✦
داستان بنیان گذار - جلد دوم
❦ Tamat
Kisahnya berlanjut…
Setiap lagu di MIBL Radio membawa sedikit lagi dari suara ini ke depan.
Buku ini ditulis dan diterbitkan di sini — buku Anda juga bisa.
Terbitkan buku Anda sendiriKata Pengantar: Akar-akar di tanah Najaf
Sejak dahulu dikatakan bahwa benang tidak berdusta.
Jauh sebelum samudra yang mengembara, perahu-perahu yang pecah, dan perbatasan berkawat mengikat takdir kami ke tanah Australia, semuanya bermula di halaman kecil beralas tanah sebuah rumah di pinggiran kota kuno Najaf. Seorang perempuan berwibawa dan tegar bernama Bibi Fatemeh berlutut di sana setiap hari sebelum fajar, sebelum suara muazin pertama naik dari kubah emas makam suci, dan memutar jemarinya yang letih di atas pintalan tradisional — masuleh itu.
Gerak berirama pintalan itu bukan sekadar cara mencari nafkah dan memutar roda kehidupan seorang perempuan yang sendirian dan tanpa pelindung di jantung kemiskinan dan kesesakan Irak; gerak itu adalah detak jantung yang tak putus dari sebuah keturunan yang ditakdirkan berkali-kali hancur di jalan-jalan sejarah yang penuh trauma, lahir kembali, dan keluar hidup-hidup dari abu peperangan dan penawanan.
Buku ini adalah kisah yang sepenuhnya nyata, yang ditulis dengan struktur dan pengolahan sinematik (Cinematic Non-Fiction); kisah tentang masa ketika “Zaher” (ayahku) masih seorang pemuda pendiam dan penuh pikiran di sebuah apotek kecil di Najaf; masa ketika kunci celaka usia tiga belas tahunku belum lagi ditempa dan akar-akar keluarga Musavi masih bernapas di tanah Najaf.
________________________________________
> 📌 Catatan penulis mengenai nama dan keterangan: dalam karya ini, demi menjaga hak moral, menghormati ruang pribadi, dan karena pertimbangan hukum menyangkut orang-orang yang bersangkutan, nama beberapa tokoh dan nama beberapa tempat telah diubah atau ditulis dengan nama samaran. Apa yang Anda baca di halaman-halaman ini adalah piagam telanjang, jujur, dan sejati tentang hidup kami, yang dipoles oleh sihir pena dan oleh pengolahan sebuah cerita.
________________________________________
> © 2026 Seluruh hak cipta dilindungi. Ditulis oleh Mohsen Al Moussawi. Segala bentuk penyalinan, penerbitan ulang, penyaduran, adaptasi sinematik atau pementasan, produksi karya audio, siniar, penciptaan ulang dengan kecerdasan buatan, maupun penerjemahan ke bahasa lain tanpa izin tertulis dan resmi dari penulis adalah terlarang secara agama maupun hukum, dan penulis berhak menempuh jalur hukum, baik nasional maupun internasional.
Jauh sebelum samudra yang mengembara, perahu-perahu yang pecah, dan perbatasan berkawat mengikat takdir kami ke tanah Australia, semuanya bermula di halaman kecil beralas tanah sebuah rumah di pinggiran kota kuno Najaf. Seorang perempuan berwibawa dan tegar bernama Bibi Fatemeh berlutut di sana setiap hari sebelum fajar, sebelum suara muazin pertama naik dari kubah emas makam suci, dan memutar jemarinya yang letih di atas pintalan tradisional — masuleh itu.
Gerak berirama pintalan itu bukan sekadar cara mencari nafkah dan memutar roda kehidupan seorang perempuan yang sendirian dan tanpa pelindung di jantung kemiskinan dan kesesakan Irak; gerak itu adalah detak jantung yang tak putus dari sebuah keturunan yang ditakdirkan berkali-kali hancur di jalan-jalan sejarah yang penuh trauma, lahir kembali, dan keluar hidup-hidup dari abu peperangan dan penawanan.
Buku ini adalah kisah yang sepenuhnya nyata, yang ditulis dengan struktur dan pengolahan sinematik (Cinematic Non-Fiction); kisah tentang masa ketika “Zaher” (ayahku) masih seorang pemuda pendiam dan penuh pikiran di sebuah apotek kecil di Najaf; masa ketika kunci celaka usia tiga belas tahunku belum lagi ditempa dan akar-akar keluarga Musavi masih bernapas di tanah Najaf.
________________________________________
> 📌 Catatan penulis mengenai nama dan keterangan: dalam karya ini, demi menjaga hak moral, menghormati ruang pribadi, dan karena pertimbangan hukum menyangkut orang-orang yang bersangkutan, nama beberapa tokoh dan nama beberapa tempat telah diubah atau ditulis dengan nama samaran. Apa yang Anda baca di halaman-halaman ini adalah piagam telanjang, jujur, dan sejati tentang hidup kami, yang dipoles oleh sihir pena dan oleh pengolahan sebuah cerita.
________________________________________
> © 2026 Seluruh hak cipta dilindungi. Ditulis oleh Mohsen Al Moussawi. Segala bentuk penyalinan, penerbitan ulang, penyaduran, adaptasi sinematik atau pementasan, produksi karya audio, siniar, penciptaan ulang dengan kecerdasan buatan, maupun penerjemahan ke bahasa lain tanpa izin tertulis dan resmi dari penulis adalah terlarang secara agama maupun hukum, dan penulis berhak menempuh jalur hukum, baik nasional maupun internasional.
Bab pertama: Rumah kaum sayyid dan percikan-percikan di penjara bawah tanah
## 1. Wangi khumus dan zakat di rumah kaum sayyid
Gang-gang Najaf yang berdebu dan berkelok terbakar di bawah matahari gurun yang menyengat, tetapi di ujung salah satu gang buntu kota yang tenang itu berdiri sebuah rumah yang naungannya berbeda dari seluruh kampung.
Dinding tanah liat berkapur putih rumah itu adalah tempat berlindung sebuah keluarga dari keturunan suci kaum sayyid. Di Najaf pada masa itu, penduduk kampung yang taat dan beriman menaruh hormat yang hampir seperti pemuliaan kepada keluarga Musavi. Bibi Fatemeh — perempuan berwibawa yang bertahun-tahun sebelumnya kehilangan suaminya yang masih muda, “Mohsen” — memutar roda kehidupan itu bersama suaminya yang penuh perhatian, Sedmir, saudara mendiang suaminya, yang dengan kejantanan yang murni manusiawi telah menjadi naungan bagi anak-anak yatim itu.
Rumah tempat mereka bernapas adalah pemberian dan berkah dari meja penduduk kampung. Orang-orang beriman mempersembahkan khumus dan zakat harta mereka dengan bangga dan rendah hati kepada keluarga sayyid itu, agar berkah doa Bibi Fatemeh dan keturunannya yang suci menerangi kampung mereka. Di halaman kecil rumah itu, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, terbentang hidangan yang rotinya berasal dari penghormatan orang-orang dan gulainya dari kecintaan penduduk negeri itu. Dan Bibi Fatemeh, dalam remang fajar, memutar masuleh dan pintalan tradisionalnya, agar di samping kasih sayang masyarakat itu ia tetap menjaga kehormatan dan kemandirian keturunannya.
Putra sulung rumah itu, Zaher, adalah pemuda yang pendiam, penuh pikiran, dan bersih pandangannya, yang bekerja di apotek kampung. Semua orang mengenalnya karena kesantunan dan pengetahuannya. Tetapi di balik wajah Zaher yang tenang dan berkepala dingin itu berdetak sebuah jiwa yang gelisah dan haus mengenal dunia luar.
[[break]]
## 2. Gelora jalan raya; dari padang Syam sampai perbatasan Istanbul
Berbeda dari sangkaan semua orang yang melihat Zaher sebagai pemuda rumahan, ia sesungguhnya pencinta perjalanan dan jalan raya tanpa batas. Masa mudanya terbakar oleh dahaga melihat cakrawala yang jauh. Setiap kali ada kesempatan dan ia berhasil menabung beberapa dinar, ia mengikat buntalan kecilnya untuk pergi merasakan keterasingan dan keindahan kota-kota lain.
Magnet perjalanan yang terbesar bagi Zaher mula-mula adalah Syam dan kota kuno Damaskus. Berhari-hari ia berjalan di antara pasar-pasar beratap Suriah, di dekat makam-makam suci, dan di antara wangi jeruk serta melati Damaskus, berbincang dengan orang-orang asing, dan mendorong cakrawala pikirannya jauh melampaui dinding-dinding Najaf.
Tetapi selera menjelajah dunianya tidak berhenti di Suriah; langkah berikutnya adalah perjalanan ke jantung sebuah kekaisaran tua, yaitu Turki. Zaher menempuh jalan-jalan di utara. Menyaksikan arsitektur Istanbul, ladang-ladang hijau, dan drama pertemuan Timur dan Barat di Turki mengguncang jiwa pemuda Najaf itu. Ia melihat dunia lebih luas daripada kesesakan Irak dan, pada setiap langkah, merasakan kebebasan serta nikmatnya menghirup udara asing.
Tetapi tidak seorang pun di rumah tahu bahwa perjalanan manis ke Turki itu akan menjadi pembuka bagi salah satu tragedi paling mengerikan dalam hidupnya...
[[break]]
## 3. Penghadangan saat pulang; jaring pemburu kaum Baath
Pada senja sebuah hari yang berdebu, Zaher, setelah berpekan-pekan menjelajah jalan-jalan Suriah dan Turki dengan buntalan penuh kenangan dan benak yang sarat gambaran dunia yang bebas, menginjakkan kaki di tanah Irak untuk kembali ke pelukan rumah Bibi Fatemeh.
Ia belum lagi beberapa kilometer menjauh dari pos pemeriksaan perbatasan ketika tiba-tiba dua kendaraan militer rezim Baath, dengan gulungan debu dan bunyi rem yang mengerikan, menghadang jalannya. Para petugas Baath turun dari mobil dengan sepatu bot yang berat dan wajah tanpa belas kasihan, lalu mengepung Zaher yang masih muda itu.
Tuduhan awalnya sederhana namun sekaligus mematikan: “tersangka pengelakan wajib militer!”
Kaum Baath mengira Zaher adalah pemuda Irak yang melarikan diri ke Turki untuk mengelak dari dinas di tentara Saddam. Zaher dengan penuh ketenangan dan kepala dingin mengeluarkan dokumen identitasnya untuk membuktikan bahwa tidak ada masalah; tetapi pemeriksaan dokumen yang lebih teliti justru membongkar rahasia yang jauh lebih berat bagi para petugas rezim yang penuh curiga itu: asal-usul dan akar Iran keluarga Musavi!
Begitu para petugas mengetahui bahwa di nadi pemuda sayyid ini mengalir darah Iran, nada dan sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Menurut undang-undang rasialis rezim Baath, wajib militer terlarang bagi warga negara dan penduduk asing; maka tuduhan “mengelak dari dinas” gugur, tetapi sebuah bahaya yang jauh lebih hitam menggantikannya: tuduhan mata-mata dan keasingan!
Mereka memperlakukan Zaher bukan sebagai seorang warga negara, melainkan sebagai “orang Irak berdarah Iran yang mencurigakan” yang telah bepergian ke Turki dan Suriah; mereka menghujaninya dengan cambuk dan makian dan, tanpa alasan hukum atau surat perintah pengadilan apa pun, melemparkannya ke belakang sebuah truk logam dan membawanya ke salah satu penjara Baath yang paling menakutkan.
[[break]]
## 4. Enam bulan di neraka dendam dan rasisme
Zaher muda tiba-tiba terlempar dari pelukan penuh kasih rumah kaum sayyid dan wangi melati Damaskus ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang gelap, lembap, dan menyesakkan. Penjara bawah tanah yang menelannya selama enam bulan penuh.
“Bertahun-tahun kemudian, di rumah kecil dan sederhana yang disewa ayahku Zaher di bagian barat Sydney, ia telah menjadi seorang lelaki yang sakit-sakitan, letih, dan berjiwa amat rapuh, yang beban berat pengasingan dan pengembaraan telah merampas perawakan dan kekuatannya. Di sudut rumahnya yang sunyi dan sederhana, ketika ia menyalakan rokok dengan tangan gemetar dan menatap satu titik dengan keluhan yang begitu dalam sampai mengguncang setiap serat dirinya, ia bercerita kepadaku, dengan suara yang patah dan setelah berpuluh tahun masih berbau luka, tentang enam bulan mimpi buruk penyiksaan dan rasisme di penjara-penjara bawah tanah Baath...”
Ia bercerita tentang penyiksaan tanpa henti. Tentang malam-malam ketika, dalam kegelapan mutlak sel, rintihan, jeritan di bawah siksaan, dan permohonan para tahanan yang tak berdosa bergulung di lorong-lorong batu penjara dan merampas tidurnya. Para antek Baath menyimpan dendam rasial tanpa batas terhadap orang-orang berdarah Iran. Setiap hari mereka menimpakan kepada Zaher, semata-mata karena darah dan asal-usulnya, siksaan dan penghinaan fisik maupun batin yang paling keras.
Setiap hari di penjara itu berlalu selama setahun. Zaher, pemuda perlente dan pencinta perjalanan yang sampai kemarin masih berjalan-jalan di bazar Istanbul, kini duduk di lantai lembap sebuah sel dengan tubuh yang terluka dan pakaian compang-camping, menjadi saksi kekejaman telanjang kekuasaan Saddam.
[[break]]
## 5. Percikan pelarian di jantung kegelapan
Selama enam bulan yang celaka itu, ketika Zaher terbaring di lantai penjara yang dingin dan mendengar ratapan para korban siksaan dari sel-sel di sebelahnya, terjadilah sebuah perubahan yang mendasar dalam jiwa dan batinnya.
Ia mengerti bahwa di tanah ini tidak lagi tersisa tempat bagi amanah, kehormatan, dan kehidupan orang-orang yang mulia. Ia mengerti bahwa keberadaan keluarganya di Najaf berdiri di atas gudang mesiu berisi dendam dan rasisme yang setiap saat bisa membakar rumah kaum sayyid itu.
Tepat pada salah satu malam hitam di penjara itu, ketika ia menengadahkan tangannya yang terluka ke langit-langit sel yang lembap sebagai tanda berdoa, berkilaulah di benaknya percikan pertama gagasan untuk melarikan diri dari Irak ke Iran.
Ia berjanji kepada dirinya sendiri: “Kalau aku keluar hidup-hidup dari neraka ini, aku tidak akan tinggal sedetik pun lagi di negeri ini. Aku harus menemukan jalan untuk melarikan diri ke Iran...”
Setelah enam bulan tanpa kabar, Bibi Fatemeh dan Sedmir, dengan menyuap dan memohon kepada para pejabat, berhasil menerima kembali tubuh Zaher yang setengah mati dan hancur itu dan membawanya pulang.
Zaher kembali ke rumah; tetapi pemuda yang keluar dari penjara itu bukan lagi orang yang dulu. Di matanya mengalir tatapan yang bulat, pahit, dan penuh rahasia. Ia telah menempa kunci pelarian di dalam hatinya, dan kini tibalah saatnya Bibi Fatemeh mengajukan rencana melamar Marzieh dari Iran...
Gang-gang Najaf yang berdebu dan berkelok terbakar di bawah matahari gurun yang menyengat, tetapi di ujung salah satu gang buntu kota yang tenang itu berdiri sebuah rumah yang naungannya berbeda dari seluruh kampung.
Dinding tanah liat berkapur putih rumah itu adalah tempat berlindung sebuah keluarga dari keturunan suci kaum sayyid. Di Najaf pada masa itu, penduduk kampung yang taat dan beriman menaruh hormat yang hampir seperti pemuliaan kepada keluarga Musavi. Bibi Fatemeh — perempuan berwibawa yang bertahun-tahun sebelumnya kehilangan suaminya yang masih muda, “Mohsen” — memutar roda kehidupan itu bersama suaminya yang penuh perhatian, Sedmir, saudara mendiang suaminya, yang dengan kejantanan yang murni manusiawi telah menjadi naungan bagi anak-anak yatim itu.
Rumah tempat mereka bernapas adalah pemberian dan berkah dari meja penduduk kampung. Orang-orang beriman mempersembahkan khumus dan zakat harta mereka dengan bangga dan rendah hati kepada keluarga sayyid itu, agar berkah doa Bibi Fatemeh dan keturunannya yang suci menerangi kampung mereka. Di halaman kecil rumah itu, di bawah bayang satu-satunya pohon delima, terbentang hidangan yang rotinya berasal dari penghormatan orang-orang dan gulainya dari kecintaan penduduk negeri itu. Dan Bibi Fatemeh, dalam remang fajar, memutar masuleh dan pintalan tradisionalnya, agar di samping kasih sayang masyarakat itu ia tetap menjaga kehormatan dan kemandirian keturunannya.
Putra sulung rumah itu, Zaher, adalah pemuda yang pendiam, penuh pikiran, dan bersih pandangannya, yang bekerja di apotek kampung. Semua orang mengenalnya karena kesantunan dan pengetahuannya. Tetapi di balik wajah Zaher yang tenang dan berkepala dingin itu berdetak sebuah jiwa yang gelisah dan haus mengenal dunia luar.
[[break]]
## 2. Gelora jalan raya; dari padang Syam sampai perbatasan Istanbul
Berbeda dari sangkaan semua orang yang melihat Zaher sebagai pemuda rumahan, ia sesungguhnya pencinta perjalanan dan jalan raya tanpa batas. Masa mudanya terbakar oleh dahaga melihat cakrawala yang jauh. Setiap kali ada kesempatan dan ia berhasil menabung beberapa dinar, ia mengikat buntalan kecilnya untuk pergi merasakan keterasingan dan keindahan kota-kota lain.
Magnet perjalanan yang terbesar bagi Zaher mula-mula adalah Syam dan kota kuno Damaskus. Berhari-hari ia berjalan di antara pasar-pasar beratap Suriah, di dekat makam-makam suci, dan di antara wangi jeruk serta melati Damaskus, berbincang dengan orang-orang asing, dan mendorong cakrawala pikirannya jauh melampaui dinding-dinding Najaf.
Tetapi selera menjelajah dunianya tidak berhenti di Suriah; langkah berikutnya adalah perjalanan ke jantung sebuah kekaisaran tua, yaitu Turki. Zaher menempuh jalan-jalan di utara. Menyaksikan arsitektur Istanbul, ladang-ladang hijau, dan drama pertemuan Timur dan Barat di Turki mengguncang jiwa pemuda Najaf itu. Ia melihat dunia lebih luas daripada kesesakan Irak dan, pada setiap langkah, merasakan kebebasan serta nikmatnya menghirup udara asing.
Tetapi tidak seorang pun di rumah tahu bahwa perjalanan manis ke Turki itu akan menjadi pembuka bagi salah satu tragedi paling mengerikan dalam hidupnya...
[[break]]
## 3. Penghadangan saat pulang; jaring pemburu kaum Baath
Pada senja sebuah hari yang berdebu, Zaher, setelah berpekan-pekan menjelajah jalan-jalan Suriah dan Turki dengan buntalan penuh kenangan dan benak yang sarat gambaran dunia yang bebas, menginjakkan kaki di tanah Irak untuk kembali ke pelukan rumah Bibi Fatemeh.
Ia belum lagi beberapa kilometer menjauh dari pos pemeriksaan perbatasan ketika tiba-tiba dua kendaraan militer rezim Baath, dengan gulungan debu dan bunyi rem yang mengerikan, menghadang jalannya. Para petugas Baath turun dari mobil dengan sepatu bot yang berat dan wajah tanpa belas kasihan, lalu mengepung Zaher yang masih muda itu.
Tuduhan awalnya sederhana namun sekaligus mematikan: “tersangka pengelakan wajib militer!”
Kaum Baath mengira Zaher adalah pemuda Irak yang melarikan diri ke Turki untuk mengelak dari dinas di tentara Saddam. Zaher dengan penuh ketenangan dan kepala dingin mengeluarkan dokumen identitasnya untuk membuktikan bahwa tidak ada masalah; tetapi pemeriksaan dokumen yang lebih teliti justru membongkar rahasia yang jauh lebih berat bagi para petugas rezim yang penuh curiga itu: asal-usul dan akar Iran keluarga Musavi!
Begitu para petugas mengetahui bahwa di nadi pemuda sayyid ini mengalir darah Iran, nada dan sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Menurut undang-undang rasialis rezim Baath, wajib militer terlarang bagi warga negara dan penduduk asing; maka tuduhan “mengelak dari dinas” gugur, tetapi sebuah bahaya yang jauh lebih hitam menggantikannya: tuduhan mata-mata dan keasingan!
Mereka memperlakukan Zaher bukan sebagai seorang warga negara, melainkan sebagai “orang Irak berdarah Iran yang mencurigakan” yang telah bepergian ke Turki dan Suriah; mereka menghujaninya dengan cambuk dan makian dan, tanpa alasan hukum atau surat perintah pengadilan apa pun, melemparkannya ke belakang sebuah truk logam dan membawanya ke salah satu penjara Baath yang paling menakutkan.
[[break]]
## 4. Enam bulan di neraka dendam dan rasisme
Zaher muda tiba-tiba terlempar dari pelukan penuh kasih rumah kaum sayyid dan wangi melati Damaskus ke dalam sebuah penjara bawah tanah yang gelap, lembap, dan menyesakkan. Penjara bawah tanah yang menelannya selama enam bulan penuh.
“Bertahun-tahun kemudian, di rumah kecil dan sederhana yang disewa ayahku Zaher di bagian barat Sydney, ia telah menjadi seorang lelaki yang sakit-sakitan, letih, dan berjiwa amat rapuh, yang beban berat pengasingan dan pengembaraan telah merampas perawakan dan kekuatannya. Di sudut rumahnya yang sunyi dan sederhana, ketika ia menyalakan rokok dengan tangan gemetar dan menatap satu titik dengan keluhan yang begitu dalam sampai mengguncang setiap serat dirinya, ia bercerita kepadaku, dengan suara yang patah dan setelah berpuluh tahun masih berbau luka, tentang enam bulan mimpi buruk penyiksaan dan rasisme di penjara-penjara bawah tanah Baath...”
Ia bercerita tentang penyiksaan tanpa henti. Tentang malam-malam ketika, dalam kegelapan mutlak sel, rintihan, jeritan di bawah siksaan, dan permohonan para tahanan yang tak berdosa bergulung di lorong-lorong batu penjara dan merampas tidurnya. Para antek Baath menyimpan dendam rasial tanpa batas terhadap orang-orang berdarah Iran. Setiap hari mereka menimpakan kepada Zaher, semata-mata karena darah dan asal-usulnya, siksaan dan penghinaan fisik maupun batin yang paling keras.
Setiap hari di penjara itu berlalu selama setahun. Zaher, pemuda perlente dan pencinta perjalanan yang sampai kemarin masih berjalan-jalan di bazar Istanbul, kini duduk di lantai lembap sebuah sel dengan tubuh yang terluka dan pakaian compang-camping, menjadi saksi kekejaman telanjang kekuasaan Saddam.
[[break]]
## 5. Percikan pelarian di jantung kegelapan
Selama enam bulan yang celaka itu, ketika Zaher terbaring di lantai penjara yang dingin dan mendengar ratapan para korban siksaan dari sel-sel di sebelahnya, terjadilah sebuah perubahan yang mendasar dalam jiwa dan batinnya.
Ia mengerti bahwa di tanah ini tidak lagi tersisa tempat bagi amanah, kehormatan, dan kehidupan orang-orang yang mulia. Ia mengerti bahwa keberadaan keluarganya di Najaf berdiri di atas gudang mesiu berisi dendam dan rasisme yang setiap saat bisa membakar rumah kaum sayyid itu.
Tepat pada salah satu malam hitam di penjara itu, ketika ia menengadahkan tangannya yang terluka ke langit-langit sel yang lembap sebagai tanda berdoa, berkilaulah di benaknya percikan pertama gagasan untuk melarikan diri dari Irak ke Iran.
Ia berjanji kepada dirinya sendiri: “Kalau aku keluar hidup-hidup dari neraka ini, aku tidak akan tinggal sedetik pun lagi di negeri ini. Aku harus menemukan jalan untuk melarikan diri ke Iran...”
Setelah enam bulan tanpa kabar, Bibi Fatemeh dan Sedmir, dengan menyuap dan memohon kepada para pejabat, berhasil menerima kembali tubuh Zaher yang setengah mati dan hancur itu dan membawanya pulang.
Zaher kembali ke rumah; tetapi pemuda yang keluar dari penjara itu bukan lagi orang yang dulu. Di matanya mengalir tatapan yang bulat, pahit, dan penuh rahasia. Ia telah menempa kunci pelarian di dalam hatinya, dan kini tibalah saatnya Bibi Fatemeh mengajukan rencana melamar Marzieh dari Iran...
Kisahnya berlanjut…
Setiap lagu di MIBL Radio membawa sedikit lagi dari suara ini ke depan.
Daftar isi
Sedang diputar
Ketuk untuk menyalakan suara
Menikmati kisahnya?
Anda sudah sampai di ujung pratinjau gratis. Dukung penulisnya dengan tip A$3.00 untuk membuka sisa bukunya — tip itu langsung sampai kepadanya.
Pembayaran aman — Apple Pay, Google Pay, atau kartu.
Anda baru saja menyelesaikan satu bab.
Ada orang yang duduk dan menuliskannya. Kalau itu sepadan dengan waktu Anda, katakanlah — dan itu langsung sampai kepadanya.
Apple Pay, Google Pay, atau kartu — sekali ketuk.