✦
داستان بنیان گذار - جلد دوم
❦ Tamat
Kisahnya berlanjut…
Setiap lagu di MIBL Radio membawa sedikit lagi dari suara ini ke depan.
Buku ini ditulis dan diterbitkan di sini — buku Anda juga bisa.
Terbitkan buku Anda sendiriKata Pengantar: Akar-akar di tanah Najaf
Sejak dahulu dikatakan bahwa benang tidak berdusta.
Jauh sebelum samudra yang mengembara, perahu-perahu yang pecah, dan perbatasan berkawat mengikat takdir kami ke tanah Australia, semuanya bermula di halaman kecil beralas tanah sebuah rumah di pinggiran kota kuno Najaf. Seorang perempuan berwibawa dan tegar bernama Bibi Fatemeh berlutut di sana setiap hari sebelum fajar, sebelum suara muazin pertama naik dari kubah emas makam suci, dan memutar jemarinya yang letih di atas pintalan tradisional — masuleh itu.
Gerak berirama pintalan itu bukan sekadar cara mencari nafkah dan memutar roda kehidupan seorang perempuan yang sendirian dan tanpa pelindung di jantung kemiskinan dan kesesakan Irak; gerak itu adalah detak jantung yang tak putus dari sebuah keturunan yang ditakdirkan berkali-kali hancur di jalan-jalan sejarah yang penuh trauma, lahir kembali, dan keluar hidup-hidup dari abu peperangan dan penawanan.
Buku ini adalah kisah yang sepenuhnya nyata, yang ditulis dengan struktur dan pengolahan sinematik (Cinematic Non-Fiction); kisah tentang masa ketika “Zaher” (ayahku) masih seorang pemuda pendiam dan penuh pikiran di sebuah apotek kecil di Najaf; masa ketika kunci celaka usia tiga belas tahunku belum lagi ditempa dan akar-akar keluarga Musavi masih bernapas di tanah Najaf.
________________________________________
> 📌 Catatan penulis mengenai nama dan keterangan: dalam karya ini, demi menjaga hak moral, menghormati ruang pribadi, dan karena pertimbangan hukum menyangkut orang-orang yang bersangkutan, nama beberapa tokoh dan nama beberapa tempat telah diubah atau ditulis dengan nama samaran. Apa yang Anda baca di halaman-halaman ini adalah piagam telanjang, jujur, dan sejati tentang hidup kami, yang dipoles oleh sihir pena dan oleh pengolahan sebuah cerita.
________________________________________
> © 2026 Seluruh hak cipta dilindungi. Ditulis oleh Mohsen Al Moussawi. Segala bentuk penyalinan, penerbitan ulang, penyaduran, adaptasi sinematik atau pementasan, produksi karya audio, siniar, penciptaan ulang dengan kecerdasan buatan, maupun penerjemahan ke bahasa lain tanpa izin tertulis dan resmi dari penulis adalah terlarang secara agama maupun hukum, dan penulis berhak menempuh jalur hukum, baik nasional maupun internasional.
Jauh sebelum samudra yang mengembara, perahu-perahu yang pecah, dan perbatasan berkawat mengikat takdir kami ke tanah Australia, semuanya bermula di halaman kecil beralas tanah sebuah rumah di pinggiran kota kuno Najaf. Seorang perempuan berwibawa dan tegar bernama Bibi Fatemeh berlutut di sana setiap hari sebelum fajar, sebelum suara muazin pertama naik dari kubah emas makam suci, dan memutar jemarinya yang letih di atas pintalan tradisional — masuleh itu.
Gerak berirama pintalan itu bukan sekadar cara mencari nafkah dan memutar roda kehidupan seorang perempuan yang sendirian dan tanpa pelindung di jantung kemiskinan dan kesesakan Irak; gerak itu adalah detak jantung yang tak putus dari sebuah keturunan yang ditakdirkan berkali-kali hancur di jalan-jalan sejarah yang penuh trauma, lahir kembali, dan keluar hidup-hidup dari abu peperangan dan penawanan.
Buku ini adalah kisah yang sepenuhnya nyata, yang ditulis dengan struktur dan pengolahan sinematik (Cinematic Non-Fiction); kisah tentang masa ketika “Zaher” (ayahku) masih seorang pemuda pendiam dan penuh pikiran di sebuah apotek kecil di Najaf; masa ketika kunci celaka usia tiga belas tahunku belum lagi ditempa dan akar-akar keluarga Musavi masih bernapas di tanah Najaf.
________________________________________
> 📌 Catatan penulis mengenai nama dan keterangan: dalam karya ini, demi menjaga hak moral, menghormati ruang pribadi, dan karena pertimbangan hukum menyangkut orang-orang yang bersangkutan, nama beberapa tokoh dan nama beberapa tempat telah diubah atau ditulis dengan nama samaran. Apa yang Anda baca di halaman-halaman ini adalah piagam telanjang, jujur, dan sejati tentang hidup kami, yang dipoles oleh sihir pena dan oleh pengolahan sebuah cerita.
________________________________________
> © 2026 Seluruh hak cipta dilindungi. Ditulis oleh Mohsen Al Moussawi. Segala bentuk penyalinan, penerbitan ulang, penyaduran, adaptasi sinematik atau pementasan, produksi karya audio, siniar, penciptaan ulang dengan kecerdasan buatan, maupun penerjemahan ke bahasa lain tanpa izin tertulis dan resmi dari penulis adalah terlarang secara agama maupun hukum, dan penulis berhak menempuh jalur hukum, baik nasional maupun internasional.
Bab pertama: Rumah kaum sayyid dan percikan-percikan di penjara bawah tanah
## 1. Wangi khumus dan zakat di rumah kaum sayyid
Gang-gang Najaf yang berdebu dan berkelok terbakar di bawah matahari gurun yang menyengat, tetapi di ujung salah satu gang buntu kota yang tenang itu berdiri sebuah rumah yang naungannya berbeda dari seluruh kampung.
Dinding tanah liat berkapur putih rumah itu adalah tempat berlindung sebuah keluarga dari keturunan suci kaum sayyid. Di Najaf pada masa itu, penduduk kampung yang taat dan beriman menaruh hormat yang hampir seperti pemuliaan kepada keluarga Musavi. Bibi Fatemeh — perempuan berwibawa yang bertahun-tahun sebelumnya kehilangan suaminya yang masih muda, “Mohsen” — memutar roda kehidupan itu bersama suaminya yang penuh perhatian, Sedmir, saudara mendiang suaminya, yang dengan kejantanan yang murni manusiawi telah menjadi naungan bagi anak-anak yatim itu.
Rumah tempat mereka bernapas adalah pemberian dan berkah dari meja penduduk kampung. Orang-orang beriman mempersembahkan khumus dan zakat harta mereka dengan bangga dan rendah hati kepada keluarga sayyid itu, agar berkah doa Bibi Fatemeh dan keturunannya yang suci menerangi kampung mereka. Di halaman kecil rumah itu, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, terbentang hidangan yang rotinya berasal dari penghormatan orang-orang dan gulainya dari kecintaan penduduk negeri itu. Dan Bibi Fatemeh, dalam remang fajar, memutar masuleh dan pintalan tradisionalnya, agar di samping kasih sayang masyarakat itu ia tetap menjaga kehormatan dan kemandirian keturunannya.
Putra sulung rumah itu, Zaher, adalah pemuda yang pendiam, penuh pikiran, dan bersih pandangannya, yang bekerja di apotek kampung. Semua orang mengenalnya karena kesantunan dan pengetahuannya. Tetapi di balik wajah Zaher yang tenang dan berkepala dingin itu berdetak sebuah jiwa yang gelisah dan haus mengenal dunia luar.
[[break]]
## 2. Gelora jalan raya; dari padang Syam sampai perbatasan Istanbul
Berbeda dari sangkaan semua orang yang melihat Zaher sebagai pemuda rumahan, ia sesungguhnya pencinta perjalanan dan jalan raya tanpa batas. Masa mudanya terbakar oleh dahaga melihat cakrawala yang jauh. Setiap kali ada kesempatan dan ia berhasil menabung beberapa dinar, ia mengikat buntalan kecilnya untuk pergi merasakan keterasingan dan keindahan kota-kota lain.
Magnet perjalanan yang terbesar bagi Zaher mula-mula adalah Syam dan kota kuno Damaskus. Berhari-hari ia berjalan di antara pasar-pasar beratap Suriah, di dekat makam-makam suci, dan di antara wangi jeruk serta melati Damaskus, berbincang dengan orang-orang asing, dan mendorong cakrawala pikirannya jauh melampaui dinding-dinding Najaf.
Tetapi selera menjelajah dunianya tidak berhenti di Suriah; langkah berikutnya adalah perjalanan ke jantung sebuah kekaisaran tua, yaitu Turki. Zaher menempuh jalan-jalan di utara. Menyaksikan arsitektur Istanbul, ladang-ladang hijau, dan drama pertemuan Timur dan Barat di Turki mengguncang jiwa pemuda Najaf itu. Ia melihat dunia lebih luas daripada kesesakan Irak dan, pada setiap langkah, merasakan kebebasan serta nikmatnya menghirup udara asing.
Tetapi tidak seorang pun di rumah tahu bahwa perjalanan manis ke Turki itu akan menjadi pembuka bagi salah satu tragedi paling mengerikan dalam hidupnya...
[[break]]
## 3. Penghadangan saat pulang; jaring pemburu kaum Baath
Pada senja sebuah hari yang berdebu, Zaher, setelah berpekan-pekan menjelajah jalan-jalan Suriah dan Turki dengan buntalan penuh kenangan dan benak yang sarat gambaran dunia yang bebas, menginjakkan kaki di tanah Irak untuk kembali ke pelukan rumah Bibi Fatemeh.
Ia belum lagi beberapa kilometer menjauh dari pos pemeriksaan perbatasan ketika tiba-tiba dua kendaraan militer rezim Baath, dengan gulungan debu dan bunyi rem yang mengerikan, menghadang jalannya. Para petugas Baath turun dari mobil dengan sepatu bot yang berat dan wajah tanpa belas kasihan, lalu mengepung Zaher yang masih muda itu.
Tuduhan awalnya sederhana namun sekaligus mematikan: “tersangka pengelakan wajib militer!”
Kaum Baath mengira Zaher adalah pemuda Irak yang melarikan diri ke Turki untuk mengelak dari dinas di tentara Saddam. Zaher dengan penuh ketenangan dan kepala dingin mengeluarkan dokumen identitasnya untuk membuktikan bahwa tidak ada masalah; tetapi pemeriksaan dokumen yang lebih teliti justru membongkar rahasia yang jauh lebih berat bagi para petugas rezim yang penuh curiga itu: asal-usul dan akar Iran keluarga Musavi!
Begitu para petugas mengetahui bahwa di nadi pemuda sayyid ini mengalir darah Iran, nada dan sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Menurut undang-undang rasialis rezim Baath, wajib militer terlarang bagi warga negara dan penduduk asing; maka tuduhan “mengelak dari dinas” gugur, tetapi sebuah bahaya yang jauh lebih hitam menggantikannya: tuduhan mata-mata dan keasingan!
Mereka memperlakukan Zaher bukan sebagai seorang warga negara, melainkan sebagai “orang Irak berdarah Iran yang mencurigakan” yang telah bepergian ke Turki dan Suriah; mereka menghujaninya dengan cambuk dan makian dan, tanpa alasan hukum atau surat perintah pengadilan apa pun, melemparkannya ke belakang sebuah truk logam dan membawanya ke salah satu penjara Baath yang paling menakutkan.
[[break]]
## 4. Enam bulan di neraka dendam dan rasisme
Zaher muda tiba-tiba terlempar dari pelukan penuh kasih rumah kaum sayyid dan wangi melati Damaskus ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang gelap, lembap, dan menyesakkan. Penjara bawah tanah yang menelannya selama enam bulan penuh.
“Bertahun-tahun kemudian, di rumah kecil dan sederhana yang disewa ayahku Zaher di bagian barat Sydney, ia telah menjadi seorang lelaki yang sakit-sakitan, letih, dan berjiwa amat rapuh, yang beban berat pengasingan dan pengembaraan telah merampas perawakan dan kekuatannya. Di sudut rumahnya yang sunyi dan sederhana, ketika ia menyalakan rokok dengan tangan gemetar dan menatap satu titik dengan keluhan yang begitu dalam sampai mengguncang setiap serat dirinya, ia bercerita kepadaku, dengan suara yang patah dan setelah berpuluh tahun masih berbau luka, tentang enam bulan mimpi buruk penyiksaan dan rasisme di penjara-penjara bawah tanah Baath...”
Ia bercerita tentang penyiksaan tanpa henti. Tentang malam-malam ketika, dalam kegelapan mutlak sel, rintihan, jeritan di bawah siksaan, dan permohonan para tahanan yang tak berdosa bergulung di lorong-lorong batu penjara dan merampas tidurnya. Para antek Baath menyimpan dendam rasial tanpa batas terhadap orang-orang berdarah Iran. Setiap hari mereka menimpakan kepada Zaher, semata-mata karena darah dan asal-usulnya, siksaan dan penghinaan fisik maupun batin yang paling keras.
Setiap hari di penjara itu berlalu selama setahun. Zaher, pemuda perlente dan pencinta perjalanan yang sampai kemarin masih berjalan-jalan di bazar Istanbul, kini duduk di lantai lembap sebuah sel dengan tubuh yang terluka dan pakaian compang-camping, menjadi saksi kekejaman telanjang kekuasaan Saddam.
[[break]]
## 5. Percikan pelarian di jantung kegelapan
Selama enam bulan yang celaka itu, ketika Zaher terbaring di lantai penjara yang dingin dan mendengar ratapan para korban siksaan dari sel-sel di sebelahnya, terjadilah sebuah perubahan yang mendasar dalam jiwa dan batinnya.
Ia mengerti bahwa di tanah ini tidak lagi tersisa tempat bagi amanah, kehormatan, dan kehidupan orang-orang yang mulia. Ia mengerti bahwa keberadaan keluarganya di Najaf berdiri di atas gudang mesiu berisi dendam dan rasisme yang setiap saat bisa membakar rumah kaum sayyid itu.
Tepat pada salah satu malam hitam di penjara itu, ketika ia menengadahkan tangannya yang terluka ke langit-langit sel yang lembap sebagai tanda berdoa, berkilaulah di benaknya percikan pertama gagasan untuk melarikan diri dari Irak ke Iran.
Ia berjanji kepada dirinya sendiri: “Kalau aku keluar hidup-hidup dari neraka ini, aku tidak akan tinggal sedetik pun lagi di negeri ini. Aku harus menemukan jalan untuk melarikan diri ke Iran...”
Setelah enam bulan tanpa kabar, Bibi Fatemeh dan Sedmir, dengan menyuap dan memohon kepada para pejabat, berhasil menerima kembali tubuh Zaher yang setengah mati dan hancur itu dan membawanya pulang.
Zaher kembali ke rumah; tetapi pemuda yang keluar dari penjara itu bukan lagi orang yang dulu. Di matanya mengalir tatapan yang bulat, pahit, dan penuh rahasia. Ia telah menempa kunci pelarian di dalam hatinya, dan kini tibalah saatnya Bibi Fatemeh mengajukan rencana melamar Marzieh dari Iran...
Gang-gang Najaf yang berdebu dan berkelok terbakar di bawah matahari gurun yang menyengat, tetapi di ujung salah satu gang buntu kota yang tenang itu berdiri sebuah rumah yang naungannya berbeda dari seluruh kampung.
Dinding tanah liat berkapur putih rumah itu adalah tempat berlindung sebuah keluarga dari keturunan suci kaum sayyid. Di Najaf pada masa itu, penduduk kampung yang taat dan beriman menaruh hormat yang hampir seperti pemuliaan kepada keluarga Musavi. Bibi Fatemeh — perempuan berwibawa yang bertahun-tahun sebelumnya kehilangan suaminya yang masih muda, “Mohsen” — memutar roda kehidupan itu bersama suaminya yang penuh perhatian, Sedmir, saudara mendiang suaminya, yang dengan kejantanan yang murni manusiawi telah menjadi naungan bagi anak-anak yatim itu.
Rumah tempat mereka bernapas adalah pemberian dan berkah dari meja penduduk kampung. Orang-orang beriman mempersembahkan khumus dan zakat harta mereka dengan bangga dan rendah hati kepada keluarga sayyid itu, agar berkah doa Bibi Fatemeh dan keturunannya yang suci menerangi kampung mereka. Di halaman kecil rumah itu, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, terbentang hidangan yang rotinya berasal dari penghormatan orang-orang dan gulainya dari kecintaan penduduk negeri itu. Dan Bibi Fatemeh, dalam remang fajar, memutar masuleh dan pintalan tradisionalnya, agar di samping kasih sayang masyarakat itu ia tetap menjaga kehormatan dan kemandirian keturunannya.
Putra sulung rumah itu, Zaher, adalah pemuda yang pendiam, penuh pikiran, dan bersih pandangannya, yang bekerja di apotek kampung. Semua orang mengenalnya karena kesantunan dan pengetahuannya. Tetapi di balik wajah Zaher yang tenang dan berkepala dingin itu berdetak sebuah jiwa yang gelisah dan haus mengenal dunia luar.
[[break]]
## 2. Gelora jalan raya; dari padang Syam sampai perbatasan Istanbul
Berbeda dari sangkaan semua orang yang melihat Zaher sebagai pemuda rumahan, ia sesungguhnya pencinta perjalanan dan jalan raya tanpa batas. Masa mudanya terbakar oleh dahaga melihat cakrawala yang jauh. Setiap kali ada kesempatan dan ia berhasil menabung beberapa dinar, ia mengikat buntalan kecilnya untuk pergi merasakan keterasingan dan keindahan kota-kota lain.
Magnet perjalanan yang terbesar bagi Zaher mula-mula adalah Syam dan kota kuno Damaskus. Berhari-hari ia berjalan di antara pasar-pasar beratap Suriah, di dekat makam-makam suci, dan di antara wangi jeruk serta melati Damaskus, berbincang dengan orang-orang asing, dan mendorong cakrawala pikirannya jauh melampaui dinding-dinding Najaf.
Tetapi selera menjelajah dunianya tidak berhenti di Suriah; langkah berikutnya adalah perjalanan ke jantung sebuah kekaisaran tua, yaitu Turki. Zaher menempuh jalan-jalan di utara. Menyaksikan arsitektur Istanbul, ladang-ladang hijau, dan drama pertemuan Timur dan Barat di Turki mengguncang jiwa pemuda Najaf itu. Ia melihat dunia lebih luas daripada kesesakan Irak dan, pada setiap langkah, merasakan kebebasan serta nikmatnya menghirup udara asing.
Tetapi tidak seorang pun di rumah tahu bahwa perjalanan manis ke Turki itu akan menjadi pembuka bagi salah satu tragedi paling mengerikan dalam hidupnya...
[[break]]
## 3. Penghadangan saat pulang; jaring pemburu kaum Baath
Pada senja sebuah hari yang berdebu, Zaher, setelah berpekan-pekan menjelajah jalan-jalan Suriah dan Turki dengan buntalan penuh kenangan dan benak yang sarat gambaran dunia yang bebas, menginjakkan kaki di tanah Irak untuk kembali ke pelukan rumah Bibi Fatemeh.
Ia belum lagi beberapa kilometer menjauh dari pos pemeriksaan perbatasan ketika tiba-tiba dua kendaraan militer rezim Baath, dengan gulungan debu dan bunyi rem yang mengerikan, menghadang jalannya. Para petugas Baath turun dari mobil dengan sepatu bot yang berat dan wajah tanpa belas kasihan, lalu mengepung Zaher yang masih muda itu.
Tuduhan awalnya sederhana namun sekaligus mematikan: “tersangka pengelakan wajib militer!”
Kaum Baath mengira Zaher adalah pemuda Irak yang melarikan diri ke Turki untuk mengelak dari dinas di tentara Saddam. Zaher dengan penuh ketenangan dan kepala dingin mengeluarkan dokumen identitasnya untuk membuktikan bahwa tidak ada masalah; tetapi pemeriksaan dokumen yang lebih teliti justru membongkar rahasia yang jauh lebih berat bagi para petugas rezim yang penuh curiga itu: asal-usul dan akar Iran keluarga Musavi!
Begitu para petugas mengetahui bahwa di nadi pemuda sayyid ini mengalir darah Iran, nada dan sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Menurut undang-undang rasialis rezim Baath, wajib militer terlarang bagi warga negara dan penduduk asing; maka tuduhan “mengelak dari dinas” gugur, tetapi sebuah bahaya yang jauh lebih hitam menggantikannya: tuduhan mata-mata dan keasingan!
Mereka memperlakukan Zaher bukan sebagai seorang warga negara, melainkan sebagai “orang Irak berdarah Iran yang mencurigakan” yang telah bepergian ke Turki dan Suriah; mereka menghujaninya dengan cambuk dan makian dan, tanpa alasan hukum atau surat perintah pengadilan apa pun, melemparkannya ke belakang sebuah truk logam dan membawanya ke salah satu penjara Baath yang paling menakutkan.
[[break]]
## 4. Enam bulan di neraka dendam dan rasisme
Zaher muda tiba-tiba terlempar dari pelukan penuh kasih rumah kaum sayyid dan wangi melati Damaskus ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang gelap, lembap, dan menyesakkan. Penjara bawah tanah yang menelannya selama enam bulan penuh.
“Bertahun-tahun kemudian, di rumah kecil dan sederhana yang disewa ayahku Zaher di bagian barat Sydney, ia telah menjadi seorang lelaki yang sakit-sakitan, letih, dan berjiwa amat rapuh, yang beban berat pengasingan dan pengembaraan telah merampas perawakan dan kekuatannya. Di sudut rumahnya yang sunyi dan sederhana, ketika ia menyalakan rokok dengan tangan gemetar dan menatap satu titik dengan keluhan yang begitu dalam sampai mengguncang setiap serat dirinya, ia bercerita kepadaku, dengan suara yang patah dan setelah berpuluh tahun masih berbau luka, tentang enam bulan mimpi buruk penyiksaan dan rasisme di penjara-penjara bawah tanah Baath...”
Ia bercerita tentang penyiksaan tanpa henti. Tentang malam-malam ketika, dalam kegelapan mutlak sel, rintihan, jeritan di bawah siksaan, dan permohonan para tahanan yang tak berdosa bergulung di lorong-lorong batu penjara dan merampas tidurnya. Para antek Baath menyimpan dendam rasial tanpa batas terhadap orang-orang berdarah Iran. Setiap hari mereka menimpakan kepada Zaher, semata-mata karena darah dan asal-usulnya, siksaan dan penghinaan fisik maupun batin yang paling keras.
Setiap hari di penjara itu berlalu selama setahun. Zaher, pemuda perlente dan pencinta perjalanan yang sampai kemarin masih berjalan-jalan di bazar Istanbul, kini duduk di lantai lembap sebuah sel dengan tubuh yang terluka dan pakaian compang-camping, menjadi saksi kekejaman telanjang kekuasaan Saddam.
[[break]]
## 5. Percikan pelarian di jantung kegelapan
Selama enam bulan yang celaka itu, ketika Zaher terbaring di lantai penjara yang dingin dan mendengar ratapan para korban siksaan dari sel-sel di sebelahnya, terjadilah sebuah perubahan yang mendasar dalam jiwa dan batinnya.
Ia mengerti bahwa di tanah ini tidak lagi tersisa tempat bagi amanah, kehormatan, dan kehidupan orang-orang yang mulia. Ia mengerti bahwa keberadaan keluarganya di Najaf berdiri di atas gudang mesiu berisi dendam dan rasisme yang setiap saat bisa membakar rumah kaum sayyid itu.
Tepat pada salah satu malam hitam di penjara itu, ketika ia menengadahkan tangannya yang terluka ke langit-langit sel yang lembap sebagai tanda berdoa, berkilaulah di benaknya percikan pertama gagasan untuk melarikan diri dari Irak ke Iran.
Ia berjanji kepada dirinya sendiri: “Kalau aku keluar hidup-hidup dari neraka ini, aku tidak akan tinggal sedetik pun lagi di negeri ini. Aku harus menemukan jalan untuk melarikan diri ke Iran...”
Setelah enam bulan tanpa kabar, Bibi Fatemeh dan Sedmir, dengan menyuap dan memohon kepada para pejabat, berhasil menerima kembali tubuh Zaher yang setengah mati dan hancur itu dan membawanya pulang.
Zaher kembali ke rumah; tetapi pemuda yang keluar dari penjara itu bukan lagi orang yang dulu. Di matanya mengalir tatapan yang bulat, pahit, dan penuh rahasia. Ia telah menempa kunci pelarian di dalam hatinya, dan kini tibalah saatnya Bibi Fatemeh mengajukan rencana melamar Marzieh dari Iran...
Bab kedua: Koper cokelat dan ultimatum yang celaka
## 1. Impian seorang ibu di ambang badai
Hari-hari berlalu setelah Zaher dibebaskan dari enam bulan yang bagai mimpi buruk di penjara Baath. Meskipun luka fisik akibat siksaan perlahan sembuh, bayangan hitam dan menyesakkan kekuasaan Saddam semakin hari semakin berat menindih kota Najaf. Kabar tentang hilangnya para pemuda berdarah Iran secara mendadak dan interogasi di jalanan mengendap seperti debu yang celaka di semua gang.
Di tengah kecemasan yang pekat itu, Bibi Fatemeh — ibu besar keluarga yang sabar dan berwibawa — menancapkan pandangannya pada satu titik terang di cakrawala masa depan. Ia, yang bertahun-tahun memutar roda kehidupan anak-anaknya di pengasingan dengan memutar pintalan benang (masuleh), menyimpan sebuah cita-cita besar: menyaksikan putra sulungnya, Zaher, menikah dan berumah tangga.
Bibi Fatemeh tahu benar bahwa keadaan politik dan ekonomi Irak sedang menuju kehancuran. Ia percaya bahwa jika ia menyatukan tangan Zaher dengan tangan putri saudara lelakinya (Marzieh), yang tinggal bersama keluarganya di Iran, bukan hanya Zaher yang akan memperoleh kemapanan dan ketenangan, tetapi juga akan tercipta sebuah pangkalan yang aman dan bersifat keluarga di tanah Iran untuk hari-hari yang genting.
Zaher adalah pemuda yang tenang, pendiam, dan rendah hati, yang sepanjang hari bekerja di apotek kampung. Ketika Bibi Fatemeh mengutarakan soal lamaran kepada Marzieh, Zaher, dengan rasa malu yang jantan dan kesunyian yang penuh hormat, tidak membantah sama sekali dan menerima kehendak ibunya.
Akhirnya Bibi Fatemeh mengumpulkan keberanian; ia mengambil selembar kertas dan, dengan tangan yang penuh harapan, menulis surat tercatat kepada saudara lelakinya, Hossein, di Iran, dan mengajukan usul ikatan suci antara Zaher dan Marzieh.
[[break]]
## 2. Sebuah koper penuh cokelat dan foto-foto Marzieh
Penantian akan jawaban dari Iran menjadikan hari-hari di halaman kecil Najaf itu meluap oleh cemas dan harap. Bibi Fatemeh membaca doa dengan bibir yang komat-kamit sambil memutar masuleh-nya, dan para gadis di rumah itu — Zohreh, Halimeh, Roya, dan Parvin — berbisik-bisik tentang calon menantu keluarga.
Suatu sore, bel kayu halaman berbunyi dan sampailah sepucuk surat bersama sebuah paket dari Iran. Saudara lelaki Bibi Fatemeh telah menyetujui ikatan itu dengan sepenuh hati. Tetapi bersama surat itu dikirim pula sebuah koper perjalanan yang besar, yang menenggelamkan halaman rumah kaum sayyid itu dalam sukacita dan sorak: sebuah koper penuh cokelat yang lezat, kue-kue Iran, oleh-oleh yang harum, dan beberapa lembar foto Marzieh dengan cadar serta wajah yang santun dan tak berdosa.
Anak-anak dan para muda di rumah itu mengerumuni koper tersebut. Paman Jalal dengan kejenakaannya yang biasa membagikan cokelat kepada yang lain dan tawa bahagia memenuhi halaman. Foto-foto Marzieh beredar dari tangan ke tangan. Bibi Fatemeh, dengan air mata bahagia di matanya, menunjukkan foto itu kepada Zaher. Zaher menatap wajah suci calon istrinya dan sebuah senyum yang lembut dan malu-malu hinggap di bibirnya. Pada sore itu, wangi cokelat dan impian surgawi tentang masa depan membuat semua orang melupakan neraka kekuasaan Saddam selama beberapa jam.
Dengan sukacita dan harapan yang baru, Zaher menyematkan sebuah cincin perak di jari manis tangan kanannya, sebagai tanda pertunangan dan keterikatan.
[[break]]
## 3. Bisik-bisik di apotek dan penghadangan kaum Baath
Tetapi di bawah rezim yang menindas, takdir melemparkan bayangannya bahkan ke atas kebahagiaan.
Hari-hari berlalu dan Zaher seperti biasa sibuk di apotek meracik obat herbal dan menyerahkan obat kepada orang-orang sakit di kampung. Pada suatu hari yang panas, salah seorang pelanggan sekaligus teman lamanya memperhatikan cincin perak di tangan kanan Zaher. Temannya menjabat tangannya sambil tersenyum dan mengucapkan selamat.
Zaher, dengan segenap kesederhanaan, kesucian, dan ketulusan jiwanya, membuka rahasia hatinya dan berkata dengan bangga bahwa ia baru saja melamar sepupunya “Marzieh” di Iran dan sebentar lagi akan berangkat ke sana untuk berumah tangga.
Zaher tidak tahu bahwa di kota itu bahkan dinding tanah liat pun bertelinga, dan bahwa para pelapor rezim Baath berkeliaran di pasar dengan menyamar sebagai pembeli. Kabar tentang ikatan pemuda berdarah Iran itu dengan seorang gadis di Iran segera sampai ke telinga aparat keamanan dan polisi rahasia. Bagi rezim Saddam, yang baru saja memasuki fase ketegangan perbatasan yang tajam dan penindasan terhadap orang-orang Iran, hubungan apa pun dengan Iran dianggap sebagai mata-mata dan pengkhianatan.
Keesokan paginya, ketika Zaher berangkat ke tempat kerjanya, tiba-tiba sebuah kendaraan militer Baath mengerem di tepi jalan. Dua tentara bersenjata turun, melemparkan Zaher ke dalam mobil dengan paksa, dan menutup matanya.
[[break]]
## 4. Interogasi yang gelap dan ultimatum yang celaka
Zaher dibawa ke salah satu rumah tahanan keamanan di Najaf. Para pemeriksa Baath menekannya dengan nada kasar dan mengancam serta memukulinya. Mereka berusaha membuktikan bahwa ia hendak bergabung dengan tentara Iran atau menyampaikan informasi. Tetapi kepala dingin, kesantunan, dan kejujuran jawaban-jawaban Zaher, ditambah tidak adanya bukti apa pun, membuat mereka tidak berhasil menemukan identitas tersembunyi lain padanya.
Namun demikian, sebelum membebaskannya, komandan Baath maju dengan wajah tanpa belas kasihan dan memberikan ultimatum yang celaka kepada Zaher: “Kau bebas, tetapi ada satu syarat! Hari ini juga kau buang pikiran menikahi gadis Iran itu dari kepalamu dan kau tetap tinggal di Irak, atau dalam beberapa hari ke depan kau akan dibuang dan diusir selamanya dari negeri ini!”
Zaher yang setengah mati dan terluka kembali ke rumah. Ketika Bibi Fatemeh dan anggota keluarga yang lain melihat tubuhnya yang babak belur, rumah itu tenggelam dalam ratapan dan kecemasan. Zaher menceritakan interogasi dan ultimatum kaum Baath itu.
Bibi Fatemeh runtuh karena duka dan sakit, sambil menggumam kepada dirinya sendiri: “Andai saja aku tidak pernah melamar Marzieh, anakku tidak akan sampai seperti ini...”
Tetapi Zaher telah mengambil keputusannya. Ia menoleh kepada Bibi Fatemeh dan berkata dengan tegas: “Ibu, aku tidak akan tinggal di tanah ini. Aku akan pergi ke Iran untuk menikahi Marzieh dan membangun hidup baru di atas landasan kehormatan.”
[[break]]
## 5. Badai pelarian dan perpisahan tengah malam
Keputusan Zaher untuk melarikan diri secara gelap ke Iran mengandung bahaya yang mematikan. Pada hari-hari itu perbatasan Irak telah ditanami ranjau dan patroli Saddam menembaki setiap pelarian.
Mendengar keputusan Zaher, dua anggota keluarga yang lain pun maju:
• Tante Khadijeh: kakak perempuan tertua yang sudah lama berpisah dari suaminya dan punya dua anak kecil bernama Sina dan Sara, berkata dengan berani dan dengan naluri keibuan bahwa ia akan ikut bersama Zaher untuk menjaganya.
• Paman Jalal: adik lelaki yang cerdas dan seorang tukang listrik, yang dengan keterampilan tangan dan kecerdasannya bisa menjadi penyelamat rombongan di sepanjang jalan.
Bibi Fatemeh, yang melihat tiga anaknya hendak menapakkan kaki di jalan kematian, tidak punya pilihan selain menyerah. Untuk membiayai para penyelundup dan perjalanan pelarian itu, ia menyerahkan seluruh simpanannya: perhiasan pribadinya, perkakas rumah, bahkan masuleh dan pintalan tradisionalnya yang berharga ia jual untuk mengumpulkan uang tiket kebebasan anak-anaknya.
Tibalah malam pelarian itu. Rumah kaum sayyid tenggelam dalam kesunyian yang berat dan tercekat. Bibi Fatemeh memberikan sebuah kantong kecil berisi surat-surat dan sedikit uang kepada Zaher, menggenggam erat tangan Khadijeh, dan berkata: “Kau yang tertua, jagalah adik-adikmu seperti seorang ibu...”
Sudah lewat tengah malam ketika para penyelundup muncul di balik pintu. Zaher, Jalal, dan Khadijeh bersama Sina dan Sara kecil meninggalkan rumah orang tua mereka dalam kegelapan malam yang pekat dan lenyap bagaikan bayangan yang ringan di gang-gang berdebu Najaf.
Bibi Fatemeh berlutut di anak tangga halaman, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, mendekap pintalannya yang kosong, dan dengan mata yang berlinang menyerahkan anak-anaknya ke tangan Tuhan yang aman; tanpa tahu wiracarita macam apa yang akan dibuka oleh pelarian mereka melintasi ladang ranjau itu di tanah Iran...
Hari-hari berlalu setelah Zaher dibebaskan dari enam bulan yang bagai mimpi buruk di penjara Baath. Meskipun luka fisik akibat siksaan perlahan sembuh, bayangan hitam dan menyesakkan kekuasaan Saddam semakin hari semakin berat menindih kota Najaf. Kabar tentang hilangnya para pemuda berdarah Iran secara mendadak dan interogasi di jalanan mengendap seperti debu yang celaka di semua gang.
Di tengah kecemasan yang pekat itu, Bibi Fatemeh — ibu besar keluarga yang sabar dan berwibawa — menancapkan pandangannya pada satu titik terang di cakrawala masa depan. Ia, yang bertahun-tahun memutar roda kehidupan anak-anaknya di pengasingan dengan memutar pintalan benang (masuleh), menyimpan sebuah cita-cita besar: menyaksikan putra sulungnya, Zaher, menikah dan berumah tangga.
Bibi Fatemeh tahu benar bahwa keadaan politik dan ekonomi Irak sedang menuju kehancuran. Ia percaya bahwa jika ia menyatukan tangan Zaher dengan tangan putri saudara lelakinya (Marzieh), yang tinggal bersama keluarganya di Iran, bukan hanya Zaher yang akan memperoleh kemapanan dan ketenangan, tetapi juga akan tercipta sebuah pangkalan yang aman dan bersifat keluarga di tanah Iran untuk hari-hari yang genting.
Zaher adalah pemuda yang tenang, pendiam, dan rendah hati, yang sepanjang hari bekerja di apotek kampung. Ketika Bibi Fatemeh mengutarakan soal lamaran kepada Marzieh, Zaher, dengan rasa malu yang jantan dan kesunyian yang penuh hormat, tidak membantah sama sekali dan menerima kehendak ibunya.
Akhirnya Bibi Fatemeh mengumpulkan keberanian; ia mengambil selembar kertas dan, dengan tangan yang penuh harapan, menulis surat tercatat kepada saudara lelakinya, Hossein, di Iran, dan mengajukan usul ikatan suci antara Zaher dan Marzieh.
[[break]]
## 2. Sebuah koper penuh cokelat dan foto-foto Marzieh
Penantian akan jawaban dari Iran menjadikan hari-hari di halaman kecil Najaf itu meluap oleh cemas dan harap. Bibi Fatemeh membaca doa dengan bibir yang komat-kamit sambil memutar masuleh-nya, dan para gadis di rumah itu — Zohreh, Halimeh, Roya, dan Parvin — berbisik-bisik tentang calon menantu keluarga.
Suatu sore, bel kayu halaman berbunyi dan sampailah sepucuk surat bersama sebuah paket dari Iran. Saudara lelaki Bibi Fatemeh telah menyetujui ikatan itu dengan sepenuh hati. Tetapi bersama surat itu dikirim pula sebuah koper perjalanan yang besar, yang menenggelamkan halaman rumah kaum sayyid itu dalam sukacita dan sorak: sebuah koper penuh cokelat yang lezat, kue-kue Iran, oleh-oleh yang harum, dan beberapa lembar foto Marzieh dengan cadar serta wajah yang santun dan tak berdosa.
Anak-anak dan para muda di rumah itu mengerumuni koper tersebut. Paman Jalal dengan kejenakaannya yang biasa membagikan cokelat kepada yang lain dan tawa bahagia memenuhi halaman. Foto-foto Marzieh beredar dari tangan ke tangan. Bibi Fatemeh, dengan air mata bahagia di matanya, menunjukkan foto itu kepada Zaher. Zaher menatap wajah suci calon istrinya dan sebuah senyum yang lembut dan malu-malu hinggap di bibirnya. Pada sore itu, wangi cokelat dan impian surgawi tentang masa depan membuat semua orang melupakan neraka kekuasaan Saddam selama beberapa jam.
Dengan sukacita dan harapan yang baru, Zaher menyematkan sebuah cincin perak di jari manis tangan kanannya, sebagai tanda pertunangan dan keterikatan.
[[break]]
## 3. Bisik-bisik di apotek dan penghadangan kaum Baath
Tetapi di bawah rezim yang menindas, takdir melemparkan bayangannya bahkan ke atas kebahagiaan.
Hari-hari berlalu dan Zaher seperti biasa sibuk di apotek meracik obat herbal dan menyerahkan obat kepada orang-orang sakit di kampung. Pada suatu hari yang panas, salah seorang pelanggan sekaligus teman lamanya memperhatikan cincin perak di tangan kanan Zaher. Temannya menjabat tangannya sambil tersenyum dan mengucapkan selamat.
Zaher, dengan segenap kesederhanaan, kesucian, dan ketulusan jiwanya, membuka rahasia hatinya dan berkata dengan bangga bahwa ia baru saja melamar sepupunya “Marzieh” di Iran dan sebentar lagi akan berangkat ke sana untuk berumah tangga.
Zaher tidak tahu bahwa di kota itu bahkan dinding tanah liat pun bertelinga, dan bahwa para pelapor rezim Baath berkeliaran di pasar dengan menyamar sebagai pembeli. Kabar tentang ikatan pemuda berdarah Iran itu dengan seorang gadis di Iran segera sampai ke telinga aparat keamanan dan polisi rahasia. Bagi rezim Saddam, yang baru saja memasuki fase ketegangan perbatasan yang tajam dan penindasan terhadap orang-orang Iran, hubungan apa pun dengan Iran dianggap sebagai mata-mata dan pengkhianatan.
Keesokan paginya, ketika Zaher berangkat ke tempat kerjanya, tiba-tiba sebuah kendaraan militer Baath mengerem di tepi jalan. Dua tentara bersenjata turun, melemparkan Zaher ke dalam mobil dengan paksa, dan menutup matanya.
[[break]]
## 4. Interogasi yang gelap dan ultimatum yang celaka
Zaher dibawa ke salah satu rumah tahanan keamanan di Najaf. Para pemeriksa Baath menekannya dengan nada kasar dan mengancam serta memukulinya. Mereka berusaha membuktikan bahwa ia hendak bergabung dengan tentara Iran atau menyampaikan informasi. Tetapi kepala dingin, kesantunan, dan kejujuran jawaban-jawaban Zaher, ditambah tidak adanya bukti apa pun, membuat mereka tidak berhasil menemukan identitas tersembunyi lain padanya.
Namun demikian, sebelum membebaskannya, komandan Baath maju dengan wajah tanpa belas kasihan dan memberikan ultimatum yang celaka kepada Zaher: “Kau bebas, tetapi ada satu syarat! Hari ini juga kau buang pikiran menikahi gadis Iran itu dari kepalamu dan kau tetap tinggal di Irak, atau dalam beberapa hari ke depan kau akan dibuang dan diusir selamanya dari negeri ini!”
Zaher yang setengah mati dan terluka kembali ke rumah. Ketika Bibi Fatemeh dan anggota keluarga yang lain melihat tubuhnya yang babak belur, rumah itu tenggelam dalam ratapan dan kecemasan. Zaher menceritakan interogasi dan ultimatum kaum Baath itu.
Bibi Fatemeh runtuh karena duka dan sakit, sambil menggumam kepada dirinya sendiri: “Andai saja aku tidak pernah melamar Marzieh, anakku tidak akan sampai seperti ini...”
Tetapi Zaher telah mengambil keputusannya. Ia menoleh kepada Bibi Fatemeh dan berkata dengan tegas: “Ibu, aku tidak akan tinggal di tanah ini. Aku akan pergi ke Iran untuk menikahi Marzieh dan membangun hidup baru di atas landasan kehormatan.”
[[break]]
## 5. Badai pelarian dan perpisahan tengah malam
Keputusan Zaher untuk melarikan diri secara gelap ke Iran mengandung bahaya yang mematikan. Pada hari-hari itu perbatasan Irak telah ditanami ranjau dan patroli Saddam menembaki setiap pelarian.
Mendengar keputusan Zaher, dua anggota keluarga yang lain pun maju:
• Tante Khadijeh: kakak perempuan tertua yang sudah lama berpisah dari suaminya dan punya dua anak kecil bernama Sina dan Sara, berkata dengan berani dan dengan naluri keibuan bahwa ia akan ikut bersama Zaher untuk menjaganya.
• Paman Jalal: adik lelaki yang cerdas dan seorang tukang listrik, yang dengan keterampilan tangan dan kecerdasannya bisa menjadi penyelamat rombongan di sepanjang jalan.
Bibi Fatemeh, yang melihat tiga anaknya hendak menapakkan kaki di jalan kematian, tidak punya pilihan selain menyerah. Untuk membiayai para penyelundup dan perjalanan pelarian itu, ia menyerahkan seluruh simpanannya: perhiasan pribadinya, perkakas rumah, bahkan masuleh dan pintalan tradisionalnya yang berharga ia jual untuk mengumpulkan uang tiket kebebasan anak-anaknya.
Tibalah malam pelarian itu. Rumah kaum sayyid tenggelam dalam kesunyian yang berat dan tercekat. Bibi Fatemeh memberikan sebuah kantong kecil berisi surat-surat dan sedikit uang kepada Zaher, menggenggam erat tangan Khadijeh, dan berkata: “Kau yang tertua, jagalah adik-adikmu seperti seorang ibu...”
Sudah lewat tengah malam ketika para penyelundup muncul di balik pintu. Zaher, Jalal, dan Khadijeh bersama Sina dan Sara kecil meninggalkan rumah orang tua mereka dalam kegelapan malam yang pekat dan lenyap bagaikan bayangan yang ringan di gang-gang berdebu Najaf.
Bibi Fatemeh berlutut di anak tangga halaman, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, mendekap pintalannya yang kosong, dan dengan mata yang berlinang menyerahkan anak-anaknya ke tangan Tuhan yang aman; tanpa tahu wiracarita macam apa yang akan dibuka oleh pelarian mereka melintasi ladang ranjau itu di tanah Iran...
Bab ketiga: Melintasi ladang ranjau dan ikatan di Isfahan
## 1. Jalan kematian; lorong ranjau dan malam-malam gurun
Melarikan diri dari Irak di bawah cengkeraman rezim Baath pada akhir dasawarsa 1970-an adalah pertaruhan yang benar-benar berdarah dan setara dengan kematian. Saddam Hussein telah memerintahkan agar seluruh perbatasan ditanami ranjau dan agar patroli tentara menembak setiap bayangan yang bergerak tanpa peringatan.
Para penyelundup membawa rombongan kecil Zaher melewati jalan-jalan tikus dan lorong-lorong gurun yang terpencil. Pada malam hari, dingin gurun yang menusuk tulang mencambuk tubuh mereka, dan pada siang hari terik matahari merampas tenaga mereka. Tante Khadijeh menyembunyikan Sina dan Sara kecil di bawah cadarnya agar terlindung dari angin kencang dan debu gurun. Sina beberapa kali merintih karena haus dan lelah, tetapi Zaher menggendongnya di punggung dan berjalan berbatu-batu di tengah hamparan pasir.
Bagian perjalanan yang paling mengerikan adalah melintasi ladang ranjau perbatasan. Para penyelundup berjalan paling depan dan dengan batang logam yang tipis meraba jejak kawat dan ranjau yang tersembunyi di bawah tanah. Zaher dan Jalal harus melangkah tepat di jejak kaki para penyelundup. Cukup satu sentimeter langkah mereka meleset, dan sebuah ledakan yang mengerikan akan mengabukan segalanya.
Di salah satu pos pemeriksaan kecil di dekat perbatasan, tiba-tiba lampu sorot sebuah pos Baath jatuh menyinari rombongan itu. Para tentara berteriak memerintahkan berhenti. Zaher dan Khadijeh membeku ketakutan. Pada detik-detik yang mematikan itu, Paman Jalal dengan kecerdasan dan kesigapannya yang luar biasa maju ke depan. Dengan bahasa Arab yang lancar dan nada yang benar-benar tenang, ia mengarang cerita tentang sakit parah Sara kecil dan perjalanan darurat ke desa tetangga. Kecurigaan para tentara Baath mereda ketika melihat wajah Sara yang demam dan tak bertenaga, dan mereka mengizinkan rombongan lewat. Dengan alat-alat sederhana dan tutur katanya yang hangat, Paman Jalal menarik mereka keluar dari mulut naga.
[[break]]
## 2. Terbitnya kebebasan di perbatasan Iran
Setelah berhari-hari berjalan kaki yang melelahkan, kelaparan, dan gemetar ketakutan pada patroli, akhirnya pada fajar sebuah hari yang cerah para penyelundup sampai di sebuah titik yang tinggi dan menunjuk ke arah cakrawala.
Di hadapan mereka, tiang perbatasan dan bendera tiga warna Iran menari dalam angin pagi.
Melihat bendera Iran, bendungan air mata Tante Khadijeh dan Zaher pun jebol. Mereka berlutut di atas tanah perbatasan yang hangat, mencium bumi, dan bersyukur kepada Tuhan. Para petugas perbatasan Iran, melihat keadaan mereka yang berantakan, pakaian yang koyak, dan wajah yang berdebu, segera maju menyongsong. Berbeda dari kekejaman dan sepatu bot kasar kaum Baath, para penjaga perbatasan Iran menyambut mereka dengan pelukan terbuka, roti hangat, air, dan selimut.
Zaher, setelah enam bulan mimpi buruk penyiksaan di penjara bawah tanah Baath dan berhari-hari berlari di ladang ranjau, untuk pertama kalinya menarik napas kebebasan dan rasa aman. Ia merasa seakan kembali dari dunia orang mati untuk memulai sebuah kehidupan yang baru.
[[break]]
## 3. Tiba di Isfahan dan bertemu Paman Hossein
Para penjaga perbatasan, setelah mencatat identitas awal mereka dan menerbitkan kartu izin tinggal bagi warga asing, menyiapkan perjalanan mereka menuju Isfahan.
Isfahan, dengan Zayandeh-Rud yang deras, jembatan-jembatan bersejarahnya, dan jalan-jalan yang dipenuhi pohon cinar, bagi Zaher dan Jalal terasa seperti surga yang hijau. Mereka sampai ke kawasan tempat tinggal Paman Hossein (saudara lelaki Bibi Fatemeh dan ayah Marzieh).
Ketika bel pintu rumah Paman Hossein berbunyi dan ia melihat keponakan-keponakannya yang terusir dari tanah air berdiri di balik pintu, rumah itu dipenuhi tangis dan sorak kegembiraan. Paman Hossein memeluk erat Zaher, Jalal, dan Khadijeh. Kabar pelarian mereka yang berhasil dari Irak menjadi obat bagi hati Bibi Fatemeh yang gelisah di Najaf, yang mengetahuinya lewat surat-surat berikutnya.
Pada sore hari itu juga, untuk pertama kalinya, Zaher dan Marzieh berhadap-hadapan.
Marzieh, seorang gadis dengan wajah yang tak berdosa, mata yang besar dan santun, serta cadar yang dikenakannya dengan anggun, masuk ke ruangan membawa baki teh. Zaher, yang sebelumnya hanya melihat foto-foto kecilnya di dalam koper oleh-oleh, memandang calon istrinya dengan rasa malu yang jantan sambil menundukkan kepala. Pandangan-pandangan diam-diam mereka berdua dalam terang ruangan itu menjanjikan sebuah ikatan yang terbuat dari cinta, penghormatan, dan ketenangan setelah badai.
[[break]]
## 4. Ikatan yang suci dan awal kehidupan di pengasingan
Beberapa hari kemudian, sebuah hidangan yang sederhana namun penuh berkah dan kasih digelar di rumah Paman Hossein.
Sang penghulu membacakan akad nikah Zaher dan Marzieh. Marzieh, dengan sebuah “ya” yang lembut dan malu-malu, meresmikan ikatan suci itu, dan Zaher, sambil mengeratkan cincin perak di jarinya, berjanji akan mengorbankan seluruh hidupnya demi kebahagiaan perempuan itu. Pada hari-hari itu juga Paman Jalal menikah dengan sepupunya, Homeira, agar kebahagiaan keluarga itu lengkap.
Kehidupan baru dimulai di Iran. Meskipun pemerintah Iran tidak memberikan akta kependudukan kepada para imigran keturunan Irak dan mereka hanya hidup dengan kartu izin tinggal warga asing, Zaher dengan pengetahuan kefarmasiannya segera memperoleh pekerjaan di sebuah apotek ternama di Isfahan. Paman Jalal, dengan tang dan tespennya, menangani instalasi listrik bengkel dan rumah. Dan Tante Khadijeh, dengan keterampilan menjahitnya, memutar roda kehidupannya sendiri dan kedua anaknya.
Beberapa tahun berlalu... sampai pada tanggal 1 Maret 1982, lahirlah seorang bayi lelaki di Isfahan; bayi yang mereka namai Mohsen — sang perawi dan juru tulis masa depan bagi wiracarita ini...
Melarikan diri dari Irak di bawah cengkeraman rezim Baath pada akhir dasawarsa 1970-an adalah pertaruhan yang benar-benar berdarah dan setara dengan kematian. Saddam Hussein telah memerintahkan agar seluruh perbatasan ditanami ranjau dan agar patroli tentara menembak setiap bayangan yang bergerak tanpa peringatan.
Para penyelundup membawa rombongan kecil Zaher melewati jalan-jalan tikus dan lorong-lorong gurun yang terpencil. Pada malam hari, dingin gurun yang menusuk tulang mencambuk tubuh mereka, dan pada siang hari terik matahari merampas tenaga mereka. Tante Khadijeh menyembunyikan Sina dan Sara kecil di bawah cadarnya agar terlindung dari angin kencang dan debu gurun. Sina beberapa kali merintih karena haus dan lelah, tetapi Zaher menggendongnya di punggung dan berjalan berbatu-batu di tengah hamparan pasir.
Bagian perjalanan yang paling mengerikan adalah melintasi ladang ranjau perbatasan. Para penyelundup berjalan paling depan dan dengan batang logam yang tipis meraba jejak kawat dan ranjau yang tersembunyi di bawah tanah. Zaher dan Jalal harus melangkah tepat di jejak kaki para penyelundup. Cukup satu sentimeter langkah mereka meleset, dan sebuah ledakan yang mengerikan akan mengabukan segalanya.
Di salah satu pos pemeriksaan kecil di dekat perbatasan, tiba-tiba lampu sorot sebuah pos Baath jatuh menyinari rombongan itu. Para tentara berteriak memerintahkan berhenti. Zaher dan Khadijeh membeku ketakutan. Pada detik-detik yang mematikan itu, Paman Jalal dengan kecerdasan dan kesigapannya yang luar biasa maju ke depan. Dengan bahasa Arab yang lancar dan nada yang benar-benar tenang, ia mengarang cerita tentang sakit parah Sara kecil dan perjalanan darurat ke desa tetangga. Kecurigaan para tentara Baath mereda ketika melihat wajah Sara yang demam dan tak bertenaga, dan mereka mengizinkan rombongan lewat. Dengan alat-alat sederhana dan tutur katanya yang hangat, Paman Jalal menarik mereka keluar dari mulut naga.
[[break]]
## 2. Terbitnya kebebasan di perbatasan Iran
Setelah berhari-hari berjalan kaki yang melelahkan, kelaparan, dan gemetar ketakutan pada patroli, akhirnya pada fajar sebuah hari yang cerah para penyelundup sampai di sebuah titik yang tinggi dan menunjuk ke arah cakrawala.
Di hadapan mereka, tiang perbatasan dan bendera tiga warna Iran menari dalam angin pagi.
Melihat bendera Iran, bendungan air mata Tante Khadijeh dan Zaher pun jebol. Mereka berlutut di atas tanah perbatasan yang hangat, mencium bumi, dan bersyukur kepada Tuhan. Para petugas perbatasan Iran, melihat keadaan mereka yang berantakan, pakaian yang koyak, dan wajah yang berdebu, segera maju menyongsong. Berbeda dari kekejaman dan sepatu bot kasar kaum Baath, para penjaga perbatasan Iran menyambut mereka dengan pelukan terbuka, roti hangat, air, dan selimut.
Zaher, setelah enam bulan mimpi buruk penyiksaan di penjara bawah tanah Baath dan berhari-hari berlari di ladang ranjau, untuk pertama kalinya menarik napas kebebasan dan rasa aman. Ia merasa seakan kembali dari dunia orang mati untuk memulai sebuah kehidupan yang baru.
[[break]]
## 3. Tiba di Isfahan dan bertemu Paman Hossein
Para penjaga perbatasan, setelah mencatat identitas awal mereka dan menerbitkan kartu izin tinggal bagi warga asing, menyiapkan perjalanan mereka menuju Isfahan.
Isfahan, dengan Zayandeh-Rud yang deras, jembatan-jembatan bersejarahnya, dan jalan-jalan yang dipenuhi pohon cinar, bagi Zaher dan Jalal terasa seperti surga yang hijau. Mereka sampai ke kawasan tempat tinggal Paman Hossein (saudara lelaki Bibi Fatemeh dan ayah Marzieh).
Ketika bel pintu rumah Paman Hossein berbunyi dan ia melihat keponakan-keponakannya yang terusir dari tanah air berdiri di balik pintu, rumah itu dipenuhi tangis dan sorak kegembiraan. Paman Hossein memeluk erat Zaher, Jalal, dan Khadijeh. Kabar pelarian mereka yang berhasil dari Irak menjadi obat bagi hati Bibi Fatemeh yang gelisah di Najaf, yang mengetahuinya lewat surat-surat berikutnya.
Pada sore hari itu juga, untuk pertama kalinya, Zaher dan Marzieh berhadap-hadapan.
Marzieh, seorang gadis dengan wajah yang tak berdosa, mata yang besar dan santun, serta cadar yang dikenakannya dengan anggun, masuk ke ruangan membawa baki teh. Zaher, yang sebelumnya hanya melihat foto-foto kecilnya di dalam koper oleh-oleh, memandang calon istrinya dengan rasa malu yang jantan sambil menundukkan kepala. Pandangan-pandangan diam-diam mereka berdua dalam terang ruangan itu menjanjikan sebuah ikatan yang terbuat dari cinta, penghormatan, dan ketenangan setelah badai.
[[break]]
## 4. Ikatan yang suci dan awal kehidupan di pengasingan
Beberapa hari kemudian, sebuah hidangan yang sederhana namun penuh berkah dan kasih digelar di rumah Paman Hossein.
Sang penghulu membacakan akad nikah Zaher dan Marzieh. Marzieh, dengan sebuah “ya” yang lembut dan malu-malu, meresmikan ikatan suci itu, dan Zaher, sambil mengeratkan cincin perak di jarinya, berjanji akan mengorbankan seluruh hidupnya demi kebahagiaan perempuan itu. Pada hari-hari itu juga Paman Jalal menikah dengan sepupunya, Homeira, agar kebahagiaan keluarga itu lengkap.
Kehidupan baru dimulai di Iran. Meskipun pemerintah Iran tidak memberikan akta kependudukan kepada para imigran keturunan Irak dan mereka hanya hidup dengan kartu izin tinggal warga asing, Zaher dengan pengetahuan kefarmasiannya segera memperoleh pekerjaan di sebuah apotek ternama di Isfahan. Paman Jalal, dengan tang dan tespennya, menangani instalasi listrik bengkel dan rumah. Dan Tante Khadijeh, dengan keterampilan menjahitnya, memutar roda kehidupannya sendiri dan kedua anaknya.
Beberapa tahun berlalu... sampai pada tanggal 1 Maret 1982, lahirlah seorang bayi lelaki di Isfahan; bayi yang mereka namai Mohsen — sang perawi dan juru tulis masa depan bagi wiracarita ini...
Bab keempat: Penawanan Bibi dan tragedi terpisahnya Mohammad
## 1. Bayang berat ketiadaan dan para putra yang menjadi sandaran
Setelah pelarian tengah malam dan secara gelap Zaher, Paman Jalal, dan Tante Khadijeh menuju perbatasan Iran, rumah kaum sayyid di Najaf memasuki masa yang penuh gejolak, kesunyian, serta cemas dan harap.
Bibi Fatemeh, meskipun hatinya terbakar oleh perpisahan dengan tiga anaknya, memutar roda rumah tangga dengan ketabahan tiada tara yang ia warisi dari akar kaum sayyid. Sementara itu, terjadi beberapa perubahan dalam susunan keluarga:
• Zohreh dan Halimeh, putri-putri tertua di rumah itu, menikah dan berangkat dengan seribu harapan ke rumah mereka masing-masing di Irak.
• Di rumah, selain Bibi Fatemeh, hanya tinggal Roya dan Parvin yang membantu ibu mereka dalam pekerjaan rumah dan memintal benang secara tradisional.
Beban berat mencari nafkah dan mengurus rumah pada masa paceklik dan kelangkaan pangan yang parah itu jatuh ke pundak tiga putra muda keluarga: Ali, Nader, dan yang terpenting, Mohammad.
Mohammad adalah pemuda yang tenang, berwibawa, dan penuh gairah hidup, yang baru saja melewati usia delapan belas tahun. Ia yang bercita-cita menjadi guru, setelah pelarian kakak-kakaknya, menyingsingkan lengan baju dengan kehormatan seorang lelaki dan bekerja siang malam agar hidangan Bibi Fatemeh tidak pernah kosong. Mohammad telah menjadi sandaran dan tongkat penopang Bibi; setiap senja ketika ia pulang, hal pertama yang ia lakukan adalah mencium tangan ibunya, menghapus lelah sehari dari tubuh Bibi dengan tawanya yang santun, dan meyakinkannya bahwa selama ia ada, tidak ada badai yang sanggup mengguncang atap rumah itu.
Tetapi api perang Iran dan Irak semakin hari semakin berkobar, dan rezim Baath semakin mengarahkan dendam rasialnya kepada keluarga-keluarga keturunan Iran.
[[break]]
## 2. Amanah kepada Nane Saad dan serbuan sepatu bot Baath
Tibalah tahun 1984. Najaf bukan lagi kota yang tenang dengan kubah-kubah emas itu; ia telah berubah menjadi sebuah penjara besar, penuh patroli bersenjata, interogasi jalanan, dan coretan ancaman di dinding-dinding. Kabar tentang penyerbuan aparat ke rumah-rumah orang keturunan Iran dan penyitaan harta mereka menyambar kampung itu seperti petir.
Bibi Fatemeh, dengan kecerdasan dan kebijaksanaan seorang ibu, sudah meramalkan hari-hari yang hitam itu. Ia tahu benar bahwa giliran rumah kaum sayyid akan segera tiba. Karena itu, agar satu-satunya peninggalan suaminya dan atap warisan bagi anak-anaknya selamat dari perampasan pemerintah Baath, ia diam-diam menitipkan surat dan kunci rumah itu kepada sahabat sekaligus tetangganya yang setia, “Nane Saad”. Bibi menggenggam erat tangan Nane Saad dan berkata dengan suara bergetar: “Nane Saad... biarlah rumah ini dan batu-bata ini menjadi amanah keluarga Rasul padamu. Jagalah sampai hari anak-anakku kembali...”
Ramalan Bibi segera menjadi kenyataan.
Pada suatu pagi yang cerah dan menyengat, kesunyian gang buntu itu dipecahkan oleh bunyi rem beberapa truk militer Baath. Para tentara yang kasar dengan sepatu bot yang berat, tanpa peringatan apa pun, mendobrak pintu kayu halaman dan menyerbu masuk ke dalam rumah.
Komandan Baath berteriak dengan nada penuh hinaan dan kekerasan: “Kalian adalah musuh dan pengkhianat Irak! Kalian tidak berhak tinggal sedetik pun lagi! Tidak ada satu pun yang boleh kalian bawa, semuanya milik negara!”
Kaum Baath tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Mereka menghalau Bibi Fatemeh, Tante Roya, Tante Parvin, Mohammad, Ali, dan Paman Nader ke arah pintu keluar halaman dengan pukulan dan penghinaan. Bibi Fatemeh bahkan tidak sempat membetulkan cadarnya di kepala atau mengenakan sepatu. Para petugas melemparkan keluarga sayyid itu ke belakang sebuah truk logam yang panas; truk yang terpal penutupnya terbakar oleh terik matahari dan yang menjauhkan mereka dari satu-satunya rumah yang mereka bangun dengan darah hati.
[[break]]
## 3. Neraka rumah tahanan dan ratapan Bibi
Truk itu membawa keluarga tersebut bersama puluhan keluarga lain ke salah satu pusat penahanan umum terbesar dan paling padat di pinggiran Najaf.
Di sana adalah neraka yang sesungguhnya. Sebuah gudang besar yang kotor dan menyesakkan, tempat bau ketakutan, keringat, dan infeksi bergelombang di udaranya. Ratusan perempuan, lelaki, anak-anak, dan orang tua yang sakit meringkuk di atas tanah kotor gudang itu. Suara ratapan para ibu yang kehilangan anak mereka dalam kepadatan, rintihan orang sakit tanpa obat, dan tawa mabuk para tentara Baath memenuhi ruang itu. Siapa pun yang memprotes akan berlumuran darah di bawah cambuk dan kabel para pengawal Baath.
Tuduhan bersama bagi ribuan manusia itu hanya satu: memiliki darah dan asal-usul Iran!
Bibi Fatemeh, bagaikan induk ayam yang dicabuti bulunya, mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya. Ia menarik cadarnya menutupi kepala putri-putrinya dan menggenggam erat tangan Mohammad dan Ali. Dengan menjatah potongan-potongan roti kering yang berhasil ia temukan dan dengan melafalkan surah-surah Al-Qur'an dengan bibir yang komat-kamit, ia berusaha menjaga cahaya harapan tetap hidup dalam kegelapan yang mutlak itu.
Tetapi peristiwa paling celaka dalam sejarah keluarga Musavi terjadi justru di rumah tahanan itu...
[[break]]
## 4. Tragedi terpisahnya Mohammad; “Ibu... jadilah kuat!”
Keesokan paginya, sekelompok perwira tinggi Baath tiba-tiba masuk ke dalam gudang itu dengan daftar di tangan. Mereka mulai mencari anak-anak lelaki yang sudah balig dan para pemuda.
Mata keras salah seorang perwira terkunci pada wajah Mohammad yang segar, gagah, dan tak berdosa. Perwira itu menunjuk Mohammad dengan tangannya dan memerintahkan para tentaranya: “Yang ini pisahkan! Pindahkan ke kamp pemuda!”
Mendengar perintah itu, kilat menyambar kepala Bibi Fatemeh. Bagaikan singa betina yang terluka, ia melemparkan dirinya ke hadapan para tentara, mendekap Mohammad, dan berteriak dengan rintihan dan tangis yang mengiris: “Demi Tuhan... kasihanilah! Ia masih anak-anak... ia harapanku! Biarkan ia ikut ibunya... bunuh kami berdua sekalian, tapi jangan pisahkan dia dariku!”
Tetapi hati kaum Baath terbuat dari batu dan dendam. Dalih resmi mereka adalah bahwa para pemuda tidak boleh diusir ke Iran agar jangan sampai mereka bergabung dengan tentara Iran.
Dua orang tentara bertubuh besar menarik tangan Bibi Fatemeh yang ringkih tanpa belas kasihan sedikit pun dan melemparkannya ke tanah rumah tahanan itu. Bibi merangkak di atas tanah, mencakar sepatu bot para tentara, dan memohon. Mohammad meronta, menarik kerah baju para tentara, dan berteriak untuk melepaskan diri dan kembali ke pelukan ibunya, tetapi kabel-kabel yang berat menghantam kepala dan wajahnya.
Para tentara menyeret Mohammad muda itu ke arah pintu keluar gudang.
Pada saat terakhir, tepat di ambang pintu, Mohammad memalingkan kepalanya ke arah ibunya dengan wajah yang bermandikan air mata. Matanya bertaut dengan mata Bibi Fatemeh yang berdarah dan menangis. Dengan suara yang menembus dan bersejarah, yang akan bergema selamanya di lorong-lorong waktu, ia berteriak:
“Ibu... jadilah kuat! Aku akan menemukan jalan untuk kembali kepada kalian... Ibu, jadilah kuat!”
Suara Mohammad terputus dan ambang pintu yang gelap itu menelannya.
Bibi Fatemeh meringkuk di atas tanah rumah tahanan. Ratapan yang keluar dari dadanya mengguncang langit dan bumi. Pada hari itu Mohammad hilang untuk selamanya. Hampir dua puluh tahun berlalu dan tidak pernah ada jejak, surat, atau kabar apa pun tentangnya; seorang pemuda gagah yang berpulang dengan dizalimi di penjara-penjara Saddam yang tak bernama, dan dukanya tinggal di hati Bibi Fatemeh sampai hari kematiannya.
[[break]]
## 5. Pengusiran paksa di perbatasan dan pelukan Iran yang berlinang
Setelah terpisahnya Paman Mohammad yang berusia delapan belas tahun dari pelukan Bibi Fatemeh — sebuah perpisahan yang mengiris — tidak tersisa lagi jiwa maupun tenaga pada sang ibu. Batinnya telah disiksa di rumah tahanan yang menyesakkan itu, tetapi ketika pandangannya jatuh pada mata ketakutan Ali, Paman Nader, Tante Roya, dan Tante Parvin, ia tahu bahwa demi anak-anak yang tersisa itu ia harus berdiri kokoh seperti gunung dan menyelamatkan mereka dari tempat pembantaian yang celaka itu.
Beberapa hari kemudian keluarlah perintah yang celaka dan kejam dari rezim Baath untuk mengusir seluruh tahanan secara massal dan paksa.
Kaum Baath tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Mereka melemparkan Bibi Fatemeh dan anak-anaknya, bersama ratusan keluarga lain yang tak berdosa dan terusir, ke belakang truk-truk logam yang panas seperti tawanan perang, tanpa mengizinkan mereka membawa selembar pakaian atau sebuah kenang-kenangan pun dari rumah. Truk-truk itu bergerak dengan raungan yang memekakkan dan membawa mereka menjauh dari satu-satunya kota yang mereka kenal — dari kubah-kubah emas Najaf — ke arah perbatasan gurun.
Di titik perbatasan, truk-truk itu berhenti. Para tentara bersenjata Saddam, dengan sepatu bot dan makian, menurunkan perempuan dan lelaki, orang-orang tua yang sakit, dan anak-anak yang menangis dari kendaraan, lalu menghalau mereka ke arah tanah Iran dengan ancaman senjata dan cambuk.
Tidak ada satu pun jalan yang rata. Para pengungsi keturunan Iran itu terpaksa menempuh berkilo-kilometer jalan tanah, berbatu, dan bertaburan ranjau dengan berjalan kaki. Bibi Fatemeh dan Ali, dengan mata yang berlinang, sepanjang jalan melihat jenazah orang-orang tua dan para peziarah yang tumbang ke tanah karena haus, lapar, atau karena menginjak ranjau yang tersembunyi.
Tetapi Bibi Fatemeh menggenggam erat tangan anak-anaknya dan pada setiap langkah membaca Ayat Kursi dengan bibir yang komat-kamit. Hanya kerinduan untuk sampai kepada Zaher, Paman Jalal, dan Tante Khadijeh di Iran yang mendorong maju tubuh mereka yang kehabisan tenaga di tengah gurun yang membakar itu.
Akhirnya, pada suatu fajar yang cerah, bendera tiga warna Iran berkilau di titik perbatasan.
Para penjaga perbatasan Iran, melihat kafilah pengungsi itu serta kaki Bibi dan anak-anaknya yang terluka dan tak bertenaga, bergegas menyongsong; mereka memeluk para pengungsi, membawakan selimut, air hangat, dan roti, serta memberi mereka perawatan medis. Bibi Fatemeh berlutut di atas tanah perbatasan dan mencium bumi tanah air ibunya.
Beberapa hari kemudian, ketika Bibi Fatemeh dan anak-anaknya sampai di Isfahan dan memencet bel rumah Paman Hossein, Zaher, Paman Jalal, dan Tante Khadijeh berlari menyongsong ibu mereka sambil menangis dan bersorak.
Pelukan itu adalah sebuah pertemuan yang besar, tetapi juga sangat pahit dan berlinang air mata. Bibi Fatemeh meletakkan kepalanya di bahu Zaher yang bidang, menarik cadarnya menutupi wajah, dan berkata dengan rintihan yang mengiris dan sanggup membelah batu: “Zaher... mereka membawa Mohammad... mereka membawa Mohammad-ku...”
Pada hari itu keluarga Musavi kembali berkumpul di tanah Iran, tetapi tempat kosong Paman Mohammad menjadi luka yang abadi di jantung wiracarita ini...
Setelah pelarian tengah malam dan secara gelap Zaher, Paman Jalal, dan Tante Khadijeh menuju perbatasan Iran, rumah kaum sayyid di Najaf memasuki masa yang penuh gejolak, kesunyian, serta cemas dan harap.
Bibi Fatemeh, meskipun hatinya terbakar oleh perpisahan dengan tiga anaknya, memutar roda rumah tangga dengan ketabahan tiada tara yang ia warisi dari akar kaum sayyid. Sementara itu, terjadi beberapa perubahan dalam susunan keluarga:
• Zohreh dan Halimeh, putri-putri tertua di rumah itu, menikah dan berangkat dengan seribu harapan ke rumah mereka masing-masing di Irak.
• Di rumah, selain Bibi Fatemeh, hanya tinggal Roya dan Parvin yang membantu ibu mereka dalam pekerjaan rumah dan memintal benang secara tradisional.
Beban berat mencari nafkah dan mengurus rumah pada masa paceklik dan kelangkaan pangan yang parah itu jatuh ke pundak tiga putra muda keluarga: Ali, Nader, dan yang terpenting, Mohammad.
Mohammad adalah pemuda yang tenang, berwibawa, dan penuh gairah hidup, yang baru saja melewati usia delapan belas tahun. Ia yang bercita-cita menjadi guru, setelah pelarian kakak-kakaknya, menyingsingkan lengan baju dengan kehormatan seorang lelaki dan bekerja siang malam agar hidangan Bibi Fatemeh tidak pernah kosong. Mohammad telah menjadi sandaran dan tongkat penopang Bibi; setiap senja ketika ia pulang, hal pertama yang ia lakukan adalah mencium tangan ibunya, menghapus lelah sehari dari tubuh Bibi dengan tawanya yang santun, dan meyakinkannya bahwa selama ia ada, tidak ada badai yang sanggup mengguncang atap rumah itu.
Tetapi api perang Iran dan Irak semakin hari semakin berkobar, dan rezim Baath semakin mengarahkan dendam rasialnya kepada keluarga-keluarga keturunan Iran.
[[break]]
## 2. Amanah kepada Nane Saad dan serbuan sepatu bot Baath
Tibalah tahun 1984. Najaf bukan lagi kota yang tenang dengan kubah-kubah emas itu; ia telah berubah menjadi sebuah penjara besar, penuh patroli bersenjata, interogasi jalanan, dan coretan ancaman di dinding-dinding. Kabar tentang penyerbuan aparat ke rumah-rumah orang keturunan Iran dan penyitaan harta mereka menyambar kampung itu seperti petir.
Bibi Fatemeh, dengan kecerdasan dan kebijaksanaan seorang ibu, sudah meramalkan hari-hari yang hitam itu. Ia tahu benar bahwa giliran rumah kaum sayyid akan segera tiba. Karena itu, agar satu-satunya peninggalan suaminya dan atap warisan bagi anak-anaknya selamat dari perampasan pemerintah Baath, ia diam-diam menitipkan surat dan kunci rumah itu kepada sahabat sekaligus tetangganya yang setia, “Nane Saad”. Bibi menggenggam erat tangan Nane Saad dan berkata dengan suara bergetar: “Nane Saad... biarlah rumah ini dan batu-bata ini menjadi amanah keluarga Rasul padamu. Jagalah sampai hari anak-anakku kembali...”
Ramalan Bibi segera menjadi kenyataan.
Pada suatu pagi yang cerah dan menyengat, kesunyian gang buntu itu dipecahkan oleh bunyi rem beberapa truk militer Baath. Para tentara yang kasar dengan sepatu bot yang berat, tanpa peringatan apa pun, mendobrak pintu kayu halaman dan menyerbu masuk ke dalam rumah.
Komandan Baath berteriak dengan nada penuh hinaan dan kekerasan: “Kalian adalah musuh dan pengkhianat Irak! Kalian tidak berhak tinggal sedetik pun lagi! Tidak ada satu pun yang boleh kalian bawa, semuanya milik negara!”
Kaum Baath tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Mereka menghalau Bibi Fatemeh, Tante Roya, Tante Parvin, Mohammad, Ali, dan Paman Nader ke arah pintu keluar halaman dengan pukulan dan penghinaan. Bibi Fatemeh bahkan tidak sempat membetulkan cadarnya di kepala atau mengenakan sepatu. Para petugas melemparkan keluarga sayyid itu ke belakang sebuah truk logam yang panas; truk yang terpal penutupnya terbakar oleh terik matahari dan yang menjauhkan mereka dari satu-satunya rumah yang mereka bangun dengan darah hati.
[[break]]
## 3. Neraka rumah tahanan dan ratapan Bibi
Truk itu membawa keluarga tersebut bersama puluhan keluarga lain ke salah satu pusat penahanan umum terbesar dan paling padat di pinggiran Najaf.
Di sana adalah neraka yang sesungguhnya. Sebuah gudang besar yang kotor dan menyesakkan, tempat bau ketakutan, keringat, dan infeksi bergelombang di udaranya. Ratusan perempuan, lelaki, anak-anak, dan orang tua yang sakit meringkuk di atas tanah kotor gudang itu. Suara ratapan para ibu yang kehilangan anak mereka dalam kepadatan, rintihan orang sakit tanpa obat, dan tawa mabuk para tentara Baath memenuhi ruang itu. Siapa pun yang memprotes akan berlumuran darah di bawah cambuk dan kabel para pengawal Baath.
Tuduhan bersama bagi ribuan manusia itu hanya satu: memiliki darah dan asal-usul Iran!
Bibi Fatemeh, bagaikan induk ayam yang dicabuti bulunya, mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya. Ia menarik cadarnya menutupi kepala putri-putrinya dan menggenggam erat tangan Mohammad dan Ali. Dengan menjatah potongan-potongan roti kering yang berhasil ia temukan dan dengan melafalkan surah-surah Al-Qur'an dengan bibir yang komat-kamit, ia berusaha menjaga cahaya harapan tetap hidup dalam kegelapan yang mutlak itu.
Tetapi peristiwa paling celaka dalam sejarah keluarga Musavi terjadi justru di rumah tahanan itu...
[[break]]
## 4. Tragedi terpisahnya Mohammad; “Ibu... jadilah kuat!”
Keesokan paginya, sekelompok perwira tinggi Baath tiba-tiba masuk ke dalam gudang itu dengan daftar di tangan. Mereka mulai mencari anak-anak lelaki yang sudah balig dan para pemuda.
Mata keras salah seorang perwira terkunci pada wajah Mohammad yang segar, gagah, dan tak berdosa. Perwira itu menunjuk Mohammad dengan tangannya dan memerintahkan para tentaranya: “Yang ini pisahkan! Pindahkan ke kamp pemuda!”
Mendengar perintah itu, kilat menyambar kepala Bibi Fatemeh. Bagaikan singa betina yang terluka, ia melemparkan dirinya ke hadapan para tentara, mendekap Mohammad, dan berteriak dengan rintihan dan tangis yang mengiris: “Demi Tuhan... kasihanilah! Ia masih anak-anak... ia harapanku! Biarkan ia ikut ibunya... bunuh kami berdua sekalian, tapi jangan pisahkan dia dariku!”
Tetapi hati kaum Baath terbuat dari batu dan dendam. Dalih resmi mereka adalah bahwa para pemuda tidak boleh diusir ke Iran agar jangan sampai mereka bergabung dengan tentara Iran.
Dua orang tentara bertubuh besar menarik tangan Bibi Fatemeh yang ringkih tanpa belas kasihan sedikit pun dan melemparkannya ke tanah rumah tahanan itu. Bibi merangkak di atas tanah, mencakar sepatu bot para tentara, dan memohon. Mohammad meronta, menarik kerah baju para tentara, dan berteriak untuk melepaskan diri dan kembali ke pelukan ibunya, tetapi kabel-kabel yang berat menghantam kepala dan wajahnya.
Para tentara menyeret Mohammad muda itu ke arah pintu keluar gudang.
Pada saat terakhir, tepat di ambang pintu, Mohammad memalingkan kepalanya ke arah ibunya dengan wajah yang bermandikan air mata. Matanya bertaut dengan mata Bibi Fatemeh yang berdarah dan menangis. Dengan suara yang menembus dan bersejarah, yang akan bergema selamanya di lorong-lorong waktu, ia berteriak:
“Ibu... jadilah kuat! Aku akan menemukan jalan untuk kembali kepada kalian... Ibu, jadilah kuat!”
Suara Mohammad terputus dan ambang pintu yang gelap itu menelannya.
Bibi Fatemeh meringkuk di atas tanah rumah tahanan. Ratapan yang keluar dari dadanya mengguncang langit dan bumi. Pada hari itu Mohammad hilang untuk selamanya. Hampir dua puluh tahun berlalu dan tidak pernah ada jejak, surat, atau kabar apa pun tentangnya; seorang pemuda gagah yang berpulang dengan dizalimi di penjara-penjara Saddam yang tak bernama, dan dukanya tinggal di hati Bibi Fatemeh sampai hari kematiannya.
[[break]]
## 5. Pengusiran paksa di perbatasan dan pelukan Iran yang berlinang
Setelah terpisahnya Paman Mohammad yang berusia delapan belas tahun dari pelukan Bibi Fatemeh — sebuah perpisahan yang mengiris — tidak tersisa lagi jiwa maupun tenaga pada sang ibu. Batinnya telah disiksa di rumah tahanan yang menyesakkan itu, tetapi ketika pandangannya jatuh pada mata ketakutan Ali, Paman Nader, Tante Roya, dan Tante Parvin, ia tahu bahwa demi anak-anak yang tersisa itu ia harus berdiri kokoh seperti gunung dan menyelamatkan mereka dari tempat pembantaian yang celaka itu.
Beberapa hari kemudian keluarlah perintah yang celaka dan kejam dari rezim Baath untuk mengusir seluruh tahanan secara massal dan paksa.
Kaum Baath tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Mereka melemparkan Bibi Fatemeh dan anak-anaknya, bersama ratusan keluarga lain yang tak berdosa dan terusir, ke belakang truk-truk logam yang panas seperti tawanan perang, tanpa mengizinkan mereka membawa selembar pakaian atau sebuah kenang-kenangan pun dari rumah. Truk-truk itu bergerak dengan raungan yang memekakkan dan membawa mereka menjauh dari satu-satunya kota yang mereka kenal — dari kubah-kubah emas Najaf — ke arah perbatasan gurun.
Di titik perbatasan, truk-truk itu berhenti. Para tentara bersenjata Saddam, dengan sepatu bot dan makian, menurunkan perempuan dan lelaki, orang-orang tua yang sakit, dan anak-anak yang menangis dari kendaraan, lalu menghalau mereka ke arah tanah Iran dengan ancaman senjata dan cambuk.
Tidak ada satu pun jalan yang rata. Para pengungsi keturunan Iran itu terpaksa menempuh berkilo-kilometer jalan tanah, berbatu, dan bertaburan ranjau dengan berjalan kaki. Bibi Fatemeh dan Ali, dengan mata yang berlinang, sepanjang jalan melihat jenazah orang-orang tua dan para peziarah yang tumbang ke tanah karena haus, lapar, atau karena menginjak ranjau yang tersembunyi.
Tetapi Bibi Fatemeh menggenggam erat tangan anak-anaknya dan pada setiap langkah membaca Ayat Kursi dengan bibir yang komat-kamit. Hanya kerinduan untuk sampai kepada Zaher, Paman Jalal, dan Tante Khadijeh di Iran yang mendorong maju tubuh mereka yang kehabisan tenaga di tengah gurun yang membakar itu.
Akhirnya, pada suatu fajar yang cerah, bendera tiga warna Iran berkilau di titik perbatasan.
Para penjaga perbatasan Iran, melihat kafilah pengungsi itu serta kaki Bibi dan anak-anaknya yang terluka dan tak bertenaga, bergegas menyongsong; mereka memeluk para pengungsi, membawakan selimut, air hangat, dan roti, serta memberi mereka perawatan medis. Bibi Fatemeh berlutut di atas tanah perbatasan dan mencium bumi tanah air ibunya.
Beberapa hari kemudian, ketika Bibi Fatemeh dan anak-anaknya sampai di Isfahan dan memencet bel rumah Paman Hossein, Zaher, Paman Jalal, dan Tante Khadijeh berlari menyongsong ibu mereka sambil menangis dan bersorak.
Pelukan itu adalah sebuah pertemuan yang besar, tetapi juga sangat pahit dan berlinang air mata. Bibi Fatemeh meletakkan kepalanya di bahu Zaher yang bidang, menarik cadarnya menutupi wajah, dan berkata dengan rintihan yang mengiris dan sanggup membelah batu: “Zaher... mereka membawa Mohammad... mereka membawa Mohammad-ku...”
Pada hari itu keluarga Musavi kembali berkumpul di tanah Iran, tetapi tempat kosong Paman Mohammad menjadi luka yang abadi di jantung wiracarita ini...
Bab kelima: Bayang-bayang perang di Isfahan dan gugurnya Ali yang dizalimi
## 1. Pelukan Isfahan dan masa kecilku di tahun-tahun pengeboman
Isfahan bagi kami adalah kota dengan dua wajah. Di satu sisi, Zayandeh-Rud yang deras, jembatan-jembatan bersejarah, dan jalan-jalan yang penuh pohon cinar membawa ketenangan yang relatif; tetapi di sisi lain, gunung berapi perang delapan tahun dengan Irak menyelimuti seluruh kota. Sirene merah serangan udara meraung di malam-malam yang dingin, dentuman mengerikan bom yang dikirim tentara Baath mengguncang dinding-dinding, dan antrean panjang kupon makanan serta kelangkaan daging yang parah telah membuat wajah kota menjadi kelabu.
Meski begitu, rumah bagiku adalah dunia yang meluap kehangatan keluarga. Bersamaan dengan kerja siang malam ayahku Zaher di apotek dan instalasi listrik Paman Jalal, Bibi Fatemeh juga memasang pintalan benang tradisionalnya (masuleh) di sudut kamar. Aku masih balita yang sering duduk di samping kasur kecil Bibi, menatap putaran masuleh-nya yang berirama, dan bermain dengan kancing bajuku. Melihatku, Bibi berhenti bekerja, menghujaniku dengan ciuman, dan mencium bau ayahku Zaher dari tubuhku.
[[break]]
## 2. Kursi kosong Paman Mohammad
Di Isfahan telah dimulai sebuah kehidupan baru bagi kami. Setiap akhir pekan seluruh keluarga berkumpul; Tante Roya datang bersama suaminya Hamid dan kedua anak mereka, Hamed dan Leila. Hamed menjadi sahabat paling karib masa kecilku, dan Leila adalah gadis yang sejak usia yang sangat belia, pandangannya bagiku memiliki kualitas yang berbeda dan menyenangkan.
Tetapi dalam semua pertemuan itu, satu kursi selalu kosong: kursi Paman Mohammad yang hilang tak berkabar.
Gambaran saat mengerikan di rumah tahanan Najaf, ketika para tentara Baath menarik Mohammad dari pelukan Bibi Fatemeh dan ia pada detik terakhir berteriak: “Ibu... jadilah kuat! Aku akan kembali”, membebani jiwa Bibi bagaikan mimpi buruk yang abadi.
Setiap kali bel pintu rumah berbunyi, atau sepucuk surat dari kerabat yang tertinggal di Irak sampai ke tangan kami, Bibi Fatemeh berlari ke pintu dengan tangan gemetar, berharap menemukan kabar atau jejak Mohammad-nya yang hilang. Tetapi tahun demi tahun berlalu dan tidak seorang pun, baik di Irak maupun di Iran, tahu apa yang menimpa pemuda gagah itu.
Ayahku Zaher, sebagai kakak tertua, memikul beban berat perpisahan itu dalam diam di bahunya. Ia yang dahulu sendiri disiksa enam bulan di penjara bawah tanah Baath tahu benar neraka macam apa penjara-penjara Saddam itu; tetapi agar hati Bibi tidak semakin terbakar, ia selalu menghiburnya dan berkata: “Ibu, Mohammad itu kuat... suatu hari ia akan kembali.”
[[break]]
## 3. Api politik dan bus tanpa kepulangan
Di antara semua duka di rumah itu, peristiwa yang paling pahit dan paling dahsyat adalah keretakan yang menganga antara ayahku Zaher dan Paman Ali.
Aku tidak lebih dari seorang bocah kecil, tetapi gambaran-gambaran yang buram dan penuh kecemasan dari hari-hari itu terpahat di benakku; hari-hari ketika api politik, ideologi, dan perang antara Iran dan Irak membakar seluruh rumah. Dua bersaudara yang dahulu di Najaf saling menjadi tempat berlindung, kini berdiri berhadap-hadapan karena perbedaan pandangan politik. Perkara itu sampai pada pertengkaran yang amat keras, perkelahian berdarah, dan teriakan yang mengiris. Paman Ali, di puncak amarahnya, mengancam akan membakar rumah dan keluarga kami!
Suara ayahku masih berdenting di telingaku ketika, dengan wajah kalut dan cemas, ia mengumpulkan kami anak-anak di sekelilingnya dan berkata: “Kalau suatu hari Paman Ali mau masuk rumah, cepat kunci pintunya dari dalam!”
Dengan tubuh kecilku aku gemetar di balik pintu yang terkunci dan tidak mengerti mengapa politik harus mengadu dua bersaudara seperti itu.
Akhirnya Paman Ali, yang tidak lagi sanggup menanggung perbedaan pandangan yang begitu dalam dan keberadaannya di Iran, mengambil keputusan yang mutlak; ia meninggalkan Isfahan dan meninggalkan kami untuk selamanya, untuk kembali ke Irak.
Tidak lama kemudian sebuah kabar menyambar keluarga kami bagaikan petir. Kami mendengar bahwa Paman Ali, dalam perjalanan pulang, berada di dalam sebuah bus yang penuh imigran pelarian yang, di dekat perbatasan, menjadi sasaran rentetan tembakan pasukan Baath yang kejam. Kaum Baath telah memberondong bus itu dengan peluru, dan Paman Ali, bersama puluhan penumpang tak berdosa lainnya, gugur sebagai syahid di tengah api dan darah.
Ketika kabar tentang bus yang ditembaki itu sampai ke Isfahan, Bibi Fatemeh runtuh. Perawakan perempuan yang tegar itu membungkuk untuk selamanya; kini ia telah kehilangan dua putranya: yang satu, “Mohammad”, yang hilang di penjara-penjara Saddam, dan yang lain, “Ali”, yang menjadi korban api politik dan peluru di perbatasan...
[[break]]
## 4. Ambang usia tiga belas tahun dan ikatan buku-buku
Tahun demi tahun berlalu dan perang delapan tahun itu akhirnya berakhir.
Aku tumbuh dalam suasana yang bercampur duka yang suci, di antara kisah-kisah Bibi dan pengorbanan ayahku Zaher, dan sampailah aku pada usia tiga belas tahun. Ibuku Marzieh, yang sendiri adalah perempuan yang menderita dan tersiksa oleh tekanan batin serta perilaku kerabat, membuka sebuah salon kecil di lantai atas untuk membantu biaya hidup. Adik-adik perempuanku, Faezeh dan Maryam, adalah semangat dan keceriaan rumah kami.
Meski begitu, dendam-dendam lama dan diskriminasi sehari-hari tidak juga melepaskan keluarga kami. Ibuku Marzieh membungkuk di bawah beban kemurungan dan Bibi Fatemeh masih terbakar dalam duka putra-putranya.
Pada bulan Mei 1995, ketika usiaku tepat tiga belas tahun, ayahku Zaher, untuk membasuh debu duka dari hati Marzieh dan Bibi Fatemeh, memberangkatkan mereka dalam perjalanan ziarah dua pekan ke Suriah...
Dan justru di titik inilah “Kisah Sang Pendiri 2” menyatukan tangannya dengan tangan “Kisah Sang Pendiri 1”; di tempat ibuku Marzieh pulang dengan koper yang berbau melati dan Damaskus, aku mengeluarkan kunci yang kasar itu dari sakuku, dan bangkitlah sebuah badai yang mengubah jalan hidup kami untuk selamanya...
Isfahan bagi kami adalah kota dengan dua wajah. Di satu sisi, Zayandeh-Rud yang deras, jembatan-jembatan bersejarah, dan jalan-jalan yang penuh pohon cinar membawa ketenangan yang relatif; tetapi di sisi lain, gunung berapi perang delapan tahun dengan Irak menyelimuti seluruh kota. Sirene merah serangan udara meraung di malam-malam yang dingin, dentuman mengerikan bom yang dikirim tentara Baath mengguncang dinding-dinding, dan antrean panjang kupon makanan serta kelangkaan daging yang parah telah membuat wajah kota menjadi kelabu.
Meski begitu, rumah bagiku adalah dunia yang meluap kehangatan keluarga. Bersamaan dengan kerja siang malam ayahku Zaher di apotek dan instalasi listrik Paman Jalal, Bibi Fatemeh juga memasang pintalan benang tradisionalnya (masuleh) di sudut kamar. Aku masih balita yang sering duduk di samping kasur kecil Bibi, menatap putaran masuleh-nya yang berirama, dan bermain dengan kancing bajuku. Melihatku, Bibi berhenti bekerja, menghujaniku dengan ciuman, dan mencium bau ayahku Zaher dari tubuhku.
[[break]]
## 2. Kursi kosong Paman Mohammad
Di Isfahan telah dimulai sebuah kehidupan baru bagi kami. Setiap akhir pekan seluruh keluarga berkumpul; Tante Roya datang bersama suaminya Hamid dan kedua anak mereka, Hamed dan Leila. Hamed menjadi sahabat paling karib masa kecilku, dan Leila adalah gadis yang sejak usia yang sangat belia, pandangannya bagiku memiliki kualitas yang berbeda dan menyenangkan.
Tetapi dalam semua pertemuan itu, satu kursi selalu kosong: kursi Paman Mohammad yang hilang tak berkabar.
Gambaran saat mengerikan di rumah tahanan Najaf, ketika para tentara Baath menarik Mohammad dari pelukan Bibi Fatemeh dan ia pada detik terakhir berteriak: “Ibu... jadilah kuat! Aku akan kembali”, membebani jiwa Bibi bagaikan mimpi buruk yang abadi.
Setiap kali bel pintu rumah berbunyi, atau sepucuk surat dari kerabat yang tertinggal di Irak sampai ke tangan kami, Bibi Fatemeh berlari ke pintu dengan tangan gemetar, berharap menemukan kabar atau jejak Mohammad-nya yang hilang. Tetapi tahun demi tahun berlalu dan tidak seorang pun, baik di Irak maupun di Iran, tahu apa yang menimpa pemuda gagah itu.
Ayahku Zaher, sebagai kakak tertua, memikul beban berat perpisahan itu dalam diam di bahunya. Ia yang dahulu sendiri disiksa enam bulan di penjara bawah tanah Baath tahu benar neraka macam apa penjara-penjara Saddam itu; tetapi agar hati Bibi tidak semakin terbakar, ia selalu menghiburnya dan berkata: “Ibu, Mohammad itu kuat... suatu hari ia akan kembali.”
[[break]]
## 3. Api politik dan bus tanpa kepulangan
Di antara semua duka di rumah itu, peristiwa yang paling pahit dan paling dahsyat adalah keretakan yang menganga antara ayahku Zaher dan Paman Ali.
Aku tidak lebih dari seorang bocah kecil, tetapi gambaran-gambaran yang buram dan penuh kecemasan dari hari-hari itu terpahat di benakku; hari-hari ketika api politik, ideologi, dan perang antara Iran dan Irak membakar seluruh rumah. Dua bersaudara yang dahulu di Najaf saling menjadi tempat berlindung, kini berdiri berhadap-hadapan karena perbedaan pandangan politik. Perkara itu sampai pada pertengkaran yang amat keras, perkelahian berdarah, dan teriakan yang mengiris. Paman Ali, di puncak amarahnya, mengancam akan membakar rumah dan keluarga kami!
Suara ayahku masih berdenting di telingaku ketika, dengan wajah kalut dan cemas, ia mengumpulkan kami anak-anak di sekelilingnya dan berkata: “Kalau suatu hari Paman Ali mau masuk rumah, cepat kunci pintunya dari dalam!”
Dengan tubuh kecilku aku gemetar di balik pintu yang terkunci dan tidak mengerti mengapa politik harus mengadu dua bersaudara seperti itu.
Akhirnya Paman Ali, yang tidak lagi sanggup menanggung perbedaan pandangan yang begitu dalam dan keberadaannya di Iran, mengambil keputusan yang mutlak; ia meninggalkan Isfahan dan meninggalkan kami untuk selamanya, untuk kembali ke Irak.
Tidak lama kemudian sebuah kabar menyambar keluarga kami bagaikan petir. Kami mendengar bahwa Paman Ali, dalam perjalanan pulang, berada di dalam sebuah bus yang penuh imigran pelarian yang, di dekat perbatasan, menjadi sasaran rentetan tembakan pasukan Baath yang kejam. Kaum Baath telah memberondong bus itu dengan peluru, dan Paman Ali, bersama puluhan penumpang tak berdosa lainnya, gugur sebagai syahid di tengah api dan darah.
Ketika kabar tentang bus yang ditembaki itu sampai ke Isfahan, Bibi Fatemeh runtuh. Perawakan perempuan yang tegar itu membungkuk untuk selamanya; kini ia telah kehilangan dua putranya: yang satu, “Mohammad”, yang hilang di penjara-penjara Saddam, dan yang lain, “Ali”, yang menjadi korban api politik dan peluru di perbatasan...
[[break]]
## 4. Ambang usia tiga belas tahun dan ikatan buku-buku
Tahun demi tahun berlalu dan perang delapan tahun itu akhirnya berakhir.
Aku tumbuh dalam suasana yang bercampur duka yang suci, di antara kisah-kisah Bibi dan pengorbanan ayahku Zaher, dan sampailah aku pada usia tiga belas tahun. Ibuku Marzieh, yang sendiri adalah perempuan yang menderita dan tersiksa oleh tekanan batin serta perilaku kerabat, membuka sebuah salon kecil di lantai atas untuk membantu biaya hidup. Adik-adik perempuanku, Faezeh dan Maryam, adalah semangat dan keceriaan rumah kami.
Meski begitu, dendam-dendam lama dan diskriminasi sehari-hari tidak juga melepaskan keluarga kami. Ibuku Marzieh membungkuk di bawah beban kemurungan dan Bibi Fatemeh masih terbakar dalam duka putra-putranya.
Pada bulan Mei 1995, ketika usiaku tepat tiga belas tahun, ayahku Zaher, untuk membasuh debu duka dari hati Marzieh dan Bibi Fatemeh, memberangkatkan mereka dalam perjalanan ziarah dua pekan ke Suriah...
Dan justru di titik inilah “Kisah Sang Pendiri 2” menyatukan tangannya dengan tangan “Kisah Sang Pendiri 1”; di tempat ibuku Marzieh pulang dengan koper yang berbau melati dan Damaskus, aku mengeluarkan kunci yang kasar itu dari sakuku, dan bangkitlah sebuah badai yang mengubah jalan hidup kami untuk selamanya...
Kisahnya berlanjut…
Setiap lagu di MIBL Radio membawa sedikit lagi dari suara ini ke depan.
Daftar isi
Sedang diputar
Ketuk untuk menyalakan suara
Anda baru saja menyelesaikan satu bab.
Ada orang yang duduk dan menuliskannya. Kalau itu sepadan dengan waktu Anda, katakanlah — dan itu langsung sampai kepadanya.
Apple Pay, Google Pay, atau kartu — sekali ketuk.