun: ia berkata bahwa urusan suakanya telah beres, tiketnya sudah dibeli, dan ia akan segera kembali ke Iran untuk menemui kami. Kabar kepulangan ayah yang sudah dekat itu bergema seperti nyanyian keselamatan di rumah Bagh-Shahr dan memberi makna harapan yang baru bagi semua kesulitan, keyatiman, dan pengasingan kami...
Hidup di rumah besar Bagh-Shahr yang selalu ramai itu menggerus kami bertiga. Pada hari-hari ketika amarah mendadak Jaddo Abdolrahman dan ketidakpedulian asing para paman tiriku membuat dinding rumah terasa menyesakkan, jiwa mudaku pada usia delapan belas tahun megap-megap di antara kemurungan karena jauh dari ayah dan penyesalan lama. Sebagian besar jam siang kulewatkan di luar rumah, berkeliaran tanpa tujuan di jalanan atau dalam kesunyian perpustakaan, agar sesedikit mungkin berhadapan dengan suasana tegang di sana.
Sampai pada suatu hari, di tengah hari-hari yang mendung dan monoton itu, muncullah sebuah percikan yang jernih dan tak terduga bernama “Bahar” — musim semi. Bahar adalah putri Paman Abdolhossein (salah satu saudara Tahereh). Ia gadis yang sangat cantik, berwibawa, dan baik hati, yang dengan cepat menjalin hubungan akrab dan mendalam dengan saudariku Faezeh. Dengan seringnya ia datang ke rumah Jaddo untuk menemui Faezeh, suasana dingin kamar-kamar di lantai atas perlahan mendapat sedikit warna keceriaan. Aku yang biasanya menyendiri dan tenggelam dalam pikiranku sendiri tidak bisa bersikap acuh terhadap pandangan-pandangannya yang curi-curi, santun, dan penuh perhatian; pandangan yang setiap kali beradu dengan mataku langsung tertunduk malu.
Suatu hari, Faezeh dengan nakal dan setengah memaksa memintaku membuatkan untuk temannya, Bahar, serangkaian gambar khayali bertema abjad Inggris untuk membantunya dalam pelajaran. Menggambar dan melukis selalu menjadi tempat berlindungku dari kesedihan. Aku menyingsingkan lengan baju dan dengan penuh semangat mulai menggoreskan gambar-gambar itu di atas karton putih. Pada hari aku menyelesaikan rincian terakhir gambar pesanan Bahar, Faezeh datang tergesa dengan kegembiraan yang tak terlukiskan yang membuat matanya berbinar, dan duduk di tepi ranjang, tepat di sampingku. Ia mendekat sedikit, memiringkan kepala, dan bertanya dengan nada misterius dan pelan: “Mohsen... aku mau tanya sesuatu, kau mau jujur padaku?” Kutarik kuasku dan kukatakan: “Tanyalah!” Faezeh memusatkan mata penasarannya kepadaku: “Kau benar-benar tidak punya perasaan apa pun terhadap Bahar?”
Aku tertawa tanpa sadar, berusaha menjaga ketenanganku, dan berkata dengan nada acuh: “Tidak!” Tetapi Faezeh, seakan baru menemukan sebuah rahasia besar, menepukkan kedua tangannya dan berkata dengan bersemangat: “Tapi Bahar benar-benar menyukaimu, dari lubuk hatinya! Percayalah padaku.” Mendengar kalimat itu, darah naik ke wajahku. Seluruh mukaku memerah karena malu dan, untuk menyembunyikan detak jantungku yang kencang, aku melepaskan tawa gugup dan kikuk.
Sejak hari itu, setiap kali Bahar menginjakkan kaki di rumah Jaddo, seluruh diriku dipenuhi rasa yang aneh dan menarik. Di mataku ia tampak sebagai pribadi yang tak terhingga menawan dan menyenangkan; tetapi sebuah perih lama dan sebuah janji yang tidak tertulis mencegahku membiarkan tunas itu tumbuh. Hatiku masih tenggelam dalam impian terlarang tentang sepupuku, Leila. Aku tidak ingin, dengan menerima cinta yang baru, mematahkan di dalam benakku janji kesetiaan kanak-kanakku kepada Leila. Karena itu, meski dengan segala tarikan di dalam diriku, aku bersikap dingin dan acuh terhadap Bahar agar ia mengira hatiku telah lebih dulu kupersembahkan kepada orang lain; meskipun menolak kebaikan-kebaikannya yang tak berdosa adalah pekerjaan tersulit pada hari-hari itu.
Di tengah semua pergulatan batin dan kesepian kami — aku dan saudari-saudariku — di Bagh-Shahr, satu-satunya labuhan harapan kami adalah suara berdesir ayahku Zaher yang, dari jarak ribuan batu di seberang Samudra Pasifik, bergema di rumah kami lewat dering telepon. Setiap kali ia menelepon, ia menanyakan kabar kami satu per satu dengan gelora kebapakan dan kecemasan, lalu bercerita tentang Australia. Tetapi kalimat termanis dan paling seperti mimpi yang kami dengar darinya adalah sebuah janji yang mengakhiri penantian kami selama setahun: ia berkata bahwa urusan suakanya telah beres, tiketnya sudah dibeli, dan ia akan segera kembali ke Iran untuk menemui kami. Kabar kepulangan ayah yang sudah dekat itu bergema seperti nyanyian keselamatan di rumah Bagh-Shahr dan memberi makna harapan yang baru bagi semua kesulitan, keyatiman, dan pengasingan kami...
## Bagian ketiga: Naungan di tengah hujan dan pelukan hangat ayah
Musim panas tahun 2000: panas gurun Bagh-Shahr menindih bata tanah liat rumah Jaddo Abdolrahman. Bagiku dan saudari-saudariku, menanggung suasana tegang itu, tatapan dingin para paman tiriku, dan aturan barak ala Jaddo sudah tidak menyisakan tenaga apa pun. Setiap hari kami berlalu di alam barzakh penantian; barzakh yang hanya diwarnai oleh gambar-gambar abjad Inggris untuk Bahar dan impian remaja yang belum selesai.
Sampai pada hari-hari terpanas musim panas itu, mukjizat yang kami hitung detiknya selama setahun penuh akhirnya terjadi. Pada tanggal 25 Juni 2000, tiba-tiba bunyi bel halaman rumah bergema dengan irama cepat dan bersemangat di tengah keriuhan sore Bagh-Shahr. Bunyi bel halaman itu terasa berbeda dari semua kali sebelumnya; ada getaran di dalamnya yang langsung mengguncang hati kami. Aku, yang sedang tenggelam dalam pikiranku di kamar lantai atas, mendengar teriakan dan sorak mendadak seisi rumah lalu berlari panik ke jendela. Kujulurkan kepalaku dari jendela besi lantai atas untuk melihat halaman rumah Jaddo yang berlantai bata. Aku tidak percaya pada apa yang dilihat mataku; seluruh diriku bergetar dan air mata menggenang di cekung mataku.
Ayahku... ayahku Zaher, dengan sosoknya yang tegap, wajahnya yang sabar, dan senyum yang seakan telah melarutkan semua penderitaan samudra di dalamnya, berdiri di tengah halaman dengan koper-kopernya yang besar. Ia melangkah ke arah tangga sambil tertawa dengan tangan terbuka. Saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, dan Nejat kecil yang kini hampir berusia empat tahun, berlari ke arahnya dengan jerit penuh kegembiraan. Menyaksikan pemandangan itu tiada bandingnya; mereka memanjati ayah seperti malaikat-malaikat kecil bersayap, mencium tangannya yang kelelakian dan letih, dan tidak melepaskannya barang sesaat. Dengan kaki gemetar namun cepat, kuturuni anak tangga lantai dua dua-dua sekaligus, kuinjakkan kaki di halaman, dan tanpa sadar kulemparkan diriku ke dalam pelukan ayah yang lebar dan hangat.
Pelukan itu adalah titik teraman di dunia. Bau tubuh ayah, campuran aroma pengasingan dan rokok Bahman, membawaku ke kenangan-kenangan paling jauh dari masa kecilku di kompleks Golestan. Semua kesulitan setahun mengembara di rumah Jaddo, penghinaan yang tersembunyi, dan teriakan-teriakan dahsyat Jaddo Abdolrahman karena aku meninggalkan pekerjaan di bengkel, dalam sedetik meleleh dan lenyap di dalam lengan ayah yang penuh kasih.
Ayahku Zaher tinggal selama dua bulan di Iran, di samping kami. Dua bulan itu singkat, tetapi bagaikan sepotong surga di bumi. Dengan kehadirannya yang berwibawa, ia menghapus semua debu duka masa lalu dari wajah kami satu per satu. Tindakannya yang pertama dan paling penting adalah membebaskan kami dari cengkeraman rumah yang ramai dan penuh ketegangan di Bagh-Shahr itu. Dengan tabungan dari kerja siang malamnya di toko roti di Australia, ia menyewakan untuk kami sebuah rumah mandiri dan tenang di Mehrabad.
Pindah ke rumah mandiri itu adalah embusan napas lega yang paling indah bagiku, Faezeh, dan Maryam. Kembali mandiri terasa seperti terbangun dari mimpi buruk yang panjang, menyesakkan, dan penuh ketegangan keluarga. Dalam dua bulan itu kami kembali merasakan nikmatnya menjadi sebuah keluarga di bawah satu atap; suara tawa kami yang tanpa beban memenuhi rumah baru itu, aroma masakan Tahereh hidup kembali, dan kami anak-anak menemukan kembali rasa aman kami yang hilang. Kunjungan singkat itu adalah titik balik besar dalam hidup kami semua; sebuah pesan yang jelas yang mengingatkan kami bahwa cinta dan dukungan tanpa pamrih seorang ayah tetap menjadi naungan bagi kepala kami yang yatim dan terasing, bahkan dari jarak ribuan batu di seberang samudra.
Tetapi hari-hari bahagia punya ketergesaan yang aneh untuk berakhir. Dua bulan itu berlalu dengan kecepatan yang sulit dipercaya dan ayah harus kembali ke Australia untuk melanjutkan urusannya. Tetapi kali ini ia tidak meninggalkan kami dalam kegelapan. Sebelum berangkat, ayah menyerahkan kepada kami semua dokumen, surat-surat yang diperlukan, dan formulir hukum penjaminan yang ia peroleh dengan susah payah, untuk membuka berkas visa keluarga kami. Tahereh, dengan keberanian dan harapan, mengumpulkan dokumen-dokumen itu dan menyerahkannya ke kedutaan Australia di Teheran. Sejak hari itu, rumah baru kami di Mehrabad memasuki fase penantian yang baru. Penantian yang sabar, yang setiap harinya dimulai dengan mimpi manis ini: mungkin besok bel rumah baru itu berbunyi dan memanggil kami untuk wawancara visa dan penerbangan menuju cakrawala tanpa batas di Sydney...
Musim panas tahun 2000: panas gurun Bagh-Shahr menindih bata tanah liat rumah Jaddo Abdolrahman. Bagiku dan saudari-saudariku, menanggung suasana tegang itu, tatapan dingin para paman tiriku, dan aturan barak ala Jaddo sudah tidak menyisakan tenaga apa pun. Setiap hari kami berlalu di alam barzakh penantian; barzakh yang hanya diwarnai oleh gambar-gambar abjad Inggris untuk Bahar dan impian remaja yang belum selesai.
Sampai pada hari-hari terpanas musim panas itu, mukjizat yang kami hitung detiknya selama setahun penuh akhirnya terjadi. Pada tanggal 25 Juni 2000, tiba-tiba bunyi bel halaman rumah bergema dengan irama cepat dan bersemangat di tengah keriuhan sore Bagh-Shahr. Bunyi bel halaman itu terasa berbeda dari semua kali sebelumnya; ada getaran di dalamnya yang langsung mengguncang hati kami. Aku, yang sedang tenggelam dalam pikiranku di kamar lantai atas, mendengar teriakan dan sorak mendadak seisi rumah lalu berlari panik ke jendela. Kujulurkan kepalaku dari jendela besi lantai atas untuk melihat halaman rumah Jaddo yang berlantai bata. Aku tidak percaya pada apa yang dilihat mataku; seluruh diriku bergetar dan air mata menggenang di cekung mataku.
Ayahku... ayahku Zaher, dengan sosoknya yang tegap, wajahnya yang sabar, dan senyum yang seakan telah melarutkan semua penderitaan samudra di dalamnya, berdiri di tengah halaman dengan koper-kopernya yang besar. Ia melangkah ke arah tangga sambil tertawa dengan tangan terbuka. Saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, dan Nejat kecil yang kini hampir berusia empat tahun, berlari ke arahnya dengan jerit penuh kegembiraan. Menyaksikan pemandangan itu tiada bandingnya; mereka memanjati ayah seperti malaikat-malaikat kecil bersayap, mencium tangannya yang kelelakian dan letih, dan tidak melepaskannya barang sesaat. Dengan kaki gemetar namun cepat, kuturuni anak tangga lantai dua dua-dua sekaligus, kuinjakkan kaki di halaman, dan tanpa sadar kulemparkan diriku ke dalam pelukan ayah yang lebar dan hangat.
Pelukan itu adalah titik teraman di dunia. Bau tubuh ayah, campuran aroma pengasingan dan rokok Bahman, membawaku ke kenangan-kenangan paling jauh dari masa kecilku di kompleks Golestan. Semua kesulitan setahun mengembara di rumah Jaddo, penghinaan yang tersembunyi, dan teriakan-teriakan dahsyat Jaddo Abdolrahman karena aku meninggalkan pekerjaan di bengkel, dalam sedetik meleleh dan lenyap di dalam lengan ayah yang penuh kasih.
Ayahku Zaher tinggal selama dua bulan di Iran, di samping kami. Dua bulan itu singkat, tetapi bagaikan sepotong surga di bumi. Dengan kehadirannya yang berwibawa, ia menghapus semua debu duka masa lalu dari wajah kami satu per satu. Tindakannya yang pertama dan paling penting adalah membebaskan kami dari cengkeraman rumah yang ramai dan penuh ketegangan di Bagh-Shahr itu. Dengan tabungan dari kerja siang malamnya di toko roti di Australia, ia menyewakan untuk kami sebuah rumah mandiri dan tenang di Mehrabad.
Pindah ke rumah mandiri itu adalah embusan napas lega yang paling indah bagiku, Faezeh, dan Maryam. Kembali mandiri terasa seperti terbangun dari mimpi buruk yang panjang, menyesakkan, dan penuh ketegangan keluarga. Dalam dua bulan itu kami kembali merasakan nikmatnya menjadi sebuah keluarga di bawah satu atap; suara tawa kami yang tanpa beban memenuhi rumah baru itu, aroma masakan Tahereh hidup kembali, dan kami anak-anak menemukan kembali rasa aman kami yang hilang. Kunjungan singkat itu adalah titik balik besar dalam hidup kami semua; sebuah pesan yang jelas yang mengingatkan kami bahwa cinta dan dukungan tanpa pamrih seorang ayah tetap menjadi naungan bagi kepala kami yang yatim dan terasing, bahkan dari jarak ribuan batu di seberang samudra.
Tetapi hari-hari bahagia punya ketergesaan yang aneh untuk berakhir. Dua bulan itu berlalu dengan kecepatan yang sulit dipercaya dan ayah harus kembali ke Australia untuk melanjutkan urusannya. Tetapi kali ini ia tidak meninggalkan kami dalam kegelapan. Sebelum berangkat, ayah menyerahkan kepada kami semua dokumen, surat-surat yang diperlukan, dan formulir hukum penjaminan yang ia peroleh dengan susah payah, untuk membuka berkas visa keluarga kami. Tahereh, dengan keberanian dan harapan, mengumpulkan dokumen-dokumen itu dan menyerahkannya ke kedutaan Australia di Teheran. Sejak hari itu, rumah baru kami di Mehrabad memasuki fase penantian yang baru. Penantian yang sabar, yang setiap harinya dimulai dengan mimpi manis ini: mungkin besok bel rumah baru itu berbunyi dan memanggil kami untuk wawancara visa dan penerbangan menuju cakrawala tanpa batas di Sydney...
Ujian menyembunyikan rahasia dan dinding kaca kedutaan
## Bagian pertama: Hijrah sementara ke ibu kota dan beratnya rahasia Marzieh
Setelah ayah kembali berangkat ke Australia, rumah mandiri kami di **Mehrabad** telah berubah menjadi sebuah pulau penantian yang sabar. Hari-hari berlalu dengan mimpi ini: agar berkas visa keluarga kami akhirnya bergerak; berkas yang fondasinya diletakkan ayah dengan mengirimkan dokumen dan surat-surat penjaminan dari Australia.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan menatap bel rumah dan diliputi kecemasan yang terus-menerus, panggilan wawancara langsung dari kedutaan Australia di Teheran sampai ke tangan kami. Gema kabar itu membangkitkan gelombang kegembiraan dan, tentu saja, sebuah kecemasan yang aneh di dalam empat dinding rumah kami. Ibu **Tahereh** segera bersiap dan membeli tiket bus ke ibu kota. Diputuskan bahwa Maryam dan Nejat kecil tetap tinggal di Mehrabad karena beratnya perjalanan, dan hanya Ibu Tahereh, Faezeh, dan aku yang berangkat dalam perjalanan yang menentukan itu.
Pada dini hari keberangkatan, mesin bus Volvo yang besar dan berisik itu menyala. Dengan mata terpaku pada kaca bus yang berembun kena hujan, aku menonton jalan dari Mehrabad ke Teheran, sementara deru monoton roda di atas aspal jalan berpadu dengan detak jantungku yang kencang.
Perpindahan sementara itu tidak menyerupai satu pun perjalanan wisata kami di masa lalu. Nyawa dan masa depan keluarga kami bergantung pada kata-kata yang akan dipertukarkan di balik dinding kaca kedutaan. Tetapi yang paling mengikis jiwa mudaku dan menyuntikkan kengerian sampai ke sumsum tulangku adalah beban berat sebuah rahasia besar, secara emosional maupun hukum.
Ayahku Zaher, untuk membuka simpul-simpul administratif yang sulit di Australia, terpaksa membuat perubahan mendasar dalam kisah hidup kami. Dalam dokumen resmi imigrasi kami, tidak ada sama sekali nama ibu kami yang sesungguhnya, Marzieh, maupun akhir yang pahit dan menyedihkan di bulan Mei di **kompleks Golestan** itu. Secara resmi, dalam keadaan apa pun kami tidak berhak mengucapkan satu kata pun tentang “Marzieh” dan kematiannya; Ibu Tahereh tercatat di semua dokumen sebagai ibu kami yang sesungguhnya dan sah.
Itu berarti aku dan Faezeh harus mengubur abu yang masih membara dari makam Marzieh di lubuk hati kami dan, dengan wajah yang tanpa ekspresi, menyuguhkan sebuah kisah palsu sebagai kenyataan hidup kami kepada para petugas imigrasi. Memikirkannya menyalakan dalam diriku penyesalan yang senyap namun menggigit; seakan untuk membeli tiket perjalanan menuju masa depan, kami harus mencoret akta batin ibu kami.
Setelah ayah kembali berangkat ke Australia, rumah mandiri kami di **Mehrabad** telah berubah menjadi sebuah pulau penantian yang sabar. Hari-hari berlalu dengan mimpi ini: agar berkas visa keluarga kami akhirnya bergerak; berkas yang fondasinya diletakkan ayah dengan mengirimkan dokumen dan surat-surat penjaminan dari Australia.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan menatap bel rumah dan diliputi kecemasan yang terus-menerus, panggilan wawancara langsung dari kedutaan Australia di Teheran sampai ke tangan kami. Gema kabar itu membangkitkan gelombang kegembiraan dan, tentu saja, sebuah kecemasan yang aneh di dalam empat dinding rumah kami. Ibu **Tahereh** segera bersiap dan membeli tiket bus ke ibu kota. Diputuskan bahwa Maryam dan Nejat kecil tetap tinggal di Mehrabad karena beratnya perjalanan, dan hanya Ibu Tahereh, Faezeh, dan aku yang berangkat dalam perjalanan yang menentukan itu.
Pada dini hari keberangkatan, mesin bus Volvo yang besar dan berisik itu menyala. Dengan mata terpaku pada kaca bus yang berembun kena hujan, aku menonton jalan dari Mehrabad ke Teheran, sementara deru monoton roda di atas aspal jalan berpadu dengan detak jantungku yang kencang.
Perpindahan sementara itu tidak menyerupai satu pun perjalanan wisata kami di masa lalu. Nyawa dan masa depan keluarga kami bergantung pada kata-kata yang akan dipertukarkan di balik dinding kaca kedutaan. Tetapi yang paling mengikis jiwa mudaku dan menyuntikkan kengerian sampai ke sumsum tulangku adalah beban berat sebuah rahasia besar, secara emosional maupun hukum.
Ayahku Zaher, untuk membuka simpul-simpul administratif yang sulit di Australia, terpaksa membuat perubahan mendasar dalam kisah hidup kami. Dalam dokumen resmi imigrasi kami, tidak ada sama sekali nama ibu kami yang sesungguhnya, Marzieh, maupun akhir yang pahit dan menyedihkan di bulan Mei di **kompleks Golestan** itu. Secara resmi, dalam keadaan apa pun kami tidak berhak mengucapkan satu kata pun tentang “Marzieh” dan kematiannya; Ibu Tahereh tercatat di semua dokumen sebagai ibu kami yang sesungguhnya dan sah.
Itu berarti aku dan Faezeh harus mengubur abu yang masih membara dari makam Marzieh di lubuk hati kami dan, dengan wajah yang tanpa ekspresi, menyuguhkan sebuah kisah palsu sebagai kenyataan hidup kami kepada para petugas imigrasi. Memikirkannya menyalakan dalam diriku penyesalan yang senyap namun menggigit; seakan untuk membeli tiket perjalanan menuju masa depan, kami harus mencoret akta batin ibu kami.
## Bagian kedua: Wawancara berasa takut dan formulir penentu nasib
Gedung kedutaan Australia di Teheran, dengan lorong-lorongnya yang sejuk, kesunyiannya yang berat, dan tata administrasinya, bagi kami yang datang dari Mehrabad terasa seperti dunia lain. Ketegangan memeluk seluruh diriku seperti kabut yang tebal. Setelah berjam-jam menunggu dengan napas tertahan di kursi kulit ruang tunggu, akhirnya seorang perempuan dengan suara lembut, tenang, dan ramah memanggil namaku dari balik loket. Akulah orang pertama yang harus masuk ke ruang wawancara.
Ketika aku menutup pintu ruangan dan duduk di hadapan perempuan pewawancara itu, kurasakan dingin yang hebat di tanganku.
Ia menatapku dengan pandangan yang cermat namun penuh empati. Sebelum mengajukan pertanyaan apa pun, dengan nada ramahnya yang sama ia memberi peringatan mengerikan yang mencabik hatiku: ia berkata bahwa aku harus menjawab dengan sejujur-jujurnya dan bahwa jika ditemukan pertentangan atau perbedaan sekecil apa pun antara kata-kataku dan berkas ayahku yang terdaftar di Australia, seluruh berkas imigrasi kami akan otomatis dibatalkan dan dimusnahkan.
Kengerian menguasai seluruh jiwaku. Di dalam kepalaku, dinding-dinding kedutaan berputar mengelilingiku. Aku berpikir, jika mereka bertanya kepadaku: “Di mana ibumu? Siapa namanya?”, apa yang harus kukatakan? Bagaimana aku harus mempersenjatai mataku dengan dusta agar kebenaran tentang Marzieh tidak terbongkar? Tanganku mulai gemetar dan sekali lagi kusembunyikan tangan kananku yang celaka itu di dalam saku.
Tetapi untunglah pertanyaan-pertanyaannya jauh lebih sederhana daripada bayanganku; pertanyaan biasa tentang usia, pendidikan, dan rincian sederhana kehidupan di Iran, yang menjawabnya tidak menimbulkan kesulitan administratif apa pun. Perempuan itu puas dengan jawaban-jawabanku yang tepat; akhirnya ia menyerahkan selembar kertas putih kepadaku dan berkata: “Baiklah, saya tidak punya pertanyaan lain. Formulir ini harus kamu isi sendiri.” Ia juga menitipkan formulir serupa untuk Faezeh kepadaku lalu mengantarku keluar.
Setelah aku, Faezeh masuk ke ruangan itu. Ketika urusannya juga selesai dan ia kembali ke ruang tunggu dengan kertasnya, di wajahnya yang santun tidak tampak tanda kegembiraan maupun kecemasan; persis seperti aku, kami berdua meringkuk di bawah beban rahasia yang terpendam itu. Lalu tibalah giliran Ibu Tahereh.
Selama ia berada di dalam ruang wawancara, aku dan Faezeh berbisik-bisik tentang kemiripan pertanyaan-pertanyaan itu untuk sedikit mengurangi ketegangan kami. Akhirnya Ibu Tahereh pun keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian, perempuan yang ramah itu datang kepada kami dengan senyum yang menyenangkan dan setumpuk formulir visa. Ia menjelaskan dengan sabar bahwa kami harus segera menjalani pemeriksaan kesehatan dan bahwa pengiriman dokumen-dokumen itu secepat mungkin akan mempercepat penerbitan visa. Kami meninggalkan gedung kedutaan dengan hati yang meluap gembira dan ringan, mengira impian Australia hanya berjarak beberapa lembar kertas dan sebuah pemeriksaan sederhana dari kami.
Gedung kedutaan Australia di Teheran, dengan lorong-lorongnya yang sejuk, kesunyiannya yang berat, dan tata administrasinya, bagi kami yang datang dari Mehrabad terasa seperti dunia lain. Ketegangan memeluk seluruh diriku seperti kabut yang tebal. Setelah berjam-jam menunggu dengan napas tertahan di kursi kulit ruang tunggu, akhirnya seorang perempuan dengan suara lembut, tenang, dan ramah memanggil namaku dari balik loket. Akulah orang pertama yang harus masuk ke ruang wawancara.
Ketika aku menutup pintu ruangan dan duduk di hadapan perempuan pewawancara itu, kurasakan dingin yang hebat di tanganku.
Ia menatapku dengan pandangan yang cermat namun penuh empati. Sebelum mengajukan pertanyaan apa pun, dengan nada ramahnya yang sama ia memberi peringatan mengerikan yang mencabik hatiku: ia berkata bahwa aku harus menjawab dengan sejujur-jujurnya dan bahwa jika ditemukan pertentangan atau perbedaan sekecil apa pun antara kata-kataku dan berkas ayahku yang terdaftar di Australia, seluruh berkas imigrasi kami akan otomatis dibatalkan dan dimusnahkan.
Kengerian menguasai seluruh jiwaku. Di dalam kepalaku, dinding-dinding kedutaan berputar mengelilingiku. Aku berpikir, jika mereka bertanya kepadaku: “Di mana ibumu? Siapa namanya?”, apa yang harus kukatakan? Bagaimana aku harus mempersenjatai mataku dengan dusta agar kebenaran tentang Marzieh tidak terbongkar? Tanganku mulai gemetar dan sekali lagi kusembunyikan tangan kananku yang celaka itu di dalam saku.
Tetapi untunglah pertanyaan-pertanyaannya jauh lebih sederhana daripada bayanganku; pertanyaan biasa tentang usia, pendidikan, dan rincian sederhana kehidupan di Iran, yang menjawabnya tidak menimbulkan kesulitan administratif apa pun. Perempuan itu puas dengan jawaban-jawabanku yang tepat; akhirnya ia menyerahkan selembar kertas putih kepadaku dan berkata: “Baiklah, saya tidak punya pertanyaan lain. Formulir ini harus kamu isi sendiri.” Ia juga menitipkan formulir serupa untuk Faezeh kepadaku lalu mengantarku keluar.
Setelah aku, Faezeh masuk ke ruangan itu. Ketika urusannya juga selesai dan ia kembali ke ruang tunggu dengan kertasnya, di wajahnya yang santun tidak tampak tanda kegembiraan maupun kecemasan; persis seperti aku, kami berdua meringkuk di bawah beban rahasia yang terpendam itu. Lalu tibalah giliran Ibu Tahereh.
Selama ia berada di dalam ruang wawancara, aku dan Faezeh berbisik-bisik tentang kemiripan pertanyaan-pertanyaan itu untuk sedikit mengurangi ketegangan kami. Akhirnya Ibu Tahereh pun keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian, perempuan yang ramah itu datang kepada kami dengan senyum yang menyenangkan dan setumpuk formulir visa. Ia menjelaskan dengan sabar bahwa kami harus segera menjalani pemeriksaan kesehatan dan bahwa pengiriman dokumen-dokumen itu secepat mungkin akan mempercepat penerbitan visa. Kami meninggalkan gedung kedutaan dengan hati yang meluap gembira dan ringan, mengira impian Australia hanya berjarak beberapa lembar kertas dan sebuah pemeriksaan sederhana dari kami.
## Bagian ketiga: Jalan buntu detak jantung yang kencang dan jaminan yang mustahil
Tetapi jalan hijrah bukanlah jalan yang rata dan tanpa lubang; tidak lama kemudian roda berkas kami tersangkut di lubang-lubang hukum yang keras.
Tantangan besar yang pertama adalah keadaan fisikku. Tekanan batin yang hebat akibat menyembunyikan rahasia itu, kecemasan karena jauh dari ayah, dan beban masa depan telah berbekas pada tubuhku. Tekanan darahku tiba-tiba naik sangat tinggi dan mengejutkan. Setiap kali aku datang ke dokter rujukan kedutaan untuk pemeriksaan, ketegangan takut ditolak membuat detak jantungku memuncak dan tekanan darahku berhenti di angka yang tinggi. Dokter membolak-balik berkas dengan cemas dan berkata: “Penerbangan jarak jauh dengan pesawat dalam kondisi tekanan darah setinggi ini sangat berbahaya bagimu...” Hal itu menjadi hambatan besar bagi pengesahan pemeriksaan kesehatanku.
Tetapi jalan buntu yang sesungguhnya dan yang memupus harapan terjadi ribuan batu jauhnya, di tanah Australia.
Sepanjang proses berkas yang panjang itu, aku telah melewati batas usia sah untuk visa anak. Menurut hukum Australia aku bukan lagi anak yang menjadi tanggungan, melainkan seorang dewasa muda lajang yang berkasnya memerlukan seorang “penjamin keuangan yang mandiri dan tepercaya” di Australia, untuk memastikan aku tidak akan menjadi beban negara.
Ayahku Zaher, meski dengan usahanya yang menguras tenaga siang malam di toko roti, tidak mengenal seorang pun yang tepercaya di Australia yang bersedia menerima jaminan keuangan bagi seorang pemuda lajang. Alasannya pun sangat jelas: sang penjamin takut bahwa setelah aku tiba di Sydney aku tidak menemukan pekerjaan, tidak sanggup menanggung biaya hidupku sendiri yang berat di Australia, dan akibatnya pemerintah Australia akan memotong seluruh biaya dan pengeluaran hidupku dari kantong dan rekening pribadi sang penjamin. Karena itu tidak ada yang mau mengambil risiko keuangan seperti itu. Berkas kami benar-benar terkunci di sebuah jalan buntu yang gelap.
Mendengar suara ayahku di telepon yang berbicara dengan putus asa dan duka yang berat tentang kegagalan administratif itu menyiksa jiwaku. Ia yang bertahun-tahun berlari agar bisa membawa kami ke surga impiannya, kini meringkuk dalam kesepian dan penyesalan, menyalakan rokok satu demi satu, dan semua itu karena aku!
Pada saat itu aku mengambil sebuah keputusan besar dan penuh pengorbanan. Dalam salah satu percakapan telepon itu, dengan nada yang tegas namun meluap kasih, aku berkata kepadanya: “Ayah... kalau semua yang menghambat ini adalah aku, ini sama sekali tidak adil. Aku sudah memikirkan hal ini; aku siap tinggal sendirian di sini, di Iran, dan Ayah pisahkan berkasku dari yang lain supaya Ibu dan saudari-saudariku bisa lebih cepat menyusul Ayah. Jangan khawatirkan aku, aku kuat...”
Kesunyian yang berat menguasai ujung telepon. Ayahku, mendengar pengorbanan putranya itu, sangat tergugah dan hatinya luka. Ia tidak sanggup menanggung perpisahan yang tidak adil itu. Dengan suara yang gemetar oleh tangis tertahan dan tekad, ia berkata: “Tidak, Mohsen-ku... aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian... aku akan segera kembali ke Iran supaya kita mencari jalan lain.”
“Jalan lain” itu bukan sekadar janji kosong untuk menghiburku. Begitu kembali ke Iran, ayahku menempuh perjalanan panjang ke Teheran berkali-kali. Ia, yang perawakannya dulu kokoh seperti gunung, datang sendiri ke kedutaan Australia dan, di balik dinding kaca itu, dengan mata basah dan suara gemetar, memohon kepada para petugas. Lelaki yang harga diri dan kekerasan hatinya masyhur di seluruh keluarga itu kini menginjak-injak harga dirinya sendiri dan memohon, demi menyelamatkan berkas putranya dan mencegah perpisahan yang kejam itu, dengan harapan simpul mati hukum yang tak berperasaan itu bisa terurai. Tetapi dinding-dinding kedutaan terbuat dari hukum yang dingin, dan permohonan seorang ayah yang patah hati tidak berarti apa-apa di hadapan pasal-pasal administrasi.
Demikianlah, setelah satu setengah tahun berlari di lorong-lorong kedutaan, berkas kami tergantung di perbatasan antara sebuah hijrah yang tidak utuh dan kepulangan ayah sekali lagi...
Tetapi jalan hijrah bukanlah jalan yang rata dan tanpa lubang; tidak lama kemudian roda berkas kami tersangkut di lubang-lubang hukum yang keras.
Tantangan besar yang pertama adalah keadaan fisikku. Tekanan batin yang hebat akibat menyembunyikan rahasia itu, kecemasan karena jauh dari ayah, dan beban masa depan telah berbekas pada tubuhku. Tekanan darahku tiba-tiba naik sangat tinggi dan mengejutkan. Setiap kali aku datang ke dokter rujukan kedutaan untuk pemeriksaan, ketegangan takut ditolak membuat detak jantungku memuncak dan tekanan darahku berhenti di angka yang tinggi. Dokter membolak-balik berkas dengan cemas dan berkata: “Penerbangan jarak jauh dengan pesawat dalam kondisi tekanan darah setinggi ini sangat berbahaya bagimu...” Hal itu menjadi hambatan besar bagi pengesahan pemeriksaan kesehatanku.
Tetapi jalan buntu yang sesungguhnya dan yang memupus harapan terjadi ribuan batu jauhnya, di tanah Australia.
Sepanjang proses berkas yang panjang itu, aku telah melewati batas usia sah untuk visa anak. Menurut hukum Australia aku bukan lagi anak yang menjadi tanggungan, melainkan seorang dewasa muda lajang yang berkasnya memerlukan seorang “penjamin keuangan yang mandiri dan tepercaya” di Australia, untuk memastikan aku tidak akan menjadi beban negara.
Ayahku Zaher, meski dengan usahanya yang menguras tenaga siang malam di toko roti, tidak mengenal seorang pun yang tepercaya di Australia yang bersedia menerima jaminan keuangan bagi seorang pemuda lajang. Alasannya pun sangat jelas: sang penjamin takut bahwa setelah aku tiba di Sydney aku tidak menemukan pekerjaan, tidak sanggup menanggung biaya hidupku sendiri yang berat di Australia, dan akibatnya pemerintah Australia akan memotong seluruh biaya dan pengeluaran hidupku dari kantong dan rekening pribadi sang penjamin. Karena itu tidak ada yang mau mengambil risiko keuangan seperti itu. Berkas kami benar-benar terkunci di sebuah jalan buntu yang gelap.
Mendengar suara ayahku di telepon yang berbicara dengan putus asa dan duka yang berat tentang kegagalan administratif itu menyiksa jiwaku. Ia yang bertahun-tahun berlari agar bisa membawa kami ke surga impiannya, kini meringkuk dalam kesepian dan penyesalan, menyalakan rokok satu demi satu, dan semua itu karena aku!
Pada saat itu aku mengambil sebuah keputusan besar dan penuh pengorbanan. Dalam salah satu percakapan telepon itu, dengan nada yang tegas namun meluap kasih, aku berkata kepadanya: “Ayah... kalau semua yang menghambat ini adalah aku, ini sama sekali tidak adil. Aku sudah memikirkan hal ini; aku siap tinggal sendirian di sini, di Iran, dan Ayah pisahkan berkasku dari yang lain supaya Ibu dan saudari-saudariku bisa lebih cepat menyusul Ayah. Jangan khawatirkan aku, aku kuat...”
Kesunyian yang berat menguasai ujung telepon. Ayahku, mendengar pengorbanan putranya itu, sangat tergugah dan hatinya luka. Ia tidak sanggup menanggung perpisahan yang tidak adil itu. Dengan suara yang gemetar oleh tangis tertahan dan tekad, ia berkata: “Tidak, Mohsen-ku... aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian... aku akan segera kembali ke Iran supaya kita mencari jalan lain.”
“Jalan lain” itu bukan sekadar janji kosong untuk menghiburku. Begitu kembali ke Iran, ayahku menempuh perjalanan panjang ke Teheran berkali-kali. Ia, yang perawakannya dulu kokoh seperti gunung, datang sendiri ke kedutaan Australia dan, di balik dinding kaca itu, dengan mata basah dan suara gemetar, memohon kepada para petugas. Lelaki yang harga diri dan kekerasan hatinya masyhur di seluruh keluarga itu kini menginjak-injak harga dirinya sendiri dan memohon, demi menyelamatkan berkas putranya dan mencegah perpisahan yang kejam itu, dengan harapan simpul mati hukum yang tak berperasaan itu bisa terurai. Tetapi dinding-dinding kedutaan terbuat dari hukum yang dingin, dan permohonan seorang ayah yang patah hati tidak berarti apa-apa di hadapan pasal-pasal administrasi.
Demikianlah, setelah satu setengah tahun berlari di lorong-lorong kedutaan, berkas kami tergantung di perbatasan antara sebuah hijrah yang tidak utuh dan kepulangan ayah sekali lagi...
## Bagian keempat: Koper-koper merah dan jalan ganda takdir
Penantian adalah bagian paling menggerus dari hidup dalam ketidakpastian; tetapi ketika cinta dan harapan bernapas di balik jendela, bahkan debu di atas cermin pun ikut berasa gelora. Setelah ayah berjanji lewat telepon untuk kembali ke tanah air, suasana rumah kami di Mehrabad berubah seketika.
Pada salah satu hari musim dingin yang dingin itu, ibuku Tahereh masuk ke kamar dengan tergesa, wajahnya akhirnya setelah berbulan-bulan digurati garis-garis senyum, dan berseru: anak-anak, bangun; kita harus menyingsingkan lengan dan membuat rumah ini seindah taman bunga, ayah kalian sedang dalam perjalanan! Mendengar itu, gelombang tenaga yang murni menyelimuti seluruh empat dinding kami. Aku, Faezeh, dan Maryam dengan girang seperti anak kecil mulai membersihkan debu, menyapu, dan mencuci halaman; seakan pada setiap debu yang kami kebaskan dari jendela, kami juga menghapus dari hati kami dinding-dinding dingin perpisahan dan rindu.
Akhirnya, pada hari Senin, 25 Februari 2002, bel berdering dengan penuh gelora dan ayah mengabarkan bahwa ia tinggal beberapa kilometer lagi dari rumah.
Aku sudah tidak sanggup lagi diam di rumah. Dengan kaki gemetar namun cepat aku berlari ke gang dan sampai di tikungan utama kompleks. Aku berdiri, terengah, dan menyapu ujung jalan dengan mata yang penasaran. Beberapa menit kemudian sebuah mobil putih berbelok perlahan dan berhenti di ujung gang. Pintunya terbuka dan muncullah sosok ayahku Zaher yang letih namun berwibawa.
Aku berlari ke arahnya dengan segenap tenaga, melemparkan diri ke pelukannya, dan mengunci lenganku di lehernya. Ia pun, dengan kasih sayang kebapakannya yang tak berbatas, menghujani kepala dan wajahku dengan ciuman. Sesampainya di rumah, Ibu Tahereh dan saudari-saudariku Faezeh, Maryam, dan Nejat yang berusia empat tahun menyambutnya dengan jerit kegembiraan dan masing-masing memeluk sepotong dari tubuhnya yang letih namun tersenyum.
Malam itu, hidangan makan malam keluarga kami mengalami malam paling ramai dan paling panjang sepanjang sejarahnya.
Mengelilingi hidangan itu, ayah bercerita dengan mata berbinar tentang hidup yang hiruk-pikuk di Australia, kerja malam di toko roti Sydney, dan samudra biru tak berujung yang berbau kebebasan; dan kami pun satu per satu menceritakan kepadanya kejadian-kejadian selama masa itu, kesulitan di **Bagh-Shahr**, dan manisnya kembali mandiri di Mehrabad. Tetapi puncak kegembiraanku adalah ketika ayah menggenggam tanganku dan menyerahkan hadiah menakjubkan yang ia bawa dari seberang samudra: sebuah pemutar cakram padat, Discman merah yang sangat berharga dan indah!
Pada tahun-tahun itu, ketika menyaksikan teknologi semodern itu adalah mimpi bagi seorang pemuda sembilan belas tahun di Mehrabad, memandang warna merah metalik itu dan mendengarkan musik lewat headphone adalah hadiah yang jauh melampaui nilai materinya; hadiah itu adalah wujud paling nyata dari cinta, perhatian, dan kenangan yang dibangun ayahku dalam kesendirian pengasingan untukku. Dua puluh hari pertama kehadiran ayah yang kembali itu berlalu dalam mabuk kehangatannya, tawanya, dan pandangan matanya yang penuh kasih, sampai-sampai aku tidak menulis sebaris pun di buku harianku dan hanya berusaha menikmati dengan segenap jiwa setiap detik bersamanya.
Tetapi awan gelap segera muncul lagi di langit rumah kami.
Liburan telah usai dan ayah kembali memulai perjalanannya yang terus-menerus ke Teheran untuk mengurus visa kami di kedutaan Australia; tetapi sayangnya tidak ada kabar baik yang terdengar dari dinding-dinding kaca itu. Jalan buntu jaminan keuanganku masih bertahan; tidak satu pun penjamin di Australia bersedia menerima tanggung jawab keuangan atas seorang pemuda lajang berusia delapan belas atau sembilan belas tahun, dan ketakutan bahwa aku tidak akan menemukan pekerjaan setelah tiba di Sydney lalu negara memotong biayanya dari rekening penjamin, menahan berkasku dalam gembok besi.
Dengan duka yang berat aku menyaksikan keadaan jiwa dan tubuh ayahku memburuk; ia, yang pada malam hari mengalami insomnia panjang karena tekanan batin yang hebat, mondar-mandir dalam gelapnya ruang tamu dan menyalakan rokok Bahman satu demi satu, sementara debu kelabu kesepiannya memenuhi rumah. Menyaksikan lelaki baja itu perlahan patah memerihkan hatiku; sebab aku tahu benar bahwa semua insomnia, semua kecemasan, dan semua hambatan administratif itu hanya dan semata-mata karena aku dan karena usia sahku.
Ayah, yang menyadari beratnya suasana itu dan kemurungan ringan yang menjalari kami anak-anak, memutuskan mengatur sebuah perjalanan ziarah dan tamasya agar jiwa kami segar kembali.
Kami semua menempuh perjalanan ke kota suci Mashhad. Di sana, di bawah naungan makam yang mulia Imam Reza (semoga damai besertanya), kami meletakkan kening di atas batu-batu dingin makam dan, dengan air mata dan permohonan, berdoa agar simpul-simpul kehidupan kami terurai. Setelah beberapa hari di Mashhad, ayah memutar kemudi mobil ke arah utara Iran yang hijau dan seperti dalam dongeng.
Kami menginap di sebuah vila yang sangat indah, tenang, dan hijau, tersembunyi di antara pepohonan yang menjulang. Pagi hari, ketika aku menatap keluar dari jendela kamarku, aku terpesona menyaksikan gunung-gunung tinggi yang separuh tubuhnya tersembunyi dalam kabut yang tebal dan putih. Pada siang hari kami menjelajahi hutan-hutan perawan, menyaksikan keagungan air terjun, dan menghirup udara alam yang lembap dan bersih, dan untuk sesaat kami melupakan mimpi buruk kedutaan dan Australia.
Pada salah satu sore surgawi di utara itu, ketika kami sedang mengemasi barang-barang untuk kembali ke Isfahan dengan hati yang lebih tenang, tiba-tiba dering telepon vila yang keras memecah kesunyian ruangan.
Ayah mengangkat gagang telepon. Begitu suara sekretaris kedutaan bergema di telinganya, wajahnya berseri oleh kegembiraan yang tak terlukiskan. Ia datang ke arah kami dengan gagang telepon di tangan dan berteriak dengan senyum yang memenuhi seluruh wajahnya: “Aku punya kabar yang sangat, sangat baik, anak-anak! Kedutaan menelepon... visa kita sudah disetujui!”
Kami melonjak kegirangan tanpa sadar, saling berpelukan, dan jerit kegembiraan kami memenuhi vila. Bertahun-tahun penantian, bertahun-tahun pengembaraan dan penderitaan, berakhir dalam sedetik. Tetapi... sorak kami belum lagi reda ketika tiba-tiba kami menyadari bahwa nada suara ayah di telepon berubah. Senyum membeku di bibirnya, kerut berat menghinggapi keningnya, dan wajahnya memerah dan kalut.
Ia meletakkan gagang telepon. Kesunyian yang berat dan menggigit menguasai ruangan. Kami menatapnya dengan tercengang. Dengan suara gemetar dan mata yang meluap duka, ayah berkata: “Visa semua orang sudah siap... kecuali Mohsen... berkas Mohsen masih ditolak...”
Jantungku jatuh di dadaku. Saudari-saudariku menatapku dengan mata yang penuh iba dan kesedihan. Tetapi aku, yang sejak lama menunggu pukulan kejam seperti itu, tersenyum pahit namun tegar. Kutatap mata ayahku yang sedih dan cemas dan kuucapkan kalimat yang sudah kujanjikan kepada diriku sendiri: “Ayah... jangan khawatir. Aku sendiri sudah menduganya. Aku sudah pernah mengatakannya kepada Ayah dan sekarang kuulangi; kalau seluruh masalah berkas ini adalah aku, pergilah ke Australia tanpa aku. Pisahkan berkasku dari berkas kalian supaya keluarga ini selamat. Aku tinggal di sini dan nanti kita pikirkan berkas baru untukku...”
Dengan hati yang perih dan karena terpaksa, ayah menyerahkan keputusan itu kepada musyawarah semua orang, dan kami semua menyetujui dengan ragu, cemas, dan tercekat bahwa berkasku dipisahkan dari anggota keluarga yang lain. Itulah kesepakatan keluarga kami yang paling pahit; menyaksikan mata basah saudari-saudariku dan bahu ayahku yang bergetar adalah cambuk bagi jiwaku.
Tetapi pukulan pamungkas zaman menghantam bahuku ketika kami tahu bahwa bersamaan dengan itu visa Tante **Roya**, **Hamed**, dan **“Leila”** — cinta terlarang, tersembunyi, dan abadi dalam hidupku — juga telah disetujui dan mereka pun sedang bersiap segera meninggalkan Iran dan terbang ke Australia.
Kabar itu membawa badai kemurungan dan keputusasaanku ke puncaknya. Kini aku tidak hanya harus menanggung jauhnya ayah, ibu, dan adik-adik perempuanku, tetapi juga harus menghadapi keyakinan yang mematikan bahwa sahabat terdekatku, Hamed, dan — yang paling menyakitkan — Leila, akan meninggalkan Iran selamanya. Memikirkan bahwa mungkin aku tidak akan pernah lagi melihat mata Leila dan bahwa ia akan hilang selamanya dariku di hamparan samudra yang jauh, meremukkan setiap serat diriku menjadi abu. Untuk lari dari pikiran-pikiran mengerikan dan mengganggu itu, aku berlindung ke kelas-kelas komputer atau menghabiskan berjam-jam di sudut gelap perpustakaan umum Mehrabad, tenggelam dalam kesunyian buku-buku; tetapi tidak ada tempat berlindung yang bisa meredakan detak jantungku yang gelisah dan merintih.
Akhirnya, pada hari Senin, 28 Oktober 2002, cap perpisahan dibubuhkan pada takdirku dan berkas imigrasiku secara resmi dan sah dipisahkan dari berkas keluargaku. Keluargaku menerima visa mereka dengan hati yang terbelah dua; aku ikut berbahagia atas penerbangan mereka, sementara tali kesepian, pengasingan, dan ketakutan akan masa depan yang gelap tanpa mereka semakin hari semakin mencekik leherku di Mehrabad...
Penantian adalah bagian paling menggerus dari hidup dalam ketidakpastian; tetapi ketika cinta dan harapan bernapas di balik jendela, bahkan debu di atas cermin pun ikut berasa gelora. Setelah ayah berjanji lewat telepon untuk kembali ke tanah air, suasana rumah kami di Mehrabad berubah seketika.
Pada salah satu hari musim dingin yang dingin itu, ibuku Tahereh masuk ke kamar dengan tergesa, wajahnya akhirnya setelah berbulan-bulan digurati garis-garis senyum, dan berseru: anak-anak, bangun; kita harus menyingsingkan lengan dan membuat rumah ini seindah taman bunga, ayah kalian sedang dalam perjalanan! Mendengar itu, gelombang tenaga yang murni menyelimuti seluruh empat dinding kami. Aku, Faezeh, dan Maryam dengan girang seperti anak kecil mulai membersihkan debu, menyapu, dan mencuci halaman; seakan pada setiap debu yang kami kebaskan dari jendela, kami juga menghapus dari hati kami dinding-dinding dingin perpisahan dan rindu.
Akhirnya, pada hari Senin, 25 Februari 2002, bel berdering dengan penuh gelora dan ayah mengabarkan bahwa ia tinggal beberapa kilometer lagi dari rumah.
Aku sudah tidak sanggup lagi diam di rumah. Dengan kaki gemetar namun cepat aku berlari ke gang dan sampai di tikungan utama kompleks. Aku berdiri, terengah, dan menyapu ujung jalan dengan mata yang penasaran. Beberapa menit kemudian sebuah mobil putih berbelok perlahan dan berhenti di ujung gang. Pintunya terbuka dan muncullah sosok ayahku Zaher yang letih namun berwibawa.
Aku berlari ke arahnya dengan segenap tenaga, melemparkan diri ke pelukannya, dan mengunci lenganku di lehernya. Ia pun, dengan kasih sayang kebapakannya yang tak berbatas, menghujani kepala dan wajahku dengan ciuman. Sesampainya di rumah, Ibu Tahereh dan saudari-saudariku Faezeh, Maryam, dan Nejat yang berusia empat tahun menyambutnya dengan jerit kegembiraan dan masing-masing memeluk sepotong dari tubuhnya yang letih namun tersenyum.
Malam itu, hidangan makan malam keluarga kami mengalami malam paling ramai dan paling panjang sepanjang sejarahnya.
Mengelilingi hidangan itu, ayah bercerita dengan mata berbinar tentang hidup yang hiruk-pikuk di Australia, kerja malam di toko roti Sydney, dan samudra biru tak berujung yang berbau kebebasan; dan kami pun satu per satu menceritakan kepadanya kejadian-kejadian selama masa itu, kesulitan di **Bagh-Shahr**, dan manisnya kembali mandiri di Mehrabad. Tetapi puncak kegembiraanku adalah ketika ayah menggenggam tanganku dan menyerahkan hadiah menakjubkan yang ia bawa dari seberang samudra: sebuah pemutar cakram padat, Discman merah yang sangat berharga dan indah!
Pada tahun-tahun itu, ketika menyaksikan teknologi semodern itu adalah mimpi bagi seorang pemuda sembilan belas tahun di Mehrabad, memandang warna merah metalik itu dan mendengarkan musik lewat headphone adalah hadiah yang jauh melampaui nilai materinya; hadiah itu adalah wujud paling nyata dari cinta, perhatian, dan kenangan yang dibangun ayahku dalam kesendirian pengasingan untukku. Dua puluh hari pertama kehadiran ayah yang kembali itu berlalu dalam mabuk kehangatannya, tawanya, dan pandangan matanya yang penuh kasih, sampai-sampai aku tidak menulis sebaris pun di buku harianku dan hanya berusaha menikmati dengan segenap jiwa setiap detik bersamanya.
Tetapi awan gelap segera muncul lagi di langit rumah kami.
Liburan telah usai dan ayah kembali memulai perjalanannya yang terus-menerus ke Teheran untuk mengurus visa kami di kedutaan Australia; tetapi sayangnya tidak ada kabar baik yang terdengar dari dinding-dinding kaca itu. Jalan buntu jaminan keuanganku masih bertahan; tidak satu pun penjamin di Australia bersedia menerima tanggung jawab keuangan atas seorang pemuda lajang berusia delapan belas atau sembilan belas tahun, dan ketakutan bahwa aku tidak akan menemukan pekerjaan setelah tiba di Sydney lalu negara memotong biayanya dari rekening penjamin, menahan berkasku dalam gembok besi.
Dengan duka yang berat aku menyaksikan keadaan jiwa dan tubuh ayahku memburuk; ia, yang pada malam hari mengalami insomnia panjang karena tekanan batin yang hebat, mondar-mandir dalam gelapnya ruang tamu dan menyalakan rokok Bahman satu demi satu, sementara debu kelabu kesepiannya memenuhi rumah. Menyaksikan lelaki baja itu perlahan patah memerihkan hatiku; sebab aku tahu benar bahwa semua insomnia, semua kecemasan, dan semua hambatan administratif itu hanya dan semata-mata karena aku dan karena usia sahku.
Ayah, yang menyadari beratnya suasana itu dan kemurungan ringan yang menjalari kami anak-anak, memutuskan mengatur sebuah perjalanan ziarah dan tamasya agar jiwa kami segar kembali.
Kami semua menempuh perjalanan ke kota suci Mashhad. Di sana, di bawah naungan makam yang mulia Imam Reza (semoga damai besertanya), kami meletakkan kening di atas batu-batu dingin makam dan, dengan air mata dan permohonan, berdoa agar simpul-simpul kehidupan kami terurai. Setelah beberapa hari di Mashhad, ayah memutar kemudi mobil ke arah utara Iran yang hijau dan seperti dalam dongeng.
Kami menginap di sebuah vila yang sangat indah, tenang, dan hijau, tersembunyi di antara pepohonan yang menjulang. Pagi hari, ketika aku menatap keluar dari jendela kamarku, aku terpesona menyaksikan gunung-gunung tinggi yang separuh tubuhnya tersembunyi dalam kabut yang tebal dan putih. Pada siang hari kami menjelajahi hutan-hutan perawan, menyaksikan keagungan air terjun, dan menghirup udara alam yang lembap dan bersih, dan untuk sesaat kami melupakan mimpi buruk kedutaan dan Australia.
Pada salah satu sore surgawi di utara itu, ketika kami sedang mengemasi barang-barang untuk kembali ke Isfahan dengan hati yang lebih tenang, tiba-tiba dering telepon vila yang keras memecah kesunyian ruangan.
Ayah mengangkat gagang telepon. Begitu suara sekretaris kedutaan bergema di telinganya, wajahnya berseri oleh kegembiraan yang tak terlukiskan. Ia datang ke arah kami dengan gagang telepon di tangan dan berteriak dengan senyum yang memenuhi seluruh wajahnya: “Aku punya kabar yang sangat, sangat baik, anak-anak! Kedutaan menelepon... visa kita sudah disetujui!”
Kami melonjak kegirangan tanpa sadar, saling berpelukan, dan jerit kegembiraan kami memenuhi vila. Bertahun-tahun penantian, bertahun-tahun pengembaraan dan penderitaan, berakhir dalam sedetik. Tetapi... sorak kami belum lagi reda ketika tiba-tiba kami menyadari bahwa nada suara ayah di telepon berubah. Senyum membeku di bibirnya, kerut berat menghinggapi keningnya, dan wajahnya memerah dan kalut.
Ia meletakkan gagang telepon. Kesunyian yang berat dan menggigit menguasai ruangan. Kami menatapnya dengan tercengang. Dengan suara gemetar dan mata yang meluap duka, ayah berkata: “Visa semua orang sudah siap... kecuali Mohsen... berkas Mohsen masih ditolak...”
Jantungku jatuh di dadaku. Saudari-saudariku menatapku dengan mata yang penuh iba dan kesedihan. Tetapi aku, yang sejak lama menunggu pukulan kejam seperti itu, tersenyum pahit namun tegar. Kutatap mata ayahku yang sedih dan cemas dan kuucapkan kalimat yang sudah kujanjikan kepada diriku sendiri: “Ayah... jangan khawatir. Aku sendiri sudah menduganya. Aku sudah pernah mengatakannya kepada Ayah dan sekarang kuulangi; kalau seluruh masalah berkas ini adalah aku, pergilah ke Australia tanpa aku. Pisahkan berkasku dari berkas kalian supaya keluarga ini selamat. Aku tinggal di sini dan nanti kita pikirkan berkas baru untukku...”
Dengan hati yang perih dan karena terpaksa, ayah menyerahkan keputusan itu kepada musyawarah semua orang, dan kami semua menyetujui dengan ragu, cemas, dan tercekat bahwa berkasku dipisahkan dari anggota keluarga yang lain. Itulah kesepakatan keluarga kami yang paling pahit; menyaksikan mata basah saudari-saudariku dan bahu ayahku yang bergetar adalah cambuk bagi jiwaku.
Tetapi pukulan pamungkas zaman menghantam bahuku ketika kami tahu bahwa bersamaan dengan itu visa Tante **Roya**, **Hamed**, dan **“Leila”** — cinta terlarang, tersembunyi, dan abadi dalam hidupku — juga telah disetujui dan mereka pun sedang bersiap segera meninggalkan Iran dan terbang ke Australia.
Kabar itu membawa badai kemurungan dan keputusasaanku ke puncaknya. Kini aku tidak hanya harus menanggung jauhnya ayah, ibu, dan adik-adik perempuanku, tetapi juga harus menghadapi keyakinan yang mematikan bahwa sahabat terdekatku, Hamed, dan — yang paling menyakitkan — Leila, akan meninggalkan Iran selamanya. Memikirkan bahwa mungkin aku tidak akan pernah lagi melihat mata Leila dan bahwa ia akan hilang selamanya dariku di hamparan samudra yang jauh, meremukkan setiap serat diriku menjadi abu. Untuk lari dari pikiran-pikiran mengerikan dan mengganggu itu, aku berlindung ke kelas-kelas komputer atau menghabiskan berjam-jam di sudut gelap perpustakaan umum Mehrabad, tenggelam dalam kesunyian buku-buku; tetapi tidak ada tempat berlindung yang bisa meredakan detak jantungku yang gelisah dan merintih.
Akhirnya, pada hari Senin, 28 Oktober 2002, cap perpisahan dibubuhkan pada takdirku dan berkas imigrasiku secara resmi dan sah dipisahkan dari berkas keluargaku. Keluargaku menerima visa mereka dengan hati yang terbelah dua; aku ikut berbahagia atas penerbangan mereka, sementara tali kesepian, pengasingan, dan ketakutan akan masa depan yang gelap tanpa mereka semakin hari semakin mencekik leherku di Mehrabad...
## Bagian kelima: Perpisahan berdarah di bandara, 26 Desember 2002
“Hari-hari setelah pemisahan resmi dan sah berkasku pada Senin, 28 Oktober 2002, rumah kami di Mehrabad berubah menjadi semacam bengkel yang terbuat dari ketergesaan, ketakutan, dan pembongkaran sisa-sisa sebuah kehidupan mandiri. Sementara keluargaku dengan hati yang terbelah dua bersiap terbang ke Sydney, aku terpaksa memikul sendirian, di atas bahu dua puluh tahunku, di awal dasawarsa ketiga impian masa mudaku, beban urusan administrasi dan penyelesaian akhir masa lalu kami di Iran.”
Hambatan terbesar dan paling menyesakkan di hadapan keluargaku adalah pencatatan keluar resmi Ibu Tahereh dari negara itu di bagian khusus urusan warga negara asing di kementerian luar negeri.
Seorang kolonel yang duduk di balik meja kepala bagian itu menaruh batu di jalan berkas kami dengan kepala dingin birokratis yang kejam, dan setiap kali mengarang cacat baru pada dokumen. Kami sudah sampai di batas kesabaran, dan setiap hari penundaan menambah risiko hangusnya tiket dan batalnya visa saudari-saudariku.
Akhirnya, setelah bolak-balik tanpa henti, salah seorang sahabat karib ayahku berbicara dengan kolonel itu dan, sekeluarnya dari ruangan, membuka rahasia dinding-dinding batu itu: urusan kami tidak akan bergerak dengan dokumen atau surat sah apa pun, kecuali dengan suap gemuk sebesar satu juta toman!
Pada tahun-tahun itu, mengumpulkan uang sebesar itu dalam waktu singkat bagi sebuah keluarga yang seluruh hartanya sudah dilelang adalah semacam mukjizat. Tetapi ayahku Zaher, ribuan batu jauhnya di Sydney, melipatgandakan kerja malamnya di toko roti dan mengirim uang itu dengan darah hatinya; suap satu juta toman itu dibayar dan akhirnya cap keluar dibubuhkan pada paspor Ibu Tahereh, agar jalan penerbangan itu terbuka.
Bersamaan dengan semua urusan itu, tugas yang paling berat dan paling pahit diserahkan kepadaku.
Aku harus mendatangi para penadah barang bekas dan warung-warung sate di Mehrabad dan menjual dengan harga semurah-murahnya, sepotong demi sepotong, perabot dan barang yang dulu dibeli ayah dengan peluh keningnya agar kami merasakan kemandirian, demi mengumpulkan sisa uang untuk membeli tiket penerbangan keluarga. Setiap kali seorang penadah datang ke rumah kami, mengusap sofa, menilai televisi Pars kesayangan kami, dan menaruh harga yang tidak seberapa pada milik kami, aku merasa seakan setiap serat jati diri keluarga kamilah yang sedang dijual demi selembar dua lembar uang.
Ketika kami memuat perabot dan permadani terakhir ke bak pikap si penadah dan rumah Mehrabad benar-benar telanjang dan sunyi, kujejalkan sedikit barang pribadiku ke dalam sebuah tas tua dan aku pindah, sebagai orang asing, ke rumah Bibi Fatemeh.
Akhirnya tibalah hari Kamis yang pahit dan celaka itu: 26 Desember 2002.
Ayahku menyembunyikan tanggal pasti penerbangan itu dariku; mungkin untuk melindungi hatiku yang lemah dan terluka dari hitungan mundur perpisahan. Malam itu aku meringkuk dalam ketenangan sunyi rumah Bibi Fatemeh. Jarum jam dinding bergerak cepat dan, sekitar pukul sebelas malam, tiba-tiba dering telepon memecah kesunyian rumah.
Bibi Fatemeh mengangkat gagang telepon. Suara Ibu Tahereh yang gemetar dan penuh tangis terdengar dari seberang; ia sedang berpamitan kepada Bibi untuk terakhir kalinya.
Begitu mendengar percakapan itu, dunia berputar di sekelilingku. Aku mengerti bahwa saat ini juga, pada detik ini juga, keluargaku sedang meninggalkan Iran untuk selamanya! Tanpa ragu sedetik pun kukenakan sepatu botku, kuberlari ke gang, dan sambil memohon kusewa taksi pertama yang kutemukan di Mehrabad sambil berteriak: “Bagh-Shahr... Pak, demi Tuhan, cepat sedikit! Mereka sedang berangkat...”
Ketika taksi itu sampai di depan pintu rumah orang tua Ibu Tahereh, aku berhadapan dengan kegaduhan yang mengerikan dan seperti neraka.
Gang itu penuh sesak dan udara malam berat oleh suara tangis, ratapan, keluhan, dan sumpah serapah keluarga. Di tengah kegaduhan yang gelap itu, suara teriakan si lelaki tua yang keras, Jaddo **Abdolrahman**, terdengar paling lantang; ia dengan marah bertengkar dengan sopir taksi bandara soal ongkos sewa yang tidak seberapa.
Di tengah kekacauan itu, mata basah dan ketakutan saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, berbinar begitu melihatku di antara bayang-bayang. Mereka berlari ke arahku sambil menjerit dan menangis lalu mengerumuniku.
Nejat kecil, yang kini berusia enam tahun, mencengkeram lengan jaketku dan menangis tersedu dengan matanya yang tak berdosa. Kupeluk Ibu Tahereh dan saudari-saudariku satu per satu dengan seluruh tubuhku dan kuhirup dalam-dalam bau tubuh mereka untuk kusimpan bagi hari-hari kesepianku.
Sampai detik terakhir, tangan Faezeh dan Maryam yang mungil dan gemetar terkunci di dalam tanganku yang berusia dua puluh tahun. Tetapi sopir membunyikan klakson tanpa ampun dan berteriak bahwa waktunya mepet. Mereka masuk ke mobil dan pintu-pintu besi itu tertutup dengan suara yang kasar.
Mobil bergerak dan aku berlari mengejarnya. Aku tidak akan pernah, selamanya, melupakan bingkai yang membakar itu; wajah-wajah tak berdosa dan basah air mata saudari-saudariku yang, dari balik kaca belakang mobil yang kotor dan buram, menatapku dengan mata yang meluap permohonan sambil menekankan tangan mungil mereka ke kaca, lalu lenyap dalam gelapnya jalan...
Tangis menahan napasku dan air mata mengaburkan seluruh pandanganku. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Bibi aku menangis di kursi belakang taksi, tangis seorang lelaki yang tak henti; rasa yatim, tak berpelindung, dan tercabut yang hebat telah meremukkan hatiku menjadi seribu keping. Malam itu, sampai fajar musim dingin Mehrabad, mataku terpaku pada kabel-kabel yang menjuntai dari langit-langit dan tidur enggan mendatangiku; yang tersisa bagiku hanyalah sebuah alam barzakh tiga tahun yang panjang, di sebuah tanah air yang telah kehilangan makna tanah air...
“Hari-hari setelah pemisahan resmi dan sah berkasku pada Senin, 28 Oktober 2002, rumah kami di Mehrabad berubah menjadi semacam bengkel yang terbuat dari ketergesaan, ketakutan, dan pembongkaran sisa-sisa sebuah kehidupan mandiri. Sementara keluargaku dengan hati yang terbelah dua bersiap terbang ke Sydney, aku terpaksa memikul sendirian, di atas bahu dua puluh tahunku, di awal dasawarsa ketiga impian masa mudaku, beban urusan administrasi dan penyelesaian akhir masa lalu kami di Iran.”
Hambatan terbesar dan paling menyesakkan di hadapan keluargaku adalah pencatatan keluar resmi Ibu Tahereh dari negara itu di bagian khusus urusan warga negara asing di kementerian luar negeri.
Seorang kolonel yang duduk di balik meja kepala bagian itu menaruh batu di jalan berkas kami dengan kepala dingin birokratis yang kejam, dan setiap kali mengarang cacat baru pada dokumen. Kami sudah sampai di batas kesabaran, dan setiap hari penundaan menambah risiko hangusnya tiket dan batalnya visa saudari-saudariku.
Akhirnya, setelah bolak-balik tanpa henti, salah seorang sahabat karib ayahku berbicara dengan kolonel itu dan, sekeluarnya dari ruangan, membuka rahasia dinding-dinding batu itu: urusan kami tidak akan bergerak dengan dokumen atau surat sah apa pun, kecuali dengan suap gemuk sebesar satu juta toman!
Pada tahun-tahun itu, mengumpulkan uang sebesar itu dalam waktu singkat bagi sebuah keluarga yang seluruh hartanya sudah dilelang adalah semacam mukjizat. Tetapi ayahku Zaher, ribuan batu jauhnya di Sydney, melipatgandakan kerja malamnya di toko roti dan mengirim uang itu dengan darah hatinya; suap satu juta toman itu dibayar dan akhirnya cap keluar dibubuhkan pada paspor Ibu Tahereh, agar jalan penerbangan itu terbuka.
Bersamaan dengan semua urusan itu, tugas yang paling berat dan paling pahit diserahkan kepadaku.
Aku harus mendatangi para penadah barang bekas dan warung-warung sate di Mehrabad dan menjual dengan harga semurah-murahnya, sepotong demi sepotong, perabot dan barang yang dulu dibeli ayah dengan peluh keningnya agar kami merasakan kemandirian, demi mengumpulkan sisa uang untuk membeli tiket penerbangan keluarga. Setiap kali seorang penadah datang ke rumah kami, mengusap sofa, menilai televisi Pars kesayangan kami, dan menaruh harga yang tidak seberapa pada milik kami, aku merasa seakan setiap serat jati diri keluarga kamilah yang sedang dijual demi selembar dua lembar uang.
Ketika kami memuat perabot dan permadani terakhir ke bak pikap si penadah dan rumah Mehrabad benar-benar telanjang dan sunyi, kujejalkan sedikit barang pribadiku ke dalam sebuah tas tua dan aku pindah, sebagai orang asing, ke rumah Bibi Fatemeh.
Akhirnya tibalah hari Kamis yang pahit dan celaka itu: 26 Desember 2002.
Ayahku menyembunyikan tanggal pasti penerbangan itu dariku; mungkin untuk melindungi hatiku yang lemah dan terluka dari hitungan mundur perpisahan. Malam itu aku meringkuk dalam ketenangan sunyi rumah Bibi Fatemeh. Jarum jam dinding bergerak cepat dan, sekitar pukul sebelas malam, tiba-tiba dering telepon memecah kesunyian rumah.
Bibi Fatemeh mengangkat gagang telepon. Suara Ibu Tahereh yang gemetar dan penuh tangis terdengar dari seberang; ia sedang berpamitan kepada Bibi untuk terakhir kalinya.
Begitu mendengar percakapan itu, dunia berputar di sekelilingku. Aku mengerti bahwa saat ini juga, pada detik ini juga, keluargaku sedang meninggalkan Iran untuk selamanya! Tanpa ragu sedetik pun kukenakan sepatu botku, kuberlari ke gang, dan sambil memohon kusewa taksi pertama yang kutemukan di Mehrabad sambil berteriak: “Bagh-Shahr... Pak, demi Tuhan, cepat sedikit! Mereka sedang berangkat...”
Ketika taksi itu sampai di depan pintu rumah orang tua Ibu Tahereh, aku berhadapan dengan kegaduhan yang mengerikan dan seperti neraka.
Gang itu penuh sesak dan udara malam berat oleh suara tangis, ratapan, keluhan, dan sumpah serapah keluarga. Di tengah kegaduhan yang gelap itu, suara teriakan si lelaki tua yang keras, Jaddo **Abdolrahman**, terdengar paling lantang; ia dengan marah bertengkar dengan sopir taksi bandara soal ongkos sewa yang tidak seberapa.
Di tengah kekacauan itu, mata basah dan ketakutan saudari-saudariku, Faezeh dan Maryam, berbinar begitu melihatku di antara bayang-bayang. Mereka berlari ke arahku sambil menjerit dan menangis lalu mengerumuniku.
Nejat kecil, yang kini berusia enam tahun, mencengkeram lengan jaketku dan menangis tersedu dengan matanya yang tak berdosa. Kupeluk Ibu Tahereh dan saudari-saudariku satu per satu dengan seluruh tubuhku dan kuhirup dalam-dalam bau tubuh mereka untuk kusimpan bagi hari-hari kesepianku.
Sampai detik terakhir, tangan Faezeh dan Maryam yang mungil dan gemetar terkunci di dalam tanganku yang berusia dua puluh tahun. Tetapi sopir membunyikan klakson tanpa ampun dan berteriak bahwa waktunya mepet. Mereka masuk ke mobil dan pintu-pintu besi itu tertutup dengan suara yang kasar.
Mobil bergerak dan aku berlari mengejarnya. Aku tidak akan pernah, selamanya, melupakan bingkai yang membakar itu; wajah-wajah tak berdosa dan basah air mata saudari-saudariku yang, dari balik kaca belakang mobil yang kotor dan buram, menatapku dengan mata yang meluap permohonan sambil menekankan tangan mungil mereka ke kaca, lalu lenyap dalam gelapnya jalan...
Tangis menahan napasku dan air mata mengaburkan seluruh pandanganku. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Bibi aku menangis di kursi belakang taksi, tangis seorang lelaki yang tak henti; rasa yatim, tak berpelindung, dan tercabut yang hebat telah meremukkan hatiku menjadi seribu keping. Malam itu, sampai fajar musim dingin Mehrabad, mataku terpaku pada kabel-kabel yang menjuntai dari langit-langit dan tidur enggan mendatangiku; yang tersisa bagiku hanyalah sebuah alam barzakh tiga tahun yang panjang, di sebuah tanah air yang telah kehilangan makna tanah air...
Barzakh tiga tahun dan juru tulis peti rahasia
Bagian pertama: Tempat teduh Bibi dan bisik-bisik malam Mehrabad
Setelah malam yang mengiris pada 26 Desember 2002 itu dan setelah menyaksikan wajah basah dan memohon saudari-saudariku lenyap di balik kaca belakang taksi, yang tersisa hanyalah aku dan sebuah kesepian yang luas dan tak berujung, di sebuah tanah air yang kini bagiku tak lagi bermakna tanah air. Selama dua tiga hari pertama itu, ketakutan yang melumpuhkan terhadap masa depan yang tak menentu mencakar jiwa dua puluh tahunku bagaikan mimpi buruk yang hitam. Tetapi tak lama kemudian tangan takdir menempatkanku di sebuah ruang yang bagiku terasa seperti terbangun dari mimpi buruk yang panjang, tegang, dan penuh kecemasan bertahun-tahun.
Aku menggelar sedikit barang pribadiku di sebuah kamar kecil di rumah tua Bibi Fatemeh di **Mehrabad**. Dalam kesunyian yang teduh itu, yang hanya dipecah oleh detak jam dinding dan suara burung di malam hari, jiwaku untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun keriuhan merasakan rasa sepat namun menyembuhkan dari ketenangan. Bibi Fatemeh — perempuan yang menderita, berwibawa, dan tegar itu — dan **Tante Parvin** menerimaku dalam naungan mereka dengan pelukan yang begitu terbuka dan tanpa pamrih, seakan seorang ibu yang penuh kasih mencurahkan sekaligus kepadaku seluruh perhatian, cinta, dan belas kasih dunia yang telah hilang.
Setiap kali telepon berdering dan ayah atau saudari-saudariku menanyakan kabarku dengan cemas dari Sydney, aku menenangkan mereka dengan suara yang tenang dan penuh kerelaan dan berkata: “Jangan khawatirkan aku... aku tinggal di sebuah surga kecil yang, setelah bertahun-tahun terlunta-lunta, akhirnya membuatku tenang.”
Tetapi ketenangan yang baru lahir itu, alih-alih menidurkan pikiranku, justru membangunkannya. Ketika debu berat kecemasan sehari-hari soal hijrah dan urusan administrasi mengendap, seakan sebuah bendungan runtuh di dalam diriku. Dalam kesunyian teduh rumah Bibi, sebuah pertentangan yang aneh mencengkeram leher jiwaku; aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa duniaku dan dunia saudari-saudariku harus terikat sedemikian rupa pada perih, kecemasan, kekacauan keluarga yang terus-menerus, dan pengembaraan? Apa yang telah menimpa kami sampai bagian kami dari masa muda dan kehidupan yang biasa hanyalah duka, keterasingan, dan hilangnya kegembiraan?
Tanpa sadar kumasukkan tangan kananku ke saku dan dengan ibu jariku kuusap pada ruas atas jari telunjukku garis yang kasar dan putih itu; bekas merah dan terkutuk dari kunci celaka itu! Kunci yang pada sore yang membakar di usia tiga belas tahunku, karena kesederhanaan dan desakan ibuku Marzieh, kukeluarkan dari sakuku di halaman rumah Bibi dan kuserahkan kepadanya agar membuka gembok sebuah tragedi yang abadi. Rasa bersalah dan penyesalan lama yang mematahkan punggung itu kembali terjaga di dadaku, tetapi kali ini aku mengambil keputusan yang berbeda. Aku memutuskan untuk tidak lagi lari dari bayang-bayang; aku ingin menyingkap tabir dari rahasia, penyerahan diri, dan kemalangan yang telah dilewati hidup kami. Aku ingin tahu di mana akar dari semua gejolak itu.
Dan akar keluarga dari pihak ayah itu seluruhnya ada di tangan Bibi Fatemeh yang berkapal. Ia adalah labuhan dan penyimpan masa lalu kami; seorang perempuan yang memanggul di punggungnya beban berupa duka akibat Saddam, pengusiran paksa, hilang dan terbunuhnya dua anak, dan kehilangan suami.
Menjelang senja, ketika keriuhan Mehrabad mereda, rumah tua Bibi Fatemeh memperoleh suasana yang halus dan suci. Bibi menyalakan samovar kuningannya yang tua. Bunyi mendidih air yang terus-menerus dan lembut adalah satu-satunya suara yang hidup dalam remang malam. Tante Parvin membawa baki teh kapulaga yang baru diseduh dan kami berkumpul mengelilingi kehangatan itu.
Kuambil sebuah buku tulis tua berhalaman kekuningan dan sebuah pena, kuletakkan di atas lututku, dan aku duduk berhadapan dengan mata Bibi Fatemeh yang letih dan mulai rabun. Kutatap dia dan kukatakan dengan suara yang bergetar karena tidak sabar: “Bibi... ceritakan tentang Najaf. Ceritakan tentang akar-akar kami. Katakan, apa yang menimpa kami sampai nasib kami, anak-anak ini, terikat begini pada pengasingan dan perih.”
Setelah malam yang mengiris pada 26 Desember 2002 itu dan setelah menyaksikan wajah basah dan memohon saudari-saudariku lenyap di balik kaca belakang taksi, yang tersisa hanyalah aku dan sebuah kesepian yang luas dan tak berujung, di sebuah tanah air yang kini bagiku tak lagi bermakna tanah air. Selama dua tiga hari pertama itu, ketakutan yang melumpuhkan terhadap masa depan yang tak menentu mencakar jiwa dua puluh tahunku bagaikan mimpi buruk yang hitam. Tetapi tak lama kemudian tangan takdir menempatkanku di sebuah ruang yang bagiku terasa seperti terbangun dari mimpi buruk yang panjang, tegang, dan penuh kecemasan bertahun-tahun.
Aku menggelar sedikit barang pribadiku di sebuah kamar kecil di rumah tua Bibi Fatemeh di **Mehrabad**. Dalam kesunyian yang teduh itu, yang hanya dipecah oleh detak jam dinding dan suara burung di malam hari, jiwaku untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun keriuhan merasakan rasa sepat namun menyembuhkan dari ketenangan. Bibi Fatemeh — perempuan yang menderita, berwibawa, dan tegar itu — dan **Tante Parvin** menerimaku dalam naungan mereka dengan pelukan yang begitu terbuka dan tanpa pamrih, seakan seorang ibu yang penuh kasih mencurahkan sekaligus kepadaku seluruh perhatian, cinta, dan belas kasih dunia yang telah hilang.
Setiap kali telepon berdering dan ayah atau saudari-saudariku menanyakan kabarku dengan cemas dari Sydney, aku menenangkan mereka dengan suara yang tenang dan penuh kerelaan dan berkata: “Jangan khawatirkan aku... aku tinggal di sebuah surga kecil yang, setelah bertahun-tahun terlunta-lunta, akhirnya membuatku tenang.”
Tetapi ketenangan yang baru lahir itu, alih-alih menidurkan pikiranku, justru membangunkannya. Ketika debu berat kecemasan sehari-hari soal hijrah dan urusan administrasi mengendap, seakan sebuah bendungan runtuh di dalam diriku. Dalam kesunyian teduh rumah Bibi, sebuah pertentangan yang aneh mencengkeram leher jiwaku; aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa duniaku dan dunia saudari-saudariku harus terikat sedemikian rupa pada perih, kecemasan, kekacauan keluarga yang terus-menerus, dan pengembaraan? Apa yang telah menimpa kami sampai bagian kami dari masa muda dan kehidupan yang biasa hanyalah duka, keterasingan, dan hilangnya kegembiraan?
Tanpa sadar kumasukkan tangan kananku ke saku dan dengan ibu jariku kuusap pada ruas atas jari telunjukku garis yang kasar dan putih itu; bekas merah dan terkutuk dari kunci celaka itu! Kunci yang pada sore yang membakar di usia tiga belas tahunku, karena kesederhanaan dan desakan ibuku Marzieh, kukeluarkan dari sakuku di halaman rumah Bibi dan kuserahkan kepadanya agar membuka gembok sebuah tragedi yang abadi. Rasa bersalah dan penyesalan lama yang mematahkan punggung itu kembali terjaga di dadaku, tetapi kali ini aku mengambil keputusan yang berbeda. Aku memutuskan untuk tidak lagi lari dari bayang-bayang; aku ingin menyingkap tabir dari rahasia, penyerahan diri, dan kemalangan yang telah dilewati hidup kami. Aku ingin tahu di mana akar dari semua gejolak itu.
Dan akar keluarga dari pihak ayah itu seluruhnya ada di tangan Bibi Fatemeh yang berkapal. Ia adalah labuhan dan penyimpan masa lalu kami; seorang perempuan yang memanggul di punggungnya beban berupa duka akibat Saddam, pengusiran paksa, hilang dan terbunuhnya dua anak, dan kehilangan suami.
Menjelang senja, ketika keriuhan Mehrabad mereda, rumah tua Bibi Fatemeh memperoleh suasana yang halus dan suci. Bibi menyalakan samovar kuningannya yang tua. Bunyi mendidih air yang terus-menerus dan lembut adalah satu-satunya suara yang hidup dalam remang malam. Tante Parvin membawa baki teh kapulaga yang baru diseduh dan kami berkumpul mengelilingi kehangatan itu.
Kuambil sebuah buku tulis tua berhalaman kekuningan dan sebuah pena, kuletakkan di atas lututku, dan aku duduk berhadapan dengan mata Bibi Fatemeh yang letih dan mulai rabun. Kutatap dia dan kukatakan dengan suara yang bergetar karena tidak sabar: “Bibi... ceritakan tentang Najaf. Ceritakan tentang akar-akar kami. Katakan, apa yang menimpa kami sampai nasib kami, anak-anak ini, terikat begini pada pengasingan dan perih.”
## Bagian kedua: Peti rahasia Bibi Fatemeh dan suara Najaf yang hilang
Hujan musim dingin Mehrabad memukul tanpa henti dan lembut pada kaca-kaca kecil kamar dan menenggelamkan suasana rumah dalam kesunyian seperti mimpi. Cahaya redup lampu minyak melemparkan bayangan panjang pada dinding berplester dan membuat kerut-kerut dalam di wajah Bibi tampak lebih menonjol.
Bibi mengatur samovar dengan tangan yang terus bergetar karena parkinson dan duka zaman, lalu meletakkan segelas teh kapulaga yang baru diseduh di hadapanku. Aku menyaksikan getar halus bibirnya dan napasnya yang letih dan tidak beraturan; napas yang seakan pada setiap tarikan dan embusannya menarik keluar dari dasar dadanya debu dan abu kenangan pahit dan manis dari berpuluh tahun pengembaraan keluarga Musavi.
Sebuah keluhan yang dingin dan panjang naik dari dada Bibi. Pandangannya terpaku pada satu titik yang tak jelas di kelanggengan waktu; seakan dinding-dinding tanah rumah Mehrabad tiba-tiba meleleh di dalam matanya, dan suaranya yang bergema membawa jiwaku ribuan batu jauhnya dan berpuluh tahun ke belakang... ke gang-gang Najaf yang membakar!
Bibi memejamkan mata dan berkata pelan: “Mohsen-ku... matahari Najaf kejam dan membakar, tetapi kubah-kubah emas makam Amirul Mukminin bersinar begitu terang di tengah debu gurun kota itu sehingga memandanginya menyejukkan jiwa setiap orang yang letih. Di pinggiran kota suci dan bergolak itu, kami punya sebuah rumah kecil yang teduh dengan dinding yang dikapur putih, yang halamannya, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, menjadi tempat berlindung kami. Ketika kakekmu **“Mohsen”** meninggal muda karena sakit, aku tinggal sendiri dengan dua anak tak berdosa yang tidak punya pelindung di pengasingan Najaf yang kelam, dan aku harus menjadi ibu sekaligus ayah dan pencari nafkah bagi mereka...”
Di sinilah aku mengangkat tangan, menghentikan gerak penaku, dan berkata dengan keraguan yang tampak di mataku: “Bibi... tunggu. Ada satu hal yang mengacaukan hitungan kenanganku. Bibi bilang Jaddo Mohsen meninggal bertahun-tahun lalu di Najaf, ketika masih sangat muda... Bibi bilang ayahku Zaher dan Paman **Jalal** menjadi yatim sejak kecil... lalu bagaimana mungkin Bibi punya anak sebanyak ini? Bagaimana bertahun-tahun setelah wafatnya Jaddo Mohsen, paman-paman dan bibi-bibiku yang lebih muda bergabung ke keluarga ini? Rahasia apa yang tersembunyi di balik hal-hal yang tidak pernah diucapkan itu?”
Kesunyian yang dalam memenuhi kamar. Bibi Fatemeh mengembuskan keluhan yang mengiris dan mengeratkan cadarnya di bahunya yang ringkih. Matanya berkilau oleh air mata dalam cahaya redup lampu minyak. Ia meletakkan tangannya yang keriput perlahan di atas tanganku dan berkata dengan suara berbisik: “Mohsen-ku... inilah hal besar yang tidak pernah diucapkan, yang menjadi tiang tersembunyi rumah kami di Najaf. Kebenarannya adalah bahwa ayahmu Zaher dan pamanmu Jalal adalah satu-satunya buah dari ikatanku dengan suamiku yang meninggal muda, Jaddo Mohsen... Ketika Mohsen berpulang, aku seorang perempuan muda dengan dua anak yatim di tengah masyarakat yang keras pada zaman itu. Dalam hukum tak tertulis kaum sayyid di negeri itu, anak-anak yatim seorang saudara tidak boleh dibesarkan di bawah tangan orang asing atau memikul nama orang lain di keningnya. Pada hari-hari keputusasaan itu, tampillah seorang lelaki yang terbuat dari kemurahan hati dan kehormatan tanpa pamrih; saudara suamiku, pamanmu yang besar: **“Sedmir”**! Sedmir sendiri sudah berkeluarga; ia punya rumah dan kehidupannya sendiri. Tetapi ia memiliki kehormatan kaum sayyid; ia tidak tahan melihat anak-anak yatim saudaranya terlunta tanpa naungan. Untuk membangun perlindungan yang sah, halal, dan abadi bagiku dan bagi anak-anak saudaranya, ia menyingsingkan lengan baju, menikahiku, dan menjadi ayah pelindung bagi Zaher kecil dan Jalal kecil. Mohsen sayangku... semua adik lelaki dan adik perempuan yang kau sebutkan — dari **Mohammad**, Ali, dan Nader sampai Zohreh, Halimeh, Roya, dan Parvin — semuanya adalah anak-anakku dan anak-anak Sedmir yang mulia itu. Ia bukan sekadar paman, melainkan menjadi ayah bagi seluruh keluarga ini dan, sampai napas terakhirnya, tidak membiarkan debu keyatiman menempel di wajah Zaher dan Jalal...”
Setelah seteguk teh yang telah dingin, Bibi sampai pada halaman yang paling mengiris dari peti rahasianya: “Hariku dimulai jauh sebelum fajar. Dalam remang kamar aku berlutut dan dengan tangan-tangan letih ini memutar pintalan benang, masuleh itu, untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga besar ini. Ayahmu Zaher pada masa mudanya sangat pendiam dan penuh pikiran, dan bekerja di sebuah apotek kecil. Setiap malam kami menggelar hidangan makan malam kami yang sederhana di bawah bayang pohon delima di halaman itu dan, meski dengan segala kesulitan, kami bahagia... Tetapi rezim Baath Saddam semakin hari semakin kejam. Karena aku berdarah Iran, bayangan kecurigaan segera menyelimuti rumah kami. Akhirnya, sebelum badai Baath menghancurkan kami, ayahmu Zaher terpaksa meninggalkan Najaf diam-diam menuju Iran... Empat tahun setelah kepergiannya, tibalah hari hitam itu pada tahun 1984! Tentara Baath Saddam menyerbu rumah kami dan menyeret kami ke sebuah pusat penahanan yang penuh sesak dan mengerikan. Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba dua tentara tanpa belas kasihan mencengkeram tangan putraku yang berusia delapan belas tahun, **“Mohammad”** — pamanmu yang gagah dan santun itu —, untuk memisahkannya dariku. Aku meraung, aku menjerit, aku mencakar sepatu bot mereka... tetapi mereka bilang pemuda yang sudah dewasa tidak berhak keluar menuju Iran. Mohammad, sambil meronta, menatap mataku yang berlinang dan berteriak dengan segenap jiwanya: ‘Ibu... jadilah kuat! Aku akan menemukan jalan untuk kembali ke pelukanmu...’ Dan itulah terakhir kalinya aku mendengar suara putraku Mohammad. Hampir dua puluh tahun telah berlalu, Mohsen... dan setiap malam, ketika aku memutar pintalan benang, teriakan Mohammad itu masih berdenting di telingaku. Tidak seorang pun tahu di kuburan massal Saddam yang mana belahan jiwaku itu mengembuskan napas terakhirnya sebagai orang asing...”
Aku tidak akan pernah melupakan saat itu. Sampai di sini, kata-kata tercekat di tenggorokan Bibi. Nama “Mohammad” dan “Ali” baginya bukan sekadar kata, melainkan pelatuk yang meruntuhkan seluruh bendungan pertahanan jiwanya. Setiap kali kedua putra itu disebut, Bibi tidak lagi menguasai dirinya. Ia menarik cadarnya menutupi wajah dan menangis serta meratap begitu mengiris sampai bahunya yang ringkih berguncang hebat. Isaknya memenuhi kamar yang teduh itu dan ia tidak lagi sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan tangan gemetar kuletakkan pena dan buku tulisku, kudekati dia, dan dalam diam kugenggam tangannya yang dingin dan berkerut. Menit-menit yang panjang dan berat berlalu sampai badai duka yang dalam itu sedikit mereda. Bibi menyeka dengan ujung cadarnya air mata yang mengalir di alur-alur wajahnya, menarik napas panjang yang bergetar, dan setelah agak tenang melanjutkan sisa kisah keluarga yang berlumur darah itu:
“Luka hilangnya Mohammad masih baru ketika duka yang lebih besar membungkukkan punggungku... duka putraku **“Ali”**! Ali-ku yang malang dan santun itu, setelah hijrah ke Iran, tidak pernah sanggup menanggung pahitnya pengasingan dan jauhnya tanah air. Ia memutuskan kembali diam-diam ke tanah Irak... tetapi di tengah jalan-jalan perbatasan, tentara Baath melihat bayangannya dan, dengan rentetan peluru mereka, merebahkan Ali-ku ke dalam tanah dan darah...”
Suara Bibi terputus di tengah banjir air matanya. Ia menekan tangannya yang gemetar ke dadanya, seakan luka-luka lama itu masih meneteskan darah, dan dengan tubuh yang benar-benar patah di bawah beban dua bencana itu, ia menyandarkan kepala ke bantal tua di kamar dan menangis tanpa suara. Dengan tangan gemetar kuletakkan buku tulisku di lantai. Air mataku pun telah jatuh di atas halaman dan mengaburkan kata-kata. Kupandang tangan kananku; kini aku benar-benar mengerti bahwa kami adalah anak-anak dari sebuah keturunan yang akar-akarnya di Najaf disirami darah syahidnya Paman Ali, ketidakberdosaan Paman Mohammad yang hilang, dan pengorbanan seorang seperti Sedmir. Aku telah menjadi juru tulis perih-perih yang suci itu, agar sejarah kami tidak terlupakan.
Hujan musim dingin Mehrabad memukul tanpa henti dan lembut pada kaca-kaca kecil kamar dan menenggelamkan suasana rumah dalam kesunyian seperti mimpi. Cahaya redup lampu minyak melemparkan bayangan panjang pada dinding berplester dan membuat kerut-kerut dalam di wajah Bibi tampak lebih menonjol.
Bibi mengatur samovar dengan tangan yang terus bergetar karena parkinson dan duka zaman, lalu meletakkan segelas teh kapulaga yang baru diseduh di hadapanku. Aku menyaksikan getar halus bibirnya dan napasnya yang letih dan tidak beraturan; napas yang seakan pada setiap tarikan dan embusannya menarik keluar dari dasar dadanya debu dan abu kenangan pahit dan manis dari berpuluh tahun pengembaraan keluarga Musavi.
Sebuah keluhan yang dingin dan panjang naik dari dada Bibi. Pandangannya terpaku pada satu titik yang tak jelas di kelanggengan waktu; seakan dinding-dinding tanah rumah Mehrabad tiba-tiba meleleh di dalam matanya, dan suaranya yang bergema membawa jiwaku ribuan batu jauhnya dan berpuluh tahun ke belakang... ke gang-gang Najaf yang membakar!
Bibi memejamkan mata dan berkata pelan: “Mohsen-ku... matahari Najaf kejam dan membakar, tetapi kubah-kubah emas makam Amirul Mukminin bersinar begitu terang di tengah debu gurun kota itu sehingga memandanginya menyejukkan jiwa setiap orang yang letih. Di pinggiran kota suci dan bergolak itu, kami punya sebuah rumah kecil yang teduh dengan dinding yang dikapur putih, yang halamannya, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, menjadi tempat berlindung kami. Ketika kakekmu **“Mohsen”** meninggal muda karena sakit, aku tinggal sendiri dengan dua anak tak berdosa yang tidak punya pelindung di pengasingan Najaf yang kelam, dan aku harus menjadi ibu sekaligus ayah dan pencari nafkah bagi mereka...”
Di sinilah aku mengangkat tangan, menghentikan gerak penaku, dan berkata dengan keraguan yang tampak di mataku: “Bibi... tunggu. Ada satu hal yang mengacaukan hitungan kenanganku. Bibi bilang Jaddo Mohsen meninggal bertahun-tahun lalu di Najaf, ketika masih sangat muda... Bibi bilang ayahku Zaher dan Paman **Jalal** menjadi yatim sejak kecil... lalu bagaimana mungkin Bibi punya anak sebanyak ini? Bagaimana bertahun-tahun setelah wafatnya Jaddo Mohsen, paman-paman dan bibi-bibiku yang lebih muda bergabung ke keluarga ini? Rahasia apa yang tersembunyi di balik hal-hal yang tidak pernah diucapkan itu?”
Kesunyian yang dalam memenuhi kamar. Bibi Fatemeh mengembuskan keluhan yang mengiris dan mengeratkan cadarnya di bahunya yang ringkih. Matanya berkilau oleh air mata dalam cahaya redup lampu minyak. Ia meletakkan tangannya yang keriput perlahan di atas tanganku dan berkata dengan suara berbisik: “Mohsen-ku... inilah hal besar yang tidak pernah diucapkan, yang menjadi tiang tersembunyi rumah kami di Najaf. Kebenarannya adalah bahwa ayahmu Zaher dan pamanmu Jalal adalah satu-satunya buah dari ikatanku dengan suamiku yang meninggal muda, Jaddo Mohsen... Ketika Mohsen berpulang, aku seorang perempuan muda dengan dua anak yatim di tengah masyarakat yang keras pada zaman itu. Dalam hukum tak tertulis kaum sayyid di negeri itu, anak-anak yatim seorang saudara tidak boleh dibesarkan di bawah tangan orang asing atau memikul nama orang lain di keningnya. Pada hari-hari keputusasaan itu, tampillah seorang lelaki yang terbuat dari kemurahan hati dan kehormatan tanpa pamrih; saudara suamiku, pamanmu yang besar: **“Sedmir”**! Sedmir sendiri sudah berkeluarga; ia punya rumah dan kehidupannya sendiri. Tetapi ia memiliki kehormatan kaum sayyid; ia tidak tahan melihat anak-anak yatim saudaranya terlunta tanpa naungan. Untuk membangun perlindungan yang sah, halal, dan abadi bagiku dan bagi anak-anak saudaranya, ia menyingsingkan lengan baju, menikahiku, dan menjadi ayah pelindung bagi Zaher kecil dan Jalal kecil. Mohsen sayangku... semua adik lelaki dan adik perempuan yang kau sebutkan — dari **Mohammad**, Ali, dan Nader sampai Zohreh, Halimeh, Roya, dan Parvin — semuanya adalah anak-anakku dan anak-anak Sedmir yang mulia itu. Ia bukan sekadar paman, melainkan menjadi ayah bagi seluruh keluarga ini dan, sampai napas terakhirnya, tidak membiarkan debu keyatiman menempel di wajah Zaher dan Jalal...”
Setelah seteguk teh yang telah dingin, Bibi sampai pada halaman yang paling mengiris dari peti rahasianya: “Hariku dimulai jauh sebelum fajar. Dalam remang kamar aku berlutut dan dengan tangan-tangan letih ini memutar pintalan benang, masuleh itu, untuk mencari nafkah yang halal bagi keluarga besar ini. Ayahmu Zaher pada masa mudanya sangat pendiam dan penuh pikiran, dan bekerja di sebuah apotek kecil. Setiap malam kami menggelar hidangan makan malam kami yang sederhana di bawah bayang pohon delima di halaman itu dan, meski dengan segala kesulitan, kami bahagia... Tetapi rezim Baath Saddam semakin hari semakin kejam. Karena aku berdarah Iran, bayangan kecurigaan segera menyelimuti rumah kami. Akhirnya, sebelum badai Baath menghancurkan kami, ayahmu Zaher terpaksa meninggalkan Najaf diam-diam menuju Iran... Empat tahun setelah kepergiannya, tibalah hari hitam itu pada tahun 1984! Tentara Baath Saddam menyerbu rumah kami dan menyeret kami ke sebuah pusat penahanan yang penuh sesak dan mengerikan. Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba dua tentara tanpa belas kasihan mencengkeram tangan putraku yang berusia delapan belas tahun, **“Mohammad”** — pamanmu yang gagah dan santun itu —, untuk memisahkannya dariku. Aku meraung, aku menjerit, aku mencakar sepatu bot mereka... tetapi mereka bilang pemuda yang sudah dewasa tidak berhak keluar menuju Iran. Mohammad, sambil meronta, menatap mataku yang berlinang dan berteriak dengan segenap jiwanya: ‘Ibu... jadilah kuat! Aku akan menemukan jalan untuk kembali ke pelukanmu...’ Dan itulah terakhir kalinya aku mendengar suara putraku Mohammad. Hampir dua puluh tahun telah berlalu, Mohsen... dan setiap malam, ketika aku memutar pintalan benang, teriakan Mohammad itu masih berdenting di telingaku. Tidak seorang pun tahu di kuburan massal Saddam yang mana belahan jiwaku itu mengembuskan napas terakhirnya sebagai orang asing...”
Aku tidak akan pernah melupakan saat itu. Sampai di sini, kata-kata tercekat di tenggorokan Bibi. Nama “Mohammad” dan “Ali” baginya bukan sekadar kata, melainkan pelatuk yang meruntuhkan seluruh bendungan pertahanan jiwanya. Setiap kali kedua putra itu disebut, Bibi tidak lagi menguasai dirinya. Ia menarik cadarnya menutupi wajah dan menangis serta meratap begitu mengiris sampai bahunya yang ringkih berguncang hebat. Isaknya memenuhi kamar yang teduh itu dan ia tidak lagi sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan tangan gemetar kuletakkan pena dan buku tulisku, kudekati dia, dan dalam diam kugenggam tangannya yang dingin dan berkerut. Menit-menit yang panjang dan berat berlalu sampai badai duka yang dalam itu sedikit mereda. Bibi menyeka dengan ujung cadarnya air mata yang mengalir di alur-alur wajahnya, menarik napas panjang yang bergetar, dan setelah agak tenang melanjutkan sisa kisah keluarga yang berlumur darah itu:
“Luka hilangnya Mohammad masih baru ketika duka yang lebih besar membungkukkan punggungku... duka putraku **“Ali”**! Ali-ku yang malang dan santun itu, setelah hijrah ke Iran, tidak pernah sanggup menanggung pahitnya pengasingan dan jauhnya tanah air. Ia memutuskan kembali diam-diam ke tanah Irak... tetapi di tengah jalan-jalan perbatasan, tentara Baath melihat bayangannya dan, dengan rentetan peluru mereka, merebahkan Ali-ku ke dalam tanah dan darah...”
Suara Bibi terputus di tengah banjir air matanya. Ia menekan tangannya yang gemetar ke dadanya, seakan luka-luka lama itu masih meneteskan darah, dan dengan tubuh yang benar-benar patah di bawah beban dua bencana itu, ia menyandarkan kepala ke bantal tua di kamar dan menangis tanpa suara. Dengan tangan gemetar kuletakkan buku tulisku di lantai. Air mataku pun telah jatuh di atas halaman dan mengaburkan kata-kata. Kupandang tangan kananku; kini aku benar-benar mengerti bahwa kami adalah anak-anak dari sebuah keturunan yang akar-akarnya di Najaf disirami darah syahidnya Paman Ali, ketidakberdosaan Paman Mohammad yang hilang, dan pengorbanan seorang seperti Sedmir. Aku telah menjadi juru tulis perih-perih yang suci itu, agar sejarah kami tidak terlupakan.
## Bagian ketiga: Runtuhnya patung Saddam dan hujan silaturahmi di Mehrabad
Musim semi tahun 2003 tiba; aku di ambang usia dua puluh satu tahun ketika sebuah badai bersejarah menyapu seluruh Timur Tengah. Rezim Baath dan kekuasaan Saddam Hussein yang menyesakkan itu runtuh.
Aku tidak lupa; bersama Bibi Fatemeh, dengan mata terpaku pada televisi di rumah tua kami yang teduh di Mehrabad, menyaksikan patung perunggu Saddam ditarik roboh di Lapangan Ferdous, Bagdad, bagi kami terasa seperti berakhirnya mimpi buruk hitam selama delapan belas tahun; mimpi buruk yang telah mengisap darah keluarga kami. Dengan runtuhnya benteng besi itu, perbatasan-perbatasan yang selama berpuluh tahun berbau darah dan kawat berduri tiba-tiba terbuka bagi keluarga-keluarga yang terusir.
Tepat pada hari-hari yang penuh harapan itu, bel kayu halaman rumah Bibi berbunyi dengan irama gembira. Ketika kubuka pintu, seorang perempuan berwibawa dengan abaya di kepala dan mata yang meluap hujan air mata berdiri di ambang pintu. Ia adalah bibiku yang mulia, **“Tante Halimeh”**, yang bertahun-tahun sebelumnya tertinggal di Najaf. Saat pelukan dan pertemuan kembali Bibi Fatemeh dan Tante Halimeh adalah pemandangan yang bisa melelehkan batu; dua perempuan dari keturunan sayyid yang berduka, setelah dua puluh tahun terlunta, saling mendekap dan menjerit gembira sedemikian rupa sehingga seluruh perih yang mengiris di keluarga itu seakan tumpah sekaligus.
Tidak lama kemudian anggota keluarga yang lain seperti **“Tante Zohreh”** dan anak-anaknya juga kembali menginjakkan kaki di rumah kecil Bibi, sampai rumah itu tenggelam dalam keriuhan, tawa, masak-memasak ala Irak yang ramai, dan gelas-gelas teh kapulaga yang terus diisi ulang. Seakan Najaf yang hilang telah pindah seluruhnya, dengan segala keagungannya, ke rumah Bibi, agar barzakh kesepianku dalam ketiadaan ayah dan saudari-saudariku, untuk sesaat, sedikit terobati.
Musim semi tahun 2003 tiba; aku di ambang usia dua puluh satu tahun ketika sebuah badai bersejarah menyapu seluruh Timur Tengah. Rezim Baath dan kekuasaan Saddam Hussein yang menyesakkan itu runtuh.
Aku tidak lupa; bersama Bibi Fatemeh, dengan mata terpaku pada televisi di rumah tua kami yang teduh di Mehrabad, menyaksikan patung perunggu Saddam ditarik roboh di Lapangan Ferdous, Bagdad, bagi kami terasa seperti berakhirnya mimpi buruk hitam selama delapan belas tahun; mimpi buruk yang telah mengisap darah keluarga kami. Dengan runtuhnya benteng besi itu, perbatasan-perbatasan yang selama berpuluh tahun berbau darah dan kawat berduri tiba-tiba terbuka bagi keluarga-keluarga yang terusir.
Tepat pada hari-hari yang penuh harapan itu, bel kayu halaman rumah Bibi berbunyi dengan irama gembira. Ketika kubuka pintu, seorang perempuan berwibawa dengan abaya di kepala dan mata yang meluap hujan air mata berdiri di ambang pintu. Ia adalah bibiku yang mulia, **“Tante Halimeh”**, yang bertahun-tahun sebelumnya tertinggal di Najaf. Saat pelukan dan pertemuan kembali Bibi Fatemeh dan Tante Halimeh adalah pemandangan yang bisa melelehkan batu; dua perempuan dari keturunan sayyid yang berduka, setelah dua puluh tahun terlunta, saling mendekap dan menjerit gembira sedemikian rupa sehingga seluruh perih yang mengiris di keluarga itu seakan tumpah sekaligus.
Tidak lama kemudian anggota keluarga yang lain seperti **“Tante Zohreh”** dan anak-anaknya juga kembali menginjakkan kaki di rumah kecil Bibi, sampai rumah itu tenggelam dalam keriuhan, tawa, masak-memasak ala Irak yang ramai, dan gelas-gelas teh kapulaga yang terus diisi ulang. Seakan Najaf yang hilang telah pindah seluruhnya, dengan segala keagungannya, ke rumah Bibi, agar barzakh kesepianku dalam ketiadaan ayah dan saudari-saudariku, untuk sesaat, sedikit terobati.
## Bagian keempat: Badai opium dan duka televisi yang hancur
Tetapi barzakh kesepianku di Mehrabad tidak selalu disertai aroma kapulaga dan manisnya silaturahmi. Badai yang terbesar dan paling menyedihkan di antaranya terangkum dalam diri pamanku yang masih muda, **“Paman Nader”**.
Pada dasarnya Paman Nader adalah orang yang sangat baik dan lembut hati; tetapi untuk lari dari perih di dalam dirinya, ia tertipu oleh teman-teman yang buruk dan jatuh ke dalam jerat kecanduan. Sebuah penawanan yang celaka, yang setiap akhir pekan membawa asap opium yang gelap dan pekat serta tingkah lakunya yang tak terduga ke rumah Bibi.
Pada suatu akhir pekan, Bibi Fatemeh keluar rumah bersama Tante **Khadijeh** untuk suatu urusan. Bibi menarikku ke samping dan berkata dengan cemas: “Mohsen... kunci pintu dari dalam dan jangan buka untuk siapa pun, bahkan untuk pamanmu Nader.” Aku menurut dan mengunci pintu kayu itu dengan tiga kunci. Lalu aku masuk ke kamarku dan tenggelam dalam dunia ajaib permainan kesayanganku, PlayStation. Aku begitu tenggelam dalam keseruan di layar televisi empat belas inciku sampai tidak menyadari apa pun di sekelilingku.
Paman Nader telah sampai di balik pintu dan, ketika mendapati pintu terkunci, ia mengira dirinya ditolak. Perasaan itu menyalakan api amarah dalam dirinya yang peka dan jiwanya yang tak tenang. Ketika akhirnya aku menyadari tendangannya pada pintu dan membukakan pintu dengan ketakutan, ia mendorongku ke belakang dan menggeram: “Kenapa waktu aku memencet bel kau tidak buka?” Kujelaskan bahwa itu perintah Bibi.
Kata-kata itu semakin melukai jiwanya yang terluka. Ia menyerbu ke kamarku, menyambar bingkai foto keluarga kami dari dinding — satu-satunya penghiburan malam-malam sepiku — dan merobeknya berkeping-keping! Lalu ia menggelar perlengkapan opiumnya di halaman. Aku meringkuk di sudut kamarku dan menangis tanpa suara. Paman Nader, yang tenggelam dalam kabut tebal candu, kembali ke kamarku dengan sebuah obeng dan, di puncak amarahnya, memukul layar televisi kesayanganku dan menghancurkannya di depan mataku!
Dengan tangan gemetar kuputar nomor Sydney dan sambil terisak kuceritakan kejadian itu kepada ayahku Zaher, tetapi Paman Nader tenggelam dalam dukanya sendiri. Duka atas kejatuhan Paman Nader terasa semakin berat bagiku ketika kulihat bagaimana bencana celaka itu telah merusak jiwanya yang mulia; sampai-sampai, untuk membiayai barangnya, ia menjual sepeda yang diberikan Hamed, putra tanteku, kepadaku, dan bahkan diam-diam mengambil uang sakuku dari sakuku. Barzakhku di Mehrabad berlalu lebih berat daripada sebelumnya sambil menyaksikan kehancuran seseorang yang kucintai.
Tetapi barzakh kesepianku di Mehrabad tidak selalu disertai aroma kapulaga dan manisnya silaturahmi. Badai yang terbesar dan paling menyedihkan di antaranya terangkum dalam diri pamanku yang masih muda, **“Paman Nader”**.
Pada dasarnya Paman Nader adalah orang yang sangat baik dan lembut hati; tetapi untuk lari dari perih di dalam dirinya, ia tertipu oleh teman-teman yang buruk dan jatuh ke dalam jerat kecanduan. Sebuah penawanan yang celaka, yang setiap akhir pekan membawa asap opium yang gelap dan pekat serta tingkah lakunya yang tak terduga ke rumah Bibi.
Pada suatu akhir pekan, Bibi Fatemeh keluar rumah bersama Tante **Khadijeh** untuk suatu urusan. Bibi menarikku ke samping dan berkata dengan cemas: “Mohsen... kunci pintu dari dalam dan jangan buka untuk siapa pun, bahkan untuk pamanmu Nader.” Aku menurut dan mengunci pintu kayu itu dengan tiga kunci. Lalu aku masuk ke kamarku dan tenggelam dalam dunia ajaib permainan kesayanganku, PlayStation. Aku begitu tenggelam dalam keseruan di layar televisi empat belas inciku sampai tidak menyadari apa pun di sekelilingku.
Paman Nader telah sampai di balik pintu dan, ketika mendapati pintu terkunci, ia mengira dirinya ditolak. Perasaan itu menyalakan api amarah dalam dirinya yang peka dan jiwanya yang tak tenang. Ketika akhirnya aku menyadari tendangannya pada pintu dan membukakan pintu dengan ketakutan, ia mendorongku ke belakang dan menggeram: “Kenapa waktu aku memencet bel kau tidak buka?” Kujelaskan bahwa itu perintah Bibi.
Kata-kata itu semakin melukai jiwanya yang terluka. Ia menyerbu ke kamarku, menyambar bingkai foto keluarga kami dari dinding — satu-satunya penghiburan malam-malam sepiku — dan merobeknya berkeping-keping! Lalu ia menggelar perlengkapan opiumnya di halaman. Aku meringkuk di sudut kamarku dan menangis tanpa suara. Paman Nader, yang tenggelam dalam kabut tebal candu, kembali ke kamarku dengan sebuah obeng dan, di puncak amarahnya, memukul layar televisi kesayanganku dan menghancurkannya di depan mataku!
Dengan tangan gemetar kuputar nomor Sydney dan sambil terisak kuceritakan kejadian itu kepada ayahku Zaher, tetapi Paman Nader tenggelam dalam dukanya sendiri. Duka atas kejatuhan Paman Nader terasa semakin berat bagiku ketika kulihat bagaimana bencana celaka itu telah merusak jiwanya yang mulia; sampai-sampai, untuk membiayai barangnya, ia menjual sepeda yang diberikan Hamed, putra tanteku, kepadaku, dan bahkan diam-diam mengambil uang sakuku dari sakuku. Barzakhku di Mehrabad berlalu lebih berat daripada sebelumnya sambil menyaksikan kehancuran seseorang yang kucintai.
## Bagian kelima: Akhir barzakh tiga tahun dan mukjizat terbang ke Sydney
Tiga tahun penantian yang mematikan; tiga tahun berlari di antara cemas dan harap, dan tiga tahun yang setiap harinya menjadi ujian untuk mengukur kadar ketahananku, di sebuah tanah air yang tidak menyisakan tempat berlindung selain kamar teduh Bibi Fatemeh.
Berkas visaku di kedutaan Australia masih terkunci dengan alasan tidak adanya penjamin keuangan. Bahkan Paman **Hamid** pun menyingsingkan lengan baju untuk menjadi penjaminku, tetapi kedutaan dengan kekejaman birokratis menolak jaminannya juga. Pada tahun-tahun ketidakpastian itu, berbagai kabar sampai kepadaku dari Sydney; kabar pertunangan dan lamaran untuk saudariku Faezeh membuat hatiku manis, tetapi kabar pahit tentang meninggalnya secara mendadak adikku **Tahsin** di dalam kandungan ibunya meletakkan duka yang berat di dadaku.
Mungkin pembaca akan bertanya di sini: jika tidak ada penjamin yang ditemukan dan berkasnya sudah benar-benar buntu, lalu bagaimana simpul mati itu akhirnya terurai, dan dari mana visanya datang? Jawaban atas pertanyaan itu adalah salah satu hal aneh dan pahit yang tidak pernah diceritakan tentang hijrah. Pada hari-hari ketika kegelapan total menyelimuti berkasku, ayahku Zaher dan Ibu **Tahereh** di Sydney, dengan hati yang hancur, mata yang berlinang, dan harga diri yang mereka injak demi menyelamatkan anaknya, mengetuk pintu setiap kenalan dan setiap orang asing.
Permohonan dan kegelisahan ayah dan ibu yang jauh itu akhirnya meluluhkan hati seorang pengusaha Irak. Ia yang sangat tersentuh oleh perpisahan keluarga itu menjadi perantara dan membujuk salah seorang temannya yang kaya untuk menerima jaminan keuanganku; dengan janji yang tegas bahwa setelah aku tiba di Australia aku tidak akan pernah menjadi beban siapa pun dan tidak akan timbul masalah apa pun.
Akhirnya, berkat jaminan yang menyelamatkan itu, pada hari Senin, 9 Mei 2005, mukjizat yang sudah tiga tahun kutangisi mengetuk pintu rumah tua Bibi Fatemeh: **visaku telah diterbitkan!**
Ketika penerbitan visa itu sudah pasti, atas anjuran keras ayahku, aku pergi ke pasar dan membeli dua buah arloji Seiko yang berkualitas dan bernilai dari Iran. Yang satu akan kami berikan kepada pengusaha perantara itu dan yang lain kami titipkan lewat dia kepada teman kaya yang telah menjaminku, sebagai balasan sekadarnya atas kebaikan besar itu. Meskipun di dalam hatiku aku selalu curiga bahwa mungkin sebenarnya tidak ada teman kaya itu dan pengusaha yang baik hati itulah yang dengan kebesaran jiwanya menjamin aku sendiri, dan ia tidak ingin namanya terungkap!
Setelah bolak-balik yang melelahkan dan melewati barikade para pejabat untuk mendapatkan cap keluar, tibalah hari yang dijanjikan itu: Jumat, 3 Juni 2005. Pada usia dua puluh tiga tahun aku naik ke pesawat dan terbang di atas samudra. Ketika roda pesawat menyentuh landasan bandara Sydney, jantungku berdebar keras di dada. Dengan langkah yang gemetar dan penuh kerinduan aku memasuki ruang kedatangan. Di sana, di antara cahaya terang bandara, kulihat wajah ayahku Zaher yang letih namun tersenyum dan wajah saudari-saudariku.
Dalam sedetik, waktu berhenti. Kami saling berpelukan dengan seluruh tubuh kami; air mata bahagia mengalir di wajah kami dan barzakh kesepian tiga tahun itu menjadi abu dalam wangi pertemuan kami kembali. Faezeh, Maryam, dan Nejat kecil yang kini sudah tumbuh dan hampir berusia sembilan tahun, mengerumuniku dengan tawa gembira. Mereka telah bertambah besar dalam tiga tahun dan tenaga bahagia mereka bagiku adalah nyanyian pembebasan yang paling nyata.
Malam itu ayahku membawaku ke rumahnya yang sederhana namun tak terhingga hangat di Sydney. Mengelilingi hidangan makan malam, dengan mata yang berkilau oleh air mata bahagia, ia memandang perawakanku dan berkata: “Anakku... kau telah menempuh jalan yang panjang. Kita telah menempuh jalan yang panjang bersama-sama...” Di sanalah aku tahu bahwa benang-benang tak kasatmata dari pengasingan telah membawa kami, dari abu penawanan Najaf dan keterasingan di Iran, sampai ke pantai bebas Australia. Barzakhku telah berakhir, dan wiracarita awal kehidupan kami di tanah yang asing ini baru saja mulai membalik halaman...
Tiga tahun penantian yang mematikan; tiga tahun berlari di antara cemas dan harap, dan tiga tahun yang setiap harinya menjadi ujian untuk mengukur kadar ketahananku, di sebuah tanah air yang tidak menyisakan tempat berlindung selain kamar teduh Bibi Fatemeh.
Berkas visaku di kedutaan Australia masih terkunci dengan alasan tidak adanya penjamin keuangan. Bahkan Paman **Hamid** pun menyingsingkan lengan baju untuk menjadi penjaminku, tetapi kedutaan dengan kekejaman birokratis menolak jaminannya juga. Pada tahun-tahun ketidakpastian itu, berbagai kabar sampai kepadaku dari Sydney; kabar pertunangan dan lamaran untuk saudariku Faezeh membuat hatiku manis, tetapi kabar pahit tentang meninggalnya secara mendadak adikku **Tahsin** di dalam kandungan ibunya meletakkan duka yang berat di dadaku.
Mungkin pembaca akan bertanya di sini: jika tidak ada penjamin yang ditemukan dan berkasnya sudah benar-benar buntu, lalu bagaimana simpul mati itu akhirnya terurai, dan dari mana visanya datang? Jawaban atas pertanyaan itu adalah salah satu hal aneh dan pahit yang tidak pernah diceritakan tentang hijrah. Pada hari-hari ketika kegelapan total menyelimuti berkasku, ayahku Zaher dan Ibu **Tahereh** di Sydney, dengan hati yang hancur, mata yang berlinang, dan harga diri yang mereka injak demi menyelamatkan anaknya, mengetuk pintu setiap kenalan dan setiap orang asing.
Permohonan dan kegelisahan ayah dan ibu yang jauh itu akhirnya meluluhkan hati seorang pengusaha Irak. Ia yang sangat tersentuh oleh perpisahan keluarga itu menjadi perantara dan membujuk salah seorang temannya yang kaya untuk menerima jaminan keuanganku; dengan janji yang tegas bahwa setelah aku tiba di Australia aku tidak akan pernah menjadi beban siapa pun dan tidak akan timbul masalah apa pun.
Akhirnya, berkat jaminan yang menyelamatkan itu, pada hari Senin, 9 Mei 2005, mukjizat yang sudah tiga tahun kutangisi mengetuk pintu rumah tua Bibi Fatemeh: **visaku telah diterbitkan!**
Ketika penerbitan visa itu sudah pasti, atas anjuran keras ayahku, aku pergi ke pasar dan membeli dua buah arloji Seiko yang berkualitas dan bernilai dari Iran. Yang satu akan kami berikan kepada pengusaha perantara itu dan yang lain kami titipkan lewat dia kepada teman kaya yang telah menjaminku, sebagai balasan sekadarnya atas kebaikan besar itu. Meskipun di dalam hatiku aku selalu curiga bahwa mungkin sebenarnya tidak ada teman kaya itu dan pengusaha yang baik hati itulah yang dengan kebesaran jiwanya menjamin aku sendiri, dan ia tidak ingin namanya terungkap!
Setelah bolak-balik yang melelahkan dan melewati barikade para pejabat untuk mendapatkan cap keluar, tibalah hari yang dijanjikan itu: Jumat, 3 Juni 2005. Pada usia dua puluh tiga tahun aku naik ke pesawat dan terbang di atas samudra. Ketika roda pesawat menyentuh landasan bandara Sydney, jantungku berdebar keras di dada. Dengan langkah yang gemetar dan penuh kerinduan aku memasuki ruang kedatangan. Di sana, di antara cahaya terang bandara, kulihat wajah ayahku Zaher yang letih namun tersenyum dan wajah saudari-saudariku.
Dalam sedetik, waktu berhenti. Kami saling berpelukan dengan seluruh tubuh kami; air mata bahagia mengalir di wajah kami dan barzakh kesepian tiga tahun itu menjadi abu dalam wangi pertemuan kami kembali. Faezeh, Maryam, dan Nejat kecil yang kini sudah tumbuh dan hampir berusia sembilan tahun, mengerumuniku dengan tawa gembira. Mereka telah bertambah besar dalam tiga tahun dan tenaga bahagia mereka bagiku adalah nyanyian pembebasan yang paling nyata.
Malam itu ayahku membawaku ke rumahnya yang sederhana namun tak terhingga hangat di Sydney. Mengelilingi hidangan makan malam, dengan mata yang berkilau oleh air mata bahagia, ia memandang perawakanku dan berkata: “Anakku... kau telah menempuh jalan yang panjang. Kita telah menempuh jalan yang panjang bersama-sama...” Di sanalah aku tahu bahwa benang-benang tak kasatmata dari pengasingan telah membawa kami, dari abu penawanan Najaf dan keterasingan di Iran, sampai ke pantai bebas Australia. Barzakhku telah berakhir, dan wiracarita awal kehidupan kami di tanah yang asing ini baru saja mulai membalik halaman...
Lahir kembali di tepian Sydney
## Bagian pertama: Lembaran 10 dolar dan tungku “kerja gelap” (tahun 2005)
Mungkin hanya berlangsung satu atau dua pekan; dua pekan yang singkat, seperti mimpi, dan cepat berlalu, ketika aku tenggelam dalam mabuk dan sukacita berkumpul kembali dengan keluarga. Setelah tiga tahun kesepian yang mutlak dan bagai barzakh di Iran, kembali berada di samping ayah dan saudari-saudariku terasa seperti mukjizat. Aku ingat pada hari-hari pertama itu ayahku menaruh sejumlah uang saku di tanganku, dengan senyum yang penuh kebanggaan, rindu, dan kasih, dan berkata: “Mohsen, keluarlah, berjalan-jalanlah, lihat Sydney dan belanjakan sedikit untuk dirimu sendiri supaya suasana hatimu berganti.”
Tetapi ketika kugenggam lembaran-lembaran dolar plastik yang berwarna-warni dan asing itu dan di kepalaku kubandingkan nilainya dengan rial dan toman Iran, tanganku gemetar. Aku tidak sampai hati membelanjakan satu dolar pun dari uang itu. Nilai uang terasa begitu ganjil dan berat bagiku sehingga lembaran-lembaran itu kusimpan utuh di dasar sakuku dan aku hanya berjalan-jalan di trotoar dan jalanan Sydney yang rapi untuk melihat bagaimana denyut masyarakat negeri asing itu berdetak dan bagaimana orang-orangnya bernapas.
Aku datang ke seberang samudra ini dengan seribu harapan dan seribu impian yang berwarna-warni. Di lubuk hatiku menyala keinginan yang kuat untuk, seperti saudari-saudariku, menenteng tas dan buku, pergi ke sekolah atau universitas, melanjutkan pendidikan, dan memetik peluang-peluang tiada tara di negeri yang bebas ini. Tetapi tamparan kenyataan datang dengan cepat, keras, dan tanpa ampun ke wajahku.
Aturannya keras; selama dua tahun pertama tinggal di Australia, aku tidak berhak atas bantuan keuangan maupun tunjangan pemerintah dalam bentuk apa pun. Keadaan ekonomi keluarga begitu sempit dan hitung-hitungannya begitu sulit sehingga impian sekolah tergantung dalam sedetik lalu menguap. Tidak pernah ada waktu awal ataupun kesempatan untuk mengikuti kelas bahasa Inggris.
Alih-alih ruang kelas dan papan tulis, aku langsung masuk ke dunia yang keras, kejam, dan tersembunyi dari **“kerja gelap”**. Bergandengan tangan dengan ayahku Zaher, aku menuju toko roti yang temaram itu, tempat ia bertahun-tahun berkeringat dan membakar masa mudanya di depan tungku. Pekerjaan kami sepenuhnya tunai, tidak resmi, dan di bawah meja: hanya sepuluh dolar per jam, tunai! Aku pemuda dua puluh tiga tahun, tetapi sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hak-hak sah seorang pekerja di Australia; dan tidak ada seorang pun yang menuntun tanganku atau mengajarkan hak-hakku. Lima hari seminggu, dari tengah malam sampai jauh siang, aku menghabiskan tubuhku di samping tungku yang membara dan adonan yang berat.
Tidak menguasai bahasa Inggris tentu saja menjadi hambatan yang serius dan melumpuhkan, tetapi raksasa yang sebenarnya adalah “jurang budaya yang ganjil” dan rasa keterasingan yang mendalam. Beginilah pengasingan yang sesungguhnya terumuskan bagiku di Sydney: bekerja dan berjalan di antara orang-orang yang dunianya, pandangannya, dan tingkah lakunya sama sekali tidak menyerupai apa pun yang kukenal sampai kemarin.
Setiap akhir pekan, ketika upah tunaiku kuterima dengan tangan yang letih dan berlumur adonan, ayahku mengambil uang itu untuk ditabung demi masa depanku. Ia menyisihkan uang itu sen demi sen, terutama setiap kali di rumah dibicarakan tentang masa depanku, pernikahanku, dan kemandirianku. Kenyataannya aku telah menjadi kacung tungku toko roti; seorang pemuda tanpa bahasa, tanpa kesadaran akan haknya, tenggelam dalam pekerjaan yang menghancurkan, yang menggantungkan seluruh harapannya pada masa depan yang dijanjikan ayahnya.
Mungkin hanya berlangsung satu atau dua pekan; dua pekan yang singkat, seperti mimpi, dan cepat berlalu, ketika aku tenggelam dalam mabuk dan sukacita berkumpul kembali dengan keluarga. Setelah tiga tahun kesepian yang mutlak dan bagai barzakh di Iran, kembali berada di samping ayah dan saudari-saudariku terasa seperti mukjizat. Aku ingat pada hari-hari pertama itu ayahku menaruh sejumlah uang saku di tanganku, dengan senyum yang penuh kebanggaan, rindu, dan kasih, dan berkata: “Mohsen, keluarlah, berjalan-jalanlah, lihat Sydney dan belanjakan sedikit untuk dirimu sendiri supaya suasana hatimu berganti.”
Tetapi ketika kugenggam lembaran-lembaran dolar plastik yang berwarna-warni dan asing itu dan di kepalaku kubandingkan nilainya dengan rial dan toman Iran, tanganku gemetar. Aku tidak sampai hati membelanjakan satu dolar pun dari uang itu. Nilai uang terasa begitu ganjil dan berat bagiku sehingga lembaran-lembaran itu kusimpan utuh di dasar sakuku dan aku hanya berjalan-jalan di trotoar dan jalanan Sydney yang rapi untuk melihat bagaimana denyut masyarakat negeri asing itu berdetak dan bagaimana orang-orangnya bernapas.
Aku datang ke seberang samudra ini dengan seribu harapan dan seribu impian yang berwarna-warni. Di lubuk hatiku menyala keinginan yang kuat untuk, seperti saudari-saudariku, menenteng tas dan buku, pergi ke sekolah atau universitas, melanjutkan pendidikan, dan memetik peluang-peluang tiada tara di negeri yang bebas ini. Tetapi tamparan kenyataan datang dengan cepat, keras, dan tanpa ampun ke wajahku.
Aturannya keras; selama dua tahun pertama tinggal di Australia, aku tidak berhak atas bantuan keuangan maupun tunjangan pemerintah dalam bentuk apa pun. Keadaan ekonomi keluarga begitu sempit dan hitung-hitungannya begitu sulit sehingga impian sekolah tergantung dalam sedetik lalu menguap. Tidak pernah ada waktu awal ataupun kesempatan untuk mengikuti kelas bahasa Inggris.
Alih-alih ruang kelas dan papan tulis, aku langsung masuk ke dunia yang keras, kejam, dan tersembunyi dari **“kerja gelap”**. Bergandengan tangan dengan ayahku Zaher, aku menuju toko roti yang temaram itu, tempat ia bertahun-tahun berkeringat dan membakar masa mudanya di depan tungku. Pekerjaan kami sepenuhnya tunai, tidak resmi, dan di bawah meja: hanya sepuluh dolar per jam, tunai! Aku pemuda dua puluh tiga tahun, tetapi sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hak-hak sah seorang pekerja di Australia; dan tidak ada seorang pun yang menuntun tanganku atau mengajarkan hak-hakku. Lima hari seminggu, dari tengah malam sampai jauh siang, aku menghabiskan tubuhku di samping tungku yang membara dan adonan yang berat.
Tidak menguasai bahasa Inggris tentu saja menjadi hambatan yang serius dan melumpuhkan, tetapi raksasa yang sebenarnya adalah “jurang budaya yang ganjil” dan rasa keterasingan yang mendalam. Beginilah pengasingan yang sesungguhnya terumuskan bagiku di Sydney: bekerja dan berjalan di antara orang-orang yang dunianya, pandangannya, dan tingkah lakunya sama sekali tidak menyerupai apa pun yang kukenal sampai kemarin.
Setiap akhir pekan, ketika upah tunaiku kuterima dengan tangan yang letih dan berlumur adonan, ayahku mengambil uang itu untuk ditabung demi masa depanku. Ia menyisihkan uang itu sen demi sen, terutama setiap kali di rumah dibicarakan tentang masa depanku, pernikahanku, dan kemandirianku. Kenyataannya aku telah menjadi kacung tungku toko roti; seorang pemuda tanpa bahasa, tanpa kesadaran akan haknya, tenggelam dalam pekerjaan yang menghancurkan, yang menggantungkan seluruh harapannya pada masa depan yang dijanjikan ayahnya.
## Bagian kedua: Langkah si pendatang baru dan terbangnya saudariku Faezeh
Pada hari-hari pertama menetapku di Australia, rumah kecil kami di Sydney sedang mengandung berbagai perubahan dan peristiwa yang menentukan; peristiwa-peristiwa yang menggantungkan suasana hidup kami antara terang sebuah kelahiran baru dan rasa sedih akan perubahan dan perpisahan.
Yang pertama adalah kelahiran adik lelaki kami, **“Ehsan”**. Ibu **Tahereh** melahirkan putra bungsunya, dan kehadiran bayi itu mengalirkan aroma harapan, berkah, dan semangat untuk terus maju di jantung hari-hari kami yang sulit dan penuh kerja. Dengan datangnya Ehsan, rumah kembali dipenuhi, setelah bertahun-tahun, oleh tangis, gerakan kaki-tangan, dan tawa seorang bayi yang baru datang, dan jiwa kami yang letih kembali hidup.
Di sisi lain, urusan lamaran dan pernikahan saudariku Faezeh, yang tahapannya sudah dilalui sebelumnya di Iran, menjadi lebih serius. Untunglah, sebelum pesta pernikahan Faezeh, aku masih sempat beberapa waktu berada di sampingnya dan keluarga, menyaksikan lalu-lalang, dan merasakan dengan segenap jiwa pertumbuhan Ehsan kecil di rumah. Tetapi akhirnya tiba juga waktu akad dan pesta pernikahan Faezeh; ia mengenakan gaun pengantin dengan wajahnya yang santun dan cantik, mengikat janji dengan suaminya, dan setelah itu berangkat berbulan madu ke Eropa untuk memulai kehidupan mandirinya.
Kepergian Faezeh dan kemandiriannya adalah tanda pertama dari sebuah perubahan besar dan tak terhindarkan di jantung keluarga kami. Aku merasa bahwa lingkaran yang rapat, hangat, dan menyatu yang dulu kami miliki bersama di Isfahan dan di Iran, tempat kami tumbuh berdampingan, tidak akan pernah lagi sama seperti dulu.
Kami bukan lagi keluarga yang sepenuhnya menyatu dan selalu berkumpul seperti dulu; masing-masing menuju arahnya sendiri dan menemukan jalan hidupnya yang mandiri di benua baru ini. Rumah menjadi jauh lebih sepi dengan kepergian Faezeh, dan aku, di antara jam-jam panjang kerja berat di toko roti dan kepulangan ke rumah yang tidak lagi bergema oleh suara Faezeh, semakin merasa bahwa masa manis kebersamaan keluarga kami telah berakhir dan kami memasuki sebuah musim yang baru dan dingin.
Pada hari-hari pertama menetapku di Australia, rumah kecil kami di Sydney sedang mengandung berbagai perubahan dan peristiwa yang menentukan; peristiwa-peristiwa yang menggantungkan suasana hidup kami antara terang sebuah kelahiran baru dan rasa sedih akan perubahan dan perpisahan.
Yang pertama adalah kelahiran adik lelaki kami, **“Ehsan”**. Ibu **Tahereh** melahirkan putra bungsunya, dan kehadiran bayi itu mengalirkan aroma harapan, berkah, dan semangat untuk terus maju di jantung hari-hari kami yang sulit dan penuh kerja. Dengan datangnya Ehsan, rumah kembali dipenuhi, setelah bertahun-tahun, oleh tangis, gerakan kaki-tangan, dan tawa seorang bayi yang baru datang, dan jiwa kami yang letih kembali hidup.
Di sisi lain, urusan lamaran dan pernikahan saudariku Faezeh, yang tahapannya sudah dilalui sebelumnya di Iran, menjadi lebih serius. Untunglah, sebelum pesta pernikahan Faezeh, aku masih sempat beberapa waktu berada di sampingnya dan keluarga, menyaksikan lalu-lalang, dan merasakan dengan segenap jiwa pertumbuhan Ehsan kecil di rumah. Tetapi akhirnya tiba juga waktu akad dan pesta pernikahan Faezeh; ia mengenakan gaun pengantin dengan wajahnya yang santun dan cantik, mengikat janji dengan suaminya, dan setelah itu berangkat berbulan madu ke Eropa untuk memulai kehidupan mandirinya.
Kepergian Faezeh dan kemandiriannya adalah tanda pertama dari sebuah perubahan besar dan tak terhindarkan di jantung keluarga kami. Aku merasa bahwa lingkaran yang rapat, hangat, dan menyatu yang dulu kami miliki bersama di Isfahan dan di Iran, tempat kami tumbuh berdampingan, tidak akan pernah lagi sama seperti dulu.
Kami bukan lagi keluarga yang sepenuhnya menyatu dan selalu berkumpul seperti dulu; masing-masing menuju arahnya sendiri dan menemukan jalan hidupnya yang mandiri di benua baru ini. Rumah menjadi jauh lebih sepi dengan kepergian Faezeh, dan aku, di antara jam-jam panjang kerja berat di toko roti dan kepulangan ke rumah yang tidak lagi bergema oleh suara Faezeh, semakin merasa bahwa masa manis kebersamaan keluarga kami telah berakhir dan kami memasuki sebuah musim yang baru dan dingin.
## Bagian ketiga: Impian yang pecah di Perth dan secercah harapan bernama “Bahar”
Di antara jam-jam panjang kerja yang menggerus di toko roti dan tabungan upahku yang disimpan ayah, akhirnya tibalah hari ketika keluarga duduk bersama untuk membicarakan masa depan dan penataan hidupku. Mereka bertanya kepadaku secara langsung, dengan keakraban khas keluarga: “Mohsen, kau sudah punya calon untuk menikah? Bagaimana pendapatmu?”
Aku terheran-heran di dalam hati. Aku berpikir, bukankah mereka sudah tahu jawaban pertanyaan ini? Di benakku, semuanya sudah jelas, terpahat, dan pasti sejak masa kecil. Tanpa menunda dan dengan keinginan yang dalam, yang telah bertahun-tahun berakar dalam diriku, kusebutkan nama **“Leila”**; sepupuku.
Aku berkata dengan suara tegas: “Sejak kecil selalu dibicarakan bahwa aku dan Leila memang untuk satu sama lain. Hal itu terpahat di kepalaku sepanjang tahun-tahun ini. Aku mencintainya dan menyayanginya. Kalau aku harus menikah dengan seseorang, orang itu hanyalah Leila.”
Begitu kata-kata itu keluar, kesunyian yang berat, menggigit, dan penuh arti menguasai ruangan. Kupandang wajah-wajah mereka dan kulihat garis-garis wajah mengerut serta pandangan-pandangan dialihkan dariku. Di sanalah aku merasakan dalamnya bencana itu; hubungan keluarga antara keluarga Tante **Roya** dan keluarga kami di Australia sama sekali tidak membaik. Mereka tinggal di kota “Perth”, di titik paling jauh di barat Australia, dan kami di Sydney, di timur negeri yang luas ini; jarak geografis ribuan kilometer dan satu dunia berisi dingin, dendam, dan tiadanya hubungan telah menjadikan jarak itu sebuah tembok batu di antara kami.
Meski begitu, mereka menjaga kehormatanku dan secara lahiriah tidak menentang keinginanku. Tetapi bagaimana dan dengan cara apa mereka menghubungi Perth di balik layar dan mengajukan lamaran itu, aku sama sekali tidak tahu.
Sampai suatu hari Ibu Tahereh datang menemuiku. Pandangannya penuh keraguan, iba, dan duka. Dengan pelan dan hati-hati ia mengatakan bahwa Tante Roya telah menolak dan mengatakan bahwa putri mereka berniat melanjutkan pendidikan dan untuk saat ini sama sekali tidak memikirkan pernikahan.
Mendengar kata-kata itu terasa seperti godam besi yang jatuh menimpa jiwa dan hatiku. Kenangan yang bertahun-tahun kucengkeram di pengasingan Iran, dalam kesepian, dalam pengembaraan, dan di bawah tungku panas toko roti Sydney agar aku tidak putus asa, runtuh dan menjadi abu dalam sekejap. Hatiku patah dengan keras oleh penolakan yang dingin dan tanpa ampun itu; penolakan yang aku tahu betul berakar pada perselisihan dan keruhnya hubungan keluarga itu, bukan sekadar soal sekolah dan pendidikan. Aku menetap di Sydney, dengan hati yang berkeping-keping dan sebuah impian yang tenggelam selamanya di senja Perth.
Keluargaku, yang menyadari duka, kesedihan, dan patahnya hatiku yang dalam, berkali-kali maju untuk menghiburku. Mereka berkata masih banyak gadis dan mereka bisa mempertimbangkan pilihan lain untuk dilamar. Tetapi setiap kali mereka mengatakan hal itu, tanpa sadar aku teringat kepada **“Bahar”**; gadis cantik itu yang di **Bagh-Shahr**, Iran, dengan pandangan-pandangannya yang indah dan santun mencairkan es duka di hatiku, dan kenangan tentangnya selalu hidup dan berdenyut di sudut benakku.
Suatu hari, di tengah panas yang menyesakkan di toko roti dan irama kerja yang monoton, ayahku datang menghiburku. Ia meletakkan tangannya di bahuku dan berkata dengan iba: “Mohsen, sampai kapan kau mau begini? Yang itu tidak jadi, ada yang lain! Aku sebentar lagi akan pergi ke Iran... mau kalau di sana aku menyingsingkan lengan baju untukmu?”
Kupandang wajah ayahku yang letih. Kusingkirkan dukaku dan aku berkata: “Baiklah... kalau memang harus ada orang lain, orang itu adalah Bahar.”
Mendengar nama itu, wajah ayahku yang letih tiba-tiba berseri dan kilat kegembiraan bersinar di matanya. Ia berkata dengan bersemangat: “Ya! Bagus! Aku kenal betul Paman **Abdolhossein**, ayah Bahar. Kami sahabat karib. Mereka keluarga yang sangat terhormat dan baik, dan mereka mendidik anak-anak perempuan yang sangat baik.”
Dan begitulah kisah “Bahar” dimulai — kisah sebuah ikatan yang akan menjadi obat bagi luka-luka lamaku dan awal dari sebuah jati diri yang baru dalam hidupku...
Di antara jam-jam panjang kerja yang menggerus di toko roti dan tabungan upahku yang disimpan ayah, akhirnya tibalah hari ketika keluarga duduk bersama untuk membicarakan masa depan dan penataan hidupku. Mereka bertanya kepadaku secara langsung, dengan keakraban khas keluarga: “Mohsen, kau sudah punya calon untuk menikah? Bagaimana pendapatmu?”
Aku terheran-heran di dalam hati. Aku berpikir, bukankah mereka sudah tahu jawaban pertanyaan ini? Di benakku, semuanya sudah jelas, terpahat, dan pasti sejak masa kecil. Tanpa menunda dan dengan keinginan yang dalam, yang telah bertahun-tahun berakar dalam diriku, kusebutkan nama **“Leila”**; sepupuku.
Aku berkata dengan suara tegas: “Sejak kecil selalu dibicarakan bahwa aku dan Leila memang untuk satu sama lain. Hal itu terpahat di kepalaku sepanjang tahun-tahun ini. Aku mencintainya dan menyayanginya. Kalau aku harus menikah dengan seseorang, orang itu hanyalah Leila.”
Begitu kata-kata itu keluar, kesunyian yang berat, menggigit, dan penuh arti menguasai ruangan. Kupandang wajah-wajah mereka dan kulihat garis-garis wajah mengerut serta pandangan-pandangan dialihkan dariku. Di sanalah aku merasakan dalamnya bencana itu; hubungan keluarga antara keluarga Tante **Roya** dan keluarga kami di Australia sama sekali tidak membaik. Mereka tinggal di kota “Perth”, di titik paling jauh di barat Australia, dan kami di Sydney, di timur negeri yang luas ini; jarak geografis ribuan kilometer dan satu dunia berisi dingin, dendam, dan tiadanya hubungan telah menjadikan jarak itu sebuah tembok batu di antara kami.
Meski begitu, mereka menjaga kehormatanku dan secara lahiriah tidak menentang keinginanku. Tetapi bagaimana dan dengan cara apa mereka menghubungi Perth di balik layar dan mengajukan lamaran itu, aku sama sekali tidak tahu.
Sampai suatu hari Ibu Tahereh datang menemuiku. Pandangannya penuh keraguan, iba, dan duka. Dengan pelan dan hati-hati ia mengatakan bahwa Tante Roya telah menolak dan mengatakan bahwa putri mereka berniat melanjutkan pendidikan dan untuk saat ini sama sekali tidak memikirkan pernikahan.
Mendengar kata-kata itu terasa seperti godam besi yang jatuh menimpa jiwa dan hatiku. Kenangan yang bertahun-tahun kucengkeram di pengasingan Iran, dalam kesepian, dalam pengembaraan, dan di bawah tungku panas toko roti Sydney agar aku tidak putus asa, runtuh dan menjadi abu dalam sekejap. Hatiku patah dengan keras oleh penolakan yang dingin dan tanpa ampun itu; penolakan yang aku tahu betul berakar pada perselisihan dan keruhnya hubungan keluarga itu, bukan sekadar soal sekolah dan pendidikan. Aku menetap di Sydney, dengan hati yang berkeping-keping dan sebuah impian yang tenggelam selamanya di senja Perth.
Keluargaku, yang menyadari duka, kesedihan, dan patahnya hatiku yang dalam, berkali-kali maju untuk menghiburku. Mereka berkata masih banyak gadis dan mereka bisa mempertimbangkan pilihan lain untuk dilamar. Tetapi setiap kali mereka mengatakan hal itu, tanpa sadar aku teringat kepada **“Bahar”**; gadis cantik itu yang di **Bagh-Shahr**, Iran, dengan pandangan-pandangannya yang indah dan santun mencairkan es duka di hatiku, dan kenangan tentangnya selalu hidup dan berdenyut di sudut benakku.
Suatu hari, di tengah panas yang menyesakkan di toko roti dan irama kerja yang monoton, ayahku datang menghiburku. Ia meletakkan tangannya di bahuku dan berkata dengan iba: “Mohsen, sampai kapan kau mau begini? Yang itu tidak jadi, ada yang lain! Aku sebentar lagi akan pergi ke Iran... mau kalau di sana aku menyingsingkan lengan baju untukmu?”
Kupandang wajah ayahku yang letih. Kusingkirkan dukaku dan aku berkata: “Baiklah... kalau memang harus ada orang lain, orang itu adalah Bahar.”
Mendengar nama itu, wajah ayahku yang letih tiba-tiba berseri dan kilat kegembiraan bersinar di matanya. Ia berkata dengan bersemangat: “Ya! Bagus! Aku kenal betul Paman **Abdolhossein**, ayah Bahar. Kami sahabat karib. Mereka keluarga yang sangat terhormat dan baik, dan mereka mendidik anak-anak perempuan yang sangat baik.”
Dan begitulah kisah “Bahar” dimulai — kisah sebuah ikatan yang akan menjadi obat bagi luka-luka lamaku dan awal dari sebuah jati diri yang baru dalam hidupku...
## Bagian keempat: Telepon dari rumah Bibi dan kesunyian terakhir di ujung sambungan
Ayahku seperti biasa mengambil upah mingguanku dari toko roti dan menyimpannya. Ia punya rencana besar: mengumpulkan biaya perjalanan ke Iran, biaya lamaran, dan penyelenggaraan sebuah pesta pernikahan yang pantas dan indah di tanah air. Perjalanan ke Iran saja sudah mahal, apalagi jika hendak mengadakan pesta; tetapi ayahku menyisihkan uang itu sen demi sen dengan sangat teliti.
Sementara itu aku sendiri benar-benar hancur dan remuk secara batin. Reruntuhan pengalaman mengerikan dan penderitaan bertahun-tahun barzakh di Iran, beban hijrah, keterasingan, kerja yang menguras tenaga di depan tungku panas toko roti, dan akhirnya penolakan atas impian lamaku, tidak menyisakan tenaga apa pun bagiku. Dalam suasana hati yang murung dan semangat yang remuk seperti itulah tiba waktu keberangkatan ayahku. Ia berangkat ke Iran untuk secara resmi melamar “Bahar” untukku.
Ayahku masih di Iran, sibuk merencanakan dan melamar, ketika tiba-tiba telepon rumah kami di Sydney berdering. Tante Roya, setelah perjalanannya ke Irak, telah kembali ke Iran dan hari itu meneleponku dari rumah Bibi Fatemeh. Ketika Tanteku mengetahui perkara lamaranku di Iran, ia berkata di telepon dengan nada terkejut dan gelisah: “Ada apa, Mohsen? Kenapa kau terburu-buru? Kenapa secepat itu kau mundur? Leila cuma bersikap kekanak-kanakan, ia mengatakan sesuatu sekenanya... aku sedang berbicara dengannya!”
Aku tercengang dan sepenuhnya heran, hanya mendengarkan pembicaraannya. Aku terguncang. Aku berkata dengan ragu: “Tapi, Tante... aku diberi tahu bahwa Tante sekeluarga menolak semuanya! Katanya Leila ingin belajar dan sama sekali tidak berniat menikah.”
Tante Roya segera menjawab: “Tidak! Bukan begitu! Ia mengatakan itu hanya karena malu... sekarang pun ia berdiri di sini di sampingku dan wajahnya merah karena malu!”
Jantungku mulai berdegup keras, tetapi kenyataan berdiri di hadapanku seperti tembok batu yang kokoh. Aku berkata: “Tante, sekarang sudah terlambat... ayahku sudah pergi ke Iran, sudah melamar, dan sudah mendapat jawaban ya.” Tanteku bersikeras: “Tidak, Nak! Tidak pernah ada kata terlambat. Kalian kan belum menikah!”
Gelombang kecemasan menguasai diriku. Aku mengenal betul ayahku; lelaki yang teguh, berharga diri tinggi, dan keras kepala, yang mustahil bisa menerima perubahan keputusan seperti itu. Kalau ia tahu bahwa sementara ia di sana sedang mengatur segalanya, aku di sini menempuh jalan lain di belakangnya, mungkin ia akan menyingkirkan aku selamanya. Aku tidak ingin menyakiti ayahku atau mematahkan harga diri kelelakiannya.
Tanganku gemetar. Aku berkata: “Tante, biar dia sendiri yang bicara di telepon... biar aku bicara dengannya langsung.”
Ketika Leila mengangkat gagang telepon, di puncak kebingunganku aku memutuskan mengeraskan dan mendinginkan nada suaraku agar ia berpaling dariku. Aku berkata dengan nada menegur: “Kenapa kau mengatakan hal-hal itu? Apa kau tidak tahu betapa aku menyayangimu?”
Suara Leila yang tenang dan polos datang dari ujung sambungan: “Tidak... dari mana aku harus tahu?”
Pada saat itu sebuah kepahitan yang aneh menjalar di dalam diriku dan di dalam hati aku menertawakan diriku sendiri dan kepolosanku. Aku baru mengerti bahwa cintaku selama bertahun-tahun ini bertepuk sebelah tangan! Aku tidak pernah secara resmi mengatakan kepadanya betapa aku menyayanginya. Ia tidak pernah menyadari tingkah lakuku, perasaanku yang tersembunyi, ataupun gambar-gambar yang kubuat untuknya di Iran.
Aku berkata kepadanya: “Kau ingat waktu kita kecil aku bilang aku menyayangimu dan bahwa suatu hari kau akan jadi istriku, lalu kita berdua tertawa?” Leila tidak menjawab; hanya terdengar tawa pendek dan malu dari ujung sambungan. Kubuat nadaku lebih serius dan kukatakan: “Kalau kau benar-benar tidak ingin hidup bersamaku, jangan katakan apa-apa...”
Satu menit kesunyian yang berat dan mengiris menguasai sambungan itu. Tidak seorang pun dari kami berkata sepatah kata. Satu menit kesunyian itu adalah teriakan penghabisan; batas akhir dari semua impian masa kecil dan masa remajaku. Kupecahkan kesunyian itu dan kutelan tangisku: “Aku mendoakan kebahagiaan untukmu...” Leila berkata dengan pelan: “Aku juga... aku mendoakan kebahagiaan untukmu.”
Aku berkata: “Berikan teleponnya kepada Tante.” Ketika gagang telepon kembali ke tangan Tanteku, aku berkata dengan nada yang tegas dan mengakhiri: “Tante, kami sudah bicara... Leila tidak menginginkanku. Selamat tinggal.”
Kuletakkan gagang telepon. Berkas sebuah kisah yang bertahun-tahun kupelihara di benakku ditutup selamanya, di rumah itu dan dalam satu menit kesunyian yang berkepanjangan di ujung telepon itu. Kini yang tersisa hanyalah aku dan sesal atas hal-hal yang tak terkatakan, serta seorang ayah di Iran yang sedang dengan bangga menyiapkan ikatanku dengan “Bahar”...
Ayahku seperti biasa mengambil upah mingguanku dari toko roti dan menyimpannya. Ia punya rencana besar: mengumpulkan biaya perjalanan ke Iran, biaya lamaran, dan penyelenggaraan sebuah pesta pernikahan yang pantas dan indah di tanah air. Perjalanan ke Iran saja sudah mahal, apalagi jika hendak mengadakan pesta; tetapi ayahku menyisihkan uang itu sen demi sen dengan sangat teliti.
Sementara itu aku sendiri benar-benar hancur dan remuk secara batin. Reruntuhan pengalaman mengerikan dan penderitaan bertahun-tahun barzakh di Iran, beban hijrah, keterasingan, kerja yang menguras tenaga di depan tungku panas toko roti, dan akhirnya penolakan atas impian lamaku, tidak menyisakan tenaga apa pun bagiku. Dalam suasana hati yang murung dan semangat yang remuk seperti itulah tiba waktu keberangkatan ayahku. Ia berangkat ke Iran untuk secara resmi melamar “Bahar” untukku.
Ayahku masih di Iran, sibuk merencanakan dan melamar, ketika tiba-tiba telepon rumah kami di Sydney berdering. Tante Roya, setelah perjalanannya ke Irak, telah kembali ke Iran dan hari itu meneleponku dari rumah Bibi Fatemeh. Ketika Tanteku mengetahui perkara lamaranku di Iran, ia berkata di telepon dengan nada terkejut dan gelisah: “Ada apa, Mohsen? Kenapa kau terburu-buru? Kenapa secepat itu kau mundur? Leila cuma bersikap kekanak-kanakan, ia mengatakan sesuatu sekenanya... aku sedang berbicara dengannya!”
Aku tercengang dan sepenuhnya heran, hanya mendengarkan pembicaraannya. Aku terguncang. Aku berkata dengan ragu: “Tapi, Tante... aku diberi tahu bahwa Tante sekeluarga menolak semuanya! Katanya Leila ingin belajar dan sama sekali tidak berniat menikah.”
Tante Roya segera menjawab: “Tidak! Bukan begitu! Ia mengatakan itu hanya karena malu... sekarang pun ia berdiri di sini di sampingku dan wajahnya merah karena malu!”
Jantungku mulai berdegup keras, tetapi kenyataan berdiri di hadapanku seperti tembok batu yang kokoh. Aku berkata: “Tante, sekarang sudah terlambat... ayahku sudah pergi ke Iran, sudah melamar, dan sudah mendapat jawaban ya.” Tanteku bersikeras: “Tidak, Nak! Tidak pernah ada kata terlambat. Kalian kan belum menikah!”
Gelombang kecemasan menguasai diriku. Aku mengenal betul ayahku; lelaki yang teguh, berharga diri tinggi, dan keras kepala, yang mustahil bisa menerima perubahan keputusan seperti itu. Kalau ia tahu bahwa sementara ia di sana sedang mengatur segalanya, aku di sini menempuh jalan lain di belakangnya, mungkin ia akan menyingkirkan aku selamanya. Aku tidak ingin menyakiti ayahku atau mematahkan harga diri kelelakiannya.
Tanganku gemetar. Aku berkata: “Tante, biar dia sendiri yang bicara di telepon... biar aku bicara dengannya langsung.”
Ketika Leila mengangkat gagang telepon, di puncak kebingunganku aku memutuskan mengeraskan dan mendinginkan nada suaraku agar ia berpaling dariku. Aku berkata dengan nada menegur: “Kenapa kau mengatakan hal-hal itu? Apa kau tidak tahu betapa aku menyayangimu?”
Suara Leila yang tenang dan polos datang dari ujung sambungan: “Tidak... dari mana aku harus tahu?”
Pada saat itu sebuah kepahitan yang aneh menjalar di dalam diriku dan di dalam hati aku menertawakan diriku sendiri dan kepolosanku. Aku baru mengerti bahwa cintaku selama bertahun-tahun ini bertepuk sebelah tangan! Aku tidak pernah secara resmi mengatakan kepadanya betapa aku menyayanginya. Ia tidak pernah menyadari tingkah lakuku, perasaanku yang tersembunyi, ataupun gambar-gambar yang kubuat untuknya di Iran.
Aku berkata kepadanya: “Kau ingat waktu kita kecil aku bilang aku menyayangimu dan bahwa suatu hari kau akan jadi istriku, lalu kita berdua tertawa?” Leila tidak menjawab; hanya terdengar tawa pendek dan malu dari ujung sambungan. Kubuat nadaku lebih serius dan kukatakan: “Kalau kau benar-benar tidak ingin hidup bersamaku, jangan katakan apa-apa...”
Satu menit kesunyian yang berat dan mengiris menguasai sambungan itu. Tidak seorang pun dari kami berkata sepatah kata. Satu menit kesunyian itu adalah teriakan penghabisan; batas akhir dari semua impian masa kecil dan masa remajaku. Kupecahkan kesunyian itu dan kutelan tangisku: “Aku mendoakan kebahagiaan untukmu...” Leila berkata dengan pelan: “Aku juga... aku mendoakan kebahagiaan untukmu.”
Aku berkata: “Berikan teleponnya kepada Tante.” Ketika gagang telepon kembali ke tangan Tanteku, aku berkata dengan nada yang tegas dan mengakhiri: “Tante, kami sudah bicara... Leila tidak menginginkanku. Selamat tinggal.”
Kuletakkan gagang telepon. Berkas sebuah kisah yang bertahun-tahun kupelihara di benakku ditutup selamanya, di rumah itu dan dalam satu menit kesunyian yang berkepanjangan di ujung telepon itu. Kini yang tersisa hanyalah aku dan sesal atas hal-hal yang tak terkatakan, serta seorang ayah di Iran yang sedang dengan bangga menyiapkan ikatanku dengan “Bahar”...
Gema kenangan dan sebuah akhir yang adalah awal
## Bagian pertama: Akar-akar baru di negeri yang jauh dan melewati bayang-bayang
Matahari sore Sydney yang lembut menembus dedaunan hijau pepohonan di halaman dan jatuh ke atas meja kerjaku. Hari ini, pada tahun 2026, ketika kupandang usiaku yang empat puluh empat tahun, aku merasa berdiri berkilometer-kilometer jauhnya dari remaja yang di senja Perth itu, dengan satu menit kesunyian yang berat dan berkepanjangan di ujung telepon, menyaksikan impian **“Leila”** menjadi abu. Kesunyian itu, meski pada mulanya terasa seperti kekalahan, justru menjadi batas kebangkitanku. Aku mengerti bahwa mencengkeram bayang-bayang masa lalu dan tinggal dalam sesal atas apa yang tidak terjadi hanyalah rantai yang mengunci langkahku di jalan menuju masa depan. Maka aku memutuskan berhenti memanggil arwah masa lalu dan, untuk membangun sebuah negeri yang baru, menapakkan kaki di atas dada masa kini.
Pada hari-hari ketika aku berkeringat di depan tungku toko roti Sydney itu, ayahku di Iran dengan bangga menyiapkan ikatanku dengan **“Bahar”**. Gadis yang bertahun-tahun sebelumnya, pada hari-hari hitam dan menyesakkan ketika kami terlunta di rumah Jaddo, dengan pandangannya yang santun dan ketenangannya mencairkan es duka di hatiku. Menikah dengan Bahar adalah obat pemberian Tuhan bagi semua luka lamaku; ia bukan sekadar seorang istri, melainkan teman yang sabar, sahabat yang setia, dan naungan yang kokoh dalam semua angin ribut pengasingan. Hari ini, setelah bertahun-tahun menempuh jalan bersama di sebuah jalan yang terbuat dari saling menghormati dan impian bersama, buah dari cinta itu adalah empat anak yang bercahaya, yang tawa dan sorak mereka menenggelamkan dinding-dinding rumah kami dalam cahaya dan kehidupan.
Keluarga kami, yang dulu terlunta dan terombang-ambing seperti daun-daun kering di angin kejam peristiwa-peristiwa Timur Tengah, kini telah berakar dan tumbuh di tanah yang aman di seberang samudra ini. Saudariku Faezeh dari ikatannya dikaruniai dua anak dan Maryam pun punya dua belahan jiwa dari pernikahan keduanya. Nejat kecil kami — malaikat yang dengan langkahnya membawa wangi pembebasan ke rumah Mehrabad yang tak bertenaga itu — kini seorang perempuan berwibawa di dasawarsa ketiga hidupnya yang telah membangun sarangnya sendiri; dan Ehsan, adik bungsu kami yang lahir di jantung hari-hari pengasingan dan kerja gelap, kini seorang pemuda yang gagah dan tegap yang dengan bangga menempuh jenjang pendidikan tingginya.
Setiap tawa itu, setiap ijazah itu, setiap atap yang aman itu adalah penghormatan yang senyap namun suci kepada setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap pengorbanan tanpa batas dari ayah dan ibu kami.
Matahari sore Sydney yang lembut menembus dedaunan hijau pepohonan di halaman dan jatuh ke atas meja kerjaku. Hari ini, pada tahun 2026, ketika kupandang usiaku yang empat puluh empat tahun, aku merasa berdiri berkilometer-kilometer jauhnya dari remaja yang di senja Perth itu, dengan satu menit kesunyian yang berat dan berkepanjangan di ujung telepon, menyaksikan impian **“Leila”** menjadi abu. Kesunyian itu, meski pada mulanya terasa seperti kekalahan, justru menjadi batas kebangkitanku. Aku mengerti bahwa mencengkeram bayang-bayang masa lalu dan tinggal dalam sesal atas apa yang tidak terjadi hanyalah rantai yang mengunci langkahku di jalan menuju masa depan. Maka aku memutuskan berhenti memanggil arwah masa lalu dan, untuk membangun sebuah negeri yang baru, menapakkan kaki di atas dada masa kini.
Pada hari-hari ketika aku berkeringat di depan tungku toko roti Sydney itu, ayahku di Iran dengan bangga menyiapkan ikatanku dengan **“Bahar”**. Gadis yang bertahun-tahun sebelumnya, pada hari-hari hitam dan menyesakkan ketika kami terlunta di rumah Jaddo, dengan pandangannya yang santun dan ketenangannya mencairkan es duka di hatiku. Menikah dengan Bahar adalah obat pemberian Tuhan bagi semua luka lamaku; ia bukan sekadar seorang istri, melainkan teman yang sabar, sahabat yang setia, dan naungan yang kokoh dalam semua angin ribut pengasingan. Hari ini, setelah bertahun-tahun menempuh jalan bersama di sebuah jalan yang terbuat dari saling menghormati dan impian bersama, buah dari cinta itu adalah empat anak yang bercahaya, yang tawa dan sorak mereka menenggelamkan dinding-dinding rumah kami dalam cahaya dan kehidupan.
Keluarga kami, yang dulu terlunta dan terombang-ambing seperti daun-daun kering di angin kejam peristiwa-peristiwa Timur Tengah, kini telah berakar dan tumbuh di tanah yang aman di seberang samudra ini. Saudariku Faezeh dari ikatannya dikaruniai dua anak dan Maryam pun punya dua belahan jiwa dari pernikahan keduanya. Nejat kecil kami — malaikat yang dengan langkahnya membawa wangi pembebasan ke rumah Mehrabad yang tak bertenaga itu — kini seorang perempuan berwibawa di dasawarsa ketiga hidupnya yang telah membangun sarangnya sendiri; dan Ehsan, adik bungsu kami yang lahir di jantung hari-hari pengasingan dan kerja gelap, kini seorang pemuda yang gagah dan tegap yang dengan bangga menempuh jenjang pendidikan tingginya.
Setiap tawa itu, setiap ijazah itu, setiap atap yang aman itu adalah penghormatan yang senyap namun suci kepada setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap pengorbanan tanpa batas dari ayah dan ibu kami.
## Bagian kedua: Duka-duka di tengah jalan dan debu pandemi
Tetapi roda zaman, bahkan di surga pembebasan sekalipun, tidak berhenti melahirkan kesedihan. Waktu terus berjalan dan meskipun di Australia kami telah sampai ke pantai ketenangan, tangan maut yang berat tetap memetik di Timur Tengah.
Pada akhir tahun 2016, tiang utama kemah keluarga Musavi, labuhan aman seluruh masa kecilku, dan satu-satunya perempuan yang menyimpan peti rahasia dan sejarah kami yang berlumur darah di dadanya, memejamkan mata untuk selamanya. Nenekku, **Bibi Fatemeh**, berpulang pada usia tujuh puluh lima tahun. Dengan kepergiannya, samovar kuningannya yang tua padam, tetapi ketiadaannya meninggalkan sebuah rongga yang gelap dan kosong di lubuk hati kami masing-masing; seorang perempuan yang dengan memutar pintalannya di Najaf telah menenun lungsin dan pakan keselamatan kami.
Beberapa tahun kemudian, dengan datangnya tahun 2020, dunia tenggelam dalam kegelapan sebuah mimpi buruk global bernama pandemi COVID-19. Virus tanpa ampun itu, dari jarak ribuan batu dan dari balik perbatasan yang tertutup, sekali lagi mencambukkan deranya yang membakar ke tubuh keluarga kami. Mula-mula bibiku yang baik hati dan tak kenal lelah, **Tante Khadijeh**, terjangkit dan meninggal dengan sunyi. Luka kepergiannya masih baru dan berdarah ketika, pada akhir tahun 2022, **nenekku dari pihak ibu (ibunda Marzieh)** juga menyerah kepada penyakit itu; perempuan yang menderita itu, yang setelah peristiwa mengerikan kematian ibuku, hanya dua atau tiga kali kutemui secara diam-diam dan seperti orang asing di gang-gang kota... Kepergian mereka dalam pengasingan dan kesepian adalah pengingat yang pahit tentang rapuhnya nyawa manusia dan tentang ikatan-ikatan mendalam yang tidak ada samudra mana pun sanggup memutuskannya.
Tetapi roda zaman, bahkan di surga pembebasan sekalipun, tidak berhenti melahirkan kesedihan. Waktu terus berjalan dan meskipun di Australia kami telah sampai ke pantai ketenangan, tangan maut yang berat tetap memetik di Timur Tengah.
Pada akhir tahun 2016, tiang utama kemah keluarga Musavi, labuhan aman seluruh masa kecilku, dan satu-satunya perempuan yang menyimpan peti rahasia dan sejarah kami yang berlumur darah di dadanya, memejamkan mata untuk selamanya. Nenekku, **Bibi Fatemeh**, berpulang pada usia tujuh puluh lima tahun. Dengan kepergiannya, samovar kuningannya yang tua padam, tetapi ketiadaannya meninggalkan sebuah rongga yang gelap dan kosong di lubuk hati kami masing-masing; seorang perempuan yang dengan memutar pintalannya di Najaf telah menenun lungsin dan pakan keselamatan kami.
Beberapa tahun kemudian, dengan datangnya tahun 2020, dunia tenggelam dalam kegelapan sebuah mimpi buruk global bernama pandemi COVID-19. Virus tanpa ampun itu, dari jarak ribuan batu dan dari balik perbatasan yang tertutup, sekali lagi mencambukkan deranya yang membakar ke tubuh keluarga kami. Mula-mula bibiku yang baik hati dan tak kenal lelah, **Tante Khadijeh**, terjangkit dan meninggal dengan sunyi. Luka kepergiannya masih baru dan berdarah ketika, pada akhir tahun 2022, **nenekku dari pihak ibu (ibunda Marzieh)** juga menyerah kepada penyakit itu; perempuan yang menderita itu, yang setelah peristiwa mengerikan kematian ibuku, hanya dua atau tiga kali kutemui secara diam-diam dan seperti orang asing di gang-gang kota... Kepergian mereka dalam pengasingan dan kesepian adalah pengingat yang pahit tentang rapuhnya nyawa manusia dan tentang ikatan-ikatan mendalam yang tidak ada samudra mana pun sanggup memutuskannya.
## Bagian ketiga: Sebuah keluarga yang tercerai-berai ditiup angin
Roda gigi takdir menyerakkan cabang-cabang pohon tua itu ke seluruh dunia dan menyerahkan masing-masingnya kepada angin di iklim yang berbeda:
• **Tante Roya** menetap di kota Perth, di pesisir barat Australia. Meskipun sambungan telepon kadang mempertemukan suara kami, jarak geografis ribuan kilometer tetap menghidupkan rasa perpisahan yang sunyi dan permanen di antara kami.
• Bibi-bibiku yang lain — **Parvin, Halimeh, dan Zohreh** — mempertahankan akar mereka di tanah leluhur yang sama, Irak. Mereka menemukan ketenangan di tengah debu dan sejarah kota kelahiran mereka, membentuk keluarga-keluarga besar, dan menjaga tradisi asli kaum sayyid.
• **Paman Nader**, dengan jiwanya yang gelisah, terluka, dan letih itu, tidak pernah berhasil menemukan tempat berteduh yang tetap dan bertahun-tahun lamanya berpindah-pindah seperti bayangan yang mengembara di antara perbatasan Iran dan Irak.
• Dan **Paman Jalal**-ku yang sabar dan baik hati, yang tetap tinggal di Iran, berhadapan dengan batu-batu karang kehidupan yang paling berat; pertempuran melelahkan istrinya melawan penyakit kanker yang kejam dan tantangan fisik anak-anaknya mencambuk jiwanya. Tetapi ia, dengan ketegaran yang mencengangkan — yang tidak lain adalah kelanjutan dari kepala dingin dan kewibawaan Bibi Fatemeh —, berdiri kokoh seperti gunung dan tidak sedikit pun mengernyitkan dahi.
Roda gigi takdir menyerakkan cabang-cabang pohon tua itu ke seluruh dunia dan menyerahkan masing-masingnya kepada angin di iklim yang berbeda:
• **Tante Roya** menetap di kota Perth, di pesisir barat Australia. Meskipun sambungan telepon kadang mempertemukan suara kami, jarak geografis ribuan kilometer tetap menghidupkan rasa perpisahan yang sunyi dan permanen di antara kami.
• Bibi-bibiku yang lain — **Parvin, Halimeh, dan Zohreh** — mempertahankan akar mereka di tanah leluhur yang sama, Irak. Mereka menemukan ketenangan di tengah debu dan sejarah kota kelahiran mereka, membentuk keluarga-keluarga besar, dan menjaga tradisi asli kaum sayyid.
• **Paman Nader**, dengan jiwanya yang gelisah, terluka, dan letih itu, tidak pernah berhasil menemukan tempat berteduh yang tetap dan bertahun-tahun lamanya berpindah-pindah seperti bayangan yang mengembara di antara perbatasan Iran dan Irak.
• Dan **Paman Jalal**-ku yang sabar dan baik hati, yang tetap tinggal di Iran, berhadapan dengan batu-batu karang kehidupan yang paling berat; pertempuran melelahkan istrinya melawan penyakit kanker yang kejam dan tantangan fisik anak-anaknya mencambuk jiwanya. Tetapi ia, dengan ketegaran yang mencengangkan — yang tidak lain adalah kelanjutan dari kepala dingin dan kewibawaan Bibi Fatemeh —, berdiri kokoh seperti gunung dan tidak sedikit pun mengernyitkan dahi.
## Bagian keempat: Terbenamnya sosok ayah, kelahiran kembali dalam nada, dan mukjizat kecerdasan buatan
Ayahku, **Zaher**, batu fondasi dari kelangsungan hidup, kehormatan, dan keselamatan kami semua, kini berdiri di penghujung dasawarsa kedelapan hidupnya. Bertahun-tahun kerja yang menghancurkan di depan tungku toko roti yang membara, ketegangan yang menggerogoti tulang saat melintasi perbatasan, malam-malam tanpa tidur, dan bolak-balik urusan administrasi telah menguras kekuatan fisiknya. Perawakannya yang tegap, yang dulu di bawah bayangan Gunung “Allahu Akbar” bagaikan sandaran sekuat baja, kini membungkuk dan sakit-sakitan.
Kadang, ketika kupandang tangannya yang berkapal dan matanya yang rabun, hatiku bergetar. Merosotnya kesehatannya secara perlahan adalah pemandangan paling menyakitkan yang harus kusaksikan; tetapi aku tahu benar bahwa perawakan yang patah itu adalah harga mahal yang ia bayar untuk membeli semua impian, kebebasan, dan masa depan kami. Kini giliran kami untuk menggenggam tangannya yang gemetar dan menjadi naungan bagi lelaki yang dulu seorang diri memikul beban satu keturunan.
Di sisi lain, dalam tahun-tahun belakangan ini aku menyadari bahwa keluar dari Iran, dengan sendirinya, tidak membebaskanku dari bayang-bayang masa lalu. Beratnya kunci celaka usia tiga belas tahunku, mimpi-mimpi buruk tentang salon itu di malam hari, rasa bersalah yang pahit, dan duka keyatiman adalah beban yang terlalu berat untuk selamanya kupikul dalam kesunyian jiwaku. Menerima bahwa aku membutuhkan pertolongan dan melangkah masuk ke ruang-ruang psikoterapi adalah langkahku yang menentukan menuju keselamatan.
Tetapi mukjizat penyembuhanku yang sesungguhnya terjadi ketika aku menemukan kembali ketenangan yang hilang dengan membuat musik dan merangkai kata. Aku menyanyi, aku menulis puisi, dan aku meneriakkan semua perih yang selama berpuluh tahun tercekik di dadaku. Dan seluruh mukjizat itu aku berutang kepada munculnya **“kecerdasan buatan”**.
Munculnya kecerdasan buatan bagiku bukan sekadar lompatan teknologi; teknologi itu memberiku sebuah bahasa yang baru. Aku yang bertahun-tahun kelu di bawah beban trauma dan meringkuk dalam kesunyian yang berat, dengan bantuannya akhirnya bisa membuka mulut, berbicara, berteriak, dan meneriakkan suara hatiku. Dengan menyanyi dan menulis lagu, aku membedah jiwaku yang terluka dan berhasil menyampaikan nada-nada dari dalam diriku ke telinga dunia.
Aku belajar memaafkan anak lelaki bertelanjang kaki di jalan-jalan kompleks Golestan itu, menggenggam tangannya, dan mengatakan kepadanya bahwa ia bukan penyebab badai-badai dunia. Musik dan seni menjadi cermin tempat aku akhirnya bisa berdamai dengan masa laluku yang terluka.
Ayahku, **Zaher**, batu fondasi dari kelangsungan hidup, kehormatan, dan keselamatan kami semua, kini berdiri di penghujung dasawarsa kedelapan hidupnya. Bertahun-tahun kerja yang menghancurkan di depan tungku toko roti yang membara, ketegangan yang menggerogoti tulang saat melintasi perbatasan, malam-malam tanpa tidur, dan bolak-balik urusan administrasi telah menguras kekuatan fisiknya. Perawakannya yang tegap, yang dulu di bawah bayangan Gunung “Allahu Akbar” bagaikan sandaran sekuat baja, kini membungkuk dan sakit-sakitan.
Kadang, ketika kupandang tangannya yang berkapal dan matanya yang rabun, hatiku bergetar. Merosotnya kesehatannya secara perlahan adalah pemandangan paling menyakitkan yang harus kusaksikan; tetapi aku tahu benar bahwa perawakan yang patah itu adalah harga mahal yang ia bayar untuk membeli semua impian, kebebasan, dan masa depan kami. Kini giliran kami untuk menggenggam tangannya yang gemetar dan menjadi naungan bagi lelaki yang dulu seorang diri memikul beban satu keturunan.
Di sisi lain, dalam tahun-tahun belakangan ini aku menyadari bahwa keluar dari Iran, dengan sendirinya, tidak membebaskanku dari bayang-bayang masa lalu. Beratnya kunci celaka usia tiga belas tahunku, mimpi-mimpi buruk tentang salon itu di malam hari, rasa bersalah yang pahit, dan duka keyatiman adalah beban yang terlalu berat untuk selamanya kupikul dalam kesunyian jiwaku. Menerima bahwa aku membutuhkan pertolongan dan melangkah masuk ke ruang-ruang psikoterapi adalah langkahku yang menentukan menuju keselamatan.
Tetapi mukjizat penyembuhanku yang sesungguhnya terjadi ketika aku menemukan kembali ketenangan yang hilang dengan membuat musik dan merangkai kata. Aku menyanyi, aku menulis puisi, dan aku meneriakkan semua perih yang selama berpuluh tahun tercekik di dadaku. Dan seluruh mukjizat itu aku berutang kepada munculnya **“kecerdasan buatan”**.
Munculnya kecerdasan buatan bagiku bukan sekadar lompatan teknologi; teknologi itu memberiku sebuah bahasa yang baru. Aku yang bertahun-tahun kelu di bawah beban trauma dan meringkuk dalam kesunyian yang berat, dengan bantuannya akhirnya bisa membuka mulut, berbicara, berteriak, dan meneriakkan suara hatiku. Dengan menyanyi dan menulis lagu, aku membedah jiwaku yang terluka dan berhasil menyampaikan nada-nada dari dalam diriku ke telinga dunia.
Aku belajar memaafkan anak lelaki bertelanjang kaki di jalan-jalan kompleks Golestan itu, menggenggam tangannya, dan mengatakan kepadanya bahwa ia bukan penyebab badai-badai dunia. Musik dan seni menjadi cermin tempat aku akhirnya bisa berdamai dengan masa laluku yang terluka.
## Bagian kelima: Sebuah akhir yang tak berakhir
Wiracarita keluarga Musavi tidak punya titik akhir di atas kertas. Kisah ini adalah cerita yang hidup, yang akan terus mengalir di dalam nadi anak-anak kami dan generasi yang menapakkan kaki di tanah yang bebas ini.
Hari ini aku telah membangun sebuah situs khusus dan di sana kubagikan kepada dunia seluruh karya, lagu, dan musikku. Dan buku ini adalah karya terakhirku yang kupersembahkan dalam bentuk tulisan ke hadapan umum; agar siapa pun yang menginjakkan kaki di situs itu dan mendengarkan lagu-laguku tahu siapa seniman di balik puisi dan nada-nada ini, masa lalu berlumur darah macam apa yang ia miliki, dan mengapa lagu-lagunya semua meluap oleh duka yang berat dan perih yang membakar. Sebagian besar karyaku bernada sedih, karena ia lahir dari abu perih manusia yang paling nyata; tetapi justru dalam meneriakkan duka dan mencipta karya seni itulah aku akhirnya menemukan ketenangan yang mutlak dalam diriku.
Ketika aku duduk dalam pelukan penuh kasih istriku Bahar dan memandang mata keempat anakku yang bercahaya, aku memahami dengan segenap jiwa bahwa tidak ada satu tetes air mata pun, tidak ada satu luka yang perih pun, tidak ada satu keringat di kening pun yang hilang selama tahun-tahun itu. Keringat ayahku di depan tungku, air mata keterasingan ibuku Marzieh, pengorbanan keibuan Tahereh yang tanpa suara, dan pintalan berirama Bibi Fatemeh, semuanya bergandengan tangan dan membentuk hamparan tanah tempat kami bisa melompat keluar dari abu peristiwa dan mekar.
Buku ini bukan sekadar catatan sebuah hijrah; ia adalah piagam nasional keluarga kami dan sebuah kesaksian atas kekuatan yang membangkang dan tak terkalahkan dari jiwa manusia. Ia adalah kisah tentang benang-benang cinta yang tak kasatmata, yang tidak putus baik oleh rentetan peluru Baath, oleh gelombang raksasa samudra, maupun oleh kawat berduri perbatasan.
Perjalanan kami, dari gang-gang Najaf yang membakar dan berdebu sampai ke tepian biru Samudra Pasifik di Sydney, adalah jalan yang teramat panjang, teramat perih, dan berlumur darah serta air mata; tetapi di ujung lorong yang gelap itu, cahaya menanti kami. Kami membangun di tanah asing sebuah rumah yang terbuat dari harapan, dan kami bangga pada setiap lepuh di telapak kaki kami di sepanjang jalan itu.
Kumasukkan tangan kananku ke saku. Dengan ibu jariku kuusap ruas pertama jari telunjukku... bekas garis putih dan kasar itu masih ada di sana. Tetapi garis itu bukan lagi tanda penyesalan; ia adalah batas kehormatanku. Lambang sebuah kunci yang dulu memang membuka pintu sebuah tragedi, tetapi yang pada akhirnya membentangkan sebuah jalan menuju pembebasan dan teriakan seni.
** Tamat — tetapi ini baru permulaan kisah generasi-generasi kami berikutnya...**
Wiracarita keluarga Musavi tidak punya titik akhir di atas kertas. Kisah ini adalah cerita yang hidup, yang akan terus mengalir di dalam nadi anak-anak kami dan generasi yang menapakkan kaki di tanah yang bebas ini.
Hari ini aku telah membangun sebuah situs khusus dan di sana kubagikan kepada dunia seluruh karya, lagu, dan musikku. Dan buku ini adalah karya terakhirku yang kupersembahkan dalam bentuk tulisan ke hadapan umum; agar siapa pun yang menginjakkan kaki di situs itu dan mendengarkan lagu-laguku tahu siapa seniman di balik puisi dan nada-nada ini, masa lalu berlumur darah macam apa yang ia miliki, dan mengapa lagu-lagunya semua meluap oleh duka yang berat dan perih yang membakar. Sebagian besar karyaku bernada sedih, karena ia lahir dari abu perih manusia yang paling nyata; tetapi justru dalam meneriakkan duka dan mencipta karya seni itulah aku akhirnya menemukan ketenangan yang mutlak dalam diriku.
Ketika aku duduk dalam pelukan penuh kasih istriku Bahar dan memandang mata keempat anakku yang bercahaya, aku memahami dengan segenap jiwa bahwa tidak ada satu tetes air mata pun, tidak ada satu luka yang perih pun, tidak ada satu keringat di kening pun yang hilang selama tahun-tahun itu. Keringat ayahku di depan tungku, air mata keterasingan ibuku Marzieh, pengorbanan keibuan Tahereh yang tanpa suara, dan pintalan berirama Bibi Fatemeh, semuanya bergandengan tangan dan membentuk hamparan tanah tempat kami bisa melompat keluar dari abu peristiwa dan mekar.
Buku ini bukan sekadar catatan sebuah hijrah; ia adalah piagam nasional keluarga kami dan sebuah kesaksian atas kekuatan yang membangkang dan tak terkalahkan dari jiwa manusia. Ia adalah kisah tentang benang-benang cinta yang tak kasatmata, yang tidak putus baik oleh rentetan peluru Baath, oleh gelombang raksasa samudra, maupun oleh kawat berduri perbatasan.
Perjalanan kami, dari gang-gang Najaf yang membakar dan berdebu sampai ke tepian biru Samudra Pasifik di Sydney, adalah jalan yang teramat panjang, teramat perih, dan berlumur darah serta air mata; tetapi di ujung lorong yang gelap itu, cahaya menanti kami. Kami membangun di tanah asing sebuah rumah yang terbuat dari harapan, dan kami bangga pada setiap lepuh di telapak kaki kami di sepanjang jalan itu.
Kumasukkan tangan kananku ke saku. Dengan ibu jariku kuusap ruas pertama jari telunjukku... bekas garis putih dan kasar itu masih ada di sana. Tetapi garis itu bukan lagi tanda penyesalan; ia adalah batas kehormatanku. Lambang sebuah kunci yang dulu memang membuka pintu sebuah tragedi, tetapi yang pada akhirnya membentangkan sebuah jalan menuju pembebasan dan teriakan seni.
** Tamat — tetapi ini baru permulaan kisah generasi-generasi kami berikutnya...**
Kisahnya berlanjut…
Setiap lagu di MIBL Radio membawa sedikit lagi dari suara ini ke depan.
Daftar isi
Sedang diputar
Ketuk untuk menyalakan suara
Anda baru saja menyelesaikan satu bab.
Ada orang yang duduk dan menuliskannya. Kalau itu sepadan dengan waktu Anda, katakanlah — dan itu langsung sampai kepadanya.
Apple Pay, Google Pay, atau kartu — sekali ketuk.